
Hari ini karena urusan pekerjaan yang mendesak Mahendra terpaksa berangkat sangat pagi. Saat dia berangkat Haikal bahkan belum bangun, tapi Mahendra sempat menulis surat kecil untuk Haikal.
ketika bangun Haikal membaca surat yang ditinggalkan Mahendra untuknya.
"Haikal sayang maafin papa ya nak papa harus pergi kerja pagi sekali bahkan kamu belum bangun nak, tapi jangan khawatir nak papa akan usahakan pulang cepat " Tulis Mahendra didalam suratnya.
Setelah membaca surat itu Haikal tersenyum dia senang karena Mahendra selalu memikirkan dirinya. Haikal kemudian memakan sarapannya lalu minum obat.
"Tuan Kecil hari ini mau makan buah apa?" Mina.
"Kala mau Mangga sama jeruk aja bi" Haikal.
"Baik kalau begitu bibi siapkan dulu ya, tuan kecil biar gak bosan menggambar saja ini sudah bibi siapkan buku gambar, pensil, dan juga pensil warnanya" Mina
"Iya bi..." Haikal.
Haikal kemudian mulai menggambar sebenarnya dia hanya menggambar apa yang ada didalam pikirannya saja, dia menggambar pohon dan jalanan kosong Saat Haikal sibuk menggambar Mina sibuk menyiapkan buah untuk cemilan Haikal.
Disisi lain Mahendra sangat sibuk dengan semua pekerjaannya. Dia harus menghadiri dua rapat penting hari ini bahkan dia melewatkan sarapannya, Dirapat kedua Mahendra dan semua rekan kerjanya mengadakan rapat direstoran sembari makan siang bersama.
Mahendra sesekali mengecek ponselnya dia takut Mina tiba tiba menelpon atau mengiriminya pesan mengenai kondisi Haikal. tapi ternyata Mina tidak mengirimkan kabar apapun melihat itu Mahendra sedikit lega karena artinya Haikal baik baik saja.
Setelah rapat selesai Mahendra dan Arif segera menuju ke mobil. Mereka ingin bergegas kembali ke kantor tapi mereka sempat terjebak macet yang cukup lama.
"Arif semua proposal yang harus ditanda tangani sudah siap belum?" Mahendra
"Sudah tuan tadi Dava bilang semua proposal itu sudah ditaruh di ruangan anda" Arif
"Bagus kalau begitu" Mahendra.
*drrt drtt drrt
Mahendra melirik ponselnya dan itu adalah telpon dari Mina. Dengan cepat Mahendra menjawab telpon itu.
"Halo bi?" Mahendra
__ADS_1
"Halo tuan maaf mengganggu tapi tuan kecil ingin bicara dengan tuan" Mina
"Iya bi kasihkan telponnya ke Kala" Mahendra.
Mina kemudian langsung memberikan ponsel itu kepada Haikal. Dengan wajah bahagianya Haikal menerima ponsel itu.
"Halo papa" Haikal
"Halo anak papa sayang... kenapa nak? kala kangen papa ya?" Mahendra.
"iya kala kangen sama papa... papa kapan pulang?" Haikal.
"Papa kayaknya pulang sore deh nak, kala mau papa bawain apa nanti?" Mahendra.
"eum... pa kala gak mau apa apa kala cuma mau papa cepet kesini, kala kangen papa" Haikal.
"Iya sayang papa usahakan cepat pulang ya, kala harus sabar ya nak papa kerja kan untuk Haikal juga hm" Mahendra.
"Iya papa... papa hati hati ya, semangat kerjanya pah kala sayang papa" Haikal.
"Papa juga sayang sama kala..." Mahendra.
Niko masih mencari cara untuk bisa menemui Haikal dia terus datang ke rumah sakit. Niko berjalan ke sembarang arah menelusuri lorong lorong rumah sakit, dia tidak sengaja melihat Mina yang masuk ke ruangan Haikal setelah membeli sesuatu.
Niko langsung menyusun rencana untuk bisa masuk ke ruangan itu tanpa diketahui anak buah Mahendra. Niko berpura pura menjadi petugas kebersihan yang ingin mengambil sampah dan piring kotor yang ada dikamar Haikal.
