Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 44 : SERANGAN MASSA


__ADS_3

"Kamu sedang apa?" Sergey menepuk-nepuk putranya di bahu kiri. Dia melongok ke apa yang dilihat putranya di pangkuan. Sebuah video di ponsel.


Rama tertawa terpingkal-pingkal. Dia menyodorkan layar ponsel dan menekan video seorang yang akan memberi kejutan ulang tahun, justru si pemberi kejutan malah terkejut karena yang ulang tahun malah memukul si pembawa kue. Alhasil kuenya jatuh.


"Begitu saja lucu?" Sergey melirik Rama yang masih tertawa. Dia pikir apa.


Rama mengintip dari balik bahu, bahwa papanya sudah keluar dari kamar. Dia menghela napas panjang dan bersandar pada sofa. Nyaris saja ketahuan, untung dia melihat pantulan bayangan papa di jendela yang tengah mendekat ke arahnya hingga dia memiliki waktu untuk mematikan panggilan dan membuka video lucu.


Rama teringat wajah Nita barusan, syukurlah dia bisa melihat senyuman Nita, sebelum panggilan terputus. Kakinya dinaikan ke sofa dengan mata masih terpejam. Bayang wajah Nita pada saat wanita itu sedih, senang, marah semua berenang di kepalanya. Bau sakura, strawberry, vanila, harum yang berubah-ubah dari tubuhnya. Entah, parfum apa yang dipakai Nita, tetapi Rama sangat menyukai bila itu telah berbaur dengan kulit halus itu.


Bayangan Nita memeluknya dari arah belakang semalam, ahhh ...... rasanya dia ingin berteriak saja. Kapan dia akan mendapatkan seperti itu lagi. Untuk saat ini dia tak mau menambah beban pikiran untuk Nita.


*


Menjelang jam makan siang, suara keributan mengusik ketenangan Nita yang baru menidurkan Musa. Dia lekas turun ke lantai satu dan saat melewati kasir, tampak orang-orang telah membuat meja kursi rusak, piring berserakan. Nita yang tak tahu apa-apa langsung terlempar cairan, yang entah dari mana hingga rambut wajah dan pakaiannya basah.


Massa yang lebih dari 10 orang serentak mendekati Nita, Nita langsung duduk meringkuk saat Dila mencoba melindungi dan menghalangi orang-orang. Berbagai kata-kata buruk dan keji dilontarkan mereka pada Nita sampai Nita merasakan tendangan di lengannya yang melindungi kepala.


Rama yang memperlambat motor, langsung menghentikan tepat di tepi jalan saat resto dikelilingi orang-orang sampai dalamnya tak kelihatan. Perasaannya tak enak dan dia segera memecah kerumunan karena mendengar kalimat buruk tentang 'hubungan terlarang, selingkuh."


Rama berusaha mencerna, dan dia bingung, harusnya konferensi pers papanya sudah mampu mengklarifikasi dan menenangkan opini buruk yang tengah beredar. Orang-orang berwajah sinis, dia dorong-dorongan saat mereka menendangi tangan seseorang yang duduk meringkuk. Ramapun ikut menjadi sasaran mereka saat melindungi kepala dan tubuh Nita.


Sergey membawa buket bunga mawar di pangkuan. Patrik mengendarai mobil dan di depannya jalanan mulai macet, padahal tinggal 200 meter lagi. Dari arah belakang terdengar sirine polisi dan ternyata tiga motor polisi baru lewat dan berusaha memecah kemacetan.


Patrick menurunkan dan bertanya ke motor-motor yang ikut berhenti. "Ada apa di depan? Apa ada kecelakaan, Pak?"


Sergey melirik ke tukang ojek online yang sedang memboncengkan penumpang yang menjawab pertanyaan Patrik. Begitu mendengar nama Nita dan Rama disebut, Sergey tanpa pikir panjang langsung turun, mencari celah diantara pemotor. Trotoar juga dipenuhi pemotor sampai sulit lewat.


Sebuah sorakan. "Huuuuuuuuu." Serta cacian-cacian di dengar Sergey begitu dia tiba di resto Lana yang kini telah kotor dengan aneka botol, lantai penuh telur busuk dan cairan yang berbau tidak enak. Beberapa orang dibubarkan polisi. Sergey melihat ke seragam pegawai yang ketakutan . Bisa dikatakan tidak ada kursi kayu yang utuh.


Dia melewati tangga yang dipenuhi entah siapa, dan mendapati di lantai dua tengah duduk Nita yang babak belur di bagian kedua tangan, itu terlihat karena Nita memakai kaos. Putranya juga, terdapat darah di pelipis yang tengah diobati orang seorang polisi.


