
Haikal menunggu dengan duduk disalah satu sofa yang ada dilobi kantor Mahendra. Dia terlihat bosan jadi memainkan ponselnya, Haikal memang tidak menggunakan baju formal dia hanya memakai hoodie berwarna putih dengan celana jeans panjang yang terlihat sedikit longgar padanya.
"Siapa sih itu gak jelas banget" Ucap salah seorang karyawan baru dikantor itu.
"Iya aneh banget mau nongkrong apa gimana sih, samperin aja yuk" Sahut teman disampingnya.
kedua karyawan baru itu duduk didepan Haikal. Tapi Haikal mengabaikan mereka dan fokus menatap ponselnya.
"Hei disini tu kantor bukan tempat nongkrong!" Bantak wanita itu pada Haikal.
Haikal menatap wanita itu sinis dan melihat id card yang tergantung disaku baju kedua orang itu disana tertulis nama Halwa dan pria disampingnya bernama Joe. Haikal kemudian kembalk fokus ada ponelnya.
"Woy denger gak sih diajak ngomong gak sopan banget!" Bentak Joe membuat Haikal terkejut.
William langsung ingin bertindak tapi Haikal menahan tangan William.
"memangnya apa salahnya duduk disini? ini kan area santai?" Haikal.
"Heh ini itu area santai untuk orang kantor bukan buat bocah gak ada kerjaan kayak kamu, kalo mau gaya gayaan mending sana ke lobi mall" Halwa.
"Kalian karyawan baru ya dikantor ini?" Zaky.
"Iya! Terus kenapa kalau kita baru masalah?!" Halwa.
"Bisa bicara baik baik dan jangan berteriak? kau membuat telinga ku sakit" Haikal.
"Oh jadi penyakitan? pantesan kayak mayat hidup pucet gitu" Joe.
"Jaga bicara mu! kau sedang berhadapan deng-" belum sempat Zaky melanjutkan kalimatnya Haikal menahan tangan Zaky.
"Apaan sih gaje! Asal kalian tau ya aku bisa aja bikin kalian di usir dari sini! kakak ku itu manager disini!" Joe.
Mendengar itu Haikal langsung beradu tatap dengan Zaky dan William.
"Kalau kakak mu manager disini apa hubungannya dengan mu? kau kan tetap karyawan disini" Haikal.
"Ya jelas ada hubungannya lah! karena kakak ku manager disini jadi aku yang berkuasa disini" Joe.
"Kak Febi anak direktur disini tapi dia tidak sesombong kalian" Haikal.
"Kok dia bisa kenal bu Febi sih? apa jangan jangan dia..." Halwa.
"Jangan jangan ini si gigolo sewaan tu janda kembang ahahaha" Joe tertawa seakan mengejek.
__ADS_1
"Jangan melewati batasan mu atau kau akan menyesal" Haikal.
"Menyesal kenapa? emangnya lo siapa? gembel aja belagu! kalau emang punya duit sana nongkrong diresto kantor nongkrong kok dilobi kantor orang dasar gak tau malu" Halwa.
"Ini bukan kantor orang lain buat ku" Haikal.
"Terus kantor siapa?! kantor papa mu? Hahahaha" Joe dan Halwa menertawakan Haikal.
*Ting.
Haikal mendapat pesan dari Mahendra jika dia sudah sampai. Mahendra bergegas mencari keberadaan anaknya.
"Minta maaf" Haikal.
"Minta maaf ke siapa? ke lo? Cih amit amit" Joe.
"Kalian yang membuat masalah bukan aku, jadi kalian tanggung sendiri akibatnya" Haikal.
"Kala..." Mahendra memanggil Haikal dan langsung menghampiri sang anak.
"Kala jangan tiba tiba datang tanpa ngasih kabar dulu, gimana kalau tadi ada apa apa dijalan hm?" Mahendra.
"Kala datang sama kak Will dan kak Zaky jadi kala aman kok" Haikal.
"Pak Mahendra anda kenal dia?" Joe.
Seketika Joe dan Halwa beradu tatap keduanya sama sama mematung dan gemetar.
"Pa apa mereka karyawan baru?" Haikal.
"Iya nak mereka baru masuk minggu lalu" Mahendra.