Niko menggunakan baju petugas kebersihan lengkap dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya.
"Bi kala mau susu" Haikal
"Sebentar ya tuan kecil bibi buatkan" Mina segera beranjak untuk membuatkan Haikal susu.
Melihat ada kesempatan Niko segera membuka Maskernya dan menghampiri Haikal.
"Kala..." Niko
__ADS_1
Haikal menatap Niko dengan tatapan tidak percaya. Bukannya senang Haikal malah membuang muka dia tidak ingin melihat wajah Niko.
"Bapak tau kala masih marah sama bapak... bapak minta maaf ya sayang" Niko.
"Maaf pak Kala gak mau ngomong sama bapak, kala kecewa dan sakit hati sama bapak... tolong pergi pak" Sahut Haikal tanpa menatap Niko.
"Kala jangan kayak gini nak... bapak minta maaf sayang, bapak janji akan" Niko belum sempat melanjutkan ucapannya tapi Haikal menatap Niko tajam dan seketika membuat Niko terdiam.
"Bapak selalu janji sama aku kalau bapak akan menemani aku selamanya, bapak janji akan selalu ada buat aku, dan bapak janji kalau bapak akan selalu jagain aku! tapi mana buktinya pak? bapak malah setuju sama ibu untuk menjual aku...
jujur Kala kecewa banget sama bapak tapi Kala juga sangat berterimakasih sama kalian, karena kalian sekarang Kala bisa hidup bersama orang yang tulus menyayangi kala... Papa Mahendra memang bukan papa kandung Kala tapi dia rela meninggalkan orang yang dia cintai demi Kala" Sahut Haikal dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Haikal sudah tau tentang masalah Mahendra dan Lisa dari berita yang muncul ditv. Hal itu membuat Haikal semakin menyayangi Mahendra, itu juga alasan kenapa tadi tiba tiba Haikal meminta Mina menelpon kan Mahendra untuknya.
Niko tidak pernah melihat Haikal semarah ini padanya. Niko ingin menghapus air mata Haikal tapi dengan cepat Haikal menepis tangan Niko.
"Bapak gak usah sentuh Kala lagi... Kala ini anak cacat yang menjijikan nanti tangan bapak kotor, lebih baik sekarang bapak pergi kala tau bapak kesini bukan karena perduli sama kala tapi bapak cuma mau tau apa kala masih hidup atau enggak" Ucap Haikal dengan suara serak menahan tangisnya.
"Gak nak bapak datang karena bapak khawatir sama Kala, bapak sayang sama Kala" Niko.
"Kalau bapak sayang sama Kala harusnya bapak pertahankan Kala! hiks hiks kala ini manusia pak kala bukan barang yang bisa dijual gitu aja hiks hiks kala juga punya hati pak" runtuh sudah pertahanan hati Haikal kini tangisannya pecah begitu saja.
Mina yang melihat hal itu diam diam mengambil foto Niko dan Haikal lalu mengirimkannya pada Mahendra. setelah melihat pesan Mina tanpa pikir panjang Mahendra bergegas meninggalkan ruangannya dan pergi ke rumah sakit.
"Maafin bapak Kal bapak terpaksa" Niko
"Terpaksa?!" Haikal.
"iya nak bapak terpaksa melakukan itu demi ibu dan kakak mu, kamu tau kan ekonomi kita itu sangat sulit dan kakak kamu butuh biaya besar untuk kuliahnya belum lagi ibu yang perlu uang untuk kebutuhannya" Niko
"Karena itu Kala harus dijual? apa arti kala buat Bapak? apa selama ini Kala cuma bapak anggap sebagai beban atau apa sih pak?!" Haikal.
"Enggak nak bukan itu maksud bapak sayang, maafin bapak nak" Niko.
*Brak!
__ADS_1
Mahendra yang baru saja tiba membuka pintu dengan kasar. Dia langsung masuk dan memeluk Haikal.
"Papa hiks hiks papa" Haikal menangis didalam pelukan Mahendra.