HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Papa


__ADS_3

Kondisi Haikal sudah jauh membaik dia juga sudah bisa bermain dan makan dengan baik. Mahendra sedang menyuapi Haikal dengan sup buah sebagai pengganti snack, karena dokter melarang Haikal makan makanan sembarangan.


"Om kala udah kenyang" Haikal


"Ya udah..." Mahendra tersenyum lalu membersihkan sisa makanan diwajah Haikal dengan tisu.


"Om gak pergi kerja?" Haikal


"ini kan weekend nak..." Mahendra


"Oh iya kala lupa" Haikal


Mahendra ingin beranjak untuk mandi dan ganti baju tapi Haikal menahan Mahendra. Haikal menggengam pergelangan tangan Mahendra.


"kenapa sayang? om cuma mau mandi bentar kok gak lama" Mahendra


"eum... om kala boleh tanya sesuatu?" Haikal bertanya dengan ragu terlihat jelas dari raut wajahnya dia tidak berani menatap mata Mahendra.


"Tuan Kecil tanya nya nanti saja ya biar tuan Mahendra mandi dulu" Mina


''Tunggu bi gak apa apa biar aja dia ngomong dulu" Mahendra kembali duduk dan memegang wajah Haikal.


"Haikal mau tanya apa nak?" Mahendra berucap dengan suara pelan dan lembut.


"Eum... Om boleh gak kala manggil om dengan panggilan Papa?" Haikal berucap dengan ragu.


Mahendra yang mendengar itu tertegun tak percaya. Dia sudah sering menyuruh Haikal memanggilnya dengan sebutan Papa tapi Haikal selalu menolak, baru kali ini Haikal sendiri yang ingin memanggilnya dengan sebutan itu dan membuat Mahendra tersenyum bahagia.


"Tentu saja nak... kamu boleh panggil aku Papa, tentu saja boleh sayang" Sahut Mahendra dengan bahagia.


"terimakasih Papa..." Haikal tersenyum lembut tanpa berucap apapun Mahendra memeluk Haikal erat, Mina dan Arif yang juga menyaksikan itu ikut terharu.


"Harusnya papa yang berterimakasih sama kamu nak, karena kamu papa bisa merasakan kembali hidup yang penuh kebahagiaan... kamu adalah titipan tuhan yang paling berharga untuk papa" Mahendra berucap sembari memeluk Haikal.


Dengan senang hati Haikal membalas pelukan Mahendra.

__ADS_1


"Dan papa adalah malaikat hatinya kala... kala sayang sekali sama papa" Haikal


*Muach, Muach


Mahendra melepas pelukannya dan Mencium kedua sisi pipi Haikal. Haikal yang melihat air mata Mahendra segera menghapusnya dengan lembut.


"Papa kenapa nangis? papa sedih?" Haikal


''enggak papa menangis karena bahagia..." Mahendra


"Papa aneh... sedih nangis, bahagia juga nangis" Haikal berucap dengan menggembungkan pipinya imut. Mahendra sampai tertawa dengan penuturan anaknya itu.


*Ceklek


Dokter masuk ke ruangan Haikal untuk memeriksa Haikal. Dokter melakukan pemeriksaan dengan sangat hati hati dan teliti.


"Dokter kapan selang oksigen ini bisa dilepas? kala tidak suka dok ini tidak nyaman" Haikal kembali mengeluh tentang selang oksigen yang terpasang padanya, ini bukan kali pertama Haikal mengeluh tapi dokter sudah sangat terbiasa dengan pertanyaan itu.


"Haikal kalau paru paru kamu sudah cukup kuat dan bisa berfungsi dengan baik nanti akan kami lepas ya, sekarang pakai dulu okay?" Dokter


"Iya nama ku Hendery... kau bisa memanggil ku Dokter Dery, dan Haikal aku lebih senang jika kita jarang bertemu hm" Dokter Hendery


"Ehm? kenapa begitu dokter?" Haikal


"Karena kalau kita jarang bertemu artinya kau sehat, meski aku seorang dokter tapi aku tidak suka melihat orang sakit... aku lebih suka melihat semua orang sehat dan baik baik saja" Sahut dokter Hendery sembari melepaskan infus Haikal dan menggantikannya dengan yang baru. Dokter Hendery kemudian menghampiri Mahendra.


