
Musa terlelap dalam pangkuan Nita di jam 8 malam. Elusan di kening Musa lalu dihentikan. Nita memandangi ruang keluarga di rumah sederhana ini. Rasanya, dia sudah sangat tak betah, tapi dia bisa apa selain berdoa agar bisa cepat pindah.
Mengapa hidup kita sekarang sesusah ini, Pah. Batin Nita sembari menggaruk tangannya dengan begitu kesal karena gigitan nyamuk yang besar-besar. Nita sampai berulangkali mengolesi minyak telon ke leher dan sedikit ke pipi Musa, agar tidak digigiti nyamuk.
Helaan napas panjang dari mulut, tak membuat Nita tenang. Dia ingin menyerah dan kembali ke rumah, tetapi rumahnya sudah dijual. TV saja tidak ada di rumah ini. Memang si ini untuk tempat tinggal sementara, tetapi baginya ini seperti di neraka, belum lagi suara hewan-hewan malam membuat bulu kuduk merinding.
Rama yang tengah melepas jarum infus dari tangan Devan, melirik Nita yang masuk kamar, yangmana wajah cantik itu begitu kusut. Rama memegangi kapas dan memplasternya di bekas impusan. "Alhamdulillah, sekarang Om Devan tidak pakai infus. Besok tinggal belajar jalan dengan terapis."
"Panggil saja saya 'Papa'." Devan yang duduk di kursi roda, menepuk bahu pemuda itu sembari menatap mata biru Rama yang memantulkan kecerdasan dari cara pikirnya.
"Papa Devan, terimakasih sudah mempercayakan Nita pada Rama. Rama tidak tahu lagi harus bilang apa."
"Hm ..... Papah masih ada tabungan rahasia." Devan membiarkan Rama mengantarnya ke kamar. "Nanti kalau kita sudah dapat tempat tinggal diluar negeri, bantu Papa mencairkan itu. Katanya kau mau buka kedai makanan?"
"Beneran, Pah? Rama senang sekali! Padahal Rama sebelumnya sudah bingung, walau Rama mungkin bisa meminjam ke teman Rama."
"Iya, itu lebih dari cukup untuk hidup kita selama lima tahun ke depan. Nita juga katanya akan membuka toko bunga di Brunei."
"Kita semua akan berjuang, Papah." Rama memapah Devan ke tempat tidur, lalu menyingkirkan kursi roda. "Selamat beristirahat, Papa Devan."
"Selamat tidur, menantuku." Devan tersenyum semeringah walau dia juga bingung pada reaksi Nathan nanti.
Rama menutup pintu kamar Devan. Dia ke kamar Nita, sambil bersenandung dan mengunci pintu. Kunci itu dibuat mendadak tadi siang, dari potongan kayu dan dia sampai mendapat ledekan dari Papa Devan, katanya 'yang mau malam pertama dah siap-siap.' Celana panjang dan kaos dilepas, lalu digantungkan ke gantungan di balik pintu.
__ADS_1
Nita terjaga saat merasakan getaran di tempat tidur spring bed ukuran queen. Terlebih Rama yang hanya pakai celana inti. "Mas, nanti kamu kedinginan," suara Nita parau.
"Aku kepanasan, Sayang." Rama memeluk Nita dari belakang, ujung jemarinya mengelus perut Nita. "Selamat bobo, Sayang."
"Hmm .... " Nita sudah tak tahu lagi Rama berbicara apa, saking mengantuknya.
Ketika Rama terjaga dan melirik jam satu pagi. Dia turun dari tempat tidur, memakai handuk dan bergegas keluar dari kamar untuk buang air seni. Setelah kembali dari kamar mandi, dia dibuat tercengang karena dua kancing pakaian Nita, terlepas dan menampakkan sesuatu yang membuatnya berhas*rat.
Rama berbaring di samping Nita dan mulai menggoda sang istri dengan tangannya. Entah istrinya tidur atau tidak, tetapi tangan sang isteri ikutan nakal hingga membuat Rama semakin pusing, karena sudah sulit ditahan lagi. "Tha .... bangun .... "
"Apa, masih malam." Nita dengan masih mengantuk baru tersadar dengan apa yang dipegangnya, tetapi dia masih bersikeras menyenangkan Rama. Nita menggigit bibir bawah dengan tak tega, dia tahu suaminya sangat menginginkannya saat mata Rama setengah meredup. "Mas, kita coba lagi ... "
Rama menggoda Nita dengan sentuhan yang lembut dan perlahan yang terus diresapinya karena kelembutan kulit yang isteri. "Jangan tutup matamu, lihat aku, Nita. Aku tidak menyakitimu," suara Rama tertahan dengan napas pelan sembari menurunkan celana inti Nita.
"Sekarang ya?" bisik Rama. Dia telah membuat milik Nita basah dan isterinya mengangguk. Rama terus mengingatkan Nita untuk menatapnya. Lelaki itu melirik Musa yang bergerak.
Rama mengembus napas lega dan jantungnya hampir copot karena dia pikir Musa akan bangun. Kemudian Rama berbisik ke sang istri, bahwa pada hitungan ketiga dia akan menggagahi sang istri. Rama was-was karena wajah Nita sudah mulai pucat dan mata itu terus melebar mungkin karena takut.
