Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
54 : AKU SUKA KAMU


__ADS_3

Nita duduk di dipan- serambi rumah. Dia mengamati Musa yang duduk di pasir. Anak kecil itu membuat gundukan pasir abu-abu dengan botol aqua gelas dan centong.


Kemudian Nita beralih melihat Rama yang duduk di bangku sambil memutar pedal sepeda. Pria itu baru saja meneteskan minyak ke rantai. "Untung bannya nggak gembes, ya?"


"Ini namanya keberuntungan." Rama memandang Nita yang sedang memetiki daun kelor dari tangkainya. "Kalau gembes, kita jalan kaki. Aku denger dari tetangga katanya ada danau tidak jauh di belakang."


Musa sudah bosan dengan mainannya. Dia mengucek mata dengan punggung tangan. Lalu berdiri dan menghampiri benda yang berputar yang sangat menarik perhatiannya.


Baru Musa mau memegangi benda berputar, tubuhnya sudah dipeluk sang mama dari belakang dan digendong hingga kini kakinya mencak-mencak di udara karena ingin turun ke pasir. Seluruh tenaga dalam tubuhnya dikerahkan agar terlepas dari pelukan sang mama.


Rama terkejut karena barusan Musa hampir mengulurkan jemari mungil ke roda yang diputar. "Untung kamu sigap, Atha .... "


"Iya, Mas-" Nita refleks menjawab dan hatinya masih berdebar. Dokter jauh, bila ada apa-apa dengan putranya, misal demam karena terluka, semua orang akan kesulitan nanti.


"Kamu panggil apa?" Rama mendongak dan memandangi Nita yang memeluk Musa dengan erat-erat.


"Manggil apa?" Nita mengecupi kening Musa. Anaknya itu tak bisa diam padahal mamahnya masih gemetaran karena takut barusan.


"Kamu panggil 'Mas'"


"Apa iya?" Nita mengelap keringat dingin di alis. Putranya terus melihat ke putaran roda. "Aku tak sadar."


"Panggil lagi ... " Rama menggigit bibir bawah. Padahal usia Nita masih 24 tahun dan dia 26 tahun.


"What .... Enggak ah." Nita menggerutu.


"Kenapa?"


"Ah, enggak." Nita mengerucutkan bibir dan masuk ke dalam. Dia benar-benar merasa aneh bila memanggil Rama dengan sebutan 'Mas' karena terlanjur biasa dengan memanggil 'Anak Tiri'.


Kalau ke Papah, bisa panggil Mas. Masa sama aku, kagak? Hih, Nita menyebalkan! Rama berdiri dan menaiki sepeda, dia mulai menekan pedal dan mengarahkan sepeda ke halaman dan terus berputar-putar di atas tanah yang lembab, mengikuti bekas ban sepeda.


Rama menghirup udara segar dan menikmati gemerisik dedaunan, suara burung dan hijaunya pohon bambu di samping rumah. Rumah ini di pojok, untuk mencapai rumah lain harus berjalan setengah kilometer, melalui setapak yang bisa dilalui mobil. Pohon jati, angsana tinggi-tinggi. Sepertinya, ngeri bila hujan dan angin besar. Dia juga dilarang oleh Om Devan keluar dari rumah bila hari sudah petang.


Standar sepeda didorong ke tanah. Rama masuk ke dalam rumah dan ganti celana panjang milik Nathan, dia asal ambil tanpa ijin karena yang bersangkutan tidak di rumah. Rama masuk ke dalam kamar Nita saat wanita itu berdiri sambil mengikat rambut. "Kamu bawa baju cadangan untuk renang dong, untuk Musa juga."


"Renang? Ram, kita tidak tahu keadaan sekitar, jangan berenang, takut-"


"Bawa saja! Takut hujan atau ... pokoknya bawa!" Rama dengan nada penuh semangat dan tak sabar pada pemandangan pelosok. Dia membungkuk dengan posisi di belakang Nita, lalu mengecup bahu Nita. Rama menatap telinga kiri Nita. "Bawa ya?" Rama dengan nada memohon.


