
Haikal sudah sadar dan dia melihat Mahendra disampingnya. Haikal kembali terisak sembari menatap Mahendra, melihat itu dengan tersenyum lembut Mahendra menghapus air mata Haikal.
"Kala sayang jangan nangis papa disini sayang" Mahendra.
"Papa hiks hiks pa kala gak nakal hiks hiks kenapa mereka jahat sama kala? hiks hiks" Haikal bertanya dengan polosnya.
Mahendra hanya bisa mengusap wajah sang anak yang masih bengkak dan dipenuhi luka lebam pelan sembari meneteskan air mata.
"Kala jangan pikirkan itu nak sekarang kala istirahat biar cepat sembuh" Mahendra.
"Tapi hiks hiks hiks badan kala sakit pah hiks kaki kala juga sakit banget hiks hiks papa sakit pa" Tangisan Kala sangat memilukan dan menyayat hati Mahendra.
tidak tega dengan keadaan sang anak Mahendra menekan bel darurat. Hendery datang dan kembali menyuntikan obat pereda rasa sakit kepada Haikal, selain itu Hendery juga menyuntikan vitamin di infus Haikal karena saat ini Haikal belum bisa makan apapun jadi asupan gizi dan vitaminnya dibantu lewat infus.
"papa... papa" dalam keadaan setengah sadar setelah disuntik Haikal terus memanggil Mahendra padahal saat ini Mahendra ada disampingnya.
"Papa disini sayang... Kala anak kuat, anak hebat, anak sehat... kala jagoannya papa hiks hiks kala yang kuat ya sayang" Mahendra tak kuasa menahan tangis saat menggengam tangan sang anak.
Sementara itu Ganesha masih menonton anak anak itu dihajar habis habisan oleh anak buahnya. Ganesha kemudian menghampiri ayah Bima.
"Anak mu berani menyentuh bahkan menyakiti pewaris keluarga Wijaya, ini adalah balasan yang harus dia terima" Ucap Ganesha dengan senyum smirk nya yang khas.
"Danis!" Ganesha.
"iya tuan?" Danis.
"Menurut mu bagian mana yang harus aku potong dari bajingan cilik itu? lidahnya? telinganya? jarinya? atau... masa depannya?" Ganesha bertanya dengan tersenyum lebar kepada Danis.
"Menurut saya lidahnya tuan dengan begitu dia tidak akan bisa mengucapkan kata kata yang buruk lagi" Danis.
"tidak tuan jangan saya mohon jangan tuan, kasihani anak saya tuan" Ayah Bima memohon hingga berlutut dikaki Ganesha.
"Kasihan? apa anak mu itu punya rasa kasihan saat menyiksa keponakan ku? apa dia punya rasa kasihan saat keponakan ku bersimbah darah?! kau mendidik anak mu dengan salah, jadi sekarang biarkan aku mendisiplinkan anak mu" Sahut Ganesha yang kemudian menghampiri Bima.
Ganesha menarik Rambut Bima kasar dengan dibantu oleh anak buahnya Ganesha benar benar memotong lidah Bima dihadapan ayah dan juga teman temannya. Bima menjerit kesakitan tapi Ganesha malah tertawa puas.
__ADS_1
"ARGH! GHRHHH!" Bima.
"HAHAHAHA Danis lihatlah dia berteriak... aku suka" Ucap Ganesha dengan tersenyum menyeringai.
Danis yang sudah sangat mengenal kegilaan tuannya itu hanya ikut tersenyum. padahal dia sangat mual dan jijik melihat kesadisan tuannya itu. Seakan tidak cukup sampai disitu Ganesha menggunting lidah Bima hingga terpotong kecil kecil dan memberkannya pada anjing.
Untungnya saat itu semua siswa sudah pulang kecuali Bima dan teman temannya yang sengaja diseret kembali ke sekolah oleh William dan anak buahnya. Mereka jadi tau jika Bima dan anak anak itu adalah pelakunya setelah memeriksa cctv.
Sedangkan ayah Bima dia dijemput oleh Zaky secara khusus agar melihat apa yang akan terjadi pada putranya. setelah puas dengan pembalasan yang mereka lakukan Ganesha membawa anak buahnya untuk pergi dari sana.
