Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 24 : INTANIA- IBU RAMA


__ADS_3

...⚓SELAMAT MEMBACA⚓...


Nita menghela nafas lega saat Sergey menjauhkan putranya. Sontak Sergey menatp tajam pada semua teman Rama. “Jangan pernah kalian menginjakkan kaki di rumahku lagi, terutama kau …. Budi.” Sergey mengabaikan mereka yang saling menyalahkan.


Dengan gentle, Sergey yang masih menggendong Musa, lalu menarik tangan Nita dan memapahnya menuju anak tangga. “Pelan-pelan, ya.”


Rama yang baru berjumpa dengan papa, lalu bertanya pada sang papah, tetapi Sergey mengabaikan. Nita pun sama sekali tak mau melihat Rama karena dia masih terbayangkan betapa mengerikannya bentuk kepala dan juluran lidah ular.


Rama melihat bibi dan kepala pelayan yang baru datang dan mengikuti papa. Bibi diperintah untuk mengusir teman-temannya. Rama yang baru turun , akan menemui temannya, dibuat bingung. Tadi dia mandi jadi belum sempat menemui W3be. Dia menyusul budi dan melirik pada keranjang pink yang dibawah oleh Shelina.


Rama langsung diselimuti rasa bersalah, dia memarahi Shelina yang tanpa seizinnya membawa ular. Kepala pelayan mengajak Rama ke ruang cctv, sontak Rama memegangi dadanya yang sakit saat melihat Musa yang memegangi hewan berbahaya dan Nita justru kesulitan menangani ketakutan sendiri,sedangkan keempat temannya hanya tertawa tanpa belas kasihan. “Pastilah, papa akan menghukumku.”


>


Minggu sore, Nita yang masih lemas dan bermain dengan Musa di kamarnya terpaksa harus turun ke lantai bawah untuk menemui ibunya Rama. Dia menuruni tangga dengan hati-hati dan mengelus punggung Musa. Tampak Itania yang adalah ibu Rama berdiri dan berbalik menatapnya. Tersenyum pada Intania, dia tak tahu harus melakukan apalagi selalu menyapanya dengan ramah karena dia tak merasa memusuhi mantan istri selfie.


Mata Intania berkedut saat melihat Musa. Kenapa dia menjadi teringat pada Rama saat kecil. Intania berakting dengan sangat elegan mencium pipi Nita kanan kiri, sekadar basa-basi. Dia juga membawa sebuah kue ‘ khusus’ dan diterima oleh Nita yang tampak begitu polos. Pantas Sergey menyukainya cantik dan kalem, tampak lebih dewasa dari anak seusianya. Dia bahkan tak percaya bahwa Nita baru berusia 24 tahun.


Setengah jam Intania berbincang, sampai Rama datang dan langsung mencium pipi sang mama. Intania mengerut kening, tidak biasanya Rama seolah jaga image padahal biasanya sangat berada di manapun juga selalu manja padanya. Apa anak ini sedang ada masalah? “ Mau kemana? Temani Mamah, Nak.” Intania menahan putranya yang akan kabur.


“Aku sedang membuka YouTube Ma, nanti kuotanya jalan terus.” Rama yang berusaha menghindari Nita, justru mendapat pelukan tangan mungil di pahanya hingga membuat dia menunduk dan tampak sang adik tiri tertawa unyu dan menunjukkan giginya yang lucu. Rama pun tak tega untuk berpisah, dia berjongkok dan menggendong Musa, diciumnya adik tirinya itu. Entah mengapa sebentar saja dia sering diliputi Kerinduan walau Baru beberapa menit berpisah dengan Musa. Tawa kecil Musa menghibur Rama dan Nita, sedangkan Intania terus mengamati gerak-gerik Nita.


Malam itu, Intania menginap di rumah Sergey. Daripada di hotel, Serge menyuruhnya menginap di rumah dan menemani Rama, tampaknya Nita juga tidak keberatan akan keberadaannya. Sebenarnya, Intania begitu risih dengan Sikap Rama pada Musa yang tempat terlalu dekat. Seperti malam ini, Rama memilih menggendong dan bermain dengan Musa Ketimbang makan malam bersama, Iya sih, Rama hanya berdiri berjarak 3 meteran di dekat meja makan. Namun, suasana sedingin ini justru membuatnya tidak nyaman.