"Iya, iya." Nita menghela napas panjang, sulit melihat kekecewaan Rama. "Apa karena kamu mimpi berenang jadi kamu ingin berenang?" .


"Hahaha. Mungkin. Tapi, aku ingin lihat rambut kamu basah." Rama langsung terkikik dengan pikiran iblisnya.


Nita selesai mengikat rambut gaya ekor kuda. Dia melirik ke kiri dan mendapati senyuman paling menawan Rama sampai membuat hatinya ketar-ketir karena dari kemarin ingin memeluk dada Rama yang nyaman, tetapi tak pernah kesampaian


Rama menjauh dan membuka lemari kecil tetapi pintu lemari langsung didorong Nita. "Aku mau ambil baju Musa."


"Hihh bukan di sini." Nita menghela nafas kasar karena ini pakai*an inti wanita. Dia menghalangi lemari lalu menunjuk lemari jati satunya. "Itu disitu.


"Emang yang di situ apa?" Rama tersenyum menggoda. "Aku jadi penasaran.


"Ramaaaaaaaa," rengek Nita dengan kesal dan wajah cantik itu langsung seperti kertas kusut.


Rama tertawa. "Iya-iya! Ini aku ambil di sini." Rama berjongkok dan memilah baju mungil, dia melirik samping pada Nita yang mengambil celana inti. Oh, jadi itu. "Pink?" Sontak Nita menatap tajam Rama dan makin galak. Rama menahan senyum. "Kenapa marah, kalau kita nikah, itu udah jadi tontonan aku, kan, Sayang?"


"Ihhh, itu kan kalau kita Nikah."


"Kan, kita mau nikah?"


"Siapa yang nikah?" tanya Devan yang baru sampai di garis pintu kamar Nita.

__ADS_1


"Apa, Pah? Nikah? Ah papah salah dengar kali!" Nita keselek air liurnya sendiri lalu batuk-batuk. Dia berjalan cepat dan menyembunyikan celana inti di saku celana.


"Loh, kita mau nikkkkhhhk-" Rama melotot karena mulutnya di bekap dari belakang. Dia mendongak dan mendapat tatapan taja Nita, wanita itu sedikit menggelengkan kepala.


"Nanti aku jelasin," bisik Nita dengan penekanan menggunakan suara perut tanpa menggerakkan mulut.


"Nita?" Devan tidak suka saat kepala Rama mengenai dada putrinya. "Kemari ..."


"Papah, Nita sama Rama mau jalan-jalan ke belakang." Nita meraih tas dan memasukan sepasang pakaian yang baru diulurkan Rama. "Cuma main sebentar."


"Kenapa bawa tas?" Devan mengerutkan kening. "Papa ditinggal sendiri sama Pak Darso?"


"Nita ingin berenang, Om," ujar Rama sambil meringis.


"Kok, jadi aku? Kan kamu yang mau?" gerutu Nita, kesal jadi kambing hitam.


"Berenang di mana, nanti tenggelam. Nggak usah berenang-renang di tempat asing, lah." Devan dengan tegas, walau putrinya atlet renang dan sering menjadi juara. Devan menunduk saat putrinya mengecup di pipi kanan-kiri.


"Pah, kami butuh hiburan. Atau Papah mau ikut? Hehehe." Nita tertawa lucu.


"Kenapa ketawa?"


"Aku rasa Papah iri. Soalnya kan Papah hobi renang. Lain kali Nita ajak Papah, ya?"


Devan menyipitkan mata dengan tidak suka. Ya, benar si, dia juga iri ingin berenang. "Bukan begitu, kalau ada apa-apa denganmu-"


"Ada Rama, Pah!" Nita membela diri, semakin lama berdebat dengan Papah semakin tak selesai. Dia mengecup punggung tangan papah. "Cuma satu jam di sana, kok."


Devan memandangi Rama yang menggendong Musa di depan, sementara Nita memakaikan Jarit hingga menahan pantaat Musa. Aduh, serasi . Tapi sayang, itu bukan Nathan.


Devan mengelus tangan putrinya, saat kursi rodanya di dorong ke depan sampai ruang tamu beralas jubin. "Ah, Papah kesepian dong."


