Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 53 : DPO


__ADS_3

Nita terjaga saat merasakan tekanan di perutnya. Siapalagi kalau bukan ulah Musa, dua tangan mungil itu tengah memukuli perutnya. "Anak mama sudah bangun."


Nita membuang kotoran di sudut mata Musa, anaknya itu lalu tiduran diatas perut meminta nen. Nita miring ke kanan dan menyusui Musa. Jari-jari Nita mulai memainkan rambut tebal Musa.


Jarum jam menunjuk setengah 6 pagi dan dari tadi Nita mencium aroma kopi yang menggoda reseptornya sampai dia meneguk saliva yang hampir mengences. Enak juga hidup seperti ini tanpa ada Sergey. Sejujurnya, dia tak nyaman bila harus berada di ruangan yang sama dengan Sergey, karena saat itu aura mendominasi Sergey begitu memancar dan membuatnya sesak. Namun, bukan karena dia menyukai Sergey, tetapi dia takut seperti sedang menghadapi guru killer saat di SMA.


Tatapan tajam Musa membuat Nita berdebar. Dia mencubit pelan pipi gembul itu dengan perasaan sedih yang luar biasa. Dia meyakini sang putra butuh sosok papa.


Kamu akan punya papah, Nak, dan itu Papa Rama. Kasih sayangmu akan lengkap dari mama dan sosok papa. Kamu tidak perlu tahu siapa ayah biologismu karena Mama sangat membencinya. Mari kita tutup masa lalu dan mulai menatap hidup kita bersama Papa Rama.'


Nita duduk dan mengancingkan daster di bagian dada, dia memegangi ketiak Musa, lalu membaringkan sang putra di atas kakinya yang selonjor. Nita menggelitik Musa menggunakan dagunya, sampai bocah itu terkikik.


Rama yang akan ke kamar Devan, mundur dan melongok ke dalam kamar Nita karena suara tawa Musa. Wajah Nita yang mengantuk masih terlihat jelas dan rambut panjang dengan sedikit tak beraturan membuat Nita makin cantik di mata Rama. Dia menjadi gereget ingin menguwel-nguwel rambut itu.


Nita melepas Musa yang memberontak, matanya mengikuti arah pandangan Musa dan tidak tahu sejak kapan Rama ada di sana. Wanita itu melihat senyuman Rama yang syarat akan kasih sayang.


"Itu buat siapa?" tanya Nita terdengar lembut dan manja saat Rama memegang nampan berisi segelas air kuning, mungkin itu teh.


"Ini untuk Om Devan," kata Rama sambil berjalan ke arah jendela dan Nita terkejut karena ada kopi di atas nakas, di samping jendela.


Rama menaruh nampan di atas meja, tangannya bergeser dan menunjuk ke kopi yang masih mengepul yang sudah dari tadi di tempatkan di sini. “Ini kopi untukmu. Cepatlah, keburu dingin. Ini dibuat spesial oleh Rama Abimasa dengan penuh ketulusan, loh."


"Spesial? Pagi-pagi untukku?" Nita tertunduk dan dua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Musa berjalan ke arah Rama dan Nita bangun sembari merapikan daster. Wanita itu ikut mendekat dengan jantung yang makin berdebar-debar. Tangannya gemetar saat menerima uluran kopi dari Rama. "Terima kasih …."


Nita melebarkan mata karena mendapat satu kecupan tak terduga. Dia mencium aroma keringat wangi menyegarkan dari tubuh Rama yang membuatnya mabuk. Wanita itu menggigit sudut bibir bagian bawah berusaha menyembunyikan perasaan malunya dan melihat Musa yang baru menarik majalah dari laci bawah.


“Bagaimana tidurmu?” tanya Rama dengan lembut. “Mimpi apa?”


“Aku sudah tidak merasakan apa-apa dan tau-tau bangun pagi ini. Aku ... sepertinya tidak bermimpi. Lalu, kamu sendiri?”


“Aku bermimpi sedang berenang denganmu di danau. Mungkin kamu mengira kalau aku berbohong, tapi aku tidak berbohong dan kamu sangat cantik dalam mimpi, apalagi sekarang ….” Rama mengurangi jarak dan menatap bibir Nita yang sedikit melongo. Lalu melirik mata hasel yang bersinar.


