Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 41 : FITTING BAJU PERNIKAHAN


__ADS_3

Nita telah sampai di kantor PH NASA. Wajahnya tertutupi masker kain dan kacamata hitam. Dia juga mengenakan topi. Saat melewati sebuah ruangan terbuka, matanya tertuju pada awak media yang tengah berkumpul hingga membuat Nita berjalan mendekat dan mengintip di sisi kiri awak media.


Setiap ucapan yang keluar dari mulut Sergey, yang berisi tampikan bahwa video yang tengah viral itu adalah palsu, terus disimak Nita. Bahkan Sergey bilang, pelakunya telah dilaporkan ke pihak berwajib.


Nita menelan saliva saat para wartawan mengajukan berbagai pertanyaan dan Sergey menjawabnya dengan lugas. Sergey mampu menggiring pikiran para wartawan dan mereka tampak percaya. Tidak ada lagi tatapan merendahkan dari tatapan mereka seperti sebelumnya.


Di satu sisi, Nita tersentuh karena usaha Sergey sampai sejauh ini untuk membersihkan nama baiknya, nama Rama dan perusahaan NASA. Namun, di sisi lain, dia justru semakin terjebak pada hubungannya dengan Sergey, yang mendadak membuat Nita menjadi tak bersemangat.


Bagaimana tidak, dia telah banyak merepotkan Sergey. Dia jadi bingung sendiri, di sini dia merasa bersalah dan sungkan pada Sergey. Seolah dia seorang manusia yang tak tahu berterimakasih kepada Sergey.


Mungkin yang dikatakan Sergey benar. Bahwa dia takkan bisa apa-apa tanpa uang untuk mencari papa. Bahwa siapa yang bisa dia percaya untuk mencari papah selain Sergey. Bukankah, aku tak boleh melakukan kesalahan lagi?


Nita berjalan ke lantai teratas, ke meja sekertaris Sergey. Nita berhubungan baik dengan Tante Raisha, yang dari dulu adalah sekertaris Papa Devan dan kini menjadi sekertaris dan orang kepercayaan Sergey. Nita meminta tolong pada sekertaris itu untuk merahasiakan jika dia meminta nomer Kak Nathan.


Sergey berbalik dan menatap seorang gadis pada yang berjalan menunduk. Dia langsung menarik gadis itu hingga si tubuh mungil itu keluar dari lift. Ditatapnya sepatu sneaker yang pernah dibelikan olehnya, celana jeans yang dulu selalu dipakai Nita saat sebelum hamil. Jaket dan topi korea tak bermerk.


Sergey menarik topi dan membuka masker itu. Lalu pria itu ingin memeluk Nita, tetapi Nita langsung menghindar. Sergey mencoba mengerti penolakan Nita, dia harus bersabar sedikit.


Dengan kuat, Nita memilin kepala karena merasa pusing. Dia memikirkan Sergey yang mendapat tatapan aneh dari sekertaris yang berdiri di depan pintu. Jadi, dia menuju ke ruangan Sergey dengan diikuti suami kontraknya itu.


Nita tak mengerti, mengapa tubuhnya refleks dan bersikap berlebihan terhadap gerakan tiba-tiba Sergey. Secara logika Sergey orang yang 1000 persen baik baginya, tetapi mengapa tubuh ini menolak Sergey. Sedangkan dia justru tak berdaya dan merasa aman bila di depan Rama.


Sergey dengan hati bergetar melihat punggung Nita yang gemetar. Dia medorong pintu di belakangnya dan menghela napas kecewa. Pikirannya menduga, apa Nita takut dengannya gara-gara tamparan kemarin. Apa aku perlu sebuket bunga untuk meminta maaf? Apa kamu mau memaafkanku ?


“Nita Athalia,” suara Sergey penuh dengan kelembutan. Tenggorokannya begitu panas. Dia mendadak bingung harus mengatakan apa. Bagaimana bila aku bilang, perasaanku berubah menjadi cinta. Tetapi kata-kata seperti apa, supaya terlihat tulus. Ah, kenapa aku mendadak bodoh.


Dengan perlahan Nita menaruh tas di atas meja kerja milik papah. Jemarinya menyusuri dari ujung kaca ke ujung yang lain, teringat masa kecilnya. Dahulu meja ini tingginya sama dengan kepalanya.

__ADS_1


Kini langkah Nita bergeser. Jemarinya meraba sandaran kursi. Mata itu terpejam, merasakan kelembutan kulit jok mahal yang begitu awet setelah bertahun-tahun lamanya. Papanya akan selalu tampil mengesankan bila sudah duduk di kursi pimpinan ini.


Entah hanya halusinasinya atau apa. Bau cendana yang sering dihirup dari baju papah, kini seakan memenuhi ruangan. Dia mengelus tengkuk karena tiba-tiba merinding dan tangannya langsung menutup hidung karena bau itu begitu kuat. Apa ruh papa ada di sekitar sini?


Aku kangen papah. Papah karus melihat wajah Musa. Aku harus membawa Musa ke papa, atau aku akan menyesal bila suatu saat Musa bertanya mengapa dia tak pernah melihat opanya.


“Mas,” suara Nita serak. Bibirnya bergetar saat berbalik menghadap Sergey yang hanya dua langkah di belakangnya. Gelombang merinding menghinggapi tulang punggungnya.


Pikiran Nita berkecamuk. Dia tak mau menikah dengan Sergey yang umurnya dua kali darinya, yang juga temannya papah. Tapi … ini semua mau tidak mau, suka atau tidak adalah jalan terakhir yang harus diterimanya.


