
Ganesha sampai dirunah sakit dan beraasan dengan Hendery yang baru saja keluar dari ruang ICU. Ganesha langsung mencengkram kerah baju Hendery dan menariknya kasar.
"Dimana keponakan ku?! KATAKAN!" Ganesha tidak bisa mengotrol emosinya.
"Tuan lepaskan dokter Hendery biarkan dia bicara" William mencoba menenangkan Ganesha.
"Haikal selamat tapi lukanya cukup serius dan dia mengalami patah tulang dibagian pergelangan kaki kanan menyebabkan dia tidak bisa berjalan Sementara waktu... ada luka di lambung akibat pukulan keras
Luka dikepala bagian belakang membuat dia mengalami pendarahan cukup serius tapi sudah bisa ditangani, selain tiga hal itu tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan" Ucap Hendery menjelaskan dengan posisi Ganesha masih mencengkram kerah bajunya.
"Dia akan baik baik saja, kan?!" Ganesha kembali bertanya dengan tatapan penuh harap.
"Dia sudah melewati masa kritisnya bahkan sudah sadarkan diri... dalam lima belas menit dia akan dipindahkan ke ruang pemulihan, uruslah administrasinya dan temani keponakan mu dia sangat ketakutan" Sahut Hendery lembut.
Ganesha melepaskan tangannya dari Hendery. tangan Ganesha mengepal kuat.
"Siapa pelakunya?" Tanya Ganesha datar.
"Kami belum tau tuan tapi Zaky dan yang lainnya sudah menyelidiki ke sekolah tuan muda" Sahut William.
"William... pergilah temukan pelakunya dan jika sudah ketemu hubungi aku, akan ku buat hidup pelaku yang berani menyentuh keponakan ku lebih buruk dari pada neraka" Ganesha berucap dengan menahan emosinya.
William mengangguk kemudian pergi menyusul Zaky dan bawahannya yang lain ke sekolah Haikal. Setelah lima belas menit Haikal dipindahkan ke ruangan pemulihan Ganesha yang melihat kondisi Haikal saat dibawa keluar dari rung ICU dengan semua luka itu terbelalak kaget.
Haikal yang dibawa ke ruang pemulihan terus saja memanggil nama Mahendra.
*DUGH!
"BAJINGAN! BRENGSEK!" Ganesha meninju tembok rumah sakit dan berteriak sekencang kencangnya. Dia sangat marah melihat kondisi keponakan kecilnya, Hendery menenangkan Ganesha karena banyak orang disekitar yang memperhatikan mereka.
"tuan Ganesha kendalikan dirimu ini rumah sakit" Hendery.
"Akan ku bunuh mereka! Camkan itu!" Ganesha menyusul Haikal ke ruang pemulihan. Saat melihat Ganesha datang Haikal menangis.
"Om hiks hiks hiks om Ganesha hiks hiks" Haikal menangis sembari mengulurkan tangannya yang dipenuhi luka memar kepada Ganesha.
Untuk pertama kalinya Ganesha menangis setelah sekian tahun dia bersikap layaknya batu yang tidak berperasaan. Tapi melihat Haikal saat ini hatinya sangat sakit, Ganesha meraih tangan Haikal dan menggengamnya pelan.
"Kala sakit om hiks hiks hiks Sakit om" Haikal terus menangis dan merintih membuat Ganesha semakin tidak tega.
"Kala anak kuat, kan? kala pasti bisa... sebentar lagi papa Kala sampai tadi om sudah kirim pesan ke papa kala" Sahut Ganesha dengan suara berat menahan tangis.
"Tapi sakit om hiks hiks semua badan kala hiks hiks sakit om" Haikal.
"Kala sayang sekarang kala bilang sama om siapa yang melakukan ini sama Kala? bilang sayang..." Ganesha.
"Hiks hiks Bima sam-sama temennya Om hiks hiks om..." Haikal tiba tiba melemah dan membuat Ganesha panik.
__ADS_1
"Haikal? Haikal hei jangan bikin om takut!" Ganesha.
"Om... sakit" Haikal kembali tidak sadarkan diri dengan panik Ganesha memanggil Hendery yang memang masih ada diluar kamar Haikal.
Hendery memeriksa Haikal dan tersenyum.
"Dia pingsan karena menahan rasa sakit sepertinya obat pereda rasa sakit yang tadi diberikan efeknya sudah mulai hilang sehingga Haikal kembali merasakan serangan rasa sakit itu" Hendery.
Ganesha menggengam tangan Haikal dan hanya bisa menangisi nasib malang keponakannya itu. Mahendra yang baru sampai dibandara dan mendapat pesan dari Ganesha dan Hendery bergegas ke rumah sakit.
