
Ketika Devan tidur, Sergey bangkit dari kasur dan melihat cctv rumah dari layar jam tangan canggih. Dia memutar ulang sejak dirinya bertemu Nita, ternyata Nita kembali ke kamar setelah dari dapur.
Mencoba berjalan tenang, Sergey menuju kamar Lana. Gadis itu tidur. Sergey mengunci pintu dan berjalan cepat, dia membekap mulut Lana dan duduk di samping tubuh itu.
Wanita itu terbangun ketakutan dan Sergey menarik Lana hingga duduk berdampingan.
"Kau sekarang istriku dan selamanya akan menjadi istri!" bisik Sergey dengan penuh penekanan pada Lana yang mulai meneteskan embun bening dari pelupuk mata sambil menggelengkan kepala.
"Biar kita buat mudah. Aku akan menangkap pacarmu itu. Aku tahu dia dimana. Bagaimana bila aku menembaknya lalu kubawakan organ hatinya untukmu?"
"Ja-ngan," kata Lana sesenggukan saat pria itu melepaskan bekapan. "Jangan sakiti dia," lirih Lana putus asa. Meski dia membenci mantannya, dia masih memiliki perasaan cinta yang dalam.
"Nah, begitu. Apa kau ingin lihat wajahnya sekarang? Akan ku suruh seseorang memfotonya. Tapi, kau jangan kaget, bila dia dengan perempuan lain." Sergey terkekeh karena wanita itu menangguk cepat.
"Sebelum itu, kau harus jaga rahasia soal lorong dan tatto di punggungku. Lalu, kau harus berakting bahwa kau mulai menyukaiku selama aku di rumah ini. Lalu kita kabarkan kepada mereka soal pernikahan kita.
Satu yang penting, di sini aku miskin. Jadi, kau bantu aku untuk menjadi supir di rumah ini." Sergey menjelaskan satu-persatu penuh aura mendominasi.
"Tapi, kau janji untuk tidak berbuat buruk pada Nita dan Rama, kan?" tanya Lana terdengar ragu.
"Tanpa kamu minta, aku di rumah ini justru akan menjaga mereka."
Lana begitu ragu, kalau memang pria ini suka dengan Nita, harusnya cemburu pada Ram. "Tapi, kau juga jangan ganggu mantan kekasihku-"
"Kau sudah menjadi isteriku dan kau masih membela lelaki lain?" Sergey membuang muka dan berdecih dengan jijik.
"Tolong .... Tunjukkan dimana mantan kekasihku? Beri aku kesempatan untuk menemuinya dan menyelesaikan urusanku yang belum selesai." Lana dengan raut penuh kekecewaan terhadap penipuan mantan kekasihnya.
"Deal. Kau tak boleh membuka apapun soal aku. Kalau tidak nurut, maka tantemu ku pecat dari kantor temanku."
Mata Kanan membulat. "Tak usah mengancamku! Aku akan menepati janjiku," kata Lana dengan sedikit emosi, karena tantenya dibawa-bawa.
...****************...
__ADS_1
Tiga bulan berlalu ....
Sergey , dengan identitas baru sebagai Ergi, kini menjadi sopir Nita. Seperti siang ini, berdua hanya dengan Nita untuk mengirim pesanan bolen pisang.
Tiba-tiba Nita merasakan perut yang keram dan refleks kakinya melebar. Nita menjerit, dan mengadu. Merasakan mulas luar biasa.
Suara pecahan terdengar di lubang teling Sergey. Pria itu melihat ke belakang dan menepikan kendaraan mendadak karena teriakan Nita.
"Kenapa Non?" tanya Sergey, lantas turun dari mobil dan membuka pintu belakang. Sergey mencium bau aneh dan tahu itu air ketuban yang membasahi karpet. Dia ingat saat kelahiran Rama, saat itu Intania menyemprotkan ketuban tepat di bajunya saat menunggu kelahiran Rama.
"Pak, Ergi! Sakit, aku mau lahiran!" Jerit Lena sudah mau mengeden. "Aku tak kuat lagi uwh uwh uwh!"
Sergey mengacak rambutnya dan kebingungan. Rama di luar kota. Menantunya akan lahiran dan justru kini dia malah panik.
"Ada apa, Pak?" tanya seorang ibu begitu penasaran, yang entah muncul dari mana.
"Aduhhhhh Rama! Awh! Awh!Aw!" Jeritan kesakitan Nita membuat Sergey mendorong ibu tadi, yang katanya punya pengalaman pernah melahirkan.
Sergey mengendarai mobil dengan kencang. Menerobos lampu yang baru merah di perempatan. Habisnya dia panik karena suara jeritan dan rintihaan Nita yang membuat jantungnya seperti mau meloncat. Sementara ibu tadi membantu mengarahkan napas Nita.