"Bernapas dari hidungmu, Sayang. Satu .... Ya, seperti itu, terus hembuskan melalui mulut," suara Rama makin bergetar saat mulai memberikan tekanan hingga membuat mata Nita terbelalak dengan sempurna.
"Tarik napas .... dua .... " Rama meringis dan sempat terpejam dan matanya langsung melebar karena sensasi luar biasa yang baru dirasakannya. Rama mengembus napas dari mulut. "Jangan terpejam, rasakan, tidak ada apa-apa kan, semua akan baik-baik saja. Jangan dipikirkan, aku yang di depanmu dan bukan orang lain. Kau percaya padaku?"
"Hmm." Badan Nita gemetar, kepalanya pusing. Dia tak mau pingsan lagi. Tangannya mencengkeram pinggang Rama dan terus menatap mata biru Rama yang begitu seksi.
__ADS_1
"Tiga ..... Kamu sangat cantik, Sayang." Rama memagut bibir sang istri dan menghujam dalam satu dorongan hingga Nita menggeram dan mengigit, entah itu bibir atau lidah Rama. Nita merinding hebat dan bernapas sering, dimana kakinya kejang. Pandangannya berkunang-kunang, Rama melepas pagutan dan terus memanggilnya hingga dia mulai melihat jelas kembali.
"Kita berhenti?"
Nita menggelengkan kepala dengan lemah, bahkan dia sudah mendapat tatapan kecewa dari Rama. " A-ku baik-baik saja. "
"Lemaskan kakimu .... " Rama mengecupi telinga Nita, dan membasahi cuping telinga itu dengan liurnya hingga Nita mulai bereaksi dan menunjukkan tanda-tanda mulai nyaman dan menikmati. Rama memajukan pinggul setelah yakin Nita mulai tenang hingga wanita itu kini mulai bernapas sering karena pergerakannnya. Tangan mungil panas itu menusuk pinggangnya dengan kuku-kuku, tetapi itu tak dirasa, karena dia berfokus kepada malam pertamanya.
Kecupan lembut berulangkali mendarat di pipi Nita yang sangat merah dan berkeringat, entah keringatnya atau keringat Nita. Mereka juga harus berhati-hati dan mengontrol gerak, agar tak membangunkan Musa.
Ada rasa takut luar biasa dalam diri Nita, yang coba terus dilawannya. Dia terus meyakinkan diri dan berteriak di dalam hati pada dirinya bahwa lelaki yang tengah menggagahinya adalah Rama-suaminya.
Sejujurnya Nita tak dapat merasakan enak seperti yang orang-orang bilang. Entah dia merasa sakit karena ukuran kelelakian suaminya atau hanya karena halusinasinya. Nita merin*tuh dan terus berkedip, memperhatikan wajah merah suaminya, yang tampak begitu berfokus pada apa yang Rama rasakan. Bahkan otot di kening suaminya sampai menonjol.
Begitu panas dan perih di dalam kewanitaannya, tetapi Rama tak menunjukkan tanda-tanda akan pelepasan. Nita menarik kepala Rama dan mulai memagut bibir sang suami untuk menahan rasa perih karena dia yakin miliknya telah lecet. Matanya terpejam dan menyesap rasa manis dari bibir Rama. Baru Nita mulai menyukai pagutan tak terkendali Rama, cengkraman tangan kuat di pinggang mungilnya semakin kencang, begitupun gerakan sang suami yang seolah berpacu dengan waktu.
Nita terbelalak karena merasakan semprotan kuat dan panas di dalam rahimnya. Gelombang merinding menyelimuti tubuhnya. Dia mendorong tubuh di atas yang baru menimpanya. Namun, tubuh Rama berat, Nita mulai menggelengkan kepala cepat saat rasa sakit di kewanita**annya juga mulai kabur.
Bayang-bayang pergerakan pemer*kosa itu dalam kegelapan 'malam naas itu' seolah kini melintas di depannya. Dadanya yang sudah sesak karena tertimpa tubuh Rama, semakin sesak karena mendadak tak tahu cara bernapas. Tenggorokannya panas seperti tercekik, dia menggigil dengan bayangan Rama terdistorsi dengan bayangan si peme*rkosa.
"Tenang, sayang, ini aku." Rama yang baru terjatuh ke samping karena dorongan kuat Nita, sedikit membekap mulut Nita karena sang isteri mau menjerit dengan pandangan kosong. Rama duduk, tangannya menurunkan daster Nita hingga menutupi lutut.
Apa yang ditakutkan terjadi, Musa bangun, Nita dibaringkan ke tempat tidur saat sang isteri masih memukuli ke segala arah. Rama terpaksa menyekal dua tangan Nita, sambil memakai celana kolor secepat kilat. Dia memeluk Nita, merangkul dan menahan tangan sang isteri. Bahkan Musa sekarang duduk dengan kebingungan, saat melihat sang mamah menangis tersedu-sedu dan suara itu terbenam di dada bidangnya.
__ADS_1