"Pecat saja mereka pa, mereka tidak pantas ada dikantor kita... mereka masuk sini melalui jalur orang dalam karena kakak mereka manager sini, bukan hanya itu mereka juga menindas junior kantor dan staf lain..." Haikal.
"Bukan hanya itu Tuan mereka juga sudah merendahkan tuan muda dan berani membentak tuan muda" William.
"Beraninya kalian! Berani sekali kalian membentak putra ku! Kalian dipecat!" Mahendra naik pitam.
Kedua karyawan baru itu langsung berlutut dihadapan Mahendra.
"Orang yang tidak bisa menghargai orang lain, dan selalu merasa tinggi adalah orang yng akan jatuh dengan sangat menyakitkan" Haikal.
Mahendra dan Haikal berlalu pergi dari sana. Saat dimobil Mahendra menatap wajah Haikal dan diam diam tersenyum.
__ADS_1
"Papa kenapa liatin kala terus? kala jelek ya?" Haikal.
"No bukan itu... papa cuman bangga karena kala sekarang sudah bisa memahami apa yang paa ajarkan" Mahendra.
Haikal hanya tersenyum dan Mereka pun sampai dirumah. Haikal menuju meja makan dan menyajikan makanan untuk Mahendra.
"Papa mau makan atau mandi dulu?" Haikal.
"Eum mandi dulu saja" Mahendra kemudian menuju ke kamarnya untuk Mandi. setelah selesai mengajikan makanan dimeja makan Haikal berjalan ke arah jendela kaca.
Saat membuka tirai Haikal langsung disuguhkan pemandangan kolam renang dan taman kecilnya. Haikal membuka pintu kaca dan berjalan ditepi kolam renang.
"Om Ganesha?!" Haikal kaget saat melihat Ganesha berdiri didekat kursi santai kolam renang.
"Kenapa kau tidak suka aku disini?" Ganesha.
Haikal tidak menjawab dan langsung memeluk Ganesha.
"Kala tau om akan pulang... karena ini rumah om" Haikal.
"Kau tidak marah pada ku? bukankah aku sudah sangat kasar pada mu?" Ganesha.
Haikal melepaskan pelukannya dan menatap mata Ganesha.
"Kalau om benar benar membenci kala om tidak akan membentak kala, tapi om bisa saja langsung membunuh kala... tapi om tidak melakukan itu, kala tau om sayang kala" Haikal.
"Bagaimana jika aku tidak menyayangi mu?!" Ganesha.
Mendengar itu Haikal tersenyum dan berjalan mundur menjauh dari Ganesha. Saat Haikal terus berjalan mundur dan berada ditepi kolam renang hanya tinggal selangkah kali maka Haikal akan tercebur, Ganesha dengan panik menarik tangan Haikal ke pelukannya.
"Kala tau om sayang kala..." Ucap Haikal sembari membalas pelukan Ganesha.
"Bodoh! Bagaimana kalau kau terpeleset dan kepala mu terbentur lantai disamping kolam itu hah? kau mau masuk rumah sakit lagi?" Ganesha.
"Rumah sakit itu sudah jadi rumah kedua kala om, jadi kala tidak takut untuk kesana lagi" Haikal.
"Anak bodoh! anak nakal!" Ganesha mengeratkan pelukannya pada Haikal.
Mahendra melihat itu dari jauh dan tersenyum.
Mereka makan malam bersama setelah makan semuanya kembali ke kamar masing masing. Diam diam Haikal menyelidiki tentang organisasi Mafia yang mengikat Ganesha, dia menyadari jika organisasi itu cukup besar dan berkuasa diAsia.
"Pasti ada cara untuk melepaskan om Ganesha" gumam Haikal.
__ADS_1
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 04.22 dini hari yang artinya Haikal sudah begadang untuk mempelajari alur organisasi itu. tapi masalahnya dia belum menemukan jalan keluar apapun.
Haikal menutup situs itu dan mematikan laptopnya. Haikal kemudian berbaring ditempat tidur dan mulai terlelap, Mahendra heran biasanya Haikal akan bangun paling awal dan pergi ke halaman samping untuk memeriksa kura kura kecilnya tapi pagi ini Mahendra tidak melihat sang anak dari jendeka kamarnya yang juga ada dilantai dua.