Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 65 : KEMATIAN SERGEY


__ADS_3

Nita sudah mentok tembok dan tak bisa bergeser saat Rama terus duduk bergeser dan sekarang sisa satu meter.


"Nita, mungkin ini sudah suratan takdir kita. Tapi aku tidak tahu apa aku pernah bertemu kamu sebelum di Starlight?"


Nita teringat teriakan tolong dari pria itu di malam naas. Bila diingat sepertinya sama seperti suara Rama. "Aku sudah pernah bertanya apa kamu pernah malam-malam ke toko kue langganan papa kamu dan kau tak menjawab," suara Nita dingin dan lirih.


"Pernah, saat papa menyuruhku memesan kue, setelah aku party dari tempat Budi. Aku hanya ingat bertemu gadis kaca mata di toko itu."


Mata Nita membelalak dengan penuh amarah. "Itu aku .... "


"Tak mungkin." Rama yakin Nita dan gadis cupu itu jauh berbeda.


"Kau minta tolong, aku membantumu dan kau membuat kita terjatuh."


"Aku ingat itu, apa itu kamu beneran?" Rama mengernyitkan kening dan tak percaya.


"Dan setelah itu .... "


"Setelah itu aku tak ingat apapun, hanya bibirmu ...."


"Rama, kau melakukan itu dan kau tak ingat! Kau bohong!"


Rama mendekat dan duduk menghadap Nita. "Apa kau percaya hasil tes itu? Mari kita lakukan tes lagi."


"Apa kau juga enggan mengakui Musa?"


Tamparan keras mendarat di pipi Rama. Rama meringis dan merasakan rasa darah di mulutnya, mungkin bibirnya yang terluka berdarah lagi. Rama berbisik. "Demi Tuhan aku tak tahu apapun. Loh, aku tak keberatan, justru senang bila Musa adalah putra kandungku. Aku hanya menjelaskan padamu, aku tak ingat apapun. Lagipula aku tak pernah berpikiran akan seperti itu."


"Diam, terus membela diri! Kau Pemer*kosa, ya, tetap saja permer*kosa."


"Aku sekarang suamimu."


"Aku tidak mau menjadi istrimu lagi."

__ADS_1


"Kau tak kasian pada Musa? Itu yang kamu inginkan, dia tanpa aku? Kau tidak lihat bagaimana dekatnya dia denganku? Bahkan dia seperti sudah tahu bahwa aku papanya?"


Nita terdiam, airmatanya telah mengering. Musa dan Musa. Semuanya tentang Musa. Bolehkah dia egois? Untuk tidak memikirkan Musa. "Aku bisa mencari Papah untuk Musa."


"Kau istriku dan kau bilang begitu di depanku, terlebih dia darah dagingku." Rama mengucapkan kata demi kata dengan penekanan dengan tidak terima.


Lampu menyala di dalam rumah itu, cahaya yang terhalang korden, membuat Nita dan Rama bisa saling memandang. Mata Rama terbelalak saat mendapati baju kuning Nita penuh noda, pantas dia mencium aroma kopi dan minuman lain.


"Sayang," panggil Rama tak tega. Dia melepas kemeja berlengan pendek dan ditaruh di atas pangkuan Nita. "Rangkap itu, kamu bisa masuk angin. Ayo, kita cari tempat istirahat."


"Aku tidak mau ikut kamu." Nita menggigit bibir bawah. "Pinjamkan aku uang dan ponsel, aku naik taksi."


"Bukannya aku tak mau, kau kan tahu ponsel dan dompetku itu sudah tak ada saat di kapal."


"Ya, kamu pinjam sama siapa lalu bawa kemari."


"Ayo, aku antar, kamu mau ke hotel mana? Nanti aku carikan ponsel."


"Nggak mau." Nita bersikeras, karena begitu Rama membawanya pasti dia takkan bisa menjauh dari keluarga Rama.


"Bukan urusanmu."


"Kau istriku dan aku wajib tahu, aku hanya ingin memastikan kamu itu aman. Jangan sampai kau membahayakan keselamatanmu."


Kunci pintu diputar. Nita dan Rama serentak berdiri dengan jantung berdebar. Rama berdiri di depan Nita, berusaha menutupi istrinya. Terlihat seorang bapak bertubuh besar mulai melangkah.


"Siapa kau tidak pakai baju. Mau maling di tempatku?" tanya pria itu. "Kalian mau melakukan perbuatan asusila?"


"Tidak, Pak. Ini istri saya. Maaf telah mengganggu kenyamanan bapak. Ini kami akan pergi."


"Ayo, Sayang." Rama menarik tangan Nita yang gemetaran dan dingin. Dia menunggu Nita mengambil kaosnya dari lantai.


"Enak saja main asal pergi." Si pemilik rumah, melinting lengan kaos dan menunjukkan otot Trisep yang besar.

__ADS_1


"Den Rama terjadi sesuatu pada Tuan Sergey!" Pengawal menarik pis*tol dari saku celana, lalu diarahkan ke orang berbadan besar itu. Dia minta Rama dan Nita segera naik ke mobil. Sopir itu memberi peringatan pada pemilik rumah agar melupakan kejadian malam ini, atau si pengawal itu akan datang lain waktu ke rumah ini dan memberi pelajaran.


