Godaan Hasrat Anak Tiri

Godaan Hasrat Anak Tiri
BAB 36 : HILANG


__ADS_3

“Kamu kemari, aku pinjam ponsel. Biar kucatat nomor Lana di ponselmu.” Nita mengulurkan tangan dan tampak Rama dengan sigap meraih ponsel dari saku celana.


Nita memasukkan nomor ponsel milik Lana yang dia hafal, sembari berbicara dengan tetap tenang. “Ram, boleh aku minta tolong padamu bila terjadi sesuatu padaku, tolong hubungi Lana.”


“Apa sih kamu nyeremin, ih? memang kamu mau ke mana sama papa? selama kamu dengan papa, tidak akan ada terjadi sesuatu padamu. Kecuali Papah yang membuatmu terluka, tapi nggak mungkin, sih.”


Nita memutar mata dan merasa bingung. “Ram, tolong aku titip Musa sebentar, ya? Cuma kamu yang bisa meredakan tangisannya saat dia rewel. Aku sedang pusing. Ini sebagai tanggung jawab kamu karena sudah membuat kita jadi kena masalah di depan publik. Kamu harus bertanggung jawab dengan menjaga Musa.”


Nita langsung terhipnotis pada gerakan Rama yang kini memegangi dagunya. Nita memegangi lengan Rama untuk menyingkirkan tangan itu, tetapi tangannya tak bergerak justru jempolnya seolah mengusap pergelangan tangan Rama.


Entah siapa yang memulau, otak Nita mati saat lama telah memagut bibirnya. Nita berkedip pelan, dia kesulitan bernapas dan tak membalas ciuman Rama. Saat kewarasannya kembali bekerja, Nita seketika mendorong leher Rama, tetapi Rama justru telah melingkari punggungnya dengan tangan yang penuh kehangatan. Kehangatan tangan yang membuatnya merasa lebih rileks. Aneh bukan? ada yang salah dengan diriku.


Rama melepas pelukan dan ciuman secara bersamaan, tampak Nita masih termenung bahkan saat dia selesai mengecup dua kali di kening Nita. “Lihat aku bisa diandalkan, kan? Dan aku bisa diandalkan untuk menjadi sosok papa bagi Musa."


“Aku berangkat. Hubungi Lana, kalau jam 10.00 malam aku belum pulang." Nita memilih mengabaikan Rama, dia melirik sebelum sekat kayu menghalangi pandangannya dari Rama, yangmana pria itu tampak tersenyum seolah baru menang lotre. “Dia nggak mikirin berita di mana-mana apa? Semua omongan buruk tentang kita, khususnya aku.”


Nita memasuki mobil sedan bmw hitam, di mana Sergey tampak melamun dan memandangi ke luar jendela. Sejak dia masuk ke dalam mobil, Sergey sama sekali tak memandangnya. Nita memandu Patrick menuju ke arah rumah yang telah dibelinya, dengan pasrah sekaligus menaruh harapan terhadap Sergey.


Wanita itu dapat menangkap mata Sergey yang begitu terkejut saat pintu gerbang rumah keduanya, dibuka oleh security. Patrick mengikuti arahan Nita untuk menghentikan mobil di garasi.


Dengan gelisah Nita memimpin jalan, membuka pintu gerbang belakang. Tampak sekali mata Sergey dan Patrick langsung mendelik saat melewati jalan setapak yang ramai motor dan lebih terkejut saat masuk ke dalam rumah kecil berwarna biru. Nita memasuki ruangan sunyi. “Paman, Nita datang .... ”


Sergey dan Patrick saling tatap di ruang tamu. Sergey menjerat kerah kemeja Patrick dan meminta penjelasan kenapa Patrick tidak tahu soal rumah kecil ini, di balik rumah besar yang sering diawasi Patrick.


Suara jeritan Nita membuat Sergey melepaskan kerah Patrick. Dua lelaki itu masuk ke dalam kamar. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati ruangan yang tampak seperti rumah sakit di dalamnya.

__ADS_1


Nita meraung-raung di keranjang tempat tidur seperti keranjang pasien. Gadis itu terlihat terpukul saat memanggil nama Devan dalam tangis memilukan. Nita melewati Sergey dan mencari pria bernama Pedro ke dua kamar yang baru dibuka dan terlihat kosong.


Sergey geleng-geleng kepala dan memegang tengkuknya yang terasa kaku saat Nita bilang Papanya tidak ada di tempat ini. Sergey terduduk di kursi kamar dan menatap cairan perawatan rumah sakit dan beberapa alat medis, yang tampaknya belum lama terlepas.


Sergey langsung berdiri dan kembali ke rumah depan. Dia langsung menghajar security tadi. “Katakan kau mengetahui sesuatu, kan!”


“Dia tidak tahu apa-apa, Mas!” Nita menarik Sergey agar menjauh dan melepaskan security, tetapi Nita terjengkang sendiri. ”Dia orang biasa dan tidak tahu apa-apa. Percayalah padaku!"


Patrick menghubungi seseorang. “Cari semua yang mencurigakan di sekitar Jalan Mawar, sekarang.”


"Mungkin dia belum jauh, Bos?” ujar Patrick pada sang bos dan mendekati si security.


