HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Berhentilah.


__ADS_3

Haikal sedang duduk dikamarnya, beberpa hari lalu Mahendra baru saja membelikan Haikal hp dan laptop baru jadi Haikal sekarang bisa belajar dengan lebih baik.


"Kak William ajarin kala untuk belanja online..." Haikal meminta William mengajarkannya cara berbelanja online dengan menggunakan laptop barunya.


William tidak keberatan dengan itu dan langsung mengajari Haikal tanpa ragu.


"Tuan muda memangnya ingin beli apa?" William.


"Belum tau sih tapi kala pengen aja gitu belajar" Haikal.


"Baiklah kalau begitu, jadi cara pertama cari situs toko online dulu nah tulis begini lalu..." William mengajari Haikal dengan telaten.


Haikal adalah anak yang cerdas dia dengan mudah bisa mengerti dan mengingat semua yang diajarkan oleh William dengan mudah.


"Sudah mengerti?" William.


"Sudah kak... sekarang kala mau beli makanan sama perlengkapan untuk Mimo dan Mimi hehehe" Haikal mulai mencari barang barang kebutuhan untuk dua kura kura kecilnya ditoko online.


William yang melihat itu hanya tersenyum dan membiarkan Haikal melanjutkannya. setelah beberapa saat Haikal beranjak dari kursi meja belajarnya dan duduk dipinggir tempat tidur.


"Kak sore ini papa pulang jam berapa?" Haikal.


"Tuan besar bilang akan pulang terlambat, ada apa tuan muda?" William.


"Tidak ada kak... kalau memang begitu aku mau tidur siang dulu, sore nanti aku mau ke kantor papa bawakan makanan" Haikal.


"Baiklah tuan muda, sekarang anda tidur saja dulu saya permisi" William keluar dari kamar Haikal.


William memang bodyguard yang dipilih oleh Mahendra untuk menjaga Haikal dan menjadi tangan kanan Haikal. William juga ditugaskan menjadi guru sekaligus pembimbing Haikal, tapi perlahan posisinya malah terasa seperti pengasuh Haikal.


William bukan hanya mengajari Haikal berbagai hal penting seperti pengetahuan dasar tentang perusahaan, dan bisnis tapi dia juga mengajari Haikal memasak bahkan menemani Haikal bermain.


Setelah William keluar dari kamarnya Haikal mengunci pintu kamar dan kembali ke meja belajarnya. Haikal ingat apa yang diajarkan William padanya saat mencari toko online Haikal kemudian membuka situs lainnya yaitu situs pasar saham.


Dia mencari cari nama perusahaan Wijaya dan juga Ganesha. Saat tau perusahaan ayah dan pamannya menempati posisi tertinggi pasar saham Haikal bernafas lega, sebelumnya entah kenapa dia terus terngiang ngiang oleh ucapan William yang mengatakan jika pasar saham sedang tidak stabil.


Haikal kemudian mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Ganesha.


"Om dimana? kenapa tidak pulang? om masih marah sama kala?" Haikal.

__ADS_1


Haikal sudah sering mengirimkan pesan kepada Ganesha tapi sekalipun pesannya tidak pernah dibalas, telponnya juga tidak pernah diangkat. Tapi Haikal lega setidaknya Ganesha selalu membaca pesan yang dia kirim hal itu bisa diketahui Haikal dari penanda pada pesannya.


Meeting Mahendra berjalan dengan sangat baik dan dia juga sukses besar. Sesekali Mahendra melirik ponselnya melihat pesan yang dikirim oleh sang anak, sejak punya ponsel Haikal sering mengirimkan pesan pada Mahendra.


Entah itu hanya sekedar foto atau ucapan ucapan yang menggemaskan. Mahendra selalu dengan senang hati membaca dan membalas pesan anak kesayangannya itu.


Hari ini Mahendra berencana menemui Ganesha, sebelumnya Mahendra sudah melacak ponsel Ganesha dan dia tau saat ini Ganesha masih ada di Indonesia dan tinggal diapartmen mewah yang tidak jauh dari Kantor Mahendra.


Saat sore tiba dan semua pekerjaannya sudah selesai, Mahendra ditemani oleh Arif menuju ke apartment Ganesha. Saat sudah sampai disana Mahendra langsung menekan bel, Ganesha melihat dari monitor siapa yang datang dan saat melihat Mahendra dia pun membukakan pintu.


"Masuklah" Ganesha.


Mahendra duduk diruang tamu dan melihat ke sekeliling.


"Sejak kapan kau merubah ornamen dan furniture diapartmen ini kak?" Mahendra.


"Sudah lama" Ganesha.


