Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 40 : SURAT RAMA


__ADS_3

Malam itu, Jefri mondar-mandir di ruang yang adalah tempat di mana Devan dirawat. Setelah dia mendapat saran dari Bos Richie, langsung dia mendaatangakn dokter-dokter rekomendasi dari luar negeri. Dia berharap dokter–dokter itu akan membuat Devan cepat siuman. Dia mendekat dan tangannya mencakar udara di depan leher Devan.


“Aku ingin sekali mence*kikmu, da*sar kau membuatku menunggu selama bertahun-tahun! Kalau mau mati, beritahu dulu dimana kebereadaan Stef! Aku jadi penasaran, siapa yang berniat membu*nuhmu? Mengapa orang itu berniat sekali membu*nuhmu dengan menyabotase kecelakaan itu. Mengapa setiap polisi yang menangani kasusnya, mati satu-persatu hingga kasus itu tak terelesaikan.”


Jefri jadi teringat akan laporan anak buahnya sepuluh tahun lalu, bahwa Devan pernah mendatangi sebuah rumah. Devan membawa Nathan yang saat itu masih mahasiswa, yang lalu tak berapa lama setelahnya, keluar dari dalam rumah itu Stefanie dengan gelagat mencurigakan. Sayangnya Stef menghilang tanpa jejak lagi, seakan tahu anak buahnya itu mengikuti.


“Kenapa kau membawa Nathan menemui Stef? Apa yang dikatakan Sergey, bahwa Nathan adalah anak dari Stefanie, apa itu masuk akal?” Jefri memajukan tangan dan mencengkeram leher Devan. ”Apa kau sudah menjadi mayat! Kenapa kau diam saja!”


Jefri mengepalkan tangan. Dengan kesal meninju bantal, tepat disamping kepala Devan. Tubuh Devan itu ditatapnya dengan tatapan mem*bunuh.


“Kau bilang padaku, tak mengenal Stef! Lalu apa alasanmu mengadopsi Nathan? Nathan bilang orangtuanya sudah mati dan tetap bersikeras, untuk tidak mengingat apa-apa soal orang tuanya. Apa hubungan Nathan dengan Stef, apakah anak dan ibu? Memang anak dari siapa? Jelas! Stef tak menemui Marcho lagi. Anakku? Tak mungkin!"



Di tempat lain, Rama menulis sebuah surat dibuku milik Nita. Matanya lalu tertuju pada setiap perlengkapan makeup di meja rias. Dia meraih stik warna, seperti lipstik lalu menggoreskan lipstik berwarna merah di cermin, sebuah gambar love dan di bagian tengah ditulisi inisial ‘R’


Bibirnya tersenyum dengan penuh arti. Dia senang bukan main saat mendengar suara Musa. Rama melirik ke belakang dan tampak Musa baru duduk dan menatapnya dengan bingung. Rama menaruh surat yang ditulisnya dengan ditindih sisir, lalu berjalan ke arah Musa yang baru turun dari tempat tidur. Musa berjalan sambil mengulurkan tangan kearahnya, seolah Musa Itu minta digendong.



Di rumahnya sendiri, Sergey tidak bisa tidur. Dia harus memikirkan apa saja yang dikatakan besok saat konferensi pers dengan media. Lalu dia akan menikah diam-diam dengan Nita, jangan sampai Intania tahu. Atau Intan akan semakin murka, karena selama ini dia berbohong.


Sergey berpikir keras, siapa yang akan diundangnya. Mungkin mengundang 50 orang, sebagian anak buah Mafia, bahkan 10 slot disediakan khusus untuk perwakilan anak buah dari Jefri. Jantungnya berdebar, saat memikirkan bagaimana rasanya tidur satu ruangan dengan Nita?


Sergey menghela nafas panjang menimbang-nimbang langkah mana untuk mendapatkan Devan, tanpa perlu melakukan pertumpahan darah dengan Jefri. Ya, hubungannya dengan Jefri jadi renggang sejak dia berteman dengan Devan.


Oh,Nita! Aku ingin aku ingin kau memijat punggungku. Terlalu banyak beban dipunggungku ini yang membuatku lelah. Semoga kamu di rumahmu sendiri, bisa berisitirahat dengan tenang, apalagi tidak ada gangguan dari Rama.

__ADS_1



Pagi-pagi sekali, Nita bangun dengan agak mendingan. Sedangkan Musa tidur dengan posisi tengkurab, lalu ditepuk-tepuknya pantat itu. “Loh, seingatku, semalam Musa pakai celana pendek, kenapa jadi celana panjang? Apa Mbak Jum masuk sini semalam dan mengganti popok Musa?”


Nita meraba popok Musa yang masih terasa ringan, seperti baru diganti. Padahal biasanya, jika popok dipkai jam 10 malam, lalu saat pagi maka popok itu sudah terasa penuh. Nita berjalan ke kamar mandi dan menebak mungkin Mba Jum-pelakunya.


