
"Qian keadaan mu sangat buruk lebih baik kau tinggal bersama dengan kami, jika kau tinggal sendirian aku khawatir jika terjadi sesuatu pada mu" Ganesha.
"Benar kak dengan keadaan mu sekarang tidak mungkin aku akan meninggalkan mu sendirian, ikutlah bersama kami" Haikal.
"Aku tidak ingin merepotkan kalian" Qian.
"Siapa bilang kau merepotkan? kau sendiri yang bilang jika hidup ini seperti garis tangan, tidak bisa diubah dan tidak bisa dihindari... jadi sekarang kau tidak bisa menghindari ku, kau harus ikut dengan ku" Haikal.
Qian mengangguk tanda setuju melihat itu Ganesha menelpon Mina memintanya untuk menyiapkan kamar tamu sebagai tempat Qian istirahat nanti. Haikal dan Ganesha membawa Qian pulang ke rumah utama, saat sampat Qian terlihat bingung karena semua pelayan menatapnya.
"kenapa mereka menatap ku begitu?" Qian.
"Jika aku mengatakan alasannya apakah kau akan percaya?" Ganesha.
"eoh? memangnya kenapa mereka menatap ku seperti itu?" Qian.
"Karena mereka bingung ada pria berwajah cantik seperti mu, mereka insecure dengan kecantikan mu" Ganesha.
__ADS_1
"itu pujian atau hinaan sih kok bikin kuping panas saja" Haikal.
"Bocah aku kan tidak sedang bicara dengan mu" Ganesha.
"ish dasar om om genit" sebal Haikal.
"Suht kalian berdua terus saja bertengkar apa tidak lelah?" Qian.
"kak ayo ke kamar saja disini kau tidak aman ada om genit ini" Haikal.
Haikal membawa Qian ke kamar tamu, Qian kemudian berbaring ditempat tidur.
"Aku baik baik saja kak yang harusnya dikhawatirkan itu adalah diri mu, dokter sudah bilang kau harus menjaga diri sendiri kenapa kau sangat keras kepala?" Haikal.
"sejak kecil aku selalu merepotkan orang lain, aku hanya ingin mempertahankan mimpi yang sudah aku raih dengan kerja keras agar aku bisa mengurus diri ku sendiri... aku kira aku bisa melakukan semuanya sendirian tapi pada akhirnya aku tidak bisa" Qian.
"aku juga pernah berpikir seperti mu kak, aku kira aku bisa melakukan semuanya sendiri tapi ternyata aku salah besar... pada akhirnya aku tetap membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dan memahami ku membuat ku nyaman dan menjadi bahu tempat ku bersandar..." Haikal.
__ADS_1
"Kau benar mungkin aku terlalu egois... atau benar kata kak Ganesha aku keras kepala" Qian.
Haikal menemani Qian hingga Qian tertidur, Haikal kemudian menyelimuti Qian dan keluar dari kamar tamu. Ganesha duduk diruang tamu bersama Danis dan Zaky.
"tuan tentang perusahaan wijaya apakah anda akan menanganinya? saat ini perusahaan wijaya sedang diambang kehancurannya" Danis.
"Aku tidak berhak untuk menjalankan perusahaan itu, Zaky jauh lebih berhak untuk menangani perusahaan itu" Ganesha.
"Aku tidak keberatan untuk menjalankan perusahaan wijaya tapi aku khawatir akan gagal, karena aku belum pernah memimpin perusahaan sebelumnya" Zaky.
Haikal menghampiri mereka dan duduk disamping Ganesha.
"Paman kau harus mengambil alih perusahaan wijaya, tolong urus perusahaan itu hingga aku siap untuk memimpinnya nanti..." Haikal.
"Perusahaan itu adalah milik mu, kau harus bisa belajar bertanggung jawab dengan apa yang menjadi milik mu" Ganesha.
"Apa yang akan dikatakan publik jika seorang anak berusia enam belas tahun memimpin perusahaan besar, mereka pasti akan meremehkan perusahaan kita dan mencari cara untuk menjatuhkannya" Haikal.
__ADS_1
"Kala aku-... baiklah aku akan memimpin perusahaan wijaya tapi hanya sampai kau berusia tujuh belas tahun, setelah kau berusia tujuh belas tahun kau harus mengurus perusahaan mu sendiri" Ganesha.