"Blokir akses jalan ke sekolah ini dan buka setelah satu jam kedepan, biarkan mereka menikmati rasa sakit itu sebelum bantuan datang... jika bisa bertahan dan selamat mereka sangat beruntung dan akan bermain dengan ku lagi nanti
tapi jika tidak selamat artinya malaikat maut juga ingin bermain dengan mereka" Ucap Ganesha sembari menatap Bima yang sekarat dengan bersimbah darah.
Kondisi Haikal membaik tapi dia masih sering kesakitan. Bahkan setelah beberapa hari berlalu Haikal masih belum bisa menggerakan kakinya karena sangat sakit.
"Pah kala laper..." Haikal.
"Papa suapin ya... ayo aa..." Mahendra menyuapi Haikal dengan bubur yang disiapkan oleh rumah sakit, bubur itu sangat cair tapi mau tidak mau hanya itu yang bisa dimakan Haikal saat ini.
"Pa udah... tenggorokan kala sakit" Haikal meringis kesakitan membuat Mahendra khawatir.
Setelah minum Haikal sudah tidak mau makan lagi dan memilih untuk tidur. Wajah Haikal sudah kembali normal dan tidak bengkak lagi tapi luka lebam itu masih ada yang paling parah adalah dipipi kirinya.
*Ceklek
"Kala sudah baikan?" Ganesha baru saja datang.
"Iya kak tapi dia masih lemas... makan pun hanya satu suap terus berhenti karena kesakitan" Sahut Mahendra dengan suara berat seakan menahan tangis.
Ganesha memegang pundak sang adik untuk menguatakannya.
"Sabar Mahen ini baru tiga hari... wajar kalau dia masih merasa kesakitan, percayalah sebentar lagi dia akan sembuh" Ucap Ganesha menguatkan Mahendra.
Semalaman Mahendra tidak tidur dia menjaga Haikal yang tiba tiba demam tinggi dan terus memanggil namanya. Hendery bilang ini biasa terjadi dan tidak perlu khawatir.
__ADS_1
"Papa hiks hiks papa jangan pergi kala ikut papa hiks papa Mahen jangan pergi kala ikut" Haikal masih terus mengigau walau demamnya sudah sedikit membaik.
Mahendra duduk ditempat tidur Haikal dan memeluknya. setelah itu barulah Haikal bisa tertidur pulas dan tidak mengigau lagi. Saat pagi Haikal terbangun dan masih didalam pelukan Mahendra.
"Sayang sudah bangun? anak papa pinter banget tadi malam bobok nya" Mahendra menyambut sang anak yang baru bangun dengan senyuman.
"Papa semaleman meluk kala?" Haikal.
"Iya..." Mahendra.
"Tapi dimimpi kala papa ninggalin Kala..." Haikal.
"Itu cuma mimpi nak ini buktinya papa disini lagi meluk kala" Mahendra.
"Hehehe iya... papa kan gak akan pernah ninggalin kala" Haikal tersenyum dan kembali memeluk Mahendra.
"Wah ponakan om udah bangun nih... ni om bawain boneka beruang kesukaan mu" Ganesha memberikan hadiah boneka beruang kepada Haikal dan dengan senang hati Haikal mengambil boneka itu.
"Pah liat bonekanya lucu..." Haikal.
"bilang apa sama om" Mahendra.
"Makasih om hadiahnya" Haikal.
"Sama sama anak pintar..." Ganesha lega karena Haikal sudah bisa tersenyum lagi.
"Kala masih ada yang sakit nak?" Mahendra.
"udah baikan pa tapi kaki kala masih sakit, sama perut kala agak nyeri dikit..." Haikal.
"Kepala kamu gimana masih sakit?" Mahendra.
"enggak pah... eum pa kala pengen makan yang enak kala gak mau makan bubur hambar lagi pah" Haikal.
"Ya udah nanti papa masakin buat kala... sekarang papa mau ambil air hangat terus ngelap badan kaka ya" Mahendra.
__ADS_1
"Iya pa" Haikal.
Mahendra beranjak dan mengambil air hangat dan sapu tangan kemudian mengelap badan Haikal dengan sangat hati hati. Mahendra juga menggantikan baju Haikal dengan baju yang bersih.