
Tanpa melihat sekitar, Sergey melangkah dengan aura menyeramkan, menyusul Antonio yang menggendong wanita yang dicintainya. Bahkan pria blasteran itu tak menyadari keberadaan seseorang, karena terlalu fokus pada wajah Nita yang tak sadarkan diri dan begitu ranum.
Bagi Antonio tak ada sia-sia usahanya untuk membuat Rama sakit perut, hingga para pengawal Nita pun sibuk dengan Rama sebelum hujan turun. Para pemain lain pun sibuk mendalami naskahnya masing-masing. Inilah saat-saat paling tepat dia menikmati tubuh ranum wanita itu sebelum Nita bangun lalu tersadar, begitulah pikiran Antonio yang tidak terima bila ada seorang wanita yang sok jual mahal padanya.
Tangan Sergey terkepal saat pria itu memasuki ruangan bertuliskan gudang, Sergey lirik kanan-kiri di lorong, dengan pelan dia membuka pintu itu tanpa menimbulkan suara. Benar, dugaannya, bahwa lelaki blasteran itu ada maksud tidak baik. Dia melewati tumpukan kardus mencari kanan-kiri.
Antonio yang akan menarik kaos Nita hingga menyingkap di perut datar mulus dalam semi kegelapan, gerakannya terhenti. Dia berdiri dalam senyap dan memasang telinga. Sebuah tongkat besi sepanjang satu meteran diraih dan bersembunyi karena mendengar langkah kaki itu semakin jelas, hingga dia pun menjauh dari Nita. Dia melihat sosok pria bermasker, lalu tongkat diayunkan saat pria berseragam kebersihan itu membungkuk, tepat menghantam kepala bagian belakang hingga lelaki itu tersungkur di kaki Nita.
“Siapa kamu, mengganggu kesenanganku? Mau jadi pahlawan kesiangan, jangan mimpi!” cibir Antonio sambil menarik tangan pria itu yang bersarung tangan hitam, menyeret sejauh dua meter. Sebuah tali plastik diraih dan Antonio menggunakan itu untuk mengikat kedua tangan petugas kebersihan yang tak sadarkan diri.
Di aula gedung, para pengawal Nita kebingungan mencari keberadaan Nita. Tak elak Rama yang masih berbaring di ruang kesehatan, lantas ikut mencari, tetapi dalam pencarian Rama, Rama masih saja bolak-balik kamar mandi karena rasa mulasnya. Rama sampai menelpon Kakek Axel agar mencarikan Nita. Para kru film juga ikut mencari ke segala penjuru gedung.
Jantung Antonia berdebar dan air liurnya hampir menetes beberapa kali, jempolnya terus mengelap ke ujung bibirnya. Tangannya dengan tidak sabar membelai wajah Nita, bibirnya mendekat ke bibir ranum yang seakan terus menggodanya sejak awal pertemuan disaat Reading naskah. Tak menyangka kesempatan ini akan datang. Kelelakiannya sudah dalam mode on sejak menggendong Nita dari ruang actor.
“Cantik, kau pasti akan senang dan keenakan.” Antonio menghirup aroma strawberry di bibir yang berjarak lima senti dari bibirnya. Bahkan bau napas itu begitu menggunggah seleranya dan membuat tubuhnya panas seakan dia tengah dipanggang di atas bara api.
Udara terhempas di belakangnya membuat Antonio menoleh, dan sesuatu melayang tepat di depan wajahnya. Hantaman membuat kepalanya terasa melayang dan tersungkur ke lantai. Antonia yang masih berkunang-kunang, menoleh pada petugas kebersihan yang telah duduk dan dua kaki itu melayang tepat ke depan wajahnya lagi, dalam gerakan cepat mengapit lehernya hingga membuat tubuh Antonio memutar dan wajahnya menghantam ke lantai. Kemudian punggungnya terasa dihantam tubuh tukang kebersihan itu dari atas.
“Dasar otak kotor!” Sergey menduduki bahu pria itu dan tangannya mencari mata dan hidung pria itu, mencolok dengan jarinya yang besarung tangan, meski dalam keadaan tangan terikat di belakang, saat dua kakinya juga mengunci dua kaki pria blasteran itu.
“Ahhhhhh! Sial! Lepas!” Antonio berteriak dan meronta-ronta. Kakinya sakit bukan main, pahanya terasa akan putus karena ditarik ke belakang oleh jepitan kaki kuat itu. Matanya perih dan tak bisa melihat, hidungnya merasakan aliran hangat amis akibat tusukan tajam. Tubuh Antonio menggelepar.
Sergey melepaskan Antonio dan Antinio terus menjerit kesakitan dan minta tolong sambil menutup satu mata dengan tangan itu yang berlumuran darah sampai Antonio berguling-guling.
Dalam sela kardus, Sergey melirik ke arah perut Nita yang terpampang dan tidak tertutup kain, dia akan mendekat, tetapi ditahannya saat seseorang berjalan ke arah Nita dan tampak Pedro melihat sekitar dan menatapnya.
