
"Dia juga sering mengeluh sakit pada bagian perut karena dia memiliki riwayat usus buntu dan baru saja menjawani operasi usus buntu itu dua bulan lalu" Danis.
"Dia kekurangan uang tapi begitu gigih mempertahankan mimpinya" Ganesha.
Setelah selesai menjelaskan itu Danis pergi. Ganesha pergi ke kamar Haikal untuk memeriksa apakah mereka sudah bangun atau belum, ternyata mereka berdua belum bangun.
Ganesha turun ke dapur rumah kaca dan memasak sarapan. Haikal terbangun dan melihat Qian masih tertidur disampingnya.
"Kak bangun kita harus sarapan" Haikal membangunkan Qian untuk sarapan bersama.
Qian mulai membuka matanya dan menatap Haikal.
"Apa hujannya sudah berhenti?" Qian.
"Sudah tapi sepertinya masih banjir, ayo kita turun untuk sarapan" Haikal.
"aku mau ke kamar mandi dulu, aku akan menyusul mu nanti" Qian.
Haikal pun setuju dan turun duluan, saat dibawah Haikal melihat Ganesha sedang memasak sarapan untuk mereka.
"Ash!" Ganesha.
Karena terlalu terburu buru saat memotong sayuran tangan Ganesha terluka. Haikal langsung menghampiri Ganesha dan membalut lukannya dengan tisu.
"kenapa kau sangat ceroboh? tangan mu jadi terluka" Haikal.
''Tidak apa apa ini hanya luka kecil, kau duduklah aku akan melanjutkan memasak" Ganesha.
__ADS_1
"kau yang harus duduk, biarkan aku yang memasak" Haikal.
Ganesha tersenyum dan menurut karena dia tidak mau berdebat dengan keponakan kecilnya itu. Haikal mulai melanjutkan memasak dan Ganesha terus menatapnya.
"Kala jika aku menjelaskan apa yang terjadi hari itu, apakah kau akan percaya?" Ganesha.
"Jika kau mengatakan yang sebenarnya mungkin aku akan percaya, tapi jika kau berbohong pada ku maka aku tidak akan percaya pada mu lagi" Haikal.
"Kala apa kau punya obat sakit perut?" Qian.
"Kak kau kenapa? apa kau sakit?" Haikal.
"Perut ku agak sakit" Qian.
"Akan ku suruh anak buah ku membelikan mu obat, duduklah dulu" Ganesha.
"Kak sebenarnya kau sakit apa?" Haikal.
"tidak apa apa aku hanya sakit biasa setelah minum obat aku akan baik baik saja, oh iya kau tadi sedang masak apa? bisa aku bantu?" Qian.
"Kau selemah ini lebih baik istirahat saja kak" Haikal.
"Aku baik baik saja, hanya sedikit sakit..." Qian.
Karena tidak ingin merepotkan akhirnya Qian benar benar membantu Haikal untuk memasak, mereka membuat sandwich untuk sarapan.
*Brak!
__ADS_1
"Awas! kau baik baik saja?" Ganesha.
Saat menyajikan sandwich Qian hampir saja terjatuh karena perutnya sangat sakit. Ganesha dengan cepat menahan tubuh Qian agar tidak terjatuh, Haikal yang melihat itu juga segera membantu Qian untuk duduk.
"perut ku sakit" Qian.
"Danis! cepat panggil dokter, cepat!" Ganesha.
"Baik tuan" Danis.
"Kak apa kau masih bisa bertahan sedikit lagi? dokter akan segera datang" Haikal.
"Eum" Qian mengangguk, Qian terus meremat perutnya sendiri.
"Bertahanlah dokter akan segera datang, kau bisa berdiri?" Ganesha.
"Paman gendong saja dia ke kamar jika terus begini dia akan semakin kesakitan" Haikal.
Ganesha Mengangkat tubuh ramping Qian dan menggendongnya ke kamar tamu rumah utama. Haikal yang awalnya tidak ingin memasuki rumah utama akhirnya mau tidak mau ikut ke rumah utama demi memastikan keadaan Qian.
Dokter datang dan langsung menangani Qian.
"Kapan terakhir kau melakukan check up?" Hendery.
"aku tidak pernah lagi melakukan Check up dok" Qian.
"Kau sadarkan jika diri mu sudah pernah terkena kanker, lalu kenapa kau tidak pernah melakukan check up?" Hendery.
__ADS_1