Sergey dipanggil seorang polisi, polisi itu menjelaskan duduk perkaranya. Sergey minta itu diusut tuntas dan dia dengan berusaha tenang sambil terus melirik ke arah Nita yang sedang diobati olah karyawan perempuan.


Begitu polisi turun ke lantai satu, Sergey melepas jas dan menutupkan ke bahu Nita. "Aku akan mengantarmu pulang. Di mana Musa?"


Nita tanpa menoleh ke arah Rama, langsung berdiri. Pikirannya entah di mana, dia sangat takut, teriakan orang-orang tadi masih menari-nari di otaknya. Nita masuk ke kamar dan hanya mengambil tas dan ponsel, sedangkan Sergey menggendong Musa dengan penuh kekhawatiran.


Rama berdiri saat Nita terus berjalan menunduk, dia menghalangi jalan dengan tangan saat di tangga. "Jangan melamun, nanti jatuh."

__ADS_1


"Jalan Rama, ikut Papah." Sergey yang dibelakang Nita, berusaha mengingatkan.Dia melirik Patrick yang tengah berbicara dengan pegawai resto, kemungkinan tentang ganti rugi.


"Tidak tahu malu!"


"Bapak anak dimakan semua!"


Banyak teriakan menyambut Nita yang berjalan tertunduk dengan dilindung dua polisi di kanan-kiri, menuju mobil polisi yang telah di depan-padahal tadi belum ada. Rama menghela nafas berat, dan merasa ini semua salahnya.


Sergey yang menutupi kepala Musa dengan kain agar tak mendengar suara mereka, nyatanya sia-sia. Musa bangun dengan tangisan tak terkendali di dalam dekapan tangannya. Masuk dari tangga, melewati ruang resto hingga ke mobil saja sulit karena penuh oleh massa.


Polisi mulai berdatangan tetapi kalah oleh masa, hingga polisi itu menjadi tameng, melindungi Rama dan Sergey. Rama duduk di depan, Nita dan Sergey di belakang.


Mobil polisi mulai jalan dan merayap memecah kemacetan dengan dikawal motor polisi, sorakan Massa menggema, membuat Nita kehilangan dirinya sendiri, dia negeblank bahkan masih belum sadar bahwa Musa menangis.


"Berikan padaku, Pah, dia ketakutan." Rama menghadap belakang dan untung papanya langsung setuju. Seorang bayi bahkan sampai ketakutan karena teriakan masa tadi. Rama bingung sendiri, biasanya Misa akan langs6 diam setelah disentuhnya, kini sulit sekali menenangkan walau sudah dikecup dicium, ditepuk.


Sementara itu di kafe di seberang resto milik Lana, dari lantai dua ... tengah berdiri Shelina di balkon sambil menyunggingkan senyuman. Kerumunan itu saja masih belum bubar, bila dihitung sepertinya ada 500 orang lebih memenuhi sekitar, sudah seperti pawai, bahkan 60 persennya adalah ibu-ibu yang tak punya pekerjaan.


Shelina merasa tidak rugi telah membayar preman sampai 50 juta. Buktinya massa telah menghancurkan bagian dalam resto hingga pembatas kaca pecah dan barang-barang di dalamnya pecah. Dia membuka grup yang terdapat 20 preman suruhannya, mereka melaporkan hasil tugas masing-masing.


Shelina puas, bisa melihat Ibu tiri Rama yang shock saat masuk ke dalam mobil polisi. Dia tidak takut, karena para premannya, tidak ada di lokasi, polisi takkan tahu ulah preman suruhannya.


*


Intania mengepalkan tangan geram saat membaca sebuah caption salah satu akun anonim:


...Sebelumnya Rama Abimasa santer dikabarkan memiliki hubungan terlarang dengan ibu tirinya Nita Athalia. Bahkan Sergey Aiman Abimasa dengan tegas membantah perselingkuhan antara anak dan istri sambungnya. Menurut Sergey, video yang beredar kemarin hanyalah rekayasa belaka, bahkan Sergey mendatangkan tim IT untuk membuktikan kepalsuan video tersebut....


...Namun, apakah gerangan dengan video terbaru yang memperlihatkan sikap Rama yang begitu melindungi Ibu Tirinya sampai mengorbankan diri sendiri? Benarkah hubungan mereka itu sebatas anak dan ibu sambung?...