“Berapa lama kau berencana di sini, Dik?” tanya Sergey pada mantan istri, sambil menyuapkan makanan.

__ADS_1


“Dua minggu, tapi aku mau tidur di tempat temanku, dia sendirian minta ditemenin.” Intania mengerutkan kening karena Nita hanya mengolak-ngalik makanan, tanpa memakannya sementara mata emas tampak gelisah dan seolah pikirannya tidak berada di tempat ini. “Ta, Bisa kamu besok menemaniku ke mall? Sekalian bareng Rama?”


“Mall?” Sulit sekali menghindar dari sama karena satu rumah, kini keberadaan Intania di Rumah membuat dia harus berakting mesra dengan Sergey, dan seolah-olah tidak ada masalah dengan Rama.Beruntung, Rama juga sering tampak menghindarinya.


“Aku akan mengajak Rama besok ke kantor,” ucap Serge memecah Kesunyian karena tidak ada yang berniat menjawab pertanyaan Intania.


“Tidak Pah, aku ada undangan ke tempat Budi. Maaf mah, Rama belum bisa menemani mama kali ini.” Rama menurunkan Musa yang disayanginya. Entah darimana timbul rasa sayang itu.


“Bawa saja Budi untuk ikut jalan-jalan sekalian. Lagi pulang Mama sudah lama nggak ketemu Budi dan Agus, eh Selina dan Ririn juga.” Intania mengerutkan kening karena Nita yang batuk-batuk dan Sergey tampak menepuk-nepuk punggung Nita dengan penuh kelembutan sampai batuk-batuk mereda. Intania mengulukan gelas air ke seberang pada Nita yang duduk di depannya. ‘Cih, mentang-mentang masih muda, dulu aku batuk parah aja dicuekin, boro-boro diantar ke dokter.’


Dada Rama tiba-tiba bergabung saat melihat sang papa Saat menyentuh punggung Nita. “Oke deh Mah, besok aku akan pergi ke mall. Biar nanti aku yang bersama Musa, lagi pula anak itu nggak mau ikut siapa-siapa . Sedangkan mama dan ‘mama tiri’ sibuk belanja” Suara Rama dengan kesal.


Dita kembali batuk-batuk karena nada penekanan Rama pada ‘ibu tiri’ yang tampak terdengar seperti dendam tersembunyi. Sementara Serge mengepalkan kedua tangan di atas meja. semua perilaku orang di situ membuat Intania makin bertanya-tanya, baginya mereka sangat aneh. Tampak Nita dan Serge, perilaku kedua orang itu tampak tidak natural. Jarak duduk mereka hampir 1 meter, mereka jarang bersitatap layaknya seorang suami dan istri. Atau sebenarnya mereka sedang ribut, layaknya dia dengan Sergey yang dulu sering ribut dan begitu disembunyikan dari muka umum.


“Oh, iya dong, namanya juga sama-sama putraku, ya pasti mirip lah, wajar” Sergey sedikit gugup, dia tak menyangka Intania menanyakan soal ini, tapi memang benar Musa sangat mirip dengan Rama dari rambutnya yang keriting dan mata biru bentuk hidungnya juga mirip sama ya hanya pipinya saja yang mirip Nita.


Rama menghela nafas putus asa, dia berdiri bersandar pada dinding dan mengamati Musa dengan baik-baik. Dia merasa sedang ditampar oleh kenyataan pahit, dan membuatnya menyalahkan diri sendiri akan perasaan terlarangnya.


Rama mengikuti Musa yang berlarian, Nita yang baru berdiri dari meja makan juga berlari ke arah Musa yang terlalu kencang berlari seolah insting keibuanya tengah bekerja dan mengatakan …. Nita menagkap Musa yang akan jatuh dan begitupun Rama bersamaan, hingga menumpuk di atas tangan Nita. . Musa tertolong, tetapi kening Nita berbenturan keras dengan kening. Mereka duduk dan meringis, lalu ,mengelus kening masing-masing yang terasa berdenyut dan pusing.


“Nit? Kau tidak apa?” Sergey mengelus dan meniup kening Nita dengan kekhawatiran.


Rama yang melihat itu langsung mengepalkan kedua tangan di atas paha. Dia merasa kalah satu langkah di belakang papahnya, karena terbatas kontrak hubungan papah di depan umum. Sorot mata Rama seperti seperti sebilah panah beracun yang mengarah pada pandangan kasih sayang papa pada Nita. Dadanya terasa dan sesak, dia bangkit. “Kalau mau mesraan jangan di depan umum! Papah tidak lihat ada Mama Intan.”


