HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Kebodohannya.


__ADS_3

Haikal sedang sibuk memberi makan kura kura kecil kesayangannya dikolam, kemudian menyirami bunga matahari yang baru dia tanam. Haikal memang selalu melakukan itu setiap hari dan kadang kadang dia juga akan membantu pelayan rumahnya untuk menyiram tanaman lain.


"Tuan muda ada tamu..." Pelayan.


"Siapa?" Haikal.


"nyonya Karina..." Pelayan.


"Suruh dia masuk, dia teman papa" Haikal.


Haikal masih melanjutkan kegiatannya menyiram bunga.


"Haikal lagi apa?" Karina.


Haikal meletakan alat penyiram bunganya dan berbalik untuk bertatap muka dengan Karina.


"Maaf tante papa sedang tidak dirumah, papa keluar kota untuk urusan pekerjaan" Haikal.


"Iya tante tau... tadi tante nelpon papa kamu minta izin mau kesini, soalnya mau kasih kamu hadiah" Karina.


"Terimakasih, tapi tante tidak perlu repot repot... papa selalu bilang ke kala tidak boleh menerima barang dari orang asing" Haikal berucap dengan senyuman hambar.


"Haikal kok gitu tante kan bukan orang asing, kita udah sering loh ketemu masa kamu masih anggap tante orang asing sih?" Karina.


"Maaf tante Kala mau masuk dulu" Sahut Haikal sembari berlalu pergi.


"Haikal tunggu!" Karina menahan tangan Haikal dengan mencengkramnya kuat, hal itu membuat Haikal lagi lagi teringat pada trauma nya.


"LEPAS!" Haikal berusaha meronta dan ketakutan.


"Haikal kenapa? ini tante kal, tante bukan orang jahat" Karina malah memegang kedua tangan Haikal sangat kuat hingga tangan Haikal memerah karenanya, Haikal yang ketakutan dan terkena serangan panik menjadi lemas dan kesulitan bernafas.


"HAIKAL!" Ganesha yang baru saja datang melihat itu dan langsung membawa Haikal ke pelukannya.


"Dasar wanita gila apa yang kau lakukan pada keponakan ku?!" Ganesha marah karena Haikal terlihat pucat dan basah oleh keringat dingin, nafas Haikal juga kacau tidak beraturan.


"Om... hiks hiks sesak" Haikal berusaha mengumpulkan tenaganya untuk berbicara, dadanya sangat sakit dan sesak.


"Kala tahan sayang, kita ke rumah sakit dan kau! kau akan berurusan dengan ku nanti!" Ganesha menggendong Haikal ke mobil dan langsung membawanya ke rumah sakit.


Ganesha juga menghubungi Mahendra.

__ADS_1


"Karina?" Mahendra.


"Iya asal kau tau teman wanita mu itu menyentuh Haikal membuatnya ketakutan, gara gara dia Haikal terkena serangan panik dan berakhir di ruang ICU! Dengar Mahendra aku bersumpah pada mu jika terjadi sesuatu pada Haikal aku akan memenggal kepala wanita itu" Ganesha lalu menutup telponnya dia tidak pernah main main dengan ucapannya, tapi bukan itu yang ditakutkan Mahendra saat ini.


Yang ditakutkan oleh Mahendra saat ini adalah jika terjadi sesuatu pada anaknya. Mahendra bergegas ke rumah sakit saat itu juga.


*Ceklek


"Dokter bagainana?" Ganesha.


"Sudah berapa kali saya ingatkan untuk hati hati dalam menjaga Haikal, traumanya itu belum sembuh... untung dia segera dibawa ke rumah sakit kalau tidak kondisinya akan lebih buruk dari pada ini.


Trauma Haikal bukan sekedar trauma biasa yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Sekali lagi saya ingatkan jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali, atau nyawa Haikal menjadi taruhnya.


Panic Attack atau serangan panik bukan hanya berpotensi menyebabkan gagal nafas tapi juga serangan jantung, harap lebih teliti dan hati hati saat menjaga Haikal" Ucap Hendery yang kemudian berlalu pergi.


Ganesha masuk ke ruangan ICU dan melihat Haikal yang masih terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang padanya, bukan hanya itu dokter juga memasang beberapa alat dibagian dada Haikal.


"Kala masih ada yang sakit?" Ganesha bertanya dengan lembut.


Haikal hanya mengangguk pelan dan memegang dadanya.


