
"Mahendra apa belum cukup kamu buat kami malu dengan membatalkan pernikahan kalian dan membuat kami bangkrut?! apa lagi yang kamu mau Mahendra?!" Ibu Lisa terlihat sangat marah dan tertekan dengan semua yang terjadi.
"Kalau kalian bertanya apa yang aku mau... aku mau kalian merasakan pedihnya diperlakukan tidak adil! Aku diam saat kalian memanfaatkan ku tapi aku tidak bisa diam saat kalian melukai anak yang aku cintai" Mahendra berucap tanpa ragu.
Semua orang disana awalnya berniat membantu keluarga Lisa tapi mereka semua terdiam ketika Mahendra mengeluarkan foto Haikal yang terbaring lemah dengan semua perangkat medisnya.
"Anak ini berusia lima belas tahun dia anak yang baik bahkan cenderung pendiam saat bersama orang baru, iya aku mengadopsinya lalu apa yang salah dengan itu? apa karena dia anak adopsi dia tidak berhak bahagia?" Mahendra
"Kalau dunia ini di isi manusia bejat seperti kalian sudah bisa dipastikan tidak akan ada lagi kebahagiaan yang tulus" sambung Mahendra.
Salah seorang diantara tamu tamu itu mendekati Mahendra dan memegang pundaknya. pria itu bernama Hansen dia adalah orang yang awalnya berniat memberikan suntikan dana kepada keluarga Lisa agar perusahaan mereka tidak bangkrut.
"Tuan Mahendra saya tau perasaan anda... saya juga seorang ayah dari dua anak angkat, tidak ada yang salah dengan mengadopsi. yang salah adalah mereka yang tidak bisa menilai mana ketulusan dan mana kebodohan" Hansen
"Bagaimana mereka bisa mengerti tentang ketulusan jika sejak awal saja mereka tidak pernah punya hati" Mahendra
"Maaf nyonya Lisa perusahaan kami menolak untuk memberikan suntikan dana kepada perusahaan anda, orang yang tidak bisa menghargai hidup orang lain tidak berhak bekerja sama dengan kami" Hansen
"Siapapun disini yang berani membantu keluarga pak Burhan beserta perusahaannya, akan masuk daftar black list perusahaan Wijaya dan jangan harap bisa bekerja sama dengan perusahaan kami" Mahendra berucap tanpa ragu.
*PLAK!
Dengan sangat berani Lisa menampar wajah Mahendra dihadapan semua orang. Mahendra tertawa dengan keberanian Lisa itu, Mahendra kemudian menatap Lisa tajam.
"Hanya ini?" Mahendra melangkah mendekati Lisa tapi Lisa menghindari Mahendra dengan berjalan mundur.
"kau bermain dengan orang yang tepat..." Mahendra
*BRUK!
Lisa tersandung kaki meja yang ada dibelakangnya hingga jatuh terduduk dilantai. Mahendra memegang dagu Lisa kasar.
"Jangan pernah mempermainkan sabarnya orang pendiam" Mahendra melepaskan tangannya dari Lisa kasar disertai senyum smirk khas miliknya.
Mahendra tersenyum penuh arti tidak lama setelah itu Arif datang dengan membawa polisi. Mahendra melaporkan kejahatan Lisa ke polisi bukan hanya itu dia juga mengundang awak media untuk membeberkan semua kejahatan Lisa kepada Dunia.
__ADS_1
Saat itu juga Lisa diseret paksa ke kantor polisi dan Mahendra memberikan keterangan kepada awak media. kini bukan hanya perusahaan dan karir Lisa yang hancur tapi juga reputasi dan nama baiknya. Mahendra kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah sakit.
Mahendra menggengam tangan Haikal erat.
"Ketika kesabaran ku diuji oleh pengkhianatan dan kecurangan aku masih diam, tapi jika ada yang berani mengusik orang yang berharga bagi ku maka jangan bertanya kemana kesabaran ku hilang... tapi tanyakan apakah aku masih bisa disebut manusia'' Mahendra
Arif yang mendengar itu memegang pundak Mahendra.