“Masih pagi, jangan menggodaku terus, aku jadi malu,” suara Nita seperti tercekik dan wajahnya mulai menghangat, dia yakin pipinya sudah semerah tomat.

__ADS_1


Nita menyesap kopi hangat dengan elegan. Dia yang biasa langsung menggelegak kopinya sampai habis, ini jadi dikit-dikit karena tak mau bila Rama mengiranya seperti wanita rakus.


Ahh!Sejak kapan aku jadi peduli dengan pendapat Rama ! batin Nita.


Walau Nita bertekad menggelegak kopi, tapi tubuhnya tak mau patuh dan justru semakin elegan memegangi cangkir dengan ujung jarinya, dagunya sedikit terangkat karena menjaga image. Meski dia malu, sungguh dia ingin menjaga citra diri sebaik-baiknya di depan Rama. Percaya dirinya meningkat, dia tak mau bila ada perempuan lain yang mengalahkan kepercayaan dirinya di depan Rama.


“Aku ingin berjalan-jalan denganmu nanti siang.” Rama memalingkan wajah dan menggeser dua langkah, lalu membuka jendela. Udara segar dingin masuk menerpa wajahnya. Rama menyembunyikan kegugupan dengan berusaha tetap menatap ke arah bagian samping rumah yang dipenuhi pohon bambu. Namun, bayangan wajah Nita terus membayanginya dan membuatnya mabuk.


“Jalan-jalan? Apakah kamu hafal jalan? Lalu kita naik apa? Tidak ada motor. Eh ada sepeda tua.” Nita menggigit bibir bawah, kenapa Rama menghindarinya.Tangannya mengelap muka, takut ada kotoran di wajah, atau bekas ileran di pipinya. Dia mengambil cermin di depannya dan membawa ke depan wajah. Tidak ada kotoran kok. 


“Kita jalan kaki, atau nanti aku periksa sepedanya saja.”


Nita meringis takut ada kotoran di giginya, jelas tidak ada, kan semalam sikat gigi .Wajah Nita langsung memerah saat Rama melirik dengan satu alis terangkat tinggi hingga dia langsung mengatubkan bibir dan menaruh cermin di nakas. Nita langsung berjalan menjauh karena malu. Dia melirik ke arah Rama yang disusul Musa yang membawa majalah dengan dua tangan mungil.



Sesampai di kamar Devan, segelas teh ditaruh Rama, di atas meja dari kayu yang hanya dipaku dengan asal. Rama membantu Devan pindah ke kursi roda. Sedangkan Nita lalu mengulurkan segelas teh ke depan papa.


"Pah, kok, Papah dah ganti baju. Emangnya udah diseka?" Nita melirik ke arah Rama yang mengambil infus baru dari kardus.


“Rama, wah? Dia menyiapkan air panas untuk Papah,” gumam Nita lagi-lagi dibuat terpesona pada perhatian Rama.


Devan melirik Rama yang melepas plastik pembungkus infus yang menimbulkan bunyi gemerisik. Dia menatap mata Nita yang berbinar. “Eh, tumben kamu bangun siang."


“Semalam Musa bangun kepanasan, aku menemaninya sampai jam 3 pagi.”


Rama dengan serius mengganti infus yang kurang dari 100 ml dengan cairan cairan infus yang baru, lalu menggantungkan di tiang besi, yang dipancang di belakang sandaran kursi roda. "Kamu mandi dulu, Atha. Aku telah memompa air untuk mandi kamu."


"Tuh, baik sekali, Nak Rama." Devan mengelus rambut putrinya, wajah Nita semakin bersinar dan tersenyum sangat manis. "Ih, kenapa kamu malu?"


"Ah, Papa. Nita mau mandi dulu." Nita membawa gelas kosong ditangannya. Dia melirik ke belakang dan Rama memandanginya dengan cara yang aneh.


"Dia kalau malu sangat cantik, Om." Rama gemas karena wajah ayu itu makin merona. "Beruntung sekali yang mendapatkan hatinya."

__ADS_1


"Rama." Nita mendesis dan berlari, lalu mencubit perut Rama sampai pria itu meringis.


Devan menyipitkan mata saat Rama tertawa dan diikuti rengekan putrinya. Ada apa dengan dua orang ini. Kenapa putriku jadi lebay.




