Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 13 : W3BE


__ADS_3

"Untuk kemenangan Rama! Tuan Serigala telah kembali!" seru Budi menjulurkan bir ke udara, disusul uluran gelas teman-temannya disertai tawa kemenangan.


Lima gelas bir berdenting. Rama, Budi,Agus, Shelin dan Ririn. Mereka lalu menarik dan menyesap minumnya. Shelina mengusap busa di ujung mulut Rama dengan manja, yang langsung mendapat tatapan tajam Rama.


"Shel, jangan menyentuhku! Selama tak ada ijin dariku, atau kita putus." Rama memperingatkan Shelina dengan jijik dan langsung mengelapi mulut dengan tisu. Dia tak terganggu pada tatapan protes teman-temannya, dia geli saja pada sentuhan wanita.


"Ram, aku hanya kangen .... " Shelina menggigit bibir bawah merasa dipermalukan di depan teman-temannya.


"Sudahlah, kita fokus pada perayaan," ucap Budi sambil menyalakan tivi. Beberapa makanan datang diantar pelayan.


"Minggu depan kau pasti memenangkannya lagi," ucap Agus pada Rama. "Biar grup Golden Eagle itu memakan kesombongannya sendiri. Hahaha."


"Dan hiduplah W3BE!" Seru Budi sambil memegangi sebungkus camilan.


"W3BE!" Seru para wanita. Mereka mengeja dalam pelafalan bahas Inggris 'dabelyu tribi'


"White Wolf with Blue Eyes." Rama mengulangi kepanjangannya.

__ADS_1


"Eh dimana kalung mu, Rama?" tanya Shelina karena Rama tak memakai kalung berbandul kepala serigala. "Masa kau yang serigala bermata biru tak memakainya?"


Rama merab4-rab4 lehernya sendiri. "Aku akan memesannya lagi. Punyaku hilang sebelum pernikahan papah. Aku baru sadar itu hilang saat akan ke Australia, saat itu aku sudah tidak memakai kalungku lagi."


"Ya, sudah. Nanti Agus pesankan lagi. Mungkin saudaranya masih menyimpan desainnya," ucap Budi.


"Pasti ada, butuh waktu seminggu untuk membuatnya. Desainnya yang begitu teliti dengan rambut serigala yang timbul dan permata biru untuk matanya yang dipesan mendadak. Apalagi itu permata biru khusus yang susah dicari."


"Rama gimana sih, itu kan barang mahal. Yang nemu pasti ketiban durian runtuh, dijual 50 juta aja laku," gerutu Ririn.


Bukan sembarang orang bisa mengenakan kalung itu. Hanya yang menjadi anggota inti yang bisa memakai kalung itu. Uangnya dari hasil kemenangan taruhan Rama. Tidak ada yang bisa meniru kalung yang adalah kebanggan w3be itu.. Mereka yang coba meniru kalung itu akan berurusan dengan penggemar Rama. Mata pada kepala serigala itu biru sesuai warna mata Rama.


Shelina mendekat ke Rama. Dia baru menjadi pacar Rama saat di pesta di rumah Rama. Namun, dia harus bersabar karena dia tak boleh memegang Rama tanpa seijin pria itu. "Rama ...." Dia menatap pria yang dipuja semua gadis di lintasan balap. Kepala pria itu bersandar di bagian tempat duduk sofa. Mereka semua duduk di lantai beralas karpet.


"Besok Minggu, biar kami besok jemput kamu ke rumahmu. Kita jalan-jalan sore, kalau perlu kita kerjain ibu tirimu." Shelina tertawa ringan dengan banyak rencana untuk mengerjai ibu tiri Rama, demi mencari perhatian Rama. "Gimana, Ram?"


"Bagus juga itu?" Agus menimpali saat Rama masih terpejam tanpa bereaksi. Dia kembali pada ponselnya, mengecek ke rekening. Bagian dari menang balapannya sudah masuk ke rekening. Matanya langsung berbinar.

__ADS_1


"Apa ular sancha sudah ketemu?" tanya Budi sambil membuka bungkus Snack ke dua.


"Sudah diserahkan ke dinas lingkungan hidup oleh Pak Abie." Rama tiba-tiba tertawa saat ingat ketakutan Nita. "Kalian tahu? Ular itu katanya merayap ke tangan Nita saat perempuan itu duduk di sofa."


Teman-teman Rama menertawakannya. Begitupun Rama yang senyum-senyum sendiri karena Nita saat itu sampai tidak mau menginjak lantai dan justru menginjak punggung kakinya.


Hari telah malam saat Sergey baru turun dari tangga dan mendapati Rama dalam papahan Pak Abie, kepala pelayan. "Anak itu sungguh memalukan kelakuannya turun dari siapa?"


Tak ada bedanya dengan anda, Tuan. Batin Kepala pelayan.


"Aku bisa sendiri!" Rama mendorong bahu dan kepala pelayan dan berjalan memegangi pegangan tangga. "Jangan mengikuti," suara Rama parau, dia menghadap dua orang di bawah dengan masih berpegang pada pagar tangga.


"Biarkan saja, Pak Abie. Tolong, ikut saya saja." Sergey berjalan ke lorong di samping ruang keluarga dengan diikuti kepala pelayan.


Rama menyusuri kamar dengan sangat lamban dan limbung. Dia melangkah dengan pandangan kabur setelah membuka pintu kamar. Tampak siluet wanita yang tidur dengan manis di atas tempat tidur dengan cahaya lampu tidur yang mengambil perhatiannya. Dia terus melangkah dengan semangat dan tertawa ringan untuk mendekat dengan hatinya penuh bergejolak.


"Bahkan begini kamu masih membayangiku?" Rama melihat bayangan Nita di kamarnya. Dia mengelus wajah Nita dengan jari-jarinya yang panjang dan mengendus leher Nita yang bau vanila.

__ADS_1


.


__ADS_2