HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Ketakutan


__ADS_3

Haikal merasa lebih baik dan sudah bisa mendudukan dirinya. Mahendra membuatkan Haikal bubur kentang yang dicampur dengan beberapa sayuran lainnya, saat menyuapi Haikal mata Mahendra tertuju pada tangan sang anak.


"Kala kenapa tangannya sakit?" Mahendra.


"Enggak pa... Kala cuman bingung kok gelang Kala gak ada pa?" Sahut Haikal dengan wajah bingung.


"Ya sudah tidak apa apa nanti papa belikan yang baru, sekarang Kala makan lagi ya" Mahendra.


Haikal hanya mengangguk pelan dan lanjut makan lagi. Haikal makan sekitar lima sendok bubur itupun harus dengan perjuangan karena tenggorokkannya masih sangat sakit untuk menelan.


"Kala papa mau tanya sama kamu tapi kala harus jawab jujur" Mahendra.


"Tanya apa pah?" Haikal.


"Sejak kapan Kala dibully disekolah?" Mahendra bertanya dengan raut wajah serius. Haikal hanya terdiam dan menunduk dia ragu untuk jujur kepada Mahendra karena khawatir memperburuk keadaan.


"Kala jawab papa" Mahendra kembali bertanya tapi kali ini dengam suara lebih tegas tapi tetap tidak mendapat jawaban dari sang anak.


"Haikal jawab papa!" Kali ini Mahendra bertanya dengan agak membentak Haikal.


Haikal masih diam dia ingin bicara tapi dia takut. Ingatan tentang apa yang terjadi padanya disekolah membuat Haikal ketakutan dan menangis, melihat Haikal yang menangis Mahendra langsung memeluk sang anak.


"Kala maaf sayang maaf papa bikin kamu takut ya nak? Maafin papa sayang" Mahendra.

__ADS_1


"Hiks hiks Kala Takut pa hiks hiks kala takut" Haikal terisak dengan tubuh agak gemetar melihat hal itu Mahendra merasa bersalah karena bertanya pada saat yang salah.


"Maaf nak... maaf sayang papa janji gak akan tanya lagi sekarang Kala tenang ya, kala jangan menangis lagi Sayang" Mahendra berusaha menenangkan Haikal.


Kejadian itu sangat menakutkan untuk Haikal pada saat yang sama sekarang semua ingatan buruk Haikal tentang kekerasan yang dia alami semuanya muncul kembali. Ingatan saat Dewi, Winda, Bima dan teman temannya menyakiti dan menyiksa dirinya menjadi satu saat ini didalam benak Haikal.


"Lepas! Kala gak salah! Papa Hiks hiks Papa tolong!" Haikal mulai berteriak dan meronta didalam pelukan Mahendra. Melihat itu bukan hanya Mahendra tapi Ganesha yang ada disana juga ikut kaget.


"Haikal ini papa nak... Haikal hei lihat sayang ini papa nak" Mahendra mencoba membujuk Haikal untuk tenang dan membuka matanya tapi gagal.


"LEPASIN KALA! Papa! Hiks hiks papa tolong sakit pah hiks hiks papa sakit tolongin Kala pah" Haikal terus berteriak meminta tolong dia memejamkan matanya karena benar benar ketakutan. Ganesha langsung menekan bel darurat untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian Haikal terlihat kesulitan bernafas dia seperti tercekik dan kejang kejang. Mahendra dan Ganesha jadi semakin panik.


team Dokter datang Mahendra dan Ganesha diminta untuk keluar dari ruangan Haikal.


"Kala maafin papa sayang harusnya papa gak usah bahas masalah ini maaf nak, Kala harus kuat sayang hiks hiks" Mahendra menangis didepan pintu ruangan Haikal.


"Hen tenang Haikal itu anak yang kuat dia akan baik baik saja, tenang Hen" Ganesha berusaha menenangkan adiknya.


*Ceklek.


Setelah lima belas menitan Hendery keluar dari ruangan Haikal.

__ADS_1


"kalian jangan khawatir Haikal tadi mengalami serangan panik, itu biasa terjadi karena trauma berat... untuk sekarang jangan bahas masalah ini dengan Haikal, kasihan dia tunggu sampai mental dan fisiknya siap baru bahas lagi dengannnya" Hendery.


"Tapi dia baik baik saja kan dok? Haikal bisa sembuh kan?" Mahendra bertanya oenuh kekhawatiran.


"Tentu saja bisa... ini hanya masalah waktu, Haikal sudah tenang tapi masih dalam pengaruh obat jadi dia tertidur... tuan berdua bisa masuk kembali jika terjadi sesuatu panggil saja saya" Hendery.


"Terimakasih dokter" Mahendra.


Mahendra kembali masuk ke ruangan Haikal sedangkan Ganesha dia pergi entah kemana. Mahendra menggengam dan mencium tangan Haikal, dia sangat menyesal sudah menanyakan hal itu tadi.


"Tuan tenang saja tuan muda akan segera sembuh" Arif memberikan dukungan agar Mahendra juga tegar.


Sementara itu ayah Bima juga sedang menamani anaknya yang kritis dirumah sakit. Ayah Bima sangat sedih melihat kondisi putranya tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa.


"Bima maafkan ayah nak" Harun (Ayah Bima).


"Ini semua gara gara anak itu dan keluarganya! Mentang mentang mereka orang kaya dan berkuasa bisa memperlakukan anak kita seenaknya hiks hiks" Siti (Ibu Bima).


"Diam! Ini semua gara gara kamu karena kamu tidak bisa mendidik anak kita sampai dia menjadi bodoh dan ceroboh! Kalau kau didik dia dengan benar dia tidak akan melukai pewaris keluarga Wijaya dan berakhir seperti ini!" Harun.


"Kenapa mas jadi nyalahin aku sih?! jelas jelas anak kita seperti ini karena orang dari keluarga Wijaya itu bukan karena aku!" Siti.


"Jelas ini salah kamu gara gara kamu gak becus jadi ibu anak kita jadi bodoh! Kamu itu selalu mementingkan urusan yang tidak penting dari pada anak kita! Arisan lah, ke salon lah, jalan jalan sama temen lah! Kamu itu taunya cuma senangnya doang yang cari duit aku! dan yang ngurus anak juga aku, dasar istri gak berguna!" Harun sangat marah pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2