
Malam ini Mahendra menemani Haikal tidur dikamar sang anak. Karena besok dia harus berangkat ke bandara sekitar jam lima dini hari, tapi Mahendra malah tidak bisa tidur dan terus terusan menatap wajah putranya tercinta.
Mahendra memikirkan banyak hal tentang bagaimana nanti saat dia tidak berada disamping Haikal. Mahendra pun beranjak dia mengambil semua obat Haikal dan bahkan tengah malam itu dia menyuruh anak buahnya pergi ke rumah sakit untuk menebus obat Haikal, Mahendra menuliskan urutan minum disetiap botol dan kemasan obat Haikal.
Mahendra juga membuat catatan berisi jadwal harian Haikal yang Mahendra tempelkan dimading khusus yang dia siapkan malam itu dikamar Haikal. Mahendra juga menuliskan larangan larangan yang tidak boleh Haikal langgar yaitu.
Haikal tidak boleh makan permen lebih dari satu dalam sehari, tidak boleh makan es krim setiap hari, tidak boleh terlambat makan lengkap dengan tulisan jadwal makan Haikal, tidak boleh pergi tanpa izin kepada Mahendra, tidak boleh melakukan kegiatan yang melelahkan.
Selain larangan larangan Mahendra juga menuliskan apa saja yang disukai Haikal tapi diletakan didapur agar para pelayannya tau. Seperti makanan kesukaan Haikal, takaran susu yang Haikal suka, makanan yang membuat Haikal ceria lagi, jadwal makan dan juga jadwal cemilan Haikal yang tidak boleh dilewatkan. Di dapur Mahendra juga menuliskan makanan apa saja yang dilarang untuk disajikan kepada Haikal.
Setelah itu Mahendra kembali ke kamar Haikal dan menyiapkan seragam sekolah Haikal untuk satu minggu kedepan saat dia tidak ada. Mahendra juga menyusun buku pelajaran Haikal sesuai jadwal hariannya, kemudian Mahendra menaruh kertas kecil bertuliskan kata kata penyemangat disetiap sampul buku sang anak.
Malam itu Mahendra tidak tidur sama sekali dia menyiapkan semua kebutuhan Haikal. Setelah semua selesai dia kembali ke samping sang anak dan memeluk Haikal yang masih terlelap.
"Papa hanya pergi sebentar nak... papa akan segera kembali, Kala anak hebatnya papa tunggu papa pulang nak" Mahendra berucap dalam hati sembari mengeratkan pelukannya pada sang anak.
Dengan berat hati Mahendra meninggalkan Haikal untuk pergi ke luar negeri karena urusan pekerjaan. Mahendra mengecup kening putra kecilnya sebelum dia berangkat dan meletakan surat disamping sang anak yang masih tertidur.
Selama diperjalanan menuju bandara Mahendra nampak melamun dia terus teringat pada Haikal. Ada perasaan tidak rela dan berat sekali didalam hatinya untuk meninggalkan anak semata wayangnya itu.
Haikal bangun dipagi hari seperti biasa dia saat dia sadar Mahendra sudat tidak ada disampingnya dia tau sang ayah sudah pergi ke luar negeri. Haikal menemukan surat yang ditinggalkan Mahendra untuknya, dan membuka surat itu.
"Haikal sayang papa pergi untuk urusan pekerjaan, papa janji akan pulang tepat waktu nak jaga kesehatan mu jangan terlalu lelah karena papa sudah menyiapkan segala kebutuhan mu... Papa menyayangi mu my love maaf ya kali ini papa harus pergi meninggalkan kamu sebentar, ini demi masa depan kita sayang" Tulis Mahendra didalam suratnya.
Setelah membaca itu Haikal tersenyum dan melihat ke sekeliling kamarnya. Dia melihat mading dan semua catatan yang dibuat oleh Mahendra, dia melihat semua buku dan pakaiannya yang sudah disiapkan, juga obat obatannya yang tersusun rapi dan Haikal sadar semua itu dilakukan oleh Mahendra.