Devan tersenyum trenyuh saat putrinya membonceng di sepeda butut. Dulu putrinya sering hidup sederhana dan tak mau kelihatan seperti orang mampu, kenapa sekarang hidup putrinya susah. Padahal dulu hidupnya melimpah dan berharap putrinya bisa menikmati segala kemewahan.



Suara berderak dibawah injakan ban sepeda. Nita memegangi pinggang Rama dan melihat kanan kiri. Padahal tempat boncengan sudah dilapisi sarung dua oleh Rama, tetapi pantaatnya beneran sakit. Sebetulnya, Rama juga sakit duduk di sepeda butut, walau juga sudah dilapisi gombal, tetapi ini masih bisa ditahan.


"Banyak pohon bambu, apa tidak ada ular?" tanya Nita disela suara sepeda berdecit dan sepertinya kerangka besi itu telah ringkih.


"Itu tempat ular. Kan kita cuma lewat." Rama memandang pohon bambu hijau yang sedikit melambai ke jalan dan mungkin satu meter di atasnya. "Ini untuk settingan panggung film horor bagus."


Nita tertawa ringan. "Rama, kami sebenarnya tak berniat menculikmu. Saat itu, Kak Nathan tak mau bila ada masalah saat akan membawa Musa, anak buah Kak Nathan terpaksa membiusmu karena takut kau membuat kegaduhan. Lalu, anak buah Kak Nathan membawamu karena takut ketahuan duluan sebelum kami sempat keluar dari gedung itu."


"Jadi, kamu berencana kabur tanpa aku?" suara Rama berubah datar. Dadanya terasa seperti ditekan. Kecewa bukan main. "Kenapa kamu kabur, apa alasanmu sebenarnya."


"Papah alasanku. Aku membawa kabur Papa dari Jefri dan berharap mendapat kebebasan tanpa gangguan mereka."


"Lalu, kenapa kau menceritakan dan memberikan harapan padaku bahwa kita akan kabur bersama. Artinya, bila anak buah actor itu telah mendapatkan Musa tanpa aku, kau juga tetap akan meninggalkan aku. Aku tidak ada artinya bagimu."


"Rama?" Nita membelalak, dia tak percaya seorang lelaki bisa mengatakan itu padanya. Apa dia pantas mendapatkan pernyataan sebagai perempuan yang dibutuhkan. "Boleh aku jujur?"


"Hem." Rama memilih jalan yang tidak licin dan sesekali mengelus kepala Musa yang berkeringat. Mata anak kecil itu sudah kiyip-kiyip karena suhu udara sangat sejuk.


"Aku suka kamu!" Nita memekik dengan malu. Laju sepeda semakin berkurang. Rama berhenti dan kakinya bertumpu ke tanah.


"Wow, luar biasa ..." kata Rama pelan. Hatinya berbunga-bunga dan mulai mengayuh lagi. Rama pura-pura tidak dengar. "Aku tidak dengar kamu bilang apa?"


"Masa nggak dengar?" Nita protes dan sedikit miring ke kanan, tampak pipi Rama memerah.


"Kamu kalau ngomong nggak jelas. Kerasan dong."

__ADS_1


"Aku suka kamu, Rama Abimasa!" Nita dengan gereget.


"Aku nggak dengar, terlalu cepat!"


"A K U S U K A K A M U R A M A !"


Rama tersenyum lebar. Hahahaha.


"Sudah dengar?" Nita melirik ke depan dan Rama tampak tersenyum. "Kenapa diam?"


"Kenapa kamu suka aku?"


"Rama Abimasa, energik, ambisius, pantang menyerah, percaya diri, perhatian dan sangat menyebalkan!"


"Energik iya. Ambisius emmmmh iya. Pantang menyerah, benar. Percaya diri, kan aku menawan! Perhatian.... hanya ke kamu hehe. Tapi aku tak menyebalkan, Atha!"


Nita terkikik. "Terserah kamu." Dia mengelus pantaaat Musa, dan tangan lain berpegangan pada paha Rama, yang kaki panjang itu terus mengayuh.


Jalan tanah itu tak mendapat sinar matahari karena pohon besar rimbun di atasnya, mereka pun sampai di sebuah danau dibawah pepohonan yang daunnya mulai menguning karena memasuki musim kemarau.


