HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Penyesalan.


__ADS_3

Mahendra memeluk Haikal didalam mobil dia sangat panik karena Haikal seperti tidak bernafas bibir Haikal pucat dan membiru. Mahendra berusaha membangunkan Haikal walau tidak ada hasilnya.


lokasi mereka saat ini cukup jauh dari rumah sakit. Arif mengendarai mobil seperti orang kesurupan dia sudah tidak perduli dengan lubang dijalan ataupun lampu merah, semua itu dia terjang tanpa ragu yang ada dibenaknya saat ini hanya menuju ke runah sakit terdekat.


Mahendra menangis dia putus asa saat badan Haikal mulai dingin didalam pelukannya. Dia benar benar seakan sudah kehilangan harapan.


"Rif cepat cari rumah sakit terdekat badan Haikal dingin Rif!" Mahendra berbicara dengan agak terisak.


"Tuan sabar saya sedang berusaha" Arif mencoba menenangkan Mahendra yang panik.


"Haikal bangun sayang jangan bikin Om takut, Kala udah janji gak akan pergi ayo bangun sayang" Mahendra menepuk pipi Haikal pelan berharap anak itu merespon tapi tetap saja tidak berhasil.


Saat Sampai dirumah sakit Mahendra berlarian dilobi rumah sakit sambil menggendong Haikal yang tidak sadarkan diri. Mahendra menangis berteriak meminta tolong dengan cepat tim dokter mengambil alih Haikal yang ada digendongan Mahendra dan membawanya ke ruang ICU untuk ditangani.


"Kala hiks hiks maafin om... om gagal jagain Kala maaf sayang" Mahendra hanya bisa menangis pilu penuh penyesalan.


*Ceklek


setelah beberapa waktu Dokter keluar dan menghampiri Mahendra. Melihat raut wajah dokter yang murung Mahendra semakin khawatir.


"Dokter?" Mahendra


"Tuan maaf Haikal terlalu lemah saat ini saya harap anda tabah, Haikal... koma" Dokter


Mendengar itu Mahendra diam mematung air matanya jatuh begitu saja. Rasanya baru saja dia beri kebahagiaan dengan Haikal yang diterima disekolahnya kini Mahendra harus menelan pahitnya kenyataan jika Haikal koma.


"Kala? dokter Kala bisa sembuh kan? bisa, kan dok?" Mahendra


"maaf tuan kami belum bisa memberikan kepastian karena selain kekurangan oksigen karena dibekap, Haikal juga mengidap Hipoksia karena adanya gangguan pada jantungnya... kondisi ini diperburuk dengan kejadian hari ini yang menyebabkan dia tertekan, ketakutan, dan dibekap hingga oksigen semakin sulit masuk ke dalam tubuhnya..." Dokter


Mendengar penjelasan dokter Mahendra terduduk dikursi ruang tunggu tempatnya tadi duduk. Mahendra menangis sejadi jadinya ketakutan akan kehilangan orang yang ia sayangi kembali menerpa.


Dokter berpamitan dan meninggalkan Mahendra disana untuk menenangkan diri. Haikal dipindahkan ke ruangan lain dengan berbagai alat medis yang terpasang padanya.


Mahendra duduk disamping Haikal dan menggengam tangan Haikal lembut. Mahendra mengusap pelan tangan mungil Haikal dia melihat memar kebiruan dipunggung tangan Haikal dengan warna kulitnya yang putih pucat membuat luka memar itu terlihat jelas.


"Kala maafin om... om gagal jaga kala hiks hiks kala bangun sayang om gak mau kala kaya gini sayang, om janji akan lakuin apa aja asalkan kala bangun nak" Mahendra.

__ADS_1


Haikal tidak memberikan respon sedikit pun hati Mahendra semakin tersayat ketika dia teringat dengan senyuman dan rengekan manja Haikal. Mahendra semakin erat menggengam tangan Haikal berharap anak itu akan membalas genggaman tangannya.


"Tuan minum dulu" Arif membawakan sebotol air mineral untuk Mahendra tapi dia menolak dengan menggelengkan kepalanya.


Mahendra masih terus menangis sambil menggengam tangan Haikal. Arif yang melihat itu memilih untuk meninggalkan Mahendra sendiri dan berjaga diluar ruangan.


"Kala jangan lama lama tidurnya ya nak... om kangen sama kamu maaf om yang salah, seharusnya om gak ninggalin kamu sendirian kala maafin om hiks hiks" Mahendra.


"Rif gimana keadaan tuan kecil?" Mina yang baru saja datang ke rumah sakit setelah dikabari oleh Arif dan rekannya langsung menanyakan keadaan Haikal.


"Dia koma... dokter bilang keadaannya sangat lemah" Sahut Arif yang juga terlihat sedih selain ia kasihan pada Haikal, dia juga sedih melihat kondisi tuan sekaligus sahabatnya yang kini sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada Haikal.