__ADS_1
"Papa selalu bilang jangan minta maaf atas kesalahan yang tidak kala lakukan tapi kenapa papa sekarang minta maaf padahal papa tidak salah? Kala sayang banget sama papa terimakasih pa" Haikal berucap lirih sembari menatap fotonya dan Mahendra yang ada diatas meja belajarnya.
Haikal kemudian bersiap untuk ke sekolah dan setelah sarapan juga minum obat dia berangkat ke sekolah bersama para bodyguardnya. Saat Haikal masuk ke dalam kelas lagi lagi dia menemukan bangkunya yang sudah sangat berantakan dan kotor.
"Saya akan segera menemukan pelakunya!" Ucap William kesal.
"Sudah kak biarkan saja... sekarang bantu kala bersihkan ya, untuk masalah ini tidak usah diperdulikan lagi" Haikal.
Mendengar itu William dan bawahannya membantu Haikal membersihkan bangkunya. Setelah selesai Haikal kembali duduk dibangkunya dan dia terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Jam pelajaran pun dimulai semuanya berjalan dengan baik dan lagi lagi Haikal mendapatkan nilai terbaik dikelasnya.
"Haikal kamu hebat baru dua hari sekolah tapi nilai ujian harian mu sempurna" Bu Guru.
"Tuan Mahendra memang seorang ayah yang hebat dia bukan hanya sukses sebagai pengusaha tapi juga sukses sebagai ayah..." Setelah memberikan pujian Ibu Guru meninggalkan kelas.
Anak anak dikelas itu menatap Haikal tidak senang. Seperti biasa saat ujian berlangsung bodyguard Haikal akan menunggu diluar dan setelah ujian selesai dan guru pergi mereka akan masuk kembali ke dalam kelas untuk menjaga Haikal.
''Tuan muda bagaimana ujian anda?" William.
"kakak jangan khawatir tada... kala dapet nilai seratus lagi" Sahut Haikal dengan penuh semangat.
"Tuan muda memang hebat ayo pegang kertas ujiannya saya foto dulu untuk dikirim ke tuan besar" William mengambil foto Haikal yang sedang memegang kertas ujian miliknya yang mendapatkan nilai Sempurna.
William mengirimkan foto itu pada Mahendra. tapi karena masih didalam perjalanan Mahendra belum membuka pesan itu.
__ADS_1
"Kak Wil nanti pulang sekolah kita mampir dulu ke toko buku ya, kala mau beli buku resep masak hehehe" Haikal.
"Baik tuan muda..." William.
"Enak ya jadi anak emas orang kaya apa apa dikasih tapi sayang penyakitan!" Ucap salah seorang anak menyindir Haikal, mendengar itu William geram dan ingin mendatangi anak itu tapi Haikal menahannya.
"Udah kak gak apa apa... kakak jangan terpancing" Haikal berucap sembari menahan tangan William.
"andai ini bukan lingkungan sekolah sudah bisa saya pastikan dia babak belur saat ini juga" Gerutu William kesal.
"Kakak udah jangan dimasukin ke hati... Kala udah biasa kok" Haikal.
"Apa mereka sering menghina anda? kenapa saya tidak tau?!" William.
"Setiap jam pelajaran dan kakak sama yang lain nunggu diluar mereka akan selalu bicara seperti itu tentang Kala tapi kala tidak perduli...
Kala disini untuk sekolah demi masa depan kala dan papa bukan untuk mendengarkan ucapan orang lain yang tidak berguna untuk Kala" sahut Haikal dengan tersenyum.
Mendengar itu William bukannya merasa lega dia malah semakin khawatir. Karena William sadar ini adalah bentuk pembullyan mulai dari bangku Haikal yang dikotori sampah, barang barang Haikal yang dirusak, dan sekarang Haikal harus sering menghadapi ucapan buruk dari teman teman sekelasnya.
"Tuan muda apa perlu saya melaporkan semua ini kepada tuan besar?" William.
"Jangan kak... papa sekarang lagi sibuk bekerja jangan sampai karena masalah ini papa jadi tidak fokus bekerja dan malah khawatir sama Kala..." Haikal.
"Baikah tuan muda... tapi jika semua ini semakin keterlaluan saya akan pastikan untuk memberitau tuan besar bahkan tanpa sepengetahuan anda" William.
__ADS_1