
Dokter yang mendengar keributan itu langsung memisahkan keduanya dan berhasil merebut gunting medis itu dari tangan Mahendra.
"Ini rumah sakit bukan arena tinju kalau kalian mau berkelahi diluar saja!" Dokter jadi kesal karena perkelahian mereka.
"Haikal tunggu om sayang..." Mahendra kembali menghampiri jenazah itu dan memeluknya penuh kasih sayang.
"Hah? Haikal?" Dokter itu malah terlihat bingung, sejenak dokter itu terdiam dan akhirnya mengerti apa yang terjadi.
"Tuan Mahendra dia bukan Haikal, anda salah masuk ruangan tuan... Haikal ada diruangan 113 dan ini ruangan 112" Dokter
Untuk memastikan Arif berlari ke arah pintu dan benar saja diatas pintu masuk tertulis nomor ruangan 112. Mahendra pun langsung melepaskan pelukannya dan memberanikan diri membuka kain putih yang menutupi wajah mayat itu, benar saja ternyata itu bukan Haikal tapi anak laki laki lain yang nampaknya seumuran dengan Haikal.
Mahendra langsung lemas terduduk dilantai dia lega dan berulang kali mengucapkan syukur karena itu bukan jasad Haikal.
"Tuan lain kali lihat baik baik nomor ruangannya sebelum masuk, pantas saja keluarga pasien ini bingung mencari jasad anak mereka dan mengira mereka salah masuk ruangan... ternyata anda yang salah masuk ruangan" Dokter itu tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi.
"Tuan Mahendra sebaiknya anda segera ke ruangan Haikal, jenazah ini akan segera dijemput oleh keluarganya" Dokter
Mahendra dan Arif segera keluar dari ruangan itu dan kali ini mereka masuk ke ruangan yang benar. Mahendra melihat Haikal yang masih belum sadarkan diri dengan semua perangkat medis yang terpasang padanya.
Mahendra duduk disamping Haikal dan mengusap lembut pipi Haikal.
"Kala harus kuat jangan menyerah sayang, om tau kala pasti bisa sayang" Mahendra
Mahendra yang kelelahan tidak sengaja ketiduran. Mahendra bermimpi dia melihat Haikal sedang bermain dipantai, didalam mimpinya Haikal terlihat sangat ceria dan baik baik saja.
Mahendra ingin mendekat tapi dia tidak bisa seperti ada dinding kaca yang membuatnya tidak bisa mendekati Haikal.
''Om baik jangan sedih ya... Kala baik baik saja, lihat kala suka bermain disini" Haikal berbicara pada Mahendra tapi dari jarak yang cukup jauh.
"Haikal ayo pulang sayang om kangen banget sama Kamu nak, ayo pulang sayang om mohon" Mahendra berusaha membujuk Haikal.
Haikal tersenyum dan mentap Mahendra dengan mata indahnya.
__ADS_1
"Om tunggu Kala ya... Kala pasti pulang om jangan pergi" Sahut Haikal sambil berjalan mendekati Mahendra.
"Iya om tunggu kala tapi kapan kala mau pulang nak?" Mahendra
"kala masih pengen disini... kala Capek disana gak ada yang sayang sama kala" Haikal berhenti tepat didepan Mahendra.
"Om sayang sama kala om sayang sekali sama kala, om mohon kala pulang ya jangan pergi kala om sayang sama kala" Mahendra
"Kalau om sayang sama kala... tunggu kala jangan pernah tinggalin kala kayak bapak sama ibu, kala cuma lagi Capek aja om... kala pasti akan kembali kalau sudah cukup istirahatnya" Sahut Haikal dengan mata berkaca kaca.
Mahendra ingin memeluk Haikal tapi tidak bisa karena seperti ada dinding kaca yang menghalanginya.
"om akan tunggu kamu... om akan selalu nunggu kamu disini, jangan khawatir sayang om tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri" Mahendra
Haikal tersenyum dan perlahan menghilang bagaikan bayangan. Mahendra kemudian terbangun dari tidurnya dia tidak sadar jika dirinya menangis didalam tidurnya.
Mahendra menatap Haikal yang masih belum sadarkan diri. Mahendra beranjak kemudian mengecup kening Haikal, air matanya jatuh begitu saja saat dia melakukan itu.