Intania berkedip pelan, jantungnya berdebar. Sepertinya, matanya salah menangkap sikap Rama. Padahal, Rama sangat penyayang pada papanya.Mengapa sampai meninggikan suara, sejak kapan. Pikirannya terpotong, karena batita itu meraih jempol dan meminta gendong dengan mata biru berbinar.

__ADS_1


“Rama?” Kepala Intania terayun ke belakang saking tak percaya pada penglihatannya. Dia berkedip berulang kali. Tawa bayi itu membuatnya tersadar bahwa itu bukan Rama, tetapi Musa.


Dengan hati-hati, Intania menggendong Musa di depan. Wajah bayi itu ditelitinya, bedanya, bulu mata Musa lentik dan lekukan bibir Musa menjadi pelengkap. Bayi itu bisa menjadi pusat magnet yang menarik perhatian banyak pasang mata. Itu sebenarnya, sangat menguntungkan di dunia hiburan.


Akan tetapi, kata Sergey, Musa takkan diijinkan untuk terjun ke dunia hiburan. Padahal bila iya, bisa jadi model bayi dengan bayaran termahal. Kata Sergey, Musa tidak boleh untuk konsumsi publik. Padahal dulu saat Rama, sudah sering mendapat kontrak sejak kecil dan Rama menjadi model cilik yang bayarannya termahal di perusahaan Devano, papahnya-Nita.


Intania melamun, Sebenarnya, dia adalah aktris dan Sergey adalah aktor. Mereka bertemu saat bergabung di perusahaan PH milik Devano, saat Devano membangun perusahaan dari nol. Sedangkan Devano berasal dari keluarga yang memiliki perusahaan Media, yang lalu perusahaan milik orang tua Devano bangkrut. Dia dan Sergey menjadi talent andalan di perusahaan Devano,tetapi diam-diam dia menjalin hubungan dengan Sergey, sampai mengandung Rama dan menggegerkan publik karena pernikahan mendadaknya.


Saat itu dia dan Sergey, mengganti kerugian dan diberhentikan dari perusahaan Devano. Entah, Sergey mendapat uang darimana, yang katanya adalah pinjaman dari teman, lalu membeli saham di perusahaan Devano. Kebetulan, sejak keluarnya dia dan Sergey dari management Devano. Kebetulan Devano saat itu mengalami kesulitan keuangan, hingga Sergey bisa membeli saham dengan harga lebih murah.


Lamunan Intania terhenti saat Nita meraih Musa dari tangannya. Dia melihat kepergian Sergey dan Nita ke arah kamar mereka sendiri. Intania naik dan membuka pintu dari kamar sang putra. Tampak sang putra sedang merokok di balkon dengan duduk di lantai dengan bersandar tak bertenaga pada balkon.


"Kamu ada masalah, Nak?" tanya Intania dengan lembut.


"Rama patah hati, Mah?" Rama mematikan rokok karena ada sang mamah. Dia tak mau mamah menjadi perokok pasif karena menghirup asap rokok. "Sebentar, Rama cuci tangan. Mama sini dulu, aku masih ingin di balkon."


Rama pergi ke kamar mandi mengguyur badannya sebentar dan berganti baju, setelah tak ada bau rokok, dia berpakaian dan memakai parfum aroma musk. Tampak sang mama sudah menggelar karpet, bed cover tebal dan lengkap dengan bantal di serambi balkon. Mamahnya tahu saja dia sedang membuatuhkan sang mamah.


Intania menepuk paha, putranya selalu mandi dulu sehabis merokok setiap akan duduk di dekatnya. Putranya sungguh sangat memperhatikannya. Kini kepala Rama berbaring di pahanya. "Play boy Mamah bisa patah hati?"


Rama tersenyum lepas karena mamahnya tertawa lepas. "Senang, ya?"


"Akhirnya, kamu patah hati!" Intania menjepit hidung Rama dan tak melepasnya.


"Mamah dadaku sudah sesak, mamah tutupin hidung ku, aku bisa pingsan," suara Rama dengan bindeng. Dia menarik tangan mamah untuk menutupi kelopak matanya.

__ADS_1


__ADS_2