
Haikal berhasil memanah apel itu dengan baik. Haikal merasa lega karena dia berhasil melakukan itu tanpa melukai William, tapi karena kelelahan Haikal terhuyung lemah Zaky dengan cepat menangkap Haikal agar tidak jatuh.
William menghampiri Haikal dan membawa Haikal untuk berteduh dan duduk dikursi yang dia siapkan dibawah pohon rindang yang ada disana. William berjongkok didepan Haikal dan mulai mengobati tangan Haikal.
"Hiks hiks Kak Will kenapa sih nyuruh kala belajar memanah kaya gini hiks hiks cuacanya panas banget kak dan kala capek" Haikal menangis karena dia benar benar kelelahan ditambah dia merasa pusing karena kepanasan dan perih ditangannya.
"Karena ada saat dimana kau harus belajar untuk menghadapi beratnya semua ini, dengarlah tuan muda sekarang kau harus hidup lebih baik dari sebelumnya" William.
"Tapi hiks hiks hiks kala capek kak" Haikal terus menangis, setelah selesai mengobati tangan Haikal William membawa Haikal ke pelukannya.
"Kau melakukannya dengan baik anak hebat" William memuji Haikal dan mengusap kepala Haikal didalam pelukannya.
"Tadi kala takut banget hiks hiks kala takut ngelukain kakak" Haikal.
"Kau tidak akan melukai ku Jika kau fokus... aku tau sejak awal kau pasti bisa" William.
Haikal melepaskan pelukannya dan menatap William. Haikal melihat senyuman diwajah William, dengan lembut William menghapus air mata Haikal.
__ADS_1
"Ada hal yang harus kau tau tuan muda jangan pernah menangis dihadapan lawan atau pesaing mu, jangan menunjukan sisi lemah mu kepada mereka karena itu akan membuat mereka dengan mudah bisa menjatuhkan mu...
Tunjukan senyuman mu, kekuatan mu, pengetahuan mu, dan keteguhan hati mu. Jadilah orang yang bisa memposisikan diri dengan baik, saat kau berada diadapan lawan atau rekan bisnis kau adalah Haikal yang kuat dan tangguh tapi saat dihadapan kami yang mau sayangi maka jadilah Kala yang lembut dan tulus" William.
"kakak mau kala jadi seperti artis bisa acting?" Haikal bertanya lirih.
"Aku bahkan berharap kau bisa menjadi lebih dari itu, tuan muda akan ada saat dimana aku akan pergi dari mu dan tidak bisa lagi membimbing mu sebelum itu terjadi aku ingin melihat mu bisa berdiri tanpa ku" William mengatakannya sembari menatap mata Haikal dan tersenyum.
"Sebenarnya ada apa kak? kenapa kakak tiba tiba ngmong kayak gini ke kala?" Haikal sedikit bingung karena William biasanya tidak akan mengatakan hal semanis ini.
"Aku hanya mengkhawatirkan mu, tidak ada yang lain" William.
Setelah selesai mengobati tangan Haikal William beranjak dan menggandeng tangan Haikal.
"ikut aku..." William.
"Kak kala capek banget... nanti aja kak" Haikal.
__ADS_1
William berjongkok didepan Haikal dan menyuruh Haikal naik ke punggungnya. Dengan senang hati Haikal naik ke punggung William, dengan menggendong Haikal dipunggungnya William berjalan ke suatu tempat.
"Kenapa kakak bawa kala ke sini?"
"Tuan muda aku membuatkan mu rumah kaca disini, aku ingin nanti kau belajar dengan baik disini" William.
"Sejak kapan kakak menyiapkan rumah kaca ini?" Haikal.
"Sebulan lalu tapi anda tidak menyadarinya" William.
"Kakak..." Haikal terpana saat melihat indahnya rumah kaca itu, memang benar dia tidak menyadari adanya rumah kaca tersebut mungkin karena Halaman belakang mereka yang sangat luas dan posisi rumah kaca itu yang berada diantara pepohonan.
William membawa Haikal masuk ke rumah kaca itu. Disana semuanya terbilang lengkap ada dapur kecil, kamar mandi, tempat belajar, dan satu kamar tidur dilantai dua, rumah itu memang kecil tapi sangat nyaman.
"Rumah ini hanya punya satu kunci dan sekarang kuncinya aku berikan pada mu tuan muda" William memberikan kunci rumah kaca itu pada Haikal.
__ADS_1