"Apapun yang tuan lakukan saya akan selalu mendukung tuan, sesuai dengan janji saya" Arif
Saat Mahendra ingin beranjak pergi ke kamar mandi dia merasa jika tangannya tertahan. Mahendra langsung melihat ke arah tangannya dan ternyata tangan dingin Haikal menggengam jari kelingking Mahendra.
Mahendra dengan cepat mendudukan kembali dirinya disamping Haikal.
"Kala? Kala bangun sayang? ini om nak..." Mahendra.
Arif langsung menekan bel darurat untuk memanggil dokter karena khawatir hal buruk terjadi pada Haikal. sebelumnya terakhir kali Haikal yang dikira sadar ternyata malah kejang kejang hebat.
Saat dokter datang mereka langsung menyuruh Mahendra dan Arif keluar. Meski berat mau tidak mau Mahendra melepaskan jarinya dari genggaman Haikal, setelah beberapa lama menunggu dokter keluar dan menghampiri Mahendra.
"Selamat tuan Mahendra, Haikal sudah siuman dia berhasil melewati masa kritis dan koma yang dia alami selama dua minggu terakhir" Dokter
"Terimakasih tuhan... Terimakasih" Mahendra bersalaman dengan dokter bukan hanya itu sangking senangnya dia sampai memeluk dokter itu.
"Sama sama tuan, sekarang saya permisi dulu oh iya tuan... Haikal menunggu anda didalam jika terjadi sesuatu silahkan segera panggil saya" Dokter.
Mahendra bergegas masuk dan Haikal menatap Mahendra sayu. Meski masih terbaring lemah dengan menggunakan selang oksigen tapi kondisi Haikal jauh lebih baik dari sebelumnya.
Mahendra menggengam tangan Haikal dan Menciumnya. Tidak ada kata yang terucap dari Mahendra hanya tangis bahagia yang kini bisa terlihat darinya, Haikal perlahan menghapus air mata Mahendra.
"Om jangan nangis... kala jadi sedih" Haikal
"Terimakasih kala... terimakasih karena sudah kembali nak" Mahendra.
"Kala gak pernah kemana mana om... kala selalu ada disini, karena kala sayang sama om" Haikal
__ADS_1
"om juga sayang sekali sama Kala... om janji om akan jaga kala dengan baik, jangan pergi lagi Kal om takut kehilangan kamu" Mahendra.
"Kala juga gak mau jauh dari om... kala minta maaf udah bikin om sedih" Haikal.
"Suht... udah gak usah dibahas sekarang kamu istirahat biar cepat sembuh ya sayang" Mahendra
"Om semua badan Kala rasanya pegel banget... boleh gak kala duduk om?" Haikal
"Kala jangan banyak gerak ya om akan atur kasurnya ke posisi duduk jadi Kala bisa lebih nyaman" Mahendra kemudian mengatur tempat tidur Haikal ke posisi duduk.
"Udah nyaman?" Mahendra
"Sudah om makasih ya" Haikal
Mahendra terus menatap Haikal dengan tersenyum dan mengusap kepala Haikal dengan lembut.
"Om kenapa ngeliatin kala terus?" Haikal
"Gak apa apa kok om cuman kangen sama Kala..." Mahendra
"Om jangan liatin kala kaya gitu... kala malu" Haikal.
"Malu kenapa?" Mahendra
"Kala jelek belum mandi, muka kala kucel banget om" Haikal.
"kata siapa sih hm? kala tetep ganteng kok, liat nih imut gini kok dibilang kucel sih" Mahendra terkekeh dengan tingkah lucu Haikal.
"Om kala mau tanya..." Haikal
"Tanya apa sayang?" Mahendra
"selama kala belum sadar om selalu disini jagain kala?" Haikal
"iya om selalu ada disini... om nunggu kala bangun setiap hari om ngomong sama kala meskipun kala gak memberi respon om tetep berharap kala akan bangun dan ngobrol lagi sama om" Mahendra menjawab sembari membenarkan rambut Haikal yang sedikit berantakan.
__ADS_1
"Kala kira itu mimpi... kala sering denger suara om tapi samar samar dan kadang kala denger om nangis, ternyata itu bukan mimpi" Haikal.