HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Dewasa


__ADS_3

Setelah membaringkan Haikal dikamarnya Mahendra turun dan menemui Ganesa. Hubungan mereka mungkin terlihat buruk tapi sebenarnya mereka saling perduli dan saling menyayangi, kematian tuan Wijaya dan Raya dalam kecelakaan beberapa tahun lalu juga membuat Ganesa terpukul tapi dia sama sekali tidak mau menyentuh perusahaan ayahnya dan memberikan semua saham warisannya kepada Mahendra.


Kebencian yang dia simpan terhadap orang tuanya membuat dia tidak sudi menerima warisan mereka sepeserpun.


"Kakak kenapa baru datang sekarang?" Mahendra.


"Aku datang setelah dapat kabar kalau kau mengadopsi anak dan masalah tentang Lisa, aku sudah memperingatkan mu tentang wanita ular itusejak dulu tapi kau malah buta karena cinta... sekarang menyesal?" Ganesa.


"Aku tidak menyangka dia akan senekat itu sampai hampir membunuh Haikal, dia cukup berani" Mahendra.


"Dengar Mahendra kau harus mengurus masalah wanita itu hingga tuntas, aku peringatkan kau karena aku tau anak mu itu adalah kelemahan mu" Ganesa berucap sembari menunjukan senyum smirknya.


"Jangan hanya memperingatkan ku kak... aku juga tau apa kelemahan mu" Sahut Mahendra yang kemudian menikmati wine nya.


"Woho adik ku sudah bukan pria culun yang penakut lagi, dulu ayah membuat mu jadi pecundang tapi demi anak itu kau menunjukan diri mu yang asli" Ganesa.


"Bahkan seorang pecundang bisa menjadi singa jika anaknya diusik" Sahut Mahendra dengan senyum khasnya.


"Ku dengar kau akan mengadakan pesta besok malam kenapa tidak mengundang ku?" Ganesa.


"Tanpa ku undang pun kau akan tetap datang, kan?" Mahendra.


"Mahendra... masalah dengan orang tua kandung anak mu itu jangan kau sepelekan" Ganesa.


"Aku tau dan aku bisa mengurusnya sendiri kau tidak perlu ikut campur" Mahendra.


Ganesa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia tau selama ini sang adik menyembunyikan jati dirinya demi membuat ayah mereka senang, tapi setelah kematian ayah merema sedikit demi sedikit sifat aslinya muncul.


Haikal terbangun dan melihat ke sekeliling dia menyadari jika dirinya sudah berada didalam kamar. Haikal kemudian mencuci muka dan minum air putih yang ada dinakasnya.


Haikal kemudian keluar dari kamar untuk menemui Mahendra. saat dia menuruni tangga dia melihat Mahendra yang sedang mengobrol dengan Ganesa, melihat itu Haikal hanya berdiri diujung tangga dan tidak berani mendekat karena takut mengganggu mereka.


"Papa..." Haikal memanggil Mahendra dengan sedikit ragu. Mendengar suara Haikal dengan cepat Mahendra menghampirinya.


"Kala sudah bangun padahal baru aja mau papa bangunin" Mahendra.

__ADS_1


"Pah dia siapa?" Haikal.


"Dia... dia om kamu kakaknya papa" Mahendra.


"Kok serem? mukanya galak gak seperti papa yang selalu tersenyum sama kala" Haikal.


"Hei bocah aku dengar ya, nih aku senyum nih" Ganesa tersenyum tapi bukannya senang Haikal malah takut dan langsung memeluk Mahendra.


"Kak lebih baik kau diam atau ku lempar kau keluar, lihat karena mu anakku jadi takut" Sahut Mahendra kesal.


"Papa om serem itu jahat gak?" Haikal.


"Iya aku jahat aku suka makan orang apa lagi anak kecil seperti mu hahahaha" Ganesa sengaja menakuti Haikal karena menurutnya Haikal lucu saat ketakutan.


"Papa hiks hiks pah kala takut om itu mau makan kala pa hiks hiks" Haikal benar benar takut dan kesal dengan sikap Ganesa jadilah dia menangis dipelukan Mahendra.


"Sudah jangan menangis sayang dia tidak bisa menyentuh mu karena papa akan segera memotong tangannya hm" Mahendra.


