Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 19 : RAHASIA YANG DIKETAHUI RAMA


__ADS_3

Dua tahun kemudian ....


Nita mengulas senyuman gugup. Dia jadi sangat malu saat Rama melihatnya karena kejadian terakhir kali. "Hallo ... "


"Hai." Rama refleks mendekati Nita. Pan*tatnya mendarat pada kursi di samping Nita. Bayi kecil itu terus berceloteh.


"Papapaaaaappaaa."


"Papapapapaa," ulang Rama sambil memegangi pipi mungil yang belepotan buah naga. "Huh, buahnya manis, ya, Dek?"


"Papapapaa." Musa menggoyangkan tangan kanan mungilnya. Dia merem4s kelembutan buah naga. Kaki mungil mencak-mencak gereget pada ekspresi Rama.


"Itu Kakak, bukan papah, Nak." Nita mendorong potongan buah ke tangan mungil.


"Dia mengira aku papah?" Rama tertawa lepas. "Lucu sekali, aku mau menggendongnya."


"Bajumu bisa kotor." Nita merasakan kehangatan di dalam dirinya saat Musa dalam gendongan Rama.


"Kamu ringan sekali...." Rama mengecupi pucuk kepala dan menepuk-nepuk punggung berbau khas bayi itu. Sampai dia menyadari perutnya mulai merasakan aliran hangat yang meresap ke dalam kemeja biru berlengan pendek. Dia langsung mengangkat bo**kong mungil untuk menjauh dari pinggang.


"Oh ya ampun, Musa!" gumam Nita dengan pelan. Dia meringis saat kemeja Rama mulai tercetak warna lebih gelap karena basah. Jantungnya berdebar dan akan meraih Musa saat tangan kiri Rama sudah dialiri air seni. Namun, Rama menjauhkan Musa darinya. Seketika itu terdengar tawa lucu putranya yang berusia 14 bulan.

__ADS_1


"Biar aku saja, Ibu Tiri. Bisa tolong ambilkan ponsel di saku celana kiriku, itu basah." Rama menyipitkan mata karena tawa lucu Musa. "Musa, ini sambutanmu dan kau sangat senang lalu menertawakanku? "


Rama terdiam saat merasakan sentuhan lembut Nita. Dia mendadak teringat pada sekelebat bayangan wajah wanita cupu dalam background langit malam. Apa hubungannya dengan Nita? Walau sudah dua tahun terlewati, tetap saja seperti ini.


Nita menarik ponsel dengan susah payah karena saku itu ngepres hingga Nita menahan pinggang Rama. "Kamu make celana sempit si." Akhirnya Nita berhasil menarik ponsel basah. Lalu mengelapi ponsel Rama dengan tisu basah dengan aroma Aloevera untuk menghilangkan bau pesing.


"Dimana tempat Anda biasa mengganti celananya?" Rama mengikuti Nita, setelah ponsel milik Rama ditaruh di meja ruang keluarga. Dia melewati dua ruangan dan kini berada di ruangan serba peralatan bayi.


"Bagaimana caranya? Beri arahan."


"Lepaskan celananya." Sebuah celana bersih diraihnya dari laci, lalu berdiri. Dia menahan tawa saat Rama menangkap pinggang Musa yang akan kabur.


Tisu basah diberikan ke Rama. "Ini lapi bo**kong adikmu pakai ini."


...----------------...


Sergey di kantornya, dia menatap kalung bergambar kepala serigala. "Sepertinya, aku juga pernah melihat ini, tetapi di mana? Di internet juga tidak ada."


"Oh, Devan, kau dimana?" Sergey menaruh kalung itu di meja. Dia menyembunyikan wajah di dalam lengan dengan dagu menempel pada meja. "Aku semakin menyukai Nita. Aku harus bagaimana? Apa aku harus melamarnya dengan cara betulan?"


"Dua tahun cepat, dan sisa satu tahun lagi. Bagaimana setelahnya? Kontrak pernikahan pura-pura kami berakhir. Apa aku harus menawarkan untuk memperpanjangnya? Atau aku mengelabuhi Nita menggunakan publik agar Nita kasihan padaku. Lalu dia mau memperpanjang kontraknya? Atau aku menyatakan perasaanku pada Nita?"

__ADS_1


"Tidak." Sergey harus menemukan siapa si p3m3rkosa, lalu memberi pelajaran. Dengan begitu Nita baru bersimpati padanya, lalu barulah saat itu dia akan menyatakan perasaannya.


...----------------...


Rama tak bisa melihat kemesraan papa pada Nita. Setiap papanya menyentuh bahu dan menggenggam tangan Nita, setiap kali dadanya terasa panas. Dua tahun tak melihat Nita bukanlah sesuatu yang mudah.


Status chat papanya yang membagikan kebersamaan dengan Nita justru membuat apa yang ada di dalam dirinya semakin bergejolak. Dia sampai konsultasi pada psikiater karena perasaan yang tidak normal ini. Namun, perasaan itu sulit ditekannya.


Rama pulang sehabis dari rumah Budi, dia melihat celah kamar papanya dan berhenti memasang telinga. Dia melihat ibu tirinya semakin cantik dan baginya saat mempesona. Dia tak ingin lebih lama di rumah ini.


"Nita, kontrak kita tinggal satu tahun." Sergey melangkah bolak-balik di belakang Nita yang sedang memakai krim didepan meja rias.


"Ya, Nita tahu, Mas. Nita berencana akan ke luar negeri begitu kontrak pernikahan pura-pura kita berakhir." Nita menatap keterkejutan Sergey di dalam pantulan cermin, sampai Sergey membungkuk ke dekat wajahnya.


"Maksud aku, bagaimana jika kita perpanjangan?"


"Mas, tetapi issue itu sudah berakhir. Tidak ada publik yang membahas soal Mas dengan kekasih Mas itu."


Sergey melihat ke atas sekitar. "Aku dengannya telah berakhir Nita. Aku mulai menyukaimu."


Mata Nita membulat. Rahangnya hampir-hampir jatuh ke bumi. Hatinya bagai mau melompat. Sepertinya, indra pendengarannya salah.

__ADS_1


"Aku serius, Nita." Sergey memegangi bahu Nita. Dia melepasnya karena Nita tampak tak nyaman. "Aku serius."


Mata Rama membulat, jantungnya berdebar kian kencang. Jadi, selama ini mereka hanya pura-pura. Apakah aku harus senang? atau marah karena papah menyembunyikan itu dariku?


__ADS_2