"Apa yang terjadi pada papah?" tanya Rama dengan cemas begitu sopir masuk mobil.


"Ada yang mengatakan terakhir kali melihat Tuan Sergey naik ke lift, tetapi Patrick justru menelpon saya dan menanyakan keberadaan Tuan Sergey. Saat ini Patrick mencari rekaman cctv untuk menemukan Tuan Sergey."


Mobil yang ditumpangi Rama melaju dengan kecepatan tinggi dan memakan waktu 15 menit. Ketika memasuki palang pintu masuk hotel, ambulance bersirene keras tengah mengantri di belakang mobil Rama persis.


"Ada apa, ko ada mobil ambulance?" tanya Nita dalam kebingungan dan perasaan sangat tidak enak. "Mas, pakai kaosmu."


Rama seperti linglung melihat ambulance yang baru melewatinya. Dia memakai kaos tak jadi dan mobil berhenti tidak jauh dari ambulance.


"Apa? Saya baru sampai parkiran di belakang ambulance. Bawa pergi? Kemana?" Sopir dengan suara bergetar dan menoleh ke belakang saat Rama membuka pintu. Dia memanggil Rama tapi tak jadi, lalu berbisik pada Patrick di telepon. "Den Rama sudah turun."


Nita semakin tidak enak hati dan ikutan turun. Pandangannya beralih kepada sekelompok orang yang mengelilingi sesuatu dan membentuk lingkaran. Suara sirene mobil sedan polisi, baru melewatinya dan berhenti di belakang Rama. Nita berlari dan mengambil kemeja milik Rama di dalam mobil, tak sempat mendengar apa yang dikatakan supir.


Dengan setengah berlari, Nita menuju Rama yang mulai mengintip ke tengah kerumunan. Aneh, saat orang didepan Rama melihat ke arah Rama, saat itu mereka memberi jalan dengan tatapan aneh. Nita membeku begitu mendengar teriakan Rama di sela bisik-bisik orang-orang, apalagi suara sirine ambulance, sirene polisi, pengeras suara saat polisi menyuruh semua orang mundur. Nita mencengkram kaos Rama dalam genggaman dan mengikuti Rama yang berlari setelah meneriaki panggilan 'Papa.'


Sekujur tubuh Nita merinding setelah melewati kerumunan, mereka memberi ruang padanya. Hatinya Nita berdenyut kencang melihat Rama yang pucat pasi dan membeku ke arah .....


Darah dimana-dimana. Baju .... baju .... baju Sergey. Nita menganga dan tetesan embun bening berjatuhan dari sudut mata dengan ekspresi penuh keterkejutan. Kaos terlepas dari tangannya. Nita langsung menutup mulut dengan kedua tangan dan menjerit begitu histeris.


Kepala Sergey menghadap ke arahnya dengan wajah berlapis darah dan detik berikutnya pandangannya terhalang oleh petugas medis dan polisi. Sekujur tubuh gemetar, Nita tak punya pijakan, dia jadi limbung dan duduk berlutut dengan air mata tak berhenti menetes di tengah kerumunan orang-orang. Pandangan Nita kabur saat beralih melihat Rama yang shock.


Orang-orang berbisik pada Rama yang tak pakai kaos dan kaos itu justru baru terjatuh dari tangan Nita. Mereka berbisik saling menyalahkan Rama, menyalahkan Nita, dan ada yang menyalahkan dua-duanya.


Rama mengguncang-ngguncangkan tangan karena polisi menahannya untuk menyentuh jena*sah papa. Hatinya bergetar dan hanya bisa menangis tanpa bersuara dengan tatapan nanar pada jena*sah sang papa yang tengah ditandai kapur di sekitar tubuh papah. Petugas Medis membawa tubuh papah ke atas mobil ambulance.


Rama yang tak memakai baju atasan, jatuh merosot dan berbicara dengan suara parau bahwa dia ingin ikut. Rama dipapah dua orang polisi ke mobil polisi hingga punggungnya ditutupi sebuah mantel oleh pak polisi.


Di dalam mobil, Rama terus berkata ke polisi agar mengamankan istrinya. Setengah menit kemudian, pintu dibuka dan Rama menghambur ke Nita yang baru masuk. "Sayang, kenapa Papah meninggalkan kita," tangis Rama penuh menyayat hati. "Papah pasti membenciku."


Bahkan tangisan Rama kini pecah, setelah dari tadi suara lelaki itu tak keluar. Rama makin merengkuh leher Nita, seluruh tulang-tulang seperti tercabut dari tubuh pria itu. Tak mengira tadi pertemuan terakhir dengan papahnya yang bersikap aneh.

__ADS_1


Nita juga tersedu-sedu dan gemetar ketakutan karena dia terakhir memarahi Sergey, pasti Sergey tertekan karena kata-katanya. Mobil polisi meninggalkan hotel diikuti mobil Kakek Axel yang dikawal polisi.


Kakek Axel tak sempat melihat Sergey, karena dia pingsan duluan begitu Baron memberitahu bahwa pihak hotel bilang seorang security mendengar suara gedebuk keras di halaman hotel dan mengenali pakaian mencolok nan mahal itu adalah pakaian Sergey saat berantem dengan Nita, wajah Sergey tak bisa dikenali karena tertutup darah.


__ADS_2