
Tanpa mereka sadari sebenarnya Haikal mendengar percakapan Mereka. Haikal kemudian kembali ke kamarnya dan mulai memikirkan percakapan ayah dan pamannya tadi, Haikal pun duduk disamping tempat tidurnya.
Saat Haikal mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya Haikal segera berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut. Haikal berpura pura tidur saat pintu kamar terbuka ternyata itu adalah Mahendra.
Mahendra duduk disamping Haikal dan mengusap surai rambut anaknya lembut.
"Maaf tadi papa kasar pada mu nak, papa tidak bermaksud menyakiti mu sayang... besok adalah hari yang sulit untuk kita semua, tapi jangan takut papa akan melindungi mu dan keluarga kita" Mahendra mengira sang anak telah tertidur tapi dia tidak sadar jika Haikal mendengar semuanya.
Mahendra mengecup kening Haikal kemudian pergi dari kamar sang anak. Diam diam setelah Mahendra pergi Haikal membuat rencana untuk kabur dari apartment Ganesha besok.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi tapi aku tidak akan membiarkan papa menghadapi masalah besar itu sendirian dan aku tidak akan membiarkan kak William pergi" ucap Haikal dalam hati.
Saat pagi tiba seperti biasa Haikal sarapan lalu memberi makan kura kura kecilnya. Setelah itu Haikal pergi ke rumah kaca dan meletakan catatan kecil disana berharap William menenukan catatan itu.
Saat hari menjelang siang Zaky membawa Haikal untuk pergi ke apartment Ganesha.
"Tuan muda mari kita berangkat" Zaky.
Haikal terus saja melihat ke arah rumah kaca berharap William menemukan catatan itu dan membantunya untuk kabur dari apartment Ganesha nanti.
__ADS_1
"Kala pergi dulu om... pah" Haikal.
Haikal pun berangkat menuju apartment bersama beberapa orang bodyguard suruhan Mahendra. William sebenarnya menemukan catatan itu tapi dia tidak menghampiri Haikal.
"Kakak dimana? kak jemput kala, kala ada diapartmen om Ganesha... kakak jangan pergi ya kak" tulis Haikal pada catatan kecilnya.
William yang melibat itu hanya tersenyum tipis.
"Aku tidak akan menjemput mu... kau harus tetap disana karena disana adalah tempat yang aman, maaf aku tidak bisa menepati janji ku untuk selalu menjadi tangan kanan mu hingga kau dewasa...
Maaf Haikal aku sudah membohongi mu, terimakasih sudah menjadi teman dan adik untukku. Hiduplah dengan baik jangan menjadi seperti ku" William membakar catatan kecil yang ditulis oleh Haikal itu kemudian dia keluar dan mengunci rumah kaca.
"William apa tidak memungkinkan untuk kita mencari cara lain? aku tidak tega melihat tatapan mata Haikal setiap kali dia menanyakan tentang mu" Mahendra.
"Kita tidak punya cara lain tuan, dan kita juga tidak punya waktu untuk mencari cara lain sekarang mari bersiap menyambut mereka" William.
Setelah sampai diapartmen Haikal melihat ke sekeliling lalu duduk disalah satu sofa didekat jendela kaca. Haikal melihat pemandangan di luar jendela kaca dan melamun.
Hatinya terus berharap jika William akan datang dan menjemputnya tapi hal itu tidak kunjung terjadi. Hingga malam tiba Haikal belum juga mendapatkan kabar dari William ataupun Mahendra.
__ADS_1
"Kak Zaky" Haikal.
"Iya tuan muda?" Zaky.
"Di lobi gedung apartment ini ada market kan?" Haikal.
"Ada tuan" Zaky.
"Anterin kala ke market yuk... kala mau beli buku, tadi buku kala ketinggalan soalnya" Haikal.
"Baik tuan muda" Zaky.
Sementara itu dirumah Mahendra semua tamu yang ditunggu telah berkumpul. disana ada dua orang pemimpin mafia yang punya nama sebutan tangan emas dan merpati keduanya menggunakan topeng untuk mwnutupi wajah dan identitas mereka.
"Ganesha tidak semudah itu untuk mu lepas dari kami, setelah sepuluh tahun kami membantu mu dan kau ingin pergi begitu saja?" Merpati.
"aku hanya ingin hidup normal dan bahagia bersama adikku, aku tidak akan mengungkap apapun tentang organisasi" Ganesha.
"Kau tau apa yang paling menjijikan didunia ini Ganesha? itu adalah janji seorang pengkhianat seperti mu! kau pikir aku tidak tau selama ini kau diam diam melepaskan tawanan yang harusnya dijual dan mengatakan jika mereka mati diperjalanan!
__ADS_1
Kau juga diam diam menghentikan penyelundupan senjata dijalur tikus, kan?! dasar licik!" Tangan emas.