Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 64 : SERGEY AIMAN ABIMASA


__ADS_3

Langkah demi langkah terasa begitu berat. Nita memandangi langit berbintang, seandainya hidupnya juga seindah gemerlap bintang. Dia sudah tak tahu melangkah sejauh mana, kakinya mulai sakit.


Pakaiannya basah oleh air yang disiramkan orang-orang, bahkan ada yang menyiramnya air es kopi di dekat hotel. Ada bagusnya si, orang-orang di jalan seperti tak mengenalinya karena pakaian kuningnya sekarang kotor. Dia terlihat seperti gembel. Dia membenci malam, karena saat malam adalah saat-saat tersi*alnya.


Dia duduk di trotoar dan melirik beberapa pemuda yang naik motor berlalu-lalang. Angin malam mulai membuat menggigil. Efek obat nyeri luka bakar berkurang hingga Nita meringis menahan panas perih di punggung. "Papah, Nita harus kemana?"


Dengan penuh kebingungan, Nita melangkah lagi karena bahaya untuknya bila di tempat terbuka. Sebuah teras rumah, yang tak dipagar dan tak ada lampu, menarik perhatiannya. Nita duduk di sudut teras, di bawah jendela. Semoga tidak ada yang menganggu karena kanan kiri terdapat dinding cukup tinggi, yang juga menghalangi dari aliran angin.


Meski tempat ini tak sedingin di jalan, Nita tetap menggigil. Wajahnya disembunyikan di lutut, dinginnya angin malam seperti berada di dalam chiller. Suara TV terdengar dari dalam rumah itu, Nita takut bila yang punya rumah tahu dia, lalu mengusirnya.



Beberapa waktu sebelumnya ....


Ketika Mamanya ditangani dokter, Rama baru sadar bahwa Nita, Kakek dan Papa, tidak ada dikamar. Dia mencari dan bertanya pada penjaga kemana orang-orang dan penjaga bilang bahwa Nita di lobby dengan Sergey. Rama berlari dan takut bila papa menyakiti Nita.


Pintu lift terbuka, Rama terkejut karena papanya keluar dari lift dengan wajah suram. "Dimana istriku, Pah?"


"Dia meninggalkan kita dan tidak mau diganggu."


"Lalu Papa biarin dia pergi?" Kening Rama berkerut dalam dan tangannya terkepal.


Sergey tertegun dan baru sadar telah berlebihan pada putranya hingga wajah sang putra lebam. "Aku sudah mengejarnya, tetapi para pengawal kakek menghalangi."


"Lalu Papa biarkan saja? Papa! Nita tidak punya apa-apa dan tidak membawa apa-apa! Ini tengah malam! Bahaya untuknya banyak anak jalanan!" Rama menuju lift dan terlihat ayahnya ikut masuk ke dalam lift.


"Kita berhenti di lantai dua, lalu lewat tangga. Banyak penjaga."


"Mau naik apa? Mobil Papa dimana?"


"Parkiran." Sergey meraba dompet sudah ada di saku. "Pinjam saja mobil pegawai hotel."


"Pah, aku harap Nita tidak diganggu pemotor."

__ADS_1


Sergey melirik putranya dan menghela napas kecewa. "Kubilang berapa kali, kau tak boleh mabuk-mabukan! Si*alan jika aku tahu kamu jatuh di dekat selokan dengan celana tidak diresleting, pagi itu mungkin papa langsung membu*nuhmu karena telah melakukan perbuatan keji!"


"Pah, Rama tidak tahu apa-apa." Rama lalu terdiam saat papanya membeli atau meminjam ponsel milik pegawai karena papa memberi uang beberapa lembar. Papa telepon Patrick dari ponsel itu agar menelpon taksi dan memerintahkan agar taksi ke parkiran belakang.


"Kata Patrick, ada pengawal yang mengikuti Nita." Sergey menghela napas lega dan berdiri bersandar pada dinding untuk menunggu taksi. Padahal, Nita sudah bilang tidak mau ditemui.


Sergey jadi tak punya muka untuk bertemu Nita. Apalagi Rama, pasti juga ditolak Nita.


Ya, Tuhan, aku sudah punya cucu? Gila! Aku tak sanggup bertemu Nita lagi, itu terlalu menyesakkan! (Sergey)


"Pah, Nita pasti tidak akan mau bertemu Rama."


"Tapi kau seorang pria, harus tegas."


"Tapi, Rama salah ...."


"Kalau begitu jangan jadi pecundang." Setiap jawaban yang diberikan Sergey mengandung sakit karena kecemburuan. Ingin sekali dia menem*piling Rama lagi, tetapi untuk apa. Secinta-cintanya dia pada Nita, Sergey masih berpikir, bahwa dia tak mungkin lagi mengejar Nita. Bagaimanapun Rama dan Nita ....


Ah si*al mereka telah berhubungan intim, sampai memiliki anak. Batin Sergey masih tidak mau menerima.


Berulangkali Rama mencengkeram lutut dengan gelisah. Apa yang harus dilakukan jika Nita menolaknya. Dia tak bisa memaksa seperti cara papah. Jangankan memaksa, untuk mendekati Nita saja, pasti Nita marah-marah agar dia menjauh.