Setelah mandi dan mengeringkan rambut dengan hair dryer, Nita melirik jam sudah jam setengah enam pagi. Dia duduk di kursi meja rias, lalu mengambil sisir yang berada di atas lipatan kertas.


“Siapa yang menaruh sisir di sini , sisirnya kan jadi kotor. Kan bisa aja, kertasnya kena debu. Mbak Jum gimana, sih.” Nita akan membuang kertas ke tong sampah, dan matanya tak sengaja melirik ke arah cermin.


“R? Ini nggak mungkin Mbak Jum yang menulis, kan? Lalu, siapa yang masuk ke kamarku? Atau mas Sergey? Kenapa nulis huruf R pake bentuk love segala.” Nita jadi kepikiran ingin berkunjung ke kantor Sergey untuk bertemu sekertaris Sergey.


Dia menaruh kertas di atas meja. Lalu memasukan lipstik dan bedak ke dalam tas Hermes. Nita buru-buru mencuci sisir di kamar mandi , lalu menyisir rambutnya karena sang putra sudah bangun.


Digendongnya Musa, dia menuruni tangga. Bau harum kaldu harum nan sedap, sudah menguar ke ruang keluarga. Pasti Mbak Jum bikin bubur buat Musa.


“Musa, ih gantengku lagi di rumah Opa. Seneng, ya? Lihat tuh, Mbak sudah masakin buat kamu. Cepat tumbuh dewasa, jadi anak baik, ya Nak.”


“Kamu mencari Kakak Rama atau Papa Sergey, napa dicampur-campur, Nak?” Nita bingung sendiri. Pasalnya, Musa sudah kebiasaan memanggil Sergey dengan sebutan Papa. Tapi kok, sekarang jadi Papa Rama.


.


Jam menunjukkan pukul pagi, Nita sudah siap berpakaian tertutup ala penyamaran. Dia bergegas menarik tas berwarna orange. Tiba-tiba sebuah kertas melayang dan jatuh di ujung sneakernya.


Mau tak mau, Nita mengambil kertas dengan lipatan terbuka dan mendapati ada nama 'Nita' disebut di dalamnya. Tas Hermes diletakkan di atas meja. Dia duduk, menjereng kertas dan mulai membaca dalam hati dengan pikiran was-was, takut bila dia tengah diteror.


...Untuk Nita.

__ADS_1


...


...Sorry, tanpa ijin aku memasuki kamarmu. Aku hanya ingin melihatmu. Apa kamu juga melarangku untuk bertemu denganmu?


...


...Aku ingin bertanya padamu, apa aku salah memiliki sebuah perasaan yang aku sendiri tak bisa mengontrolnya. Kira-kira sampai kapan kamu tinggal di rumah ini? Apa kamu tak kembali ke rumah papa?


...


... Lalu bagaimana cara aku bertemu Musa dan kamu? Terdengar klise bila aku mengatakan ini, tapi sejujurnya aku kesulitan juga, haru melewati hariku tanpa bisa mendengar suaramu. Padahal, setiap pagi, aku ingin memandang wajahmu yang bersinar. Seperti, saat aku melihat kesegaran mawar merah yang baru mekar, di kebun belakaNg. Kamu begitu menyejukkan hatiku seperti mawar itu.


...


...Aku juga ingin meminta maaf langsung padamu. Hubungi aku segera di 08XX-XXXX-XXXX Jika kau sudah membacanya. Aku pernah bilang, kau bisa mengandalkanku, kan?


...


...


...


Nita tersenyum malu dan melihat pipinya memerah di dalam pantulan cermin. Nita langsung menelan saliva gugup, kenapa dia merasa senang dengan surat ini. Terutama melihat gambar love di pojok kanan bawah. Dimana ditengah gambar love ada inisal ‘R’ . Jadi, Rama yang menulisnya.


Nita melipat kertas dengan hati-hati, takut bila itu rusak. Hatinya terasa berbunga-bunga saat memasukan kertas itu ke dalam dompet plastik. Dia selalu menganggap sebuah kertas itu kotor, lalu dimasukannya ke dalam tas. Segera dia menghapus tulisan di cermin dengan kapas yang telah dibubuhi cairan penghapus make up, sebelum Mbak Jum atau Sergey membacanya.


Entah mengapa dia tidak tahu apa alasan yang membuat, setiap kelakuan Rama selalu berpengaruh pada kondisi hatinya yang kembang-kempis. Kadang marah, kesal, tetapi dia yakin, kedamaian dan kenyamanan hanya dia rasakan saat bersama Rama.

__ADS_1


Kalau boleh jujur, dia merindukan Rama. Dia sadar, ini sangat salah, tetapi dia tak dapat mengendalikan apa yang dia rasakan ini, padahal saat ini harusnya dia fokus pada sang papah. Akan tetapi apa yang ada di dalam dirinya seperti menginginkan Rama..



__ADS_2