"Ahhhhhhhhhhhhhhhhh!" suara jeritan Nita begitu kesakitan panjang membuat hati Sergey tersengat dan merasa ngilu.
"Oooeeekk! Oeeekkkk!"
Mata Sergey mendelik, ruang sakit masih empat ratus meteran. Suara bayi. Air mata lolos di pipi pria itu. "Cucuku," gumam Sergey dengan histeris di antara suara Nita dan si bayi.
"Cepat Pak!" suara ibu Itu mengingatkan sang sopir.
"Auwhuuwh Auuuhw awuuuh!" Nita mengikuti arahan ibu di sampingnya untuk mengatur napas kembali. Dia meringis kesakitan dengan kaki terbuka lebar. Gaun berwarna hijau daun itu penuh noda merah dan bawahan basah. Mobil ini sudah bau amis darah tak karuan.
"Ahhhhh iiihh!" suara Nita kesakitan sambil mencengkeram kuat pinggiran jok.
Sergey merasa mau gila, dia mengarahkan mobil ke halaman rumah sakit dan langsung berhenti di lobby, di belakang mobil lain yang sedang menurunkan pasien.
__ADS_1
"Aahhhhh!!!!"
"Pegang ini cepat, Pak! Ini mau keluar lagi!" Ibu itu dengan panik.
Sergey keluar dari mobil tanpa mematikan mesin. Dia menggendong bayi dengan kulit merah, berselimut putih ketuban di seluruh tubuh. Mata bayi itu terpejam dan tangisan bayi yang keras mampu membuat perawat dan cecurity berdatangan.
Sergey mendapat selimut kecil, yang digunakan untuk menutupi si bayi pertama. Perawat itu mengambil alih bayi. Sementara dua perawat lain yang mendengar tangis bayi lain, tampak semakin syok, karena mereka pikir cuma satu bayi yang lahir di dalam mobil.
Sergey ternganga. Tangan yang penuh ketuban dan darah sampai tak sadar digunakan untuk menutup mulutnya. Dia terharu bukan main dan mata mulai berkaca-kaca dengan kebahagiaan saat melihat bayi ke dua digendong perawat. Sebuah tanda lahir di tangan kanan bayi kedua, mengambil alih perhatiannya.
Para perawat dan dia membantu Nita yang telah berkeringat dan kehabisan tenaga untuk pindah ke ranjang pasien. Sergey yang membopong tubuh Nita ke ranjang. Dia ngilu melihat darah yang masih mengalir di kaki putih Nita.
"Keluarga pasien, silahkan mendaftar ke ruang administrasi." Security memberitahu dan Sergey berjalan cepat.
Seseorang pengunjung rumah sakit memberinya tisu, tetapi Sergey lebih memilih cuci tangan di westafel terdekat. Bekas darah dan air ketuban itu mulai luruh bersama kucuran air saat Sergey secepatnya membilas tangan.
Mendaftar dengan perasaan kalut luar biasa di depan petugas yang bekerja dengan komputer. Sergey masih tak percaya sekarang dia mendapat jackpot cucu kembar. Total cucunya semua ada tiga. Rama memang tokcer!
...****************...
Dua hari kemudian, Sergey di taman belakang sedang menunggu bayi kembar. Matahari hangat menyinari wajah cucunya yang cantik-cantik.
"Cucuku .... Uh lihat, yang satu mirip Rama, yang satu mirip Nita!"
Sergey melihat ke belakang takut Nita selesai mandi lalu mendengar suaranya. Dia berbalik menatap dua bayi merah itu dengan bibir mungil sedikit ungu. Mereka bayi menggeliat di dalam rak bayi dengan sangat menggemaskan.
"Tunggu, Papamu hari ini pulang. Kasihan sekali Rama tak bisa ada di sisi Nita. Jadi, aku yang mengadzankan kalian. Kau-kau tahu tidak? Papa kalian kemarin nangis saat Opa menelponnya di video call! Kalian si menangis melulu jadi kalian pasti tak lihat Papa kalian?" Sergey senyum-senyum sendiri.
"Pak Ergi, maaf merepotkan." Nita dengan jalan sedikit susah dan duduk di kursi yang satu meter dari sang sopir yang tampak terkejut.
"Tidak, apa-apa, Non." Sergey dengan suara riang. Ya, iyalah, bisa melihat wajah Nita yang baru mandi.
"Besok mertua saya, Mama Intan, akan datang. Tolong, jangan diambil hati bila Beliau cerewet."
__ADS_1
"Tentu, santai saja, Non!" Sergey mengulas seutas senyuman. Sudah bertahun-tahun dia mengenal Intania, jadi hafal betul dengan pola kemarahan mantan istrinya. Dia jadi gatal ingin mengerjai Intan pada hal-hal yang tidak disukai Intania. Sergey tertawa kecil penuh kesenangan.