
Haikal tidak menatap Mahendra yang sibuk dengan perkerjaannya. Timbul banyak pertanyaan dibenak Haikal tentang apa yang sedang dilakukan Mahendra tapi dia tidak berani bertanya, dia sebenarnya penasaran tentang pekerjaan sang ayah. Mahendra yang melihat ke arah Haikal dam tidak sengaja beradu tatap dengan sang anak.
"Kala kenapa? Kala mau sesuatu?" Mahendra.
Haikal hanya menggelengkan kepalanya pelan. Mahendra kemudian beranjak dan membuat susu hangat untuk Haikal, Mahendra memasukan susu itu ke botol minum anti tumpah berbentuk beruang kesukaan Haikal.
"Sudah waktu Kala minum susu... ini diminum ya" Mahendra meletakan botol minum berisi susu itu dinakas samping Haikal.
Haikal meminum susu itu sambil terus menatap Mahendra. Mahendra yang sadar dengan hal itu tersenyum.
"Kala penasaran ya sama apa yang papa kerjakan?" Mahendra bertanya sembari masih menatap laptopnya.
"Papa kok tau?" Haikal agak bingung Karena Mahendra seperti membaca pikirannya.
"Kala kan anak papa jelas dong papa bisa tau" Mahendra.
"Pa..." Haikal memanggil Mahendra dengan suara sedikit gemetar.
Mahendra langsung mengalihkan fokusnya pada sang anak. Haikal mengulurkan tangannya pada Mahendra, dengan ragu Mahendra mendekati Haikal dan hanya menatapnya Mahendra ragu untuk memegang tangan Haikal karena dia tau sang anak masih trauma.
"Papa..." Haikal lagi lagi memanggil Mahendra yang kini berdiri disampingnya.
"Kala jangan memaksakan diri nak... gak masalah kalau kala masih takut dan gak mau papa sentuh, papa sayang kala dan gak akan ninggalin kala" Mahendra.
"Kala kangen papa" Haikal.
Haikal meraih tangan Mahendra dan menggengamnya erat.
"Kala gak takut lagi sama papa?" Mahendra.
Haikal menggelengkan kepalanya pelan.
"Papa gak akan nyakitin kala, kan?" Haikal.
"Enggak sayang... papa gak akan nyakitin kala, papa sayang sekali sama kala" Mahendra.
Perlahan Mahendra membawa Haikal ke dalam pelukannya. Hangat itulah yang dirasakan oleh Haikal, Hangat dan aman dia merasa aman saat dipelukan Mahendra.
Mahendra merasa lega dan bahagia setelah beberapa hari sang anak takut padanya akhirnya kini dia mau kembali ke pelukan Mahendra.
"Pah kalungnya... kala mau pakai" Haikal.
__ADS_1
Dengan senang hati Mahendra memakaikan kalung itu kepada Haikal.
"Kala harus sembuh ya nak... papa sedih kalau kala sakit" Mahendra.
"Papa janji setelah kita pulang dari rumah sakit ini papa akan memberikan semua yang kala mau" Mahendra.
"Kala takut untuk sekolah pa tapi kala mau tetep sekolah... kala mau seperti anak lainnya bisa belajar dan bikin papa bangga" Haikal.
"Kalau itu mau kala lebih baik kala pindah sekolah ya sayang, nanti papa akan carikan kala sekolah yang baru" Mahendra.
"Atau kala mau homeschool aja nak? itu lebih aman untuk kala dan papa bisa ngawasin kapan aja" Mahendra.
"eum" Haikal mengangguk didalam pelukan sang Mahendra.
Setelah Haikal kembali tertidur Mahendra pergi ke apotik yang ada dilantai dua rumah sakit untuk menebus obat Haikal. Mahendra duduk dikursi ruang tunggu karena dia mendapat nomor antrian 201.
"Mahendra?" Ucap seorang wanita yang tiba tiba menyapa Mahendra.
"Karina?" Mahendra beranjak dan menyapa balik wanita itu.
Dia adalah Karina teman masa kecil Mahendra mereka bersahabat dekat tapi sejak Mahendra bertunangan dengan Lisa, Karina menghilang entah kemana.