"Huwa... papa juga jadi serem hiks hiks" Haikal semakin menangis dan membuat Mahendra sedikit kewalahan.


"baik tuan" Mina.


Mahendra membawa Haikal duduk disofa sembari memeluknya. Mina datang membawakan susu dan boneka untuk Haikal.


"Sudah nangisnya ini minum susu dulu hm... habis ini kita makan terus kala harus minum obat, ini udah waktunya kala minum obat" Mahendra.


Haikal menurut dia meminum susu dari dot itu sembari memainkan bonekanya. Ganesa menatap Mahendra dan tersenyum.


"Papa kala mau liat ikan kita dikolam... kala udah lama gak kesana pa" Haikal.


"Boleh ayo papa temani..." Mahendra menggandeng tangan Haikal dan mereka melihat ikan didalam kolam itu.


Haikal sangat senang dan duduk disamping kolam sambil memberi ikan ikan itu makan.


"Pah kala pengen melihara kura kura... boleh gak?" Haikal.

__ADS_1


"Boleh tapi kala harus janji sama papa kala harus rawat kura kuranya dan ngasih makan setiap hari" Mahendra.


"kan ada mang Asep sama pelayan lain... kenapa Kala yang harus rawat juga?" Haikal.


Mahendra memegang tangan Haikal lembut dan tersenyum.


"Nak apa yang menjadi milik kamu adalah tanggung jawab mu, kala tidak boleh melempar tanggung jawab ke orang lain... walau ada yang membantu tapi kala harus tetap menjalankan kewajiban, kala paham?" Mahendra.


"iya papa kala paham... kala janji nanti kala akan rawat kura kura kala, tapi beneran boleh kan pah?" Haikal.


"Iya..." Mahendra.


"Tuhan terimakasih kau berikan aku kesempatan untuk terus bersamanya, dia adalah segalanya untukku tuhan ku mohon jangan pisahkan kami... aku janji akan menjadi ayah yang baik untuknya" Mahendra berucap didalam hati sembari mengusap lembut kepala Haikal.


Ganesa melihat kebersamaan Haikal dan Mahendra. Dia tersenyum dan mengabadikan momen mereka dengan mengambil fotonya diam diam.


"Dia jadi dewasa setelah menjadi orang tua, dulu dia cuma bocah bodoh yang mau saja dijadikan boneka ayah... lihat yah anak mu itu sudah menjadi orang tua dan dia orang tua yang hebat...


Dia tidak seperti mu yang memaksa anaknya menjadi seperti yang dia mau. Ayah kalau saja kau mengerti arti menjadi orang tua yang sebenarnya, mungkin aku tidak akan membenci mu" Ganesa berucap lirih sembari menatap adik dan keponakannya.


Mahendra dan Haikal bermain kejar kejaran dan menyiram bunga dihalaman depan. Memang hanya hal kecil tapi hal kecil seperti ini memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Haikal dan Mahendra.


"Kalau nanti kala sudah bisa kerja kala akan bikin rumah didekat gunung, biar bisa lihat pemandangan bagus setiap hari... kala akan bawa papa ikut sama kala dan kita bisa sama sama selamanya" Haikal.


"Papa akan bekerja keras dan menabung banyak uang untuk masa depan kala, jadi seandainya papa harus pergi duluan kala tidak akan kesulitan" Mahendra berucap tanpa menantap Haikal karena fokus menyiram bunga. Haikal yang mendengar itu langsung memeluk Mahendra dari belakang.


"Kala gak mau uang papa... kala cuman mau selalu sama papa selamanya" Haikal.


"Papa sayang sama kala, dan kala tau itu kan nak?" Mahendra.


"eum... sebagai orang tua papa mau yang terbaik untuk kala, papa bekerja keras untuk kala dan untuk masa depan kala seandainya tuhan mengambil papa duluan kala harus ikhlas dan hidup dengan baik" Mahendra.


"Tapi kala mau sama papa selamanya... kalau tuhan jemput papa kala ikut sama papa" Haikal.


Mahendra menaruh selang air yang dia pegang lalu membalikan badannya dan memeluk Haikal.

__ADS_1


"Udah ah kok jadi bahas yang sedih sedih sih? kita harusnya happy karena kala udah sembuh iya, kan?" Mahendra.


__ADS_2