"Ini resep obat baru untuk Haikal karena kondisinya yang sudah membaik dosis obatnya juga saya turunkan, sebaiknya segera ditebus" Hendery


"Baik dokter terimakasih..." Mahendra.


Setelah memberikan resep itu Hendery pergi untuk melanjutkan tugasnya. Mahendra menyuruh Arif untuk menebus obat itu di apotik rumah sakit yang ada dilantai dua, Mahendra kemudian mandi dan ganti baju dia juga menyeka seluruh badan Haikal dengan air hangat dan menggantikan baju Haikal dengan yang baru tidak lupa Mahendra memakaikan kaus kaki bergambar Sinchan yang sangat disukai oleh Haikal.


"Pah kala ngantuk banget" Haikal


"Ya udah kala tidur aja ya, kala sudah makan dan minum obat juga jadi sekarang kala udah boleh tidur..." Mahendra

__ADS_1


Haikal kemudian tertidur Mahendra menyelimuti Haikal dan mengecilkan ac diruangan itu.


''Tuan ini obatnya" Arif


"Terimakasih Arif" Sahut Mahendra yang kemudian mengambil kantungan plastik berisi obat baru Haikal, Mahendra juga membuang obat Haikal yang sebelumnya karena takut terminum oleh sang anak.


"Tuan tadi waktu dibawah saya tidak sengaja bertemu dengan... pak Niko" Arif.


Mendengar itu Mahendra langsung berhenti membereskan meja yang ada disamping tempat tidur Haikal. Mahendra kemudian mengajak Niko keluar dari ruangan karena khawatir Haikal mendengar percakapan mereka.


"sedang apa dia disini? apa dia tau kala ada disini?" Mahendra


"Dia bilang dia melihat tentang tuan kecil dan nyonya Lisa di berita, dia datang untuk menjenguk tuan kecil tapi pihak rumah sakit merahasiakan kamar tuan kecil darinya" Arif.


"Baguslah... aku memang menyuruh pihak rumah sakit merahasiakan kamar Haikal dari orang luar, aku tidak mau Haikal bertemu dengan Niko dengar Arif kau harus menghalangi dia bagaimana pun caranya" Mahendra


"Baik tuan" Arif


"Hak asuh Haikal sudah resmi jatuh ke tangan ku, untuk apa lagi dia datang menemui anakku?!" Mahendra terlihat sangat kesal.


Mahendra kemudian masuk kembali ke ruangan Haikal dan mengusap lembut pipi sang anak.


"Tidur yang nyenyak ya sayang... papa akan jagain kamu nak, tidak akan ada yang bisa memisahkan kala dan papa" Mahendra.


Entah kenapa tapi muncul ketakutan dihati Mahendra. Dia takut Niko akan membawa Haikal pergi darinya bukan hanya itu tapi ada ketakutan lain dihati Mahendra, dia takut jika Haikal lebih menyayangi Niko dibandingkan dirinya. Meski sudah berusaha menepis perasaan itu namun Mahendra tidak bisa melupakannya.


Mahendra sampai menyuruh Arif untuk memperketat penjagaan diluar kamar Haikal agar Niko tidak bisa menemui Haikal.


Disisi lain Niko baru saja sampai dirumah barunya yang dibeli dengan uang hasil menjual putra kandungnya sendiri. Rumah itu terbilang mewah meski tak semewah rumah Mahendra, Niko duduk diruang tv dengan wajah murung.


"Dari mana sih pak? lesu amat... tadi aku lihat bapak juga gak ada ke toko aku sama ibu capek pak ngurusin toko seharian pembeli tu lagi rame ramenya bapak malah keluyuran gak jelas" Winda


"Tadi bapak ke rumah sakit... bapak pengen ketemu sama Haikal tapi pihak rumah sakit merahasiakan kamarnya, bapak juga sempet ketemu sama Arif tangan kanannya pak Mahendra tapi dia melarang bapak menemui Haikal" Niko


"Lagian bapak ngapain sih mau nemuin anak sialan itu?! inget ya pak dia itu udah kita jual ke pak Mahendra, bapak itu sadar diri dong jangan melanggar perjanjian kita sama pak Mahendra bisa bisa kita dipenjara pak" Dewi yang mendengar penuturan suaminya itu lantas ikut berkomentar dan Niko hanya mengangguk paham dengan wajah lesunya.

__ADS_1


__ADS_2