"Ya ampun udah lama banget gak ketemu, kamu apa kabar Hen?" Karina.
"Aku baik... aku kesini karena ngejenguk temen ku dia lagi sakit, kalau kamu disini kenapa?" Karina.
"Anak ku sakit dan dirawat disini sekarang ini aku lagi antri untuk tebus obatnya" Mahendra.
"Anak? kamu dan Lisa udah punya anak?" Karina.
"Oh bukan... aku dan Lisa sudah tidak punya hubungan lagi, anak yang aku maksud adalah anak angkat ku" Mahendra.
"Kamu masih muda dan kamu juga sukses kenapa harus adopsi? kan kamu bisa menikah dan punya anak sendiri" Karina.
"Ini masalah perasaan Rin aku sayang sekali sama anak ini, sejak ada dia hidup ku jauh berubah... tapi sekarang dia sakit dan itu bikin aku down" Mahendra.
"Sabar Hen aku yakin kamu bisa melewati ini, eum boleh aku jenguk anak kamu?" Karina.
"boleh tapi maaf ya kalau nanti dia bersikap dingin karena dia sedang masa pemulihan dari trauma" Mahendra.
"Iya aku paham... kalau gitu aku beli sesuatu dulu buat anak kamu dimarket situ, nanti aku balik lagi kesini" Karina.
__ADS_1
"Boleh aku tunggu kamu disini sambil munggu obat anakku" Mahendra.
"O iya anak kamu laki laki atau perempuan?" Karina.
"Laki laki umur lima belas tahun..." Mahendra.
"Okay tunggu bentar ya" Karina bergegas pergi ke market dia membeli beberapa cemilan, mainan, dan buah buahan.
Mahendra membawa Karina menemui Haikal saat pertama kali melihat Karina Haikal menatapnya penuh tanda tanya.
"Kala ini teman papa namanya tante Karina..." Mahendra.
Haikal hanya diam dan tidak mengatakan apapun dia terus memegang tangan Mahendra.
"Jangan takut sayang tante Karina ini orang baik" Mahendra.
"Halo ini tante bawain kamu oleh oleh ada mainan, ada cemilan, ada buah juga... tante taruh sini ya" Karina meletakan hadiah yang dia bawa diatas meja.
Karian ingin memegang tangan Haikal untuk bersalaman dan berkenalan tapi Haikal langsung menghindar dan berbaring membelakangi Karina dan Mahendra.
"Maaf Rin anakku masih takut dengan orang baru" Mahendra.
"iya aku ngerti kok..." Karina.
Mina yang juga ada disana mempersilahkan Karina untuk duduk dan menyajikan minuman dingin untuk Karina. Mahendra mengusap kepala Haikal lembut.
"Kala sayang jangan takut ya kan ada papa disini" Mahendra.
Haikal tidak menjawab ucapan Mahendra tapi Mahendra bisa mendengar isakan Haikal. Menyadari sang anak menangis Mahendra memposisikan kembali Haikal untuk telentang.
"Kala kenapa nangis? ada yang sakit nak?" Mahendra khawatir karena Haikal menangis hingga terisak.
"Pah hiks hiks hiks kala gak mau disentuh hiks hiks kala takut" Haikal menjawab dengan masih terisak.
Mendengar itu Mahendra duduk dipinggir tempat tidur Haikal dan memeluk sang anak.
"Suht iya udah ya kala jangan nangis lagi, lain kali papa tidak akan izinin siapapun nyentuh kala..." Mahendra.
Haikal mulai tenang dan Mahendra memberikan dia minum. Karina yang merasa tidak enak hati akhirnya pamit pulang tapi saat didepan pintu dia berpapasan dengan Ganesha.
"Oh kak Ganesha" Karina menyapa Ganesha tapi tidak ditanggapi Ganesha masuk begitu saja ke kamar Haikal dan bersikap seolah tidak melihat Karina.
__ADS_1
"Haikal sayang om datang nih..." Ganesha.
"Om Ganesha?" Haikal menatap Ganesha bingung bukan tanpa alasan tapi ini pertama kalinya Haikal melihat Ganesha dengan menggunakan baju biasa bukan setelan jas yang rapi seperti yang biasa dilihat Haikal.