“Kau, pergilah sebelum ada yang melihatmu!” bentak Pedro dengan suara rendah penuh penekanan di sela teriakan Antonio. Pedro meraih pisau dari saku dan memotong tali plastik itu dari pergelangan tangan Sergey. “Ceoat pergi, kau mau membuatku dalam masalah?”
Jantung Sergey berdebar, menyusul Pedro yang membawa Nita dan mengabaikan umpatan Pedro, tetapi di ujung lorong dia menahan langkahnya saat melihat anak buah Rama. Sergey kembali ke lorong dan mendobrak ruangan di depannya karena dikunci. Dia bersembunyi di ruangan itu yang berisi peralatan syuting. Sergey pernah syuting di sini, setidaknya dia sedikit mengenal denah gedung ini.
Sergey duduk di antara sterefoam dengan aneka warna, melepas dua saung tangannya, lalu memilin kening. Tak ada yang bisa dilakukannya selain hanya menunggu, menunggu entah sampai kapan. Sergey menggelengkan kepala. Jika Jefri dan bos Richie tahu dia hidup, dia akan selalu menjadi babu mereka.
__ADS_1
Proses syuting dihentikan, Antonio ditemukan sedang merangkak keluar dari sebuah ruangan oleh salah satu kru film dan langsung dilarikan ke rumah sakit, berikut juga Rama yang begitu lemas karena diare dan dehidrasi parah sampai tak kuat berjalan. Tim produksi film berkumpul dan dimintai keterangan langsung oleh keamanan yang dikirim Jefri.
Tentunya, Chen sampai menjemput Nita dengan dua pengawal Nita karena kejadian tersebut. Jefri sampai menemui Nita sendiri di sebuah ruang dengan tirai terbuka dengan pemandangan taman yang indah tengah hari itu. Dari mata emas itu, Jefri membaca kebingungan Nita.
“Seseorang membekap mulut dan hidungku hingga aku tak bisa bernapas, cincin biru, tangan itu mengenakan cincin itu di telunjuk kiri. Aku sudah berusaha melihatnya, aku tak dapat melihatnya karena semua menjadi gelap, tetapi aroma parfumnya seperti aku mengenalnya,” ucap Nita dengan jemari gemetar di pangkuan karena tatapan tajam Jefri. “Aku tak melakukan apapun, aku bersumpah!”
Tanpa berkedip, Jefri melempar tatapan mematikan dengan dua tangan terkepal di depan dada, di depan meja kerjanya. Berani sekali seseorang melukai bintang kesayangan bos Richie. “Siapapun orangnya pasti akan mati.”
“Bukan saya, Tuan,” suara Nita parau. Apa Jefri sedang menunjuknya. “Anda tahu kan, tangan dan tubuhku, tidak ada darah, jadi bukan saya yang melukainya. Saya tak tahu ruangan apa yang dimaksud Tuan Chen, tetapi saya hanya tahu ruangan kesehatan saat saya bangun, dan itupun ada Rama di sana.”
“Keluar dari ruanganku! Jika kau berani menyembunyikan sesuatu,l? kau, takkan kubiarkan melihat Musa lagi.” Jefri mengelus dagu dan berpikir tentang apa yang harus dilaporkan pada bosnya. Sekepergian Nita, ponselnya berdering dari nomor bosnya. Jefri menebak bosnya sudah mendengar kabar bila pemain kesayangan bosnya telah terluka.
.
Dua hari ini Nita dan Rama tetap di rumah Sergey. Seperti malam ini, ditengah mereka, Musa telah terlelap tidur. Dua orang dewasa itu sibuk dengan pikiran masing-masing, menunggu pemberitahuan selanjutnya mengenai syuting karena kebanyakan scene yang seharusnya dilakukan Antonio.
“Hanya orang sadis yang melakukan itu pada Antonio, Sayang,” ucap Rama dengan rasa penasaran sambil melihat ke langit kamar. “Mata dan hidungnya sampai berdarah, aku melihatnya langsung, ngeri ih.”
“Baiklah, besok kita akan jenguk dia, ya. Untung ada dia, kamu jadi selamat. Tapi siapa yang membawamu ke gudang?” Rama semakin gelisah.
.
Hari telah larut malam, Nita berjalan ke arah dapur. Dia menunggu sepuluh cangkir itu terisi kopi. Kini Nita sudah mulai terbiasa tinggal di rumah itu, hanya saja tinggal di lantai satu, tak berani lewat kamar Sergey. Nita menoleh ke arah pintu dan tidak ada apa-apa. Dia mengelus tengkuknya yang merinding, apa hanya perasaannya saja seolah ada yang memperhatikannya.