*Brak!
Mahendra yang baru sampai membuka pintu ruangan Haikal dengan kasar karena panik. Saat pertama kali melihat kondisi sang anak Mahendra mematung sejenak dan terduduk dilantai ruangan Haikal.
"Mahen!" Ganesha membantu sang adik berdiri dan duduk disamping Haikal.
"Kala maafin papa sayang hiks hiks harusnya papa gak ninggalin kala nak, papa yang salah Kala sayang bangun ini papa hiks hiks kala lihat papa nak" Mahendra menangis sembari memeluk sang anak yang tidak sadarkan diri.
"Tuan Mahendra tenanglah Haikal baik baik saja, dia hanya perlu waktu untuk istirahat..." Hendery.
"Siapa yang melakukan ini padanya?!" Mahendra.
"Kalau aku tau sudah aku bunuh orang itu" Sahut Ganesha dingin.
Tak lama Mahendra mendapatkan telpon dari William yang memintanya dan Ganesha untuk datang ke sekolah Haikal sekarang juga.
"Akan ku habisi mereka" Ganesha.
"Aku akan ikut kesana aku ingin lihat oelaku yang berani menyakiti anakku!" Mahendra.
"Tidak Mahen! Kau tetap disini anak mu membutuhkan mu, para bajingan itu biar jadi urusan ku" Ucap Ganesha yang kemudian berlalu pergi.
Mahendra menuruti ucapan kakaknya karena saat ini Haikal memang sangat membutuhkan dirinya. Mahendra menggengam tangan Haikal lembut dan terus berdoa untuk kesembuhan sang anak.
Ganesha dan anak buahnya masuk ke dalam lingkungan sekolah. Dihalaman depan sekolah para pelaku yang melukai Haikal sudah dikumpulkan oleh William dan anak buahnya.
"Siapa diantara mereka yang mematahkan kaki Haikal?" Tanya Ganesha dingin.
"JAWAB!" Zaky membentak anak anak itu.
Salah satu teman Bima maju satu langkah.
"aa-aku tidak sengaja mendorongnya dari tangga tapi, tapi aku disuruh Bima" Sahut Anak itu dengan gemetar ketakutan.
*BRUK!
*DOR!
__ADS_1
''ARGH!" Anak itu berteriak.
Ganesha menendang perut anak itu dan menembak kaki anak itu hingga dia tersungkur dan berteriak kesakitan.
"Siapa Bima?" Ganesha.
William mendorong Bima ke hadapan Ganesha. William mengikat Bima dan menyumpal mulutnya seperti yang dia lakukan kepada Haikal.
"Kau berani sekali kau menyentuh keponakan Ganesha... apa terngkorak kepala mu ini lebih keras dari batu goa hah?!" Ganesha berucap sembari meletakan ujung pistolnya dikepala Bima.
"Tuan tolong lepaskan anak ku dia hanya anak anak dia khilaf" Ayah Bima memohon pada Ganesha.
"Denis! kau bungkam mulut Bajingan itu aku akan berurusan dengannya nanti" Ganesha memberikan perintah kepada anak buahnya.
Denis tangan kanan Ganesha langsung menahan ayah Bima agar tidak mengganggu.
"Patah tulang kaki..."
*DUGH
*KRETAK!
Ganesha menendang punggung Bima sangat keras dan mematahkan kedua kaki Bima saat itu juga.
"ARGH! AAGHR!" Bima berteriak tapi suaranya tertahan karena mulutnya disumpal kain.
"Pendarahan lambung" Ganesha kembali menyebutkan luka yang dialami oleh Haikal.
*BUGH!
*BUGH!
*BUGH
Ganesha menendang dan meninju perut Bima berulang kali hingga Bima muntah darah saat Ganesha melepaskan kain yang menyumpal mulutnya.
"UHUK!" Bima kembali batuk darah tapi itu tidak membuat Ganesha puas.
"Luka dan Pendarahan kepala" Ucap Ganesha kembali menyebutkan luka yang dialami Haikal.
*SRET!
*DUGH!
*DUGH!
Ganesha membenturkan kepala Bima ke dinding sekolah berkali kali hingga darah segar mengalir dari kepala anak itu. saat ini anak itu sangat lemah dan tidak berdaya bahkan menangis pun dia sudah tidak sanggup.
__ADS_1
"William, Danis, Zaky... Tangani sisanya buat mereka babak belur seperti yang mereka lakulan pada Haikal ku, hancurkan wajah mereka hingga tidak berbentuk! tapi jangan biarkan mereka mati Karena aku mau mereka menderita sama seperti keponakan ku!" Ucap Ganesha memberikan perintah.