
"Rasakan sendiri buah usahamu ini. Sekarang aku yang memegang kendali, Nita? Permainanmu telah berakhir. Sekarang, di sini akulah tuannya. Aku hitung mundur dalam tiga detik, lalu waktumu tersisa 2 menit untuk memutuskan. Jika kamu tidak menjawab, kuanggap bahwa kau setuju untuk hidup bersama denganku. Mulai dari sekarang, tiga, dua, satu .... ”
Hati Nita bergetar. Papah Devan .... Aku harus kemana mencari mu, Pah? Pasti ada cara lain, selain menikah dengan Mas Sergey. Aku juga belum coba menelpon Paman Pedro. Keputusan yang diambil dengan cara terburu-buru tidaklah baik.
Sergey menoleh ke belakang, terlihat Nita menggulir ponsel dengan lirikan ke kanan-kiri yang pasti kebingungan. Dia yakin bahwa Nita akan menerima syaratnya. "Satu menit, 30 detik tersisa."
Ya, Tuhan, tolong bantu Nita yang tidak mau mengambil keputusan yang salah dalam waktu singkat, yang bisa Nita sesali pada akhirnya. Nita menatap Sergey dan mencoba setenang yang dia mampu, walau di dalam dada sebenarnya lebih besar rasa takutnya. "Mas, tapi Nita belum ingin menikah."
"Terserah kamu. Aku tidak akan membantumu kalau begitu. Keluar dari rumahku, sahammu harus kau berikan kepadaku, sebagai ganti atas kerugian yang disebabkan olehmu." Sergey dengan nada mengintimidasi, membuat dirinya tak terlihat salah dan menumpahkan semua seakan-akan murni salah Nita karena tak mau menurutinya.
Pandangan Nita meredup, bibir mungil saling memelintir.Dia mengecap rasa pahit, seakan-akan empedu di dalam tubuhnya pecah dan naik ke tenggorokan. Kenapa hidupnya juga sepahit ini. Nita menggelengkan kepala.
"Tidak bisa! Perjanjian kita legal, terlindungi hukum dan saham itu 30 persen milikku. Jadi, Mas itu tak bisa main rampas begitu saja. Itu hampir 11 triliun," suara Nita seperti orang tercekik.
Nita dilanda ketakutan bila dianggap tak memiliki sepeserpun hak dari perusahaan yang adalah milik papah mulanya. Ini bahkan jauh lebih buruk dibandingkan dulu saat dirinya belum bertemu Sergey secara empat mata. Mencari papahpun perlu uang dan Sergey seakan menghalangi semuanya.
Sergey menyeringai dan tatapan kian menajam membuat punggung Nita diselimuti gelombang merinding. "Kau tidak tahu? Kerugian karena mu bahkan melebihi itu. Iklan-iklan dihentikan, kontrak kerja sama telah dibatalkan, beberapa meminta pembayaran denda."
"Tapi, itu sepenuhnya bukan salah Nita, Mas!"
"Waktumu habis, dan kau masih di sini." Sergey tertawa dengan cara menyeramkan.
"Tidak, aku tidak akan menikah!"
"Kau menikah denganku. Nita Athalia dan Sergey Orion Abimasa!" Sergey berbalik menghadap depan dan mengoper tuas ke D, dia menepis tangan Nita yang menarik lengan kiri ke belakang untuk minta dibukakan pintu. Lelaki itu mengabaikan suara bergetar dan memohon Nita.
Perempuan kadang terlalu lemah dan tak tahu apa yang dia lakukan bahwa itu akan mengundang bahaya yang lebih besar. Sangat tidak berpikiran jauh! Bahkan aku yakin, Nita tidak tahu cara menyelamatkan Devan! Bisa-bisa uang itu habis karena dibohongi orang yang bilang akan menolongnya.
Ada banyak penipu di kota ini. Bisa Pedro salah satunya, menjual Devan ke mafia. Mengapa kau tak membuka matamu! Ada saya yang perkasa dan tahu celah kemana kira-kira Devan dibawa. Ini bukan arena anak kecil seperti mu, Nita!
Nita memegangi ponsel gemetar, dia tak punya nomer Rama. Jadi, Nita berusaha mengirim pesan ke Lana agar cepat datang ke rumahnya untuk membawa Musa. Dia tinggal mengirim pesan sampai Sergey berbelok mendadak dan ponselnya terlepas dari tangan mungil.
Sergey menepikan kendaraan, berhenti, lalu membuka pintu belakang. Bahkan ponsel milik Nita, yang baru dipegang Nita, direbut dari tangan Nita, kemudian dibanting ke tengah jalan yang ramai kendaraan.