Uh, aku jadi ingat tatapan Nita ke aku yang terakhir, begitu jijik. Tapi dimana aku melakukan perbuatan itu pada Nita? Aneh, ketemu pertama padahal saat di Starlight, kan? Jadi, Musa putraku? Aku punya putra? Susah dipercaya, apa aku bermimpi. (Rama)


Sergey mematikan ponsel dan memandangi keluar jendela pada jalan provinsi, yang sepi. Dia teringat semua laporan Axel dan baru sadar, bahwa putranya dan Nita bilang sudah menikah. Sergey beralih menatap Rama karena suara berisik saat Rama meneplak wajah sendiri. Da*sar putra tidak tahu aturan. Nikahpun tidak memberi tahu orang tua. Apa dia sengaja biar aku tidak mencegahnya? Da*sar pintar!


Mobil menepi di sebuah Rumah. Rama memandang papa. "Pah, Rama minta maaf telah merebut Nita."


"Ya." Sergey dengan tidak rela dan tatapan kecewa. "Semoga Nita memaafkanmu juga." Sergey membuang muka karena matanya panas dan berkaca-kaca. Embun bening meluncur, sulit untuk menekan kecewa.


"Keluarlah. Mobil di depan akan membawamu pulang." Sergey terpejam ketika Rama mengecup pipinya, sial air matanya pas meluncur lagi.


"Pah .... " Rama semakin murung dan meraba pipi papa yang basah.

__ADS_1


"Keluar," suara Sergey bergetar. "Sebelum aku membu*nuhmu, bede*bah!"


Rama menarik napas dalam. "Rama mencintai Papah."


"Aku lebih mencintaimu, bede*abh kecil yang terus membuat masalah." Hati Sergey bergetar dan mulai kesal. Tangan kekarnya mendorong bahu Rama dengan tetap terpejam. Rahangnya kian mengeras marah, benci, cinta, kasian jadi satu.


Pintu dibuka, Rama menunggu Papah menoleh ke arahnya. Namun, sepertinya papa begitu marah. "Jangan benci Rama, Pah."


Rama melihat bibir papa yang semakin terkatub dan bergetar. Dia tak tahan lagi, lalu keluar dari mobil. Rama melihat seorang pria yang berdiri di depan ruko. Pria itu pengawal papa, yang menunjuk ke rumah sebelah, yang tak ada gerbang. Rama memasuki teras kecil dan menuju pintu, tangannya terkepal dan terulur ke pintu akan mengetuk.


Sekelebat bayangan mengalihkan perhatian Rama. Dia terkejut dan melompat ke belakang karena gerakan orang, yang dia kira ada setan. Rama mengerutkan kening dan pandangannya menyesuaikan dalam kegelapan. Nita?


Rama merosot duduk di dekat pintu. Sang istri melihat ke arahnya dan tak bersuara. "Apapun akan kulakukan asal kau tidak menyuruhku pergi dari hidupmu, apalagi kau sekarang adalah istriku. Apapun aku akan menebusnya."


" .... " Nita berkedip pelan. Otaknya tak sanggup berpikir. "Musa .... " Hanya Musa di dalam pikirannya sekarang. Selain Musa dan Papa Devan, dia tak memasukan ke dalam otak dan hatinya.


"Kita cari tempat tinggal, untuk menunggu Nathan mengubungi kamu." Rama memancing agar Nita tetap berbicara.


Sergey ingin turun, dari sini dia tak dapat melihat apapun ke teras rumah itu karena terhalang lampu jalan. "Kembali ke hotel, Pak."


Begitu Sergey sampai hotel. Dia dengan linglung menuju rooftop hotel. Dari atas, dia memandang sekitar, pada kelap-kelip lampu gedung yang cantik dan background langit malam di jam 1 pagi, dan sangat sepi, tidak ada siapapun di atas sini. Menyedihkan. Hidupnya terasa menyedihkan sekali. Untuk apa lagi dia hidup tanpa ada tujuan. Tujuannya adalah Nita. Sekarang? Dia tak tahu lagi. Gelap hatinya begitu gelap.


Aku kesepian. Tak ada lagi kau di masa depanku. Di hari-hari kedepan, tidak ada kamu yang menemaniku makan. Tidak ada hiburan darimu. Tidak ada candaan darimu.


Nita. Kau tak ditakdirkan untukku. Kuharap, lambat laun kau bisa memaafkan Rama. Aku harap kau hidup bahagia dengan siapapun itu. Aku akan melepas NASA. Kau salah memandangku.


NASA, adalah Nita Athalia dan Sergey Abimasa, aku dan kamu. Kau wanita terindah yang pernah ku kenal, Nita. Aku tak menyesal kau menemaniku selama dua tahun dengan senyuman seksimu.


Bolehkah aku berharap, bila kita bertemu pada kehidupan selanjutnya dan aku akan mencarimu terlebih dulu sebelum kau bertemu Rama. Seandainya aku bisa menulis takdirku, aku pun mau walau jadi teman di sampingmu, seumur hidup.


Tangan kekarnya meraih pagar cor-coran. Kakinya naik ke atas dan dia berdiri gemetar di atas cor yang hanya muat setengah dari ukuran panjang sepatunya. Sergey melihat ke bawah dari lantai 30 dan berkedip pelan.


"Kenapa kau tidak ditakdirkan untukku, hei gadis manis ...."Isak Sergey dengan beruraian air mata, teringat Nita yang memakai sweater dan kaca mata saat mendatanginya setelah kematian palsu Devan. Sergey memejamkan mata dan tersenyum, karena terpaan angin kencang di atas.

__ADS_1


"Aku lelah tanpamu, Nita." Sergey merentangkan tangan dengan hati terluka yang tak tertahankan. Sergey menjatuhkan diri di udara dan melayang dalam kecepatan tinggi ....


__ADS_2