Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 74 : SERGEY PULANG KE RUMAH SEBAGAI ERGI


__ADS_3

Devan menatap kepergian pria bernama Ergi dari kamar Sergey, dengan senyuman terus mengembang. Dia tahu teman-teman Sergey yang rata-rata ahli penyusup. Kakinya kembali melangkah ke kamar Sergey yang baunya begitu kental khas Sergey.


Parfum di kamar ini, membuat dia bertanya-tanya. Apa benar bau bisa bertahan berbulan-bulan. Seharusnya kamar ini pengap karena lama ditinggalkan penghuninya.


Maju ke meja rias, Devan mengambil satu wadah Pomade di toples berbentuk bulat mini. Dia memutar toples, melihat isinya masih bagus dan mencium harumnya yang membuat teringat dengan bau rambut Sergey. Pomade itu dibawanya, daripada tidak ada yang memakai, lebih baik dipakainya nanti setelah dia mengecat rambutnya yang telah memutih.


Tople pomade terlepas dari tangannya dan terjatuh menggelinding masuk bawah tempat tidur. Turun dengan susah payah, Devan duduk di lantai dan merogoh ke bawah tempat tidur, tetapi tak berhasil karena tangannya yang besar. Dia mengambil sisir di meja Rias dan melirik krim Pomade yang masih sedikit lengket dengan terdapat sehelai rambut hitam.


"Ini seperti baru dipakai, masih lengket. Atau Rama kali yah?" gumam Devan. Dia tiarap dan mengintip ke bawah kolong, menggeser tempat Pomade dengan sisir itu, sampai berhasil keluar dari lorong.


"Akhirnya ..... " Devan menyipitkan mata, tangannya kembali berusaha mengeluarkan sesuatu dari kolong. Ditariknya sebuah buku bersampul kuning, tak sengaja bagian tengah buku terbuka dan tampak tulisan familiar.


"Ini tulisan Sergey?" Devan membuka halaman pertama. Punggungnya dia sandarkan di tempat tidur Sergey.


"Sungguh tak kusangka, kini aku mengurung diri malu-malu di tempat yang sama dan dia ada di ruang sebelah.


Ketika dia masih sekecil boneka susan, aku mengajarinya melangkah- menuntunnya. Masih jelas terasa genggaman jari-jari mungilnya yang begitu kuat di telunjukku. Dia mencari papanya dengan wajah kebingungan. 'Atha mau ke Papa.' Masih jelas suara imut itu.


Saat itu aku menggendongnya, dia sangat mungil seperti boneka susan dengan poni yang begitu menggemaskan, terutama mata besar. Masih jelas teringat setiap hangatnya pelukan dia hingga 24 tahun ini aku masih merasakannya. Dia ciptaan Tuhan yang paling manis yang hadir dalam hidupku.


Mengapa bisa dia tumbuh menjadi gadis yang berbeda, dengan keindahan matanya, yang aku ingin tahu selalu setiap cerita yang datang dari kejujuran mata emasnya. Aku ingin tahu dunianya."


Devan menggaruk kening, bingung setelah membaca tulisan itu. Atha siapa yang dimaksud oleh Sergey. Dia melihat tanggal itu setahun lalu. Jantung Devan berdebar membolak-balik halaman dan berhenti di tulisan terakhir.


-Hahaha menemukan buku Atha dan Rama, entah buku ini milik. Atha atau Rama. Atau buku mereka. Lucunya. Devan bilang ini buku Rama yang dipinjam Atha, setahuku aku tak pernah membeli buku itu.


Hari ini betapa indah ya, tubuh ini terisi oleh sejuta energi seketika. Tahu? Aku melihatnya dari dekat. Hatiku sontak menari-nari dan terbebas. Aku menjadi diriku. Sampai lututnya jatuh menimpa tanganku, dia terjaga dan aku mundur dengan meninggalkan bukuku. Kupikir dia bangun ternyata dia hanya kaget dan tidurnya itu seperti .... Bidadari yang sedang lelah. Kupikir dia mulai menyukai tentang buku filsafat~


Devan menjatuhkan buku itu tanpa sengaja. Dia tak melihat tanggal pada halaman terakhir. Kini buku itu membuatnya berpikir lebih dalam. Di dorong buku itu ke tempat semula. Devan dengan setengah melamun kembali ke kamarnya dan melupakan Pomade itu. Dia baru ingat dengan Pomade saat sudah terbaring di kamarnya sendiri.