Di tempat lain, Intania melahap potongan buah pepaya. Sembelitnya makin parah sejak tahu Rama diculik. Ponsel Rama di atas meja terus dipandangi, itu ditemukan di taman, tempat Rama diculik.


Dia masih chating dengan manajer restoran milik Rama di Australia dari ponsel Rama. Dia pun terkejut ada dua wanita yang sering mengirimi Rama pesan, bernama Shelina dan Veronica, yang semuanya memanggil sayang. Padahal jika dilihat dari riwayat chat, Rama menanggapi mereka dengan dingin.


“Sebenarnya ada apa sih diantara Rama dan Nita? Perasaan dulu waktu pertama kali ketemu, mereka ribut dan saling merusak kendaraan. Waktu menemaniku di Mall, juga mereka hampir tidak pernah bicara. Tapi videonya ciu*man itu, ya ampun, Ramaaaaa.” Intania menggaruk kepala dengan kesal. Kenapa anaknya bisa nakal begitu.


Mata Intania membesar, dia menjauh dari meja makan dan berjalan ke nakas, lalu memperbesar suara TV. Si*al ada foto putranya di infotement pagi. Dia menyimak berita soal penculikan Rama dan Nita yang menjadi DPO ( Daftar Pencarian Orang ) .


“Wah, Mas, kamu serius?” gumam Intania yang berada di rumahnya sendiri.


Intania mengira, seorang Sergey yang tampak penuh kasih sayang pada Nita akan terus melindungi Nita walau Nita salah. Ternyata ini justru sebaliknya, Sergey melakukan konferensi pers bahwa Nita terlibat dengan penculikan Rama.


Bahkan Sergey membeberkan motif Nita yang meminta agar NASA dikembalikan pada Nita. Namun dengan tegas, Sergey membuat statement menolak untuk menyerahkan NASA dan meminta masyarakat seluruh Indonesia bila melihat Nita Athalia atau petunjuk apapun segera menghubungi nomor di sisi bawah layar TV.


“KEREN….” Intania melongo, tangannya sampai gemetar karena ngeri. Ternyata Sergey masih seperti dulu, bila sudah menyangkut anak-anaknya. Sergey menjadikan Rama prioritas di atas segalanya, bahkan dia tahu sendiri jika Sergey rela ma*ti bila sudah menyangkut Rama.


Video ja*jaran kepolisan yang akan mengerahkan seluruh upaya untuk mencari Nita dan Rama tayang di TV. Bergegas, Intan membuka media sosial, ig, fb, telegram. Fans Sergey Lovers mulai memenuhi kolom komentar. Mereka justru sibuk menduga-duga banyak dugaan dan Intan jadi ikut kemakan dengan logika mereka.


-


Nathan berada di Banjarmasin, dia baru mendapat telepon dari temannya. Sebuah link yang baru dikirim temannya dibuka. Setelah membaca artikel resmi yang dikeluarkan oleh NASA dan konferensi video Sergey. Entah, dia harus sedih atau senang. Nathan sudah meminta temannya agar mempercepat pembuatan identitas baru.


“Sepertinya Sergey dibantu Jefri. Apakah aku harus meninggalkan Rama disana?” Nathan berpikir keras, tak ada untungnya membawa Rama, untuk apa juga membuat identitas baru untuk Rama. Sementara identitas baru lainnya sudah selesai dan tinggal menunggu milik Rama jadi. “Kasian juga Nita, jadi bulan-bulanan Netizen. Ah masa bodo, lagipula Nita tidak akan kembali ke Indonesia.”


“Aku harus menyembunyikan ini dari Nita. Sergey benar-benar memutarbalikkan fakta. Padahal  pria tua itu yang ingin menguasai NASA dan dulu membeli NASA dengan harga murah dari  yang tak  seharusnya. Bahaya. Aku harus cepat kembali dan memindahkan mereka, jangan sampai Jefri menemukan jejak Papa Devan lalu memaksa menemui Mami Stef.”

__ADS_1


Nathan meraih kunci mobil dengan  gelisah, karena pergerakannya akan semakin terbatas. Apalagi seluruh kepolisian mulai menyisir ke pelosok, dia harus pintar-pintar menyamar. Dia juga harus mengubah rencana untuk meninggalkan Rama. Kami bertiga harus keluar dari negara ini tanpa Rama.



__ADS_2