HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Latihan Memanah.


__ADS_3

Haikal terbangun dari tidurnya saat William membangunkan dirinya. William memang punya kunci cadangan kamar Haikal dan sebagai pembimbing Haikal dia punya hak untuk membangunkan dan mendisiplinkan Haikal.


"Cepat bersiap tuan muda hari ini adalah jadwal anda untuk latihan memanah" William.


"Kak untuk apa aku latihan memanah?" Haikal sangat malas bangun karena dia baru saja tidur.


"Untuk melatih fokus, dan konsentrasi mu..." William.


"Emhhhh..." Haikal tidak juga bergeming dan malah menarik selimut.


"Sepuluh... Sembilan... delapan" William mulai menghitung dan dengan penuh semangat Haikal segera berlari ke kamar mandi.


"Setelah mandi segera bersiap segera bereskan kamar mu tuan muda, dan temui aku dimeja makan dalam tiga puluh menit" William kemudian keluar dari kamar Haikal dan menunggunya di meja makan.


"Will kau sangat mendisiplinkan Haikal" Mahendra.


"Maaf jika menurut anda cara didik saya keras tuan, tapi saya harus membentuk tuan muda menjadi pribadi yang kuat... dunia bisnis semakin keras dan selain itu persaingan semakin licik, saya tidak bisa selalu melindungi tuan muda karena saya jug bisa mati kapan saja.


Untuk itu saya harus mempersipkannya untuk jadi pewaris keluarga Wijaya yang tangguh dan siap dengan semua tekanan" William.


"Kau mempersiapkan dia untuk hal yang terburuk jangan lupa dia juga harus siap untuk semua yang terbaik" Ganesha.


"Jangan khawatir tuan saya juga memikirkan itu" Willliam.


Haikal akhirnya selesai bersiap dan langsung duduk dimeja makan.


"Bereskan kamar?" William.


"Sudah" Haikal.

__ADS_1


"Sekarang silahkan makan sarapan anda... setelah itu kita mulai berlatih memanah" William.


"Kakak William akan mengajari ku memanah juga?" Haikal.


"Anda meragukan kemampuan ku?" William.


Haikal terdiam dan lansung memakan sarapannya. Setelah makan William membawa Haikal ke halaman belakang yang sudah dia setting menjadi arena memanah, Ganesha dan Mahendra menonton dari balkon lantai tiga.


"Fokuskan pandangan mu pada satu titik, jangan lengah" William.


"Kak Will ini sulit... contohkan dulu nanti aku akan ikuti" Haikal.


Tanpa menolak William melepaskan jasnya terlihat badan atletisnya yang kekar, dengan kulit putih yang tidak begitu mulus karena ada beberapa bekas luka. William adalah salah satu anak buah terbaik Mahendra karena itu Mahendra berani menjadikan dia sebagai penjaga sekaligus pembimbing Haikal.


"Satu satunya yang harus kau ingat adalah fokus" William.


*SYUT!


Bukan hanya Haikal tapi juga Mahendra dan Ganesha dibuat tercengang saat tiga anak panah yang dilepaskan oleh William tidak meleset satupun padahal saat dia melepaskan anak panah itu matanya sedang menatap ke arah Haikal.


"Kakak!" Pekik Haikal kagum.


"Lakukan jangan berhenti sampai mengenai sasaran" William.


Haikal mencoba apa yang diajarkan oleh William. Haikal sempat kesulitan karena fokusnya terus saja pecah sebab pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan cara untuk melepaskan pamannya dari masalah mafia itu. Lima kali percobaan dan Haikal masih terus gagal.


"Kak kala tidak bisa" Haikal.


"Coba lagi" sahut William dingin.

__ADS_1


Haikal kembali mencoba tapi setelah beberapa kali mencoba tangannya terasa sakit dan pegal.


"Kak kala capek" Haikal.


"Teruskan, jangan berhenti sampai bisa mengenai sasaran" William.


Haikal pun mengikuti arahan William, Haikal terus mencoba sampai jarinya berdarah tapi dia belum juga berhasil dan William tidak mengizinkannya berhenti untuk istirahat.


"Mahen suruh dia berhenti kasihan Kala" Ganesha.


"Tunggu kak... ini adalah urusan Haikal dan pembimingnya kita jangan ikut campur dulu" Mahendra.


"Lihat kala dia sangat kelelahan" Ganesha.


Saat melihat Haikal yang kelelahan William memegang satu apel dan meletakan apel itu diatas kepalanya sendiri. William kemudian berdiri didepan Haikal tapi dengan jarak cukup jauh setara dengan sasaran memanah mereka.


"Panah apelnya" William mulai berbicara membuat Haikal kaget.


"Tidak kak! aku bisa melukai mu nanti" Haikal.


"Aku tau sebenarnya kau bisa tapi fokus mu selalu hilang entah kemana, sekarang panah apelnya dan fokus jika meleset kemungkinan terburuknya aku mati" William.


Seketika Haikal terdiam tapi dia mulai menarik nafas dan fokus. Haikal mulai membidik William tersenyum penuh arti.


"Hen anak mu tidak akan benar benar memanahnya kan?" Ganesha.


"Dia akan melakukannya kak" Mahendra.


"Apa dia sudah gila?!" Ganesha.

__ADS_1


"Sikap bijaksana dan lembutnya itu mirip aku, tapi sifat gila dan keras kepalanya mirip siapa kalau bukan dirimu?" Sahut Mahendra mengejek Ganesha.


*SYUT!


__ADS_2