"Ih! keterlaluan mulut-mulut Netizen!" Intania berdiri, dia tidak terima kalau Musa dianggap sebagai hasil hubungan gelap putranya dengan wanita itu. Dia menelpon Sergey, tetapi ponselnya tidak aktif. Intania menelpon Patrick, Rama, Nita, mereka tidak ada yang menjawab.


...****************...


Empat hari berlalu, publik yang sempat sudah mulai tenang, kini justru semakin tak terkendali. Bahkan nama Musa Devano Wijaya kini menjadi sasaran selanjutnya. Sergey pun belum berniat melakukan konferensi pers lagi, situasinya sangat tidak memungkinkan.


Di tempat lain, Kakek Axel Abimasa, Manula berusia 70 tahun, terpaksa pulang ke Indonesia karena berita yang sangat membuat malu nama keluarganya. Putranya itu membuat ulah, cucunya juga sama, seperti tidak ada perempuan lain saja, pikir Kakek Axel.


Ketika makan malam, Kakek Axel duduk di tengah, di kanannya Sergey- 50 tahun, di kirinya Rama- 26 tahun. Mereka menghabiskan makanan, lalu tanpa basa-basi Kakek Axel menanyakan kabar masing-masing.

__ADS_1


"Sergey, katakan padaku, video itu palsukan?" tanya Kakek Axel.


Sergey menatap tajam sang putra, yang lalu tertunduk. "Bisa kita bicara berdua saja, Ayah?"


"Nanti ada waktunya kita bicara berdua."


Rama menelan saliva, dia menunggu apa yang akan dikatakan papanya. Di sini pasti kakek yang akan marah padannya, bila sampai Sergey mengatakan sebenarnya. "Kakek Axel, video antara Rama dan Ibu tiri, itu palsu. Kan, papah sudah menjelaskan di depan publik."


Sergey mendelik karena putranya, berani mendahuluinya, tidak sopan. Tapi, jika dia bilang sejujurnya, Axel bisa mengirim putranya ke Eropa, lalu dia sendiri akan sulit bertemu sang putra yang disayanginya. Dia tak bisa bila lama berjauhan dari Rama karena rasa cintanya pada sang putra.


"Rama, Kakek belum bertanya padamu," kata Kakek Axel mengingatkan sang cucu, lalu beralih ke Sergey. "Katakan tentang video yang penuh kontroversi itu ... jagoanku."


"Ayah, benar kata Rama, video itu memang palsu. Jaman makin canggih, semua bisa direkayasa. Seperti tidak tahu saja, Ayah." Sergey dengan nada sopan dan tenang, dia memilih berbohong pada ayahnya.


Sergey menatap sang ayah yang rambutnya telah putih semua. Seharusnya, ayah sekarang sudah waktunya bersantai-santai, setelah dulu bekerja keras sampai usia 60 tahun. Dia tak mau merepotkan ayahnya lagi.


Axel Abimasa, dulu adalah seorang asisten pribadi dari Presdir di perusahaan minuman instan yang mendunia. Bos ayahnya dulu adalah Milyader bernama David Leora. Jadi, dia berharap kemampuan analisis ayahnya telah menurun. Mungkin dia berharap semoga detik ini ayahnya sedikit dimensia, agar tak ikut campur pada urusan keluarganya.


Dia tak mau seperi bos dari ayahnya, yang hidupnya diatur-atur oleh kakeknya.


 


Jefri mondar-mandir di ruang perawatan malam itu. Dia tersenyum pada kondisi Devano yang melewati masa kritis. Dia berpikir apa perlu menelpon Nita, apalagi karena video viral itu, mungkin anak kecil itu butuh sebuah pancingan untuk tetap berga*irah menjalani hidup. Akan tetapi dia sudah berjanji pada Sergey, untuk memberi waktu agar tidak menggangu Nita.


"Ah, ini bukan mengganggu, kan?" gumam Jefri dengan seringai licik. Ponsel diraihnya, dia menelpon anak buahnya agar memancing Nita keluar dari tempat tinggalnya. "Atau aku perlu menjemputnya langsung? dia pasti tak berkutik apalagi .... " Jefri mengarahkan kamera ponsel ke arah Devano dan mulai merekamnya.


Bersambung ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Catatan dari Othor seputar beberapa tokoh :


*Alex Abimasa ada di novel karya berjudul 'Benih cinta 13 hari di Qatar' sebagai asisten pribadi David Leora.


*Stefanie Ailiy dahulu adalah kakak ipar David Leora di novel 'Benih Cinta 13 hari di Qatar'


*Jefri muncul dalam dua novel. 'Kencan kontrak' dan 'Benih Cinta 13 hari di Qatar' dan berkutat di dunia Mafia.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2