"Kau merubah semuanya dan membuat apartment ini aman untuk anak anak? karpet bulu empuk, pengaman disetiap ujung meja, dan pengaman pada tangga, kau ingin melindungi siapa kak?" Mahendra.


"Hanya berjaga jaga kalau aku jatuh atau kepeleset setidaknya aku tidak akan geger otak" Ganesha.


"Kau mengubah apartment ini karena takut aku membawa Haikal kesini dan khawatir dia terluka kan?" Mahendra.


"Apa maksud mu? aku tidak Mengerti" ketus Ganesha.


"terakhir aku kesini kau menggunakan meja kaca berujung cukup tajam, kau juga memajang banyak hiasan cantik yang terbuat dari kaca tipis berujung tajam kata mu itu indah... kenapa sekarang kau memakai meja kayu bahkan ada pengaman diujungnya dan kemana perginya pajangan kaca mu yang indah itu?


dan karpet bulu mu ini bahkan bergambar bunga matahari, bunga kesukaan Haikal... ayolah kak jangan mengelak hm" Mahendra mulai mengejek sang kakak, dia tau dengan pasti jika Ganesha sangat menyayangi Haikal.


"Bicara lagi ku buat kau bungkam selamanya" Ganesha.


Mahendra hanya tertawa dan kemudian beranjak dia melihat ke sekeliling. Mahendra membuka tirai jendela membuat cahaya lebih banyak masuk.


"Kenapa kau masih di Indonesia kak?" Mahendra.


"Aku hanya sedang istirahat, Amerika terlalu melelahkan untukku" Ganesha.


"Pembohong... kau memilih tetap di Indonesia karena kau tidak mau meninggalkan keluarga mu kan?" Mahendra.

__ADS_1


Ganesha terdiam karena yang dikatakan adiknya adalah benar. Ganesha tersentuh oleh ucapan Haikal beberapa hari lalu dia banyak merenung dan akhirnya diam diam memilih memindahkan pusat perusahaannya ke Indonesia dan perlahan menarik diri dari dunia Mafia.


"Kak aku tau kau menyayangi Haikal, dengar kak anak itu bukan anak bodoh dia bisa membaca tatapan mata orang lain... jika kau mencintainya maka lepaskan kegelapan mu dan mulai semua dari awal bersama kami" Mahendra.


''Dunia mafia tidak seindah dunia bisnis Hen, kau kira melepaskan diri dari organisasi semudah menang tander? Selama ini aku hidup didua dunia yaitu dunia Mafia dan dunia bisnis... karena aku tidak mau lebih masuk lagi digelapnya dunia mafia" Ganesha.


"Apa kau juga terlibat perdagangan manusia kak?" Mahendra.


"bukankah bohong jika aku bilang tidak" Ganesha.


"Jika seandainya anak yang di jual itu adalah Haikal bagaimana perasaan mu kak? apakah kau akan tetap menjualnya?" Mahendra.


Seketika Ganesha terdiam dan menatap gelang yang diberikan oleh Haikal. Senyuman manis keponakan kecilnya itu muncul dibenaknya.


"Tidak akan ada yang melakukan itu Mahendra... karena siapa saja yang berani menyentuh atau melukainya akan ku bunuh didetik itu juga" Ganesha.


Mahendra tersenyum dan berbalik menatap sang kakak.


"Berhentilah... aku akan mendukung mu, keluar dari dunia gelap itu dan hiduplah diterang bersama kami Haikal juga membutuhkan mu" Mahendra.


Haikal terlihat sibuk didapur membuat makanan yang akan dia bawa ke kantor Mahendra sore ini. Dari William dia tau sang ayah akan pulang malam karena itu dia ingin mengantarkan makanan.


Saat makanan sudah siap dia berangkat ke kantor sang ayah di temani oleh William dan Zaky. Saat sampai dikantor salah satu karyawan mengatakan jika Mahendra sudah pulang sejak dua jam lalu.


*Drrrt


"Hallo nak?" Mahendra.


"Papa dimana? Kala dikantor pah tapi kata salah satu karyawan papa udah pulang" Haikal.


"Kenapa kau tiba tiba dikantor nak? apa ada yang salah dirumah?" Mahendra.


"Tidak pa Kala ke kantor karena mau mengantarkan makanam, kata kak William papa akan pulang terlambat Kala takut papa lupa makan" Haikal.


"Tunggu papa disana papa akan menjemput mu" Mahendra.


"Iya pa" Haikal.


Setelah telpon diakhiri Mahendra kembali menatap Ganesha.

__ADS_1


"Mau pulang bersama?" Mahendra.


__ADS_2