Satu nampan berisi sepuluh cangki itu pun dibawa Nita ke ruang tv, dia ingin segera menyalakan tv untuk menghilangkan paranoidnya. Tanpa sepengetahuan Nita, Sergey telah bersembunyi di balik tirai ruang gelap di sisi sekitar belakang sofa yang diduduki Nita. Dugaan Sergey benar, Nita masih melakukan kebiasannya, dia membuka sedikit tirai dan memandangi Nita yang tampak fokus dengan tontonan drakor dan kopinya.
Disela Sergey memandangi Nita, munculah Rama bercelana pendek yang memeluk guling dan mendekati Nita. Sergey sedikit bersembunyi di lapisan jaring tirai. Bibirnya tersenyum melihat putranya yang tampak begitu manja. Walau berikutnya, senyum itu pudar saat Rama mencium pipi Nita.
“Kamu di sini, nggak undang-undang Mas?” Rama mengehempaskan diri dan menyandarkan kepala di bahu Nita.
“Uh, aku nggak bisa tidur, Mas. Musa kamu tinggalin sendiri. Nanti bangun, nyariin loh.” Nita akan bangun tetapi pinggangnya ditahan Rama.
__ADS_1
“Aku pindahin ke box bayi. Buka aja cctv kamar.” Rama membenamkan wajah di bahu istrinya saat Nita menyalakan tv yang lebih kecil di rak bagian atas, sedangkan rak bagian bawah adalah TV utama 70 inch yang tengah menayangkan drakor.
“Mas, Musa nggak diselimutin,” ujar Nita setelah melihat cctv kamar.
“Dia pasti sudah nyingkirin selimut itu, percuma.”
Sergey memejamkan mata saat melihat Rama bolak-balik menciumi rambut Nita, dia menarik napas dalam-dalam, sulit menghilangkan rasa perih dihatinya. Namun, ini lebih baik baginya. Begitu subuh datang, pasangan muda itu beranjak dari ruang tv, Sergey pun keluar dari rumah itu lewat gudang bawah tanah yang telah terhubung ke rumah lain.
Ketika dia mengambil minuman dingin, tampak Pedro baru pulang dengan membawa sayuran segar dan seperti akan memasak. Sergey duduk dan mengetukkan garpu ke gelas hingga menimbulkan alunan dentingan yang seolah menarik hati Sergey. Dia melirik ke arah Pedro yang menggelengkan kepala, yang baru duduk di depannya sambil memotong sawi putih.
“Kini mereka pasti mencariku, kuharap pengawal Atha tidak ada yang mengenaliku. Kau ceroboh! Lihat ulahmu.”
“Acctor itu mesum, kau mau membiarkan Atha dimangsa begitu saja,” balas Sergey dengan tak bersemangat.
“Diam dulu di sini, jangan membuatku susah lagi. Aku menolongmu saat kau akan jatuh itu tak gratis. Kau harus membantuku menangkap musuh Devan baru kau boleh macam-macam.”
“Sial, kau yang membuat aku seolah-mati di depan semua orang.”
“Tapi kamu enak,kan nggak jadi babu para Mafia itu lagi?”
“Shit! Benar katamu.”
“Awas saja sampai mereka menemukan sidik jarimu, lalu membongkar peti mati kosong itu. Sia-sia aku membayar mahal timku dan beberapa polisi untuk memalsukan kematianmu. Janganlah membuat masyarakat berspekulasi jauh dan membuat semua dunia gelapmu terbongkar.”
“Iya-iya aku mengerti. Kau cerewet sekali!”
Pedro kembali memotongi sawi, teringat dengan malam itu melihat Sergey akan terjun dari lantai 30 dan dia masih bisa menangkap tangan Sergey. Dia menghubungi timnya dan membawa Sergey yang mabuk parah lewat jalur tangga yang tak ada cctv.
Saat itu Pedro begitu ketakutan bila rencana itu tak berhasil. Bersyukur dia berhasil membuat security hotel untuk berakting sedemikian rupa seakan-akan mendengar benda jatuh. Kala itu Sergey sudah tak sadarkan diri, dan dia menyelinapkan beberapa polisi untuk mengamankan jenasah Sergey-yang sebenarnya masih hidup. Hasil visum itu palsu. Peti mati itu di tempati sebuah noneka silicon, dengan topeng silicon yang diprint wajah Sergey untuk sekadar jaga-jaga bila ada ayang memaksa untuk membuka peti saat sebelum pemakaman.
Setelah semua orang percaya dengan kematian itu, Pedro dibuat kesulitan dengan tingkah Sergey yang seperti orang gila saat dipasung. Sampai dia berhasil meyakinkan Sergey, agar Sergey mau membantunya mengamankan Devan dari musuh Devan yang dulu membuat Devan kecelakaan. Setelah mendengar soal jeratan Jefri pada Rama dan Nita soal syuting itu, barulah, Sergey semakin mendukungnya dengan catatan Sergey meminta untuk tidak dikurung lagi. Namun, baru satu bulan terlewati, Sergey mulai keluyuran di sekitar lokasi syuting dengan menyamar sebagai petugas kebersihan.
__ADS_1