
Nita Athalia .... Aku tak perlu panjang lebar. Devano Wijaya juga papahku," suara Nathan terdengar menjadi berat dan penuh penekanan.
"Aku jadi teringat saat aku kecil, pulang sekolah dengan masih memakai seragam. Aku menuruni anak tangga di rumah kedua. Dari lantai satu, Tuan Devan memberikanku mainan yang sudah lama kuinginkan. Dia membawaku masuk ke rumah utama, kau tahu apa setelahnya? Tuan Devan menyuapi aku makan dan setelah aku bilang kenyang, tangan besarnya memegangi kedua lenganku. Tuan Devan sedikit condong ke arahku dan mengatakan. 'Jonathan Pradipta mulai sekarang panggil saya Papah.'
Saat itu hidupku seperti menjadi terang benderang. Jika kau tahu bagaimana rasanya sedari kecil di sekolah, saat semua anak selalu menyebut orang tua yang mereka banggakan, aku justru mendapat olokan. Katanya aku berbeda. Aku juga berpikir kenapa aku tak memiliki ayah dan ibu. Maka dari itu, aku seperti mendapat hadiah terindah di dunia saat Tuan Devan mengatakan itu.
"Namun, suatu hari saat dia mendatangi ke acara pentas seni pelepasan kelas 6, aku melewati ruang guru. Tak sengaja aku mendengar suara Papa Devan jadi aku mendekat. Hatiku bergetar dan aku sakit saat beliau mengatakan. 'Jonathan hanya anak angkat yang saya adopsi dari panti, tolong jangan sampai ini diketahui publik. Jadi, jangan panggil saya di atas panggung hanya demi celebration Jonathan karena mendapat nilai tertinggi, buat saja anak-anak yang maju tanpa perlu mengundang orang tua mereka. Katakan saya di sana sebagai donatur seperti biasa, jangan menyebut saya sebagai walinya dan jangan sampai Jonathan tahu ini.'
"Kau tahu rasanya, Tha? Hatiku langsung patah. Kupikir aku adalah hal yang memalukan untuknya. Beliau selalu ingin dipanggil Papah saat tidak ada orang, tetapi beliau seperti malu bila aku orang lain bertanya siapa aku baginya."
Nita mengkerutkan kening pada tatapan kosong Nathan, dia sama sekali tak menoleh hanya melirik ke samping. "Maaf, karena sikap papah saya membuat Kakak tak nyaman .... "
"Untuk apa kau meminta maaf? Aku terlalu banyak berhutang budi padanya. Membawanya keluar dari kediaman Jefri, sebagai balas budiku. Aku akan menyiapkan pasport dan visamu, juga milik papahmu. Kau siapkan dirimu sewaktu-waktu kita keluar dari negara ini."
"Kak, apa kakak serius? Itu tidak mungkin dengan kondisi papah."
"Aku mempertaruhkan segalanya untuk ini dan aku telah menyiapkan semuanya, tentu saja aku memikirkan cara memindahkan Papa Devan dan tidak sembarangan."
"Tapi, rumah, perusahaan milik papa?"
"Rumah tinggal dijual dalam hitungan menit semua itu bisa diproses. Perusahaan ... kau harus melepasnya." Nathan menghela napas kasar saat mendapati tatapan kebingungan Nita.
"Tapi uang menjual rumah hanya mampu untuk menutupi perawatan papah beberapa bulan. Aku perlu penghidupan masa depan Musa dan aku sendiri tidak mau bergantung pada Kakak yang tidak pasti. 30 persen saham di NASA bukan uang sedikit, Kak. Nita yakin walau Nita kerja ikut orang seumur hidup takkan mampu memiliki sebanyak itu."
__ADS_1
"Kau masih memikirkan uang?" Nathan geleng-geleng tak habis pikir.
"Siapa yang tak butuh uang, Kak? Jika Nita hidup sendirian, Nita takkan memikirkan itu. Tapi dipundak Nita ada 2 kehidupan dan tanggung jawab Nita. Kalau Nita tak berpikir jangka panjang, sama saja Nita bu*nuh diri. Nita tak mau Musa terlunta-lunta, apalagi kondisi papa ...
"Nita mau melakukan yang terbaik untuk papah walau sekalipun harta papa habis hanya untuk perawatan papah. Nita yakin papa akan bangun, Nita ingin selama mungkin bisa bersama papa. Hanya papa yang Nita miliki sekarang. Aku tak mau Kakak menghancurkan hidup Nita karena rencana Kakak." Dada Nita turun-naik, napasnya jauh lebih cepat karena emosi pada kata-katanya sendiri.