Di dalam kamarnya yang gelap gulita, Devan bolak-balik memeluk guling. Dia tak ingat sejak kapan .... Dia memang selalu melihat Sergey mulai sering melihat putrinya dengan pandangan aneh sejak putrinya duduk di bangku SMP. Namun, dia kira itu adalah pandangan kasih sayang selayaknya seorang ayah pada putrinya. Akan tetapi, dari cara Sergey memandang ke putri Sergey sendiri juga tidak seperti pada Nita.


"Tidak ah." Devan membuang pikiran buruk. Tidak baik terlalu memikirkan masa lalu. Dia pikir Sergey di surga pasti bisa membaca pikirannya sekarang. Dia masih menghormati temannya.


"Memang sejak kapan Atha suka baca buku filsafat? Perasaan anak itu paling malas baca buku. Atau aku yang tidak tahu? Memang apa isi buku filsafat. Bikin penasaran aja. Masa Atha suka baca begituan?"


...****************...


Hari menjelang siang, cuaca sangat terik di luar. Devan tengah menunggui Musa yang tengah mewarnai gambar dengan crayon. Pikirannya terus termangu ke buku Filsafat. Putrinya masuk ke dalam ruang kaca sambil membawa kentang goreng, di satu tangannya membawa buku.


Mata Devan melotot saat Nita duduk di sampingnya. Dia melongok ke kanan bawah, di antara jaraknya dengan Nita dan membaca judul dalam hati. 'Filsafat ilmu.'


"Aaaa- nggak usah pegang, biar mamah aja." Nita mendorong sepotong kentang goreng ke mulut mungil dan anaknya mau menuruti tanpa memegangi.


"Atha, sejak kapan kamu suka baca begituan?"


"Baca apa, Pah?" Nita menatap papanya dengan bingung. Lalu papa menunjuk ke buku di tangan kirinya. "Oh, aku lupa."


"Sejak kapan kamu suka baca buku filsafat?"


"Oh, kayanya baru-baru ini." Nita menjawab dengan enteng dan membuka halaman ke 50 yang dari tadi dibacanya. Dia melanjutkan bacaanya dengan sesekali menyuapi papanya dengan kentang goreng.


"Papa kenapa melamun melulu, katanya ikhlas dan mau melupakan soal perusahaan media itu dulu." Lena melirik papanya lalu kembali membaca. Dia merasakan papanya mendekat alih-alih menjawab pertanyaannya. Saat dia mendongak, papa menyipitkan mata ke bukunya.


"Apa enaknya baca buku itu, sih?" tanya papa dengan tatapan seolah ingin mendapat jawaban.

__ADS_1


"Baca sendiri biar tahu." Lena memeluk bukunya. "Apa, Pah?"


"Katanya baca sendiri? Sini Papa mau baca." Devan mencoba merebut buku dari pelukan anaknya.


"Ahh, Papa ambil sendiri di perpustakaan, aku kan belum selesai baca ini."


Devan mendengus kesal. "Papa malas, Sergey kan bukunya banyak, kalau milih mah bikin pusing."


"Papa, pilih sampulnya! Katanya, warna sampul itu mengibaratkan warna kesukaan penulisnya. Kalau Papa memilih warna kesukaan Papa, kemungkinan besar, isinya Papa suka karena kesukaann warna yang sama."


"Oh, ya? Tapi, Papa suka sampul warna putih ini. Sini berikan ke Papa."


"Nggak mau, Papa ganggu aja." Nita mengambil kentang goreng dan akan diarahkan ke mulutnya tetapi ditarik tangan papa dan dilahap papa.


"Memang, ini buku ke berapa yang kamu baca?"


"Pertama-"


"Uhuk-uhuk!" Sergey keselek karena putrinya bilang ini pertama baca buku filsafat, dia teringat tulisan Sergey soal Atha yang suka baca buku filsafat, tetapi dia tak tahu kapan itu ditulis.


Nita mendongak dan kentang goreng yang belum dikunyah papa sepenuhnya telah menyemprot ke buku gambar Musa.


"Papah, aku ambilin minuman, ya!" Nita menepuk-nepuk punggung papa, untuk meredakan keselek papa.. Diliriknya Musa mengambil gigitan kentang bekas papa ldan akandimakan. Dia menutup mulut Musa sebelum kentang yang kini merah oleh krayon itu termakan. "Jangan itu kena kotor kena crayon!"