“Tahan dia.” Sergey menunjuk security dan Patrick mengeluarkan borgol langsung memborgol lelaki itu.


“Kamu benar-benar, ya!” Sergey dengan suara serak dan geram. Dalam hati memanas dan penuh amarah. Tangannya masih menunjuk dengan telunjuk ke depan wajah Nita. Namun, tampak Nita tak terlihat takut sama sekali.


“Tolong cari papah, tolong bantu aku cari papah, Mas,” suara Nita serak dan penuh putus asa.


Tenggorokan Sergey terasa begitu panas dan seolah ada benjolan kekecewaan yang besar di dalamnya. Bagaimana tidak. Dia ditolak Nita, mungkin masih terima. Akan tetapi jika memang Devan-sahabatnya itu masih hidup, anak dari sahabatnya ini telah membuatnya benar-benar marah, karena bisa saja Dia kehilangan Devan selama-lamanya.


“Kau pikir kau tahu, dunia apa ini yang sedang kau hadapi? Kamu, kalau tidak tahu apa-apa, bertanyalah pada yang tahu,” suara teredam karena amarah terucap. Kata demi kata dengan penekanan. “Kau kini mengerti, dunia seperti apa ini? Beginilah...”


“Kau hanya perlu menemukan ... papahku. Aku tak perlu omong kosong dan dakwahmu!”


Sergey geleng-geleng kepala, seperti inikah tabiat asli anak devan. “Iya, persis seperti Devan. Kamu ... mengikuti jejak Devan, yang menganggap dunia ini aman-aman saja. Menyembunyikan segala sesuatu dan mengira bisa menghadapi sendirian. Nyatanya, enol! Bodoh! Naif!"

__ADS_1


Tangan Nita terkepal hingga jari-jari memutih. ”Katakan saja jika kau memang tidak mau membantuku! Aku bisa mencari …. orang lain. ”


“Mencari orang lain? Siapa? Seperti orang yang kau bilang menjaga papamu, selama ini? Seperti dia? Lihat! Orang yang kamu percaya itu, apa dia yang selama 3 tahun telah menjaga papamu? Lihat , lihat, Nita! Mana sekarang …. Di mana sekarang DEVAN. Kau tidak bisa jawab!”


Sergey menarik pergelangan tangan Nita, dia membuka pintu mobil dan mendorong Nita ke jok belakang. Lalu membanting pintu. Sergey mengendarai mobil sendiri dan meninggalkan Patrick yang pasti tahu sendiri pekerjaannya.


Sergey melirik ke belakang. “Kita berharap semoga masih bisa kita menemukan papahmu. Hidup-hidup. Bagaimana jika dia ditemukan mati seperti dahulu, begitu terpukulnya kamu saat melihatnya mati. Apa saat ikut tangisanmu palsu? Kau benar-benar bintang bersinar, aktris nomor satu!"


Air mata kekecewaan yang begitu mendalam jatuh melewati pipi Sergey dan menyebar seperti halnya hatinya yang begitu sakit karena semua hal yang terjadi mendadak pagi ini.


Berita memalukan sang putra dan istrinya berciuman. Putra yang dicintainya dengan seorang wanita yang juga sudah mulai dicintainya ini. Hati ini semakin hancur karena Nita mengelabuhi 3 tahun ini. Sakit menyelimuti hati begitu tahu benar, memang Devan masih hidup. Bahagia, tapi hatinya hancur lebur saat melihat Nita menangis dan menjerit.


Sergey yakin kali ini Nita jujur bahwa Devan dibawa kabur. Mengapa hidupnya yang dulu glamor, penuh kemewahan, dicintai, ketenaran seakan dipenuhi cahaya di mana-mana ... mendadak, hancur lebur oleh satu orang wanita, yang niat hati ingin ditolongnya.


Pada awalnya, Sergey hanya ingin menolong putri dari sahabatnya, menghindarkan dari gangguan para mafia, tetapi siapa sangka hatinya pun tak terlindungi dari keindahan perasaan yang tiap menit selalu berkembang, tanpa sadar sekarang perasaan itu telah besar. Begitu besar hingga dia kecewa seperti sekarang.


“Aku akan mencari papamu dengan satu syarat, menikahlah dengan sungguhan ... denganku. Kali ini tidak ada penolakan, kali ini aku tidak akan menanyakan ... kau sanggup atau tidak.


Keluarlah dari pintu ini jika kau mau kabur pada detik ini, waktumu hanya 2 menit. Begitu kamu tak keluar 2 menit, aku menganggap kamu setuju dan kau tak bisa keluar lagi dari pelukanku.


Kau juga turuti keinginan hatiku. Aku akan membawamu pindah ke luar negeri. Lalu kau hanya diperkenankan bertemu Rama satu kali dan terakhir, setelahnya kamu dilarang bertemu putraku. Masa bodo dengan Devan, kau sendiri yang membuatnya seperti ini.


Rasakan sendiri buah usahamu ini. Sekarang aku yang memegang kendali, Nita? Permainanmu telah berakhir. Di sini akulah tuannya Sekarang. Aku hitung mundur dalam tiga detik, 2 menit kau memutuskan. Jikau kau tidak menjawab, kuanggap bahwa kau setuju untuk hidup denganku. Dari sekarang ... ”


__ADS_1


__ADS_2