Nathan mengigit bibir bawah. "Usahamu akan sia-sia, jika kau tak mendengarkanku, Atha .... "
Nita menggelengkan kepala, dia yakin pada keputusannya. Daripada mengikuti kata-kata Kak Nathan yang entah apa benar memikirkan nasib papanya atau justru nanti meninggalkannya tanpa pertanggungjawaban. Jika dengan Sergey dia lebih percaya, karena selama ini Sergey benar-benar bertanggungjawab pada kemajuan NASA.
Sergey yang baru turun dari mobil, terpaku ke arah sudut parkiran. Dia membawa buket bunga mawar dan berjalan ke sosok yang menyita perhatiannya. Anak buahnya diteleponya dan dia mendapat informasi bahwa Nita sudah pergi selama 20 menit.
Nita yang tak sadar menangkap orang yang berjalan ke arahnya langsung pucat pasi. "Kak, ada Mas Sergey yang menuju kemari. Kakak, cepat pergi," ucap Nita penuh dengan penekanan. Dia membawa ponsel ke pangkuan dan mulai mengotak-ngatiknya sambil berpikir.
"Cepat, Kak, dia pasti mengenalmu. Kurang dari 10 meter lagi, pergi ...."
"Iya, bawel." Nathan melirik sekitar dalam posisi masih membungkuk. Dia dengan santai bangun dan berniat pergi.
Mata Sergey terpaku pada lelaki itu, seperti kenal. Sergey meraih ponsel dan mengirim informasi ke anak buahnya, tentang arah pria yang barusan pergi. Mengapa orang berpakaian mahal, tidak biasa-biasanya mau duduk di taman seperti ini. Sedangkan jaraknya tersisa tiga meter dari tempat Nita berdiri.
"Mas ... wah, bawa bunga untukku lagi?" Nita berusaha tersenyum tulus sambil berdiri.
"Hahaha ....kalau bukan untuk kamu, untuk siapa lagi?" Sergey dengan senyuman bangga, lalu mengulurkan bunga itu dan mengamati mata Nita yang tampak gugup dan menghindari tatapannya.
__ADS_1
"Terimakasih, bunganya sangat cantik."
"Kamu mencari udara segar? Apa sudah memesan kopi?" Sergey tahu dari anak buahnya, alasan Nita keluar untuk membeli kopi.
"Aku sudah pesan dan sudah kubayar, ini tinggal ambil. Ini tempat enak untuk menenangkan diri, jadi aku tak menyesal dengan mencoba suasana disini sambil menunggu kopinya jadi." Nita memeluk bunga mawar, matanya melirik ke arah Nathan pergi. Dia menghela napas perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya karena takut ketahuan.
"Ayo, kita ambil kopimu." Sergey membiarkan Nita dua langkah di depannya. Dia memberi tahu anak buahnya agar mencari tahu pria barusan, apa itu mata-mata dari musuh Jefri.
...---------------...
Kakek Axel mengelus-ngelus rahangnya. Tangan kiri yang keriput itu gemetar saat memegang kertas dan membaca hasil tes DNA Musa dan Rama yang menunjukkan angka paternitas 99.99%.
Axel mengelus alis yang berkeringat, berulangkali karena cemas. Tidak mungkin. Tidak mungkin Musa itu anak Rama. Tidak mungkin cucunya setega itu mengkhianati papanya sendiri. Pasti wanita itu yang menggoda cucunya.
Jadi, benar dugaan publik yang sama sekali tidak meleset. Rahang Axel mengeras, tangannya meringsek kertas menjadi bola kertas, tangannya mengepal kuat hingga menimbulkan bunyi saling gemertuk dari tulang rawannya.
"Ini sangat menjijikkan. Perbuatan mereka begitu keji dan tak pantas mendapat ampunan. Mereka mencederai nama baik keluarga besarku! Aku tak sudi melihat mereka!"
"Apa yang menjijikan, Ayah? Tak Sudi pada siapa? Siapa yang mencederai nama baik keluar besar Ayah? "
Axel dengan wajah pucat menoleh ke belakang dan baru sadar seseorang telah berdiri di belakangnya. Matanya berkedut dan Axel melempar bola kertas ke wajah orang itu dengan kepala yang sudah mendidih.
__ADS_1