Devan mengelap tangannya yang kena liurnya saat Nita mengambili remahan kentang di buku gambar itu. "Maksudmu kamu udah berkali-kali baca buku satu ini?"


Devan cemberut karena Nita tak menjawabnya, dan sibuk mengelapi tangan Musa dengan tisu basah. Musa melanjutkan menggambar lagi.


"Tuh, kalau papa mau baca. Aku ambil air minum dulu." Nita menunjuk buku itu lalu keluar dari ruangan kaca, meninggalkan Devan dalam kebingungan nyata.


Ketika hari telah malam, Nita menelpon nomer Lana yang tidak aktif sambil mondar-mandir di depan meja rias. "Lan, kamu tak seperti ini biasanya. Kemana kamu, sih!"


Dia meninggalkan kamar dan akan minta tolong papanya. Ketika akan mengetuk pintu, telinganya mendengar suara papa tertawa dengan orang asing. Diketuknya pintu dengan penasaran.


"Pah, ini Nita .... " Nita kembali mengetuk-ngetuk pintu.


Di dalam kamar Sergey merasakan jantungnya langsung berdetak pada level maksimal. Dia menatap Devan dengan ragu dan langsung berdiri dari tempat tidur.


"Itu putriku." Devan tersenyum sangat ramah. "Eh, tunggu, kau mau kemana? Jangan pergi." Devan menahan tangan Ergin yang sudah berbalik akan ke pintu balkon.


"Aku sebaiknya keluar," suara Sergey retak.


"Udah jangan takut," kata Devan membaca raut pria itu yang tampak gelisah.


"Tidak. Sebaiknya aku tidak terlihat orang umum." Sergey melepas tangan Devan dan keluar dari pintu Balkon.


Devan membuka pintu kamar dan Nita langsung masuk ke kamar dengan melongok ke segala arah.


"Papah tadi aku dengar ada suara tawa, siapa ya?" tanya Nita dengan kekhawatiran. Pasalnya, Nita punya paranoid sendiri pada sesuatu hal janggal.


"Tadi TV, tapi barusan Papa matikan. Kenapa memang?" Devan kini berbohong karena Ergi tidak mau diketahui oleh keluarganya.


Nita memelintir bibirnya kembali cemas. "Lana, Pah. Ayo, lapor polisi! Pasti pacarnya melakukan sesuatu pada Lana, Pah."


Rengekan Nita terdengar samar di luar ruangan, Sergey menangkap itu soal Lana. Bisa gawat kalau sudah urusan polisi. Sergey bingung bukan main, Lana masih menolaknya. Dia tak percaya pada Lana, pasti Lana akan menceritakan tatto di punggungnya dan lorong dapur.

__ADS_1


Sebuah pesan yang muncul di jam tangan Sergey, membuat lelaki itu tak sengaja mengumpat karena Lana kabur dengan memecah jendela kamar dan turun dari lantai dua dengan korden yang diikat di pagar balkon.


"Suara apa itu, Pah?" Nita yang baru mendengar suara barusan langsung berlari, tetapi ditahan tangan papanya. "Pah, itu pasti suara orang!"


"Mungkin perasaan kamu saja! Mana mungkin ada orang!" Devan terus menahan putrinya dengan seribu alasan, tetapi putrinya berhasil melepaskan diri dan berlari ke arah balkon. Putrinya sempat tertegun karena pintu tak dikunci. Devan berlari menyusul anaknya yang telah berjalan ke balkon.


Jantung Devan berdebar kencang dan dengan napas pendek cepat, dia melihat anaknya yang terpaku ke arah kedatangan Ergi saat tadi Ergi datang. "Kau lihat apa, Nak?"


Nita menggelengkan kepala, mungkin hanya Perasaannya saja pada sekelebat bayangan hitam. Mengapa dia jadi paranoid di rumahnya sendiri. Nita berbalik ke kamar. "Ayo Pah, lapor polisi."


Devan masuk ke dalam kamar dengan jantung masih berdebar tak karuan. Syukurlah Ergi tak ketahuan. "Iya, Ayo."


...****************...


Sergey berhasil kabur sebelum Nita keluar. Dia kembali ke rumah sebelah dan melihat ulah Lana yang baginya sialan. Sudah ditawari apa saja masih tak mau mendengarkannya dan duduk manis. Anjing kesayangannya dilepas dan dikenalkan bau pakaian Lana yang kemarin masih belum tercuci.