"Dada kala sakit?" Ganesha kembali bertanya dan hanya mendapat anggukan pelan dari Haikal.


"Tenang tuan rasa sakitnya akan hilang perlahan, sekarang pasien perlu istirahat dan akan dipindahkan ke ruang pemulihan" Suster.


"Om..." Haikal memanggil Ganesha dengan lirih.


"Iya nak? Kala butuh sesuatu?" Ganesha.


"Papa mana?..." Haikal.


"Papa nya kala masih dijalan, sebentar lagi sampai... kala yang kuat ya" Ganesha.


"Tante Karina... ngebentak Kala om, dia juga nyakitin kala" Haikal berucap dengan suara berat menahan tangis dan mata yang berkaca kaca.


"Iya sayang... om tau itu sekarang kala tenang dan istirahat ya, om jagain kala disini" Ganesha.


Haikal dipindahkan ke ruang pemulihan dan dia tertidur karena pengaruh obat. Mahendra yang baru sampai langsung masuk ke dalam kamar Haikal dengan tergesa gesa.


"Kala?" Mahendra.

__ADS_1


"Kita bicara diluar!" Ganesha menarik tangan Mahendra membawanya keluar ruangan.


"Kakak Gimana keadaan kala?" Mahendra.


"Dokter bilang dia mengalami gagal nafas dan berpotensi terkena serangan jantung gara gara panik attack, Mahendra sebenarnya apa hubungan mu dengan wanita itu hah?! kenapa dia bisa dengan mudah masuk ke rumah mu dan menyentuh Haikal sekasar itu?" Ganesha.


"Maaf kak... tadi aku yang memberi dia izin untuk masuk ke rumah" Mahendra.


*PLAK!


Tanpa babibu Ganesha menampar wajah adiknya sangat keras.


"Kau gila! Kau tau anak mu masih masa pemulihan pasca trauma dan kau biarkan wanita itu mendekatinya?! kau mau Haikal mati?!" Ganesha.


"Tidak kak tidak begitu Karina bilang dia hanya ingin mengantarkan hadiah untuk Haikal" Mahendra.


"Dan aku percaya?! Dimana otak mu Mahen? apa kau sudah kehilangan akal sehat mu?! sekarang ikut aku... akan aku tunjukan hasil dari kebodohan mu!" Ganesha mengajak Mahendra kembali masuk ke ruangan Haikal.


Ganesha memegang tangan Haikal lembut dan mengangkat sedikit lengan baju Haikal. Terlihat jelas dipergelangan tangan Haikal ada memar bekas cengkraman tangan Karina, tubuh Haikal memang ringkih dan sensitif dia mudah terluka bahkan benturan kecil bisa menyebabkan memar padanya.


Tapi bedanya kali ini memar dipergelangan tangan Haikal terlihat lebih parah. bahkan dokter pun memilih untuk memasangkan infus ditangan kiri Haikal yang juga mengalami memar tapi tidak separah tangan kanannya.


"Kala sayang maaf nak... kamu pasti ketakutan dan kesakitan, maaf sayang" Mahendra mengusap tangan Haikal lembut.


"Mahendra kalau kau terus begini aku akan benar benar membawa Haikal pergi" Ganesha.


Mahendra seakan tuli dia hanya terus menatap Haikal dengan mata berkca kaca dia tidak menyangka karena kebodohannya Haikal harus menderita lagi.


Setelah dua jam lamanya Haikal akhirnya bangun. Dia melihat Mahendra disampingnya.


"Papa..." Haikal tersenyum pada Mahendra.


"Pangeran kecil papa sudah bangun, masih ada yang sakit nak?" Mahendra.


"Sudah tidak sakit lagi pa... papa sejak kapan disini?" Haikal.


"Sekitar dua jam yang lalu, kala sayang maafin papa ya nak papa yang bodoh karena terlalu percaya pada orang dan malah membuat kala sakit" Mahendra.


"Pah kala tidak mau membahas itu lagi... kala ahk!" Haikal tiba tiba merasakan lagi sakit yang teramat sangat didadanya.


"Kala? Kala kenapa nak?!" Mahendra.

__ADS_1


"Pah... kala sakith ah ahk! sesak pa, sakith!" Haikal memegang dadanya dengan kuat karena sangat sakit, Mahendra langsung menekan bel darurat. Para dokter berlarian ke kamar Haikal dan segera memeriksanya.


__ADS_2