"Ya tuhan hiks hiks tuan kecil maafin bibi karena gak bisa nolongin tuan kecil..." Mina menyesal karena saat itu Haikal dibawa oleh Lisa dengan paksa didepan matanya, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


*Ceklek


"Tuan gimana keadaan tuan kecil?" Mina


"Bi... tolong jaga Kala jangan biarkan siapapun menyakiti atau membawanya lagi, saya harus pergi karena ada urusan" Mahendra


"Arif ikut saya... bawa juga sebagian anak buah kita, dan tempatkan orang disini untuk menjaga Haikal dan bi Mina" Mahendra


"Baik tuan" Arif.


Meski sedikit bingung tapi Arif mengikuti perintah tuannya tanpa banyak bertanya. Mahendra dan Arif pergi meninggalkan rumah sakit awalnya Arif bingung kemana tuannya ini akan membawa dirinya, karena sejak tadi Mahendra yang menyetir dan dia hanya diam.


"Tuan kita mau kemana?" Arif bertanya dengan ragu.


"Ke rumah Lisa" Sahut Mahendra dengan datar tanpa ekspresi.


"Mampus tuan pasti ngamuk nih, aduh gimana ya masa gue halangin sih bisa bisa malah gue yang dihabisin sama tuan... Alah udah lah gas aja pusing ah" Arif menggerutu didalam hati.


Mobil Mahendra memasuki area rumah Lisa para penjaga disana langsung mempersilahkan Mahendra dan anak buahnya masuk karena mereka tau Mahendra adalah calon suami majikan Mereka.


Melihat kedatang Mahendra orang tua Lisa menyambutnya dengan baik dan ramah. Tapi Mahendra memasang wajah datar dan tatapan dingin.


"Nak Mahendra ayo masuk kebetulan ibu baru saja masak, kita makan sama sama yuk'' Ibu Lisa mempersilahkan Mahendra masuk.

__ADS_1


Mahendra masuk ke dalam rumah Lisa dan duduk diruang tamu bersama orang tua Lisa yang dari tadi terus berbasa basi tapi tak ditanggapi oleh Mahendra.


"Dimana Lisa?" Mahendra tiba tiba bersuara dengan datar.


"Lisa? ada kok lagi dandan deh kayaknya" Ibu Lisa.


"Saya mau bicara dengan Lisa tentang pernikahan kami" Sahut Mahendra dingin.


Dengan semangat ibu Lisa memanggil anaknya. Lisa yang mendengar kedatangan Mahendra sebenarnya menyimpan rasa takut apa lagi dia ingat dengan ancaman Mahendra tadi.


Lisa kini berdiri tepat dihadapan Mahendra. Hal yang pertama kali terlintas dibenak Mahendra saat melihat wajah Lisa adalah ingatan tentang Haikal yang kini terbaring koma dirumah sakit.


*PLAK


Tanpa mengatakan apapun Mahendra menampar wajah Lisa.


"MAHENDRA!" Ayah Lisa langsung berdiri dihadapan Mahendra untuk melindungi putrinya.


"Apa apaan kamu?! dia ini calon istri kamu!" Ayah Lisa terlihat sangat marah tapi bukannya takut Mahendra malah menunjukan senyum smirk nya.


"Mulai hari ini Saya Mahendra Wijaya memutuskan hubungan pertunangan ini dengan Lisa Kartika anak anda!" Sahut Mahendra tanpa ragu sembari melepaskan cincin pertunangannya dan meleparkan cincin itu ke arah Lisa.


"Mahen kamu gak bisa putusin pertunangan kita gitu aja, pernikahan kita gimana Hen?!" Lisa


"Pernikahan? kamu kira aku sudi menikah dengan wanita berhati iblis seperti mu? cih mimpi!" Mahendra


"Nak Mahendra ini sebenarnya ada apa? kalau ada masalah kita bisa selesaikan secara kekeluargaan nak" Ibu Lisa berusaha membujuk Mahendra tapi Mahendra tidak memperdulikan itu.


"Anak ibu ini sudah membuat anak saya terbaring koma dirumah sakit, gara gara ulah mu kala harus terbaring tidak sadarkan diri!" Mahendra menatap Lisa tajam.


"Lisa apa benar yang dibilang Mahendra?!" Ayah Lisa kini ikut menatap putrinya itu tajam.


"Lisa menculik anak saya lalu membekapnya hingga anak saya kekurangan oksigen dan menyebabkan anak saya koma... puas! Kamu puas Lisa sudah menghancurkan kebahagiaan kami?!" Mahendra berucap dengan penuh penekanan.


"Nak Mahendra tolong beri Lisa kesempatan dia khilaf nak" Ibu Lisa.


"Kalau saya memberikan dia kesempatan itu artinya saya yang khilaf! mulai hari ini perusahaan kami PT. Wijaya Company memutuskan semua kerja sama dengan perusahaan kalian, dan semua dana yang sudah kami tanamkan akan kami tarik kembali" Mahendra berucap tanpa ragu kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2