“Ya?” Sergey tersenyum dengan penuh arti. Dia merasakan aura kepasrahan. “Aku akan membuatmu dan Musa bahagia. Aku janji akan membawa Devan bersama kita, tetapi kita pindah ke luar negeri, seminggu setelah pernikahan kita.”


“A-pa? Pin-dah?” Mata Nita berkaca-kaca oleh air mata. Hatinya bergetar dan terasa pilu. Mau berapakali mendengarkan kata pindah, tetap saja membuat apa yang ada di dalam hatinya menolak. Kepalanya menggeleng-nggeleng dengan cepat. “Kamu tahu papah dimana?”


Sergey mengangguk. “Aku tahu. Ayo, kita fitting baju hari ini. Aku telah mendaftarkan identitas kita ke RT RW, mereka akan mengutamakan kita.”


“Kita? Fitting? Fitting apa?”Tengggorokan Nita terasa bagai disumbat batu besar. Bibirnya berkedut. Empedu dalam tubuhnya seolah-olah pecah untuk kesekian kali. Dia menelan saliva yang jadi terasa pahit, mungkin oleh asam lambung.


“Me-ni-kah.” Nita mangap-mangap, dia menarik napas panjang 8 detik dan jantungnya terasa berhenti. Nita memegangi dada yang sesak dengan gelembung air mata terus berjatuhan di pipi.


Sergey menangkap Nita yang terus mundur ke belakang. “Sayang …”


“Nita tak bisa bernapas, oh Ni-ta sakit. Dadaku sakit.”


“Pelan-pelan, buang napasmu dari mulut,” kata Sergey dengan cepat dan panik.


“Nita tak bisa bernapas, Masss…” Nita menyebul-nyebul udara, mengembus-ngembus lewat hidung dengan cepat. Namun, oksigen bagai tak masuk ke dalam paru-parunya. Tubuhnya terasa lemas dan mulai menggigil.

__ADS_1


“Tarik napasmu- dan hembuskan, tarik hembuskan. Dengar aku … tarik hembuska.“ Sergey menangkap tubuh Nita yang merosot ke bawah.


“AHHH PAPAH DEV, TOLOOONG NITA!” teriak Nita seperti orang tercekik dan mata melotot.


"Tenang, Nita, kamu hanya pankik!" Sergey mencengkeram kepala sendiri dengan tangan kiri, saat kepala Nita terbenam di lengan kanannya.


“Aku harus apa, Tha? Aku tak mau kehilanganmu. Iya, aku tak mau bila Jefri berbuat macam-macam padamu. Hanya kau yang tersisa dari keluarga Devan. Kau akan menjadi sasaran kegilaannya. Apa aku tega melepaskanmu padanya? Ayo, jawab? Kamu mau menghadapinya sendirian? Jika kamu mau begitu, aku melepaskanmu padanya.” Sergey dengan pasrah dan tak tahu harus berkata apalagi.


Nita menggelengkan kepala dengan takut. Dua tangannya terkepal, teringat pada ucapan kak Nathan. Harusnya dia mendengar apa kata ucapan kakak angkatnya untuk pergi keluar negeri dengan membawa papah. Nita mual karena takut, teringat bahwa Sergey juga bukan tandingan Jefri. Jadi, orang seperti apa Jefri.



Dari luar ruangan, sang sekertaris melihat ke arah pintu presdir yang dari tadi tertutup. Jika benar kata bosnya, bahwa video ciuman itu hanya direkayasa.


Kenapa Nita menolak dipeluk Sergey. Apa video itu tetap berimbas pada pernikahan mereka. Kenapa juga Nita minta nomer kontak Nathan diam-diam, padahal bisa diambil dari ponsel suaminya. Banyak pertanyaan di dalam benak Raishya. Wanita berusia 40 tahun itu melihat ponsel yang bergetar. Itu sebuah pesan dari Rama, yang meminta nomer telepon Nita.


“Apa sih, mereka benar-benar memusingkan. Anak tiri kok langsung memanggil nama? Nggak ada sopan-sopannya. Seharusnya, kan ‘Ibu Nita’ untuk menghormati papahnya. Huh, keluarga Tuan Sergey selalu saja penuh kontoversi sama seperti Tuan Devan.


Ya, pantas saja mereka dekat. Perilaku mereka mirip,” gumam Raisya. Dia mengirimkan nomor telepon milik Nita yang tadi baru disimpannya.



Pakaian pengantin selesai dipakai Nita dengan bantuan dua pelayan wanita di sebuah butik terkenal. Langkah kakinya terasa berat saat keluar dari ruang ganti, seolah ada lem di telapak kakinya yang menempel pada lantai. Nita mencoba tersenyum dengan pasrah, tangannya mencengkeram gaun saat Sergey yang duduk di sofa tengah menebarkan tatapan yang tak bisa dia tebak.


“Can-tik,” suara Sergey serak. Pandangannya meredup. “Ka-u su-ka?” Dia tahu ini pertanyaan bodoh, tetapi apa yang bisa dia katakan lagi selain ini.


“Suka,” jawab Nita penuh kegetiran dan memaksakan senyum.

__ADS_1


Sergey mengepalkan tangan. Entah sampai kapan dia dan Nita harus berakting menjijikan. “Itu saja, putih sedikit biru seperti langit cerah di siang hari. Secerah pernikahan kita nanti, ya, kan?”


“IYAA.” Nita tertawa getir. Dia langsung berbalik dan masuk ruang ganti. Nita langsung menumpahkan air mata tertahannya dengan berjongkok, saat tidak ada pelayan.


__ADS_2