Anjing itu mencari ke segala arah. Sergey terus memegangi rantai besi itu dengan diikuti dua penjaga rumah. Namun, sial. Dia menemukan potongan kain yang tersangkut di atas pagar.


"Gadis itu memanjat pagar, Cih! Petingkah sekali!" Sergey meremas kain di genggamannya. Kalau sudah begini dia harus cepat masuk dan menjadi bagian keluarga itu.


Pagi itu jam empat, Pedro marah-marah mengumpati Sergey karena terus membuat ulah dan Sergey hanya diam dengan tanpa rasa bersalah.


Pedro makin marah karena Lana kembali ke rumah Rama, saat mobil Nita terlihat keluar dari gerbang dan Lana dengan ngos-ngosan muncul menghalangi mobil Nita, lalu memeluk Nita dengan menangis histeris di depan gerbang.


Sampai sekarang Sergey pun melototi CCTV di depan kamar Lana, karena Nita belum keluar dari kamar itu. Hanya Devan yang tampak kembali ke kamar.


"Aku tak bisa diam saja!" Sergey mendorong kursi dan berdiri meletakan tablet di atas meja. Berikutnya, Pedro menghalangi dan menodongkan pisau ke depan.


"Duduk! Aku tak mau kau menghancurkan hidup Devan lagi."


"Kapan aku seperti itu, aku tanya? Masalah Devan semua murni salah musuhnya! Juga masalah putra Jefri karena ulah Devan sendiri. Salahku dimana, Hallo Mr. Pedro!" Sergey mendorong kasar bahu Pedro dan keluar dari rumah itu melalui gerbang dengan diantar sopir.


Kini Sergey, turun dari mobil berhenti di depan gerbang rumahnya sendiri! Dia akan bersikap sebagai tamu di rumah ini! Apapun akan dia lakukan, menghadapi masalah lebih baik, dari pada menghindari seperti pecundang, belum lagi kegilaan akan terus meneror otaknya.


Dijinjingnya tas berisi pakaian, dia menemui security dan mengaku sebagai teman Devan. Tampak di ruang tamu, Devan menyambutnya karena dipanggil oleh security. Wajah Devan tampak mengantuk, sepertinya sudah tidur, lalu mata itu membesar saat melihat ke arah tas di tangannya.


"Ergi?" Devan tersenyum bingung karena melihat bahu Ergi yang loyo. Pria itu berlutut di depannya.


"Tolong aku kali ini saja, bisakah kau memberiku tumpangan untuk aku tidur beberapa hari ini. Aku sudah tak memiliki uang untuk menyewa kos." Sergey memasang wajah paling sedih, dia kan mantan actor the legend, urusan begini gampang.


Devan langsung membungkuk dan mengajak Ergi berdiri. "Kenapa bisa begitu? Ayo ke kamarku dulu."


Sergey mengangguk dan mengikuti Devan dengan seringai yang dia sembunyikan. Matanya berkedut saat ada Nita berhenti di depannya yang baru keluar dari lift.


"Papa?" Nita mengerutkan kening dan melirik pria setinggi papa yang menjinjing tas. "Kok belum tidur, Pah?"


Devan tertawa pelan. "Ini, Papa kedatangan teman Papa dari jauh." Devan menggaruk tengkuk, kenapa dia jadi salah tingkah sendiri. Soalnya, ini kan rumah sang putri bukan rumahnya.


"Ah, kita besok bicara lagi, ya! Papa ngantuk banged, teman Papa juga!" Devan menarik lengan Ergi dan membawanya melewati Nita sebelum Nita banyak omong atau tak mengijinkan teman barunya untuk tinggal di sini.


"Selamat beristirahat, Pah .... " Nita melongok ke belakang ke dalam lift dan teman papa itu juga melongok ke belakang dan menatapnya dengan sedikit tersenyum. Nita balas tersenyum kecil lalu mengangguk sebatas kesopanan.


Mendadak Sergey tersadar dan senyum itu pudar. Dia tak bisa terlalu senang berpapasan dengan Nita, karena belum menemui Lana.


Nita ke dapur, mencuci gelas bekas susu yang barusan diberikan ke Lana. Dia menaruh gelas itu ke dalam lemari dengan ingatan pada Lana yang gemetaran saat memegangi gelas susu ini, bahkan susu sampai tumpah ke kasur saking ketakutannya sang teman tadi. Kini Lana sudah tidur. Dia pun harus tidur walau cuma satu jam. "Subuhan dululah, baru tidur."

__ADS_1


__ADS_2