Tikar mulai digelar oleh Nita di atas lumut hijau, di pinggir danau dengan permukaan air jernih. Dia menaruh ransel dan mengeluarkan roti dan dua botol air. Nita menyipitkan mata dan mengukur, takut danaunya berbahaya.


"Kata tetangga itu tidak berbahaya. Mereka juga kadang mandi di sini."


"Tetangga?" Nita membantu melepas kain Jarit di pundak Rama dan meraih Musa yang tertidur. "Kamu dulu yang berenang."


"Iya ... " Pandangan Rama meredup. Dia membungkuk dan menatap lekat-lekat ke dalam mata Nita yang tampak cemas.


"Ram .... " Nita menggelengkan kepala. Dia menelan saliva gugup saat jarak wajahnya dengan Rama berkurang dan mulai merasakan terpaan napas panas di pipinya. Dipandangi bibir warna peach Rama. "Ja-"


Nita terpejam dan merasakan sesuatu kenyal di bibirnya. Manis dan menggetar jiwanya. Ciu*man penuh Kelembutan dan kehati-hatian. Tangannya tak bisa berkutik karena menggendong Musa. Rama memegangi lengan kanan-kirinya dan Nita menggelengkan kepala dengan cepat.


Napas mereka saling memburu. Nita membuka mata dan ingin sekali untuk melanjutkan dan merasakan getaran luar biasa barusan. Semangatnya meningkat berlipat-lipat dalam hitungan detik, tetapi dia mundur dua langkah. "Kita harus menikah dulu, Ram."


"Sama saja sekarang atau nanti. Sekarang aku ingin sekali menci*um bibirmu. Aku kangen apa itu salah?" nada Rama mengecil karena gemas sekaligus kesal.


"Enggak salah, hanya saja ini membuatku tak nyaman. Bukan aku sok suci, tetapi itu sangat mengganjal di hatiku."


Rama melepas kaos dan Nita langsung terpejam. Lelaki itu melepas celana training dan menyisakan celana kolor sepaha. Dia memandangi wajah Nita yang memerah. Dijatuhkan kaos dan celana traningnya. "Nita .... sampai kapan kamu terpejam?"


"Sudah sana kamu berenang!" lirih Nita dengan penuh penekanan dan jantung berdebar.


"Lalu kenapa, kau tadi menutupi saat papahmu bertanya siapa yang nikah?"


Mata Nita terbuka dan berusaha untuk tidak memandang dada putih itu, tetapi sulit. "Aku dulu yang harus bilang ke Papah."


Aku hanya tidak mau bila papah menolak, lalu itu menyakiti hatimu. Kadang omongan papa terlalu keras. Maaf, Ram. (Nita)


Nita merasakan terpaan udara di depannya dan suara berderap langkah yang makin menjauh. Nita melihat Rama menceburkan diri, dia duduk dan membaringkan Musa yang masih tertidur. Matanya melirik ke arah Rama yang baru muncul di permukaan.


"Airnya segar dan dingin! Lumayan dalam, Sayang! Kau pasti akan senang dengan ini." Rama dengan penuh semangat, menyelam di sepanjang tepi danau. Berenang di manapun tak semenyenangkan ini.


"Hati-hati, Ram!" Nita mengeluarkan handuk dari dalam tas dan menghirup bau lumut dan dedaunan khas alam. Telinganya makin menajam saat mendengar suara ranting dan daun kering terinjak.


Nita mencari asal suara di deretan pepohonan dengan dahan hitam. Tak ada siapa-siapa, tetapi suara berderap itu juga menghilang. Hatinya mulai cemas, pandangannya terus berkali-kali mengitari sekitar.


"Sayang, apa yang kau cari?" tanya Rama yang baru muncul di permukaan air. Sepanjang berenang mengitari danau, dia sering mendapati Nita melihat ke sekitar dan tampak gelisah.


Sekelebat bayangan dibalik pohon ditangkap mata Nita, hingga Nita berdiri dan berjalan beberapa langkah dan mengabaikan perkataan Rama.


__ADS_1


__ADS_2