"Kala om tau kala kuat... om sayang sama kala, sayang sekali... ayo bangun nak jangan terlalu lama tidur karena om takut kala lebih bahagia disana dari pada disisi om" Mahendra berucap lirih didekat telinga Haikal.
Hari demi hari berlalu tapi masih belum ada kemajuan apapun. Haikal masih belum sadarkan diri setiap hari Mahendra datang untuk menemani Haikal, meski harus bekerja Mahendra tidak pernah lupa akan tanggung jawabnya untuk mengurus Haikal.
Karena Haikal ditempatkan diruang VIP yang luas dan cukup nyaman jadi Mahendra juga bisa beristirahat dengan baik disana.
Hari ini Mahendra pulang lebih awal karena pekerjaannya sudah selesai. Dia langsung mandi dan berganti baju sebelum menghampiri Haikal karena dia takut akan membawa kuman.
Setelah selesai membersihkan diri barulah Mahendra menghampiri Haikal dan memegang tangan Haikal lembut.
"Kala apa kabar hari ini? sudah lebih baik?" Mahendra memang selalu berbicara pada Haikal meskipun Haikal tidak merespon tapi Mahendra yakin Haikal mendengarnya.
"Om tadi beli boneka untuk Kala... lucu sekali kala pasti suka, nanti bonekanya ditaruh dikamarnya kala ya" Mahendra
"Eum... kala hari ini om beli buku resep makanan, om akan belajar masak biar bisa bikinin bekal sekolah untuk kamu nanti jangan khawatir ya sayang semuanya baik baik saja" Mahendra kembali berucap sembari mengusap tangan Haikal dengan lembut.
Arif tiba tiba masuk ke ruangan dan menghampiri Mahendra.
__ADS_1
"tuan ada berita besar" Arif
"Saya sudah bilang berapa kali Rif saya tidak mau membahas pekerjaan saat didekat Haikal" Sahut Mahendra kesal.
"Ini bukan soal pekerjaan tuan" Arif
Mahendra beranjak dan menatap Arif penasaran.
"Lalu soal apa?" Mahendra
"Berita dari PT Sucitra... pemilik perusahaan Sucitra pak Burhan meninggal dunia" Sahut Arif dengan raut wajah serius.
PT. Sucitra adalah perushaan keluarga Lisa dan pak Burhan adalah ayah Lisa.
"Beliau meninggal akibat serangan jatung, karena tidak bisa menerima kenyataan jika perusahaannya dinyatakan bangkrut" Arif melanjutkan laporannya.
mendengar itu Mahendra sama sekali tidak terlihat berduka atau iba dia malah tersenyum puas.
"Karma dibayar pada waktunya" Mahendra berucap sembari menatap Haikal.
"kapan pemakamannya?" Mahendra
"Hari ini tuan" Arif
"Siapkan mobil aku akan menghadiri pemakaman mantan calon ayah mertua ku itu, tentunya aku juga akan membawakan kejutan untuk keluarganya" Mahendra menunjukan senyum smirknya.
"Baik tuan" Arif segera melaksanakan perintah Mahendra.
Mahendra menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan kaca mata hitam dan jam tangan mewah seharga miliaran rupiah miliknya.
"Sayang om pergi sebentar ya... om janji cuma sebentar kok nak" Mahendra mengecup kening Haikal dan berpesan pada Mina untuk menjaga Haikal baik baik.
Setelah itu Mahendra dan Arif pergi ke acara pemakaman dirumah Lisa. ternyata mereka datang tepat waktu saat sampai disana semua Orang sedang berkumpul untuk mendoakan pak Burhan.
Mahendra datang dengan membawa buket bunga mawar merah kemudian menghampiri Lisa dan memberikan buket bunga itu pada Lisa.
__ADS_1
"Apa maksud kamu Mahendra?" Lisa kesal dengan perilaku Mahendra.
"aku hanya datang untuk mengucapkan turut berduka cita, ternyata benar kata orang karma itu nyata... kau buat anakku tertidur dalam koma tapi tuhan membuat ayah mu tertidur selamanya impas bukan?" Mahendra tersenyum penuh arti membuat semua orang yang mendengar dan menyaksikan itu menjadi merinding dan takut dibuatnya.