Pada saat yang sama, mobil lewat. dan Nita yang akan meraih ponselnya itu dihalangi lengan kekar Sergey. Ponsel Nita retak pecah dan bagian-bagian terlepas.
"Mas! Kenapa merusak ponsel Nita. Tolong, jangan seperti ini caranya!" Nita tak tahu lagi cara berbicara dengan Sergey, agar lelaki itu mendengarkan dan tak hanya menggunakan emosi.
__ADS_1
Nita meringis begitu mendapat tamparan keras di pipi kiri. Pipinya perih dan panas, lalu dielusnya. Kelopak mata wanita itu bergetar dan mendelik pada mata biru Sergey yang berkedut.
"Nit-" Sergey gelagapan dan melihat telapak tangannya yang memerah. Sama seperti pipi Nita yang terdapat jejak merah.Aku tak sengaja.
Sergey mengepalkan tangan, marah pada dirinya sendiri yang tak terkendali. Dia tak tahu mengapa tangannya itu refleks. Ya, pasti karena Nita sudah membuat kepalanya mendidih.
Mobil dan motor berhenti, beberapa orang merekam dari dalam mobil. Sergey melirik sekitar, dia benar-benar merasa tak terkendali. "PERGI KALIAN! MATIKAN KAMERA! KAU SENANG DRAMA!" Sergey menuju ke mobil yang berhenti karena di depannya banyak pemotor berhenti. Bahkan di jalan sisi lain juga ikutan macet.
Nita menggelengkan kepala, tak menyangka ini tak bisa dihindari. Dia melangkah cepat dan sudah tak peduli lagi pada apa kata dunia padanya dan Sergey. Dia menarik lengan Sergey saat pria itu terus meninju kaca mobil ynag tertutup rapat. Sergey mulai membuka pintu dan pintu mobil xenia hitam orang itu terbuka.
"Mas, ayo, kita pulang .... " Nita mendapati Sergey meraih ponsel orang itu lalu membanting ke aspal di dekat kerumunan pemotor dan orang-orang di sekitar cuma asik merekam.
"Kau mau ganti rugi? Datang ke kantor!" Sergey dengan wajah yang telah merah padam, sampai otot-otot menyembul di kening, tangan kekar menjerat kerah pria berpakaian PNS. "Kau keluyuran? bukannya ini jam kerja? Dasar suka sekali mencari kesalahan orang , tak berkaca pada diri sendiri! Kau tidak lihat jam 2!" Sergey melirik kesal.
"Apa sih, Anda? Kami berkerja dan harus ke instansi lain! Hahaha pantas saja istrimu selingkuh dengan anakmu. Tampaknya dia jengah pada tempramentalmu, ya!"
Tinjuan keras tak terelakan pada pria itu. Pria di samping orang itu berusaha menahan tinjuan Sergey yang lain. "Hei! Kalian tolong, jangan cuma diam saja!" teriak orang itu pada para pemotor.
"Bos .... biar saya yang akan tangani," ujar Patrick dan sempat mendapat penolakan dari Sergey. "Saya akan membuatnya menyesal. Kembalilah sekarang, Bos. Nyonya Intania ke rumah."
"Kau temui aku di kantor." Sergey masih menunjuk dengan telunjuk pada pria berpakaian PNS sambil terus mundur ke arah mobil. Sergey naik ke mobil dan tampak Nita sudah naik ke jok di samping pengemudi.
"Kau lihat ulahmu?" Sergey dengan nada berat di an rendah sambil melirik Nita. "Sudah, kau menurut saja!"
Tangan Nita terkepal kuat-kuat di atas paha dan itu dilihat oleh Sergey. "Mas bilang, akan menemukan ayah Musa dulu .... "
"Tidak, aku akan tetap menikahimu dulu. Aku langsung akan membu*nuhnya sendiri pria itu setelah kita menikah."
"Nita tidak akan menikah dengan pembu*nuh." Nita mual begitu mendengar nada menyeramkan Sergey yang dipenuhi pemikiran iblis.
"Kalau gitu aku akan menghancurkan dia dan keluarganya sampai dia minta maaf kepadamu." Sergey masih saja memikirkan Nita.
"Kita kan perlu klarifikasi ke publik, kalau hubungan kita hanya settingan. Publik takkan ramai lagi." Nita masih mencari jalan Keluar. "Biarkan .... Nita pergi."
"Pergi kemana? Kau tanpa uang bisa apa?Bahkan kamu sendiri, tak tahu keberadaan Papahmu?"
Nita mengernyitkan kening karena ini jalan ke rumah Papa Devan. "Ini kita pulang ke rumahku, Mas? Kenapa .... "
__ADS_1
"Kamu pikir, aku akan membiarkanmu bertemu Rama?" Sergey menepikan mobil di depan rumah Nita. Klaskon ditekan dua kali, dia condong ke depan Nita. "Aku akan menyiapkan syarat pernikahan kita yang resmi."
"Tapi, mas. Video itu .... Kita sudah tidak boleh bersama! Dia telah menciumku dan itu sangat salah bila kita menikah!"
"Salah? Aku bisa menggiring opini publik dan mengatakan berita itu tak asli dan hanya rekayasa, lalu membayar si penyebar itu untuk mengaku sebagai pelaku dan mendekam di penjara, dan aku akan mengimbali dengan uang yang banyak."
Nita bergidik, tubuhnya gemetaran. "Aku tidak mau menikah denganmu, Mas."
Sergey menatap tajam Nita dengan perasaan sakit luar biasa. Dia tak pernah tahu bahwa ditolak, rasanya begitu semenyakitkan ini. Tuas digeser ke D dan Sergey menginjak gas penuh hingga jarum kecepatan melesat ke 110 km membuat mobil itu sempat tersendat
"MASSSSSSS! AKU TAK MAU MATI!"Teriak Nita langsung terpejam kuat-kuat. Badannya terayun ke belakang. Nita begitu takut dan detak jantungnya terasa berhenti berdetak, memegangi apa saja yang dia bisa.
Kening Nita menghantam sesuatu keras dan itu dashboard depan. Ngilu menjalar dari kepala ke seluruh tubuh, karena badannya juga terantuk. Niga duduk tegap dengan lemas luar bias dan dan melirik ke depan pada mobil yang cuma berjarak tidak ada 1 meter dari tiang cor depan rumah. "Mas sudah gila!"
"Kamu yang membuatku gila! Kenapa kau tak berusaha melepaskan diri dari ciuman putraku! Aku sakit! Apa kau tak tahu betapa sakitnya aku disini!" Sergey memukul dadanya sendiri sampai berbunyi bug bug, membuat Nita mau tak mau menahan tangan Sergey yang begitu kuat. Mata lelaki itu memerah dan air mata Sergey mengali ke pipi.
Oh, ini pertama kali Nita menjumpai lelaki beruang kutub yang selalu tampil mengerikan, misterius juga bisa menangis.
"Mas, Maafin Nita. Nita tak bermaksud begitu. Semua sangat cepat dan Nita tak tahu ..... Kenapa Mas terus memarahi aku. Aku tak menginginkan sesuatu di dalam video itu. Maafin Nita semua berimbas ke Mas dan menyusahkan Mas. Nita tak tahu harus bilang apalagi.
Entah sejak kapan tangan Sergey memegangi pipi Nita dan mengusap embun bening yang berjatuhan. Sergey membenci air mata itu, yang melemahkan benteng-benteng harga dirinya. Sergey keluar dari pintu mobil dengan dada panas seperti terdapat batu besar yang mencolok dan mengiritasi luka yang telah ada di dalam dirinya. Dia membanting kasar pintu mobil ditengah airmata kekecewaan yang berjatuhan.
Mengapa harus putraku dari sekian banyak manusia di bumi ini. Bisa kan siapa saja! Selain putra ku! Lalu aku akan menyingkirkan mereka yang menghalangi jalanku untuk bisa hidup bersama Nita. Bagaimana bisa putraku mengkhianatiku?
Padahal aku telah menceritakan dan meminta masukannya untuk meluluhkan hati Nita. Ini salahku. Seharusnya, membiarkan Rama tetap di Australia sedari awal, tak usah memaksakan Rama untuk datang kemari, mengenal Nita. Aku sangat menyesal.
Nita mematikan mesin mobil, kelakuan Sergey persis seperti Rama, seperti akan menabrakan mobil dan juga tidak mematikan mesin mobil. Dia berlari ke dalam dan sempat melihat Sergey menggaruk kasar kepala seolah ada beban berat di sana. Mas, pasti kamu memikirkan NASA. Katakan, caraku untuk memulihkan keadaan NASA.
"Mas .... " Nita mengikuti Sergey yang berjalan ke kamar Devan. Tampak Sergey mengobrak-ngabrik lemari Devan yang berisi aneka dokumen lawas. "Mas, cari apa?"
Kamar papa ini sudah satu tahun tak dimasukinya. Nita menjatuhkan pandangan pada map-map di lantai. Lagi-lagi akte kerjasama. Nita melirik sekitar dan rasanya ingin kabur dari Sergey bersama Musa, daripada haru menikah dengan Sergey. "Aku pinjam ponsel, Mas. Aku mau telepon Lana."
Sergey mengulurkan ponsel ke Nita. "Kalau kau coba-coba kabur dariku? Lihat sendiri, kau takkan bertemu dengan Musa."
...----------------...
__ADS_1