HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Keberanian.


__ADS_3

"kalian melukislah aku akan jadi asisten yang baik hari ini" Ganesha.


"Baiklah kalau begitu tolong bawakan kami minum ya asisten" Haikal.


"Kau-... baiklah tuan muda hari ini aku akan melayani kalian" Ganesha hanya bisa pasrah dengan tingkah jail dua orang yang kini ada dihadapannya.


Ganesha pergi untuk mengambilkan minuman sedangkan Haikal dan Qian masih lanjut melukis.


"Kak apa kau pernah dengar tentang organisasi mafia yang terlibat dalam perdagangan manusia dan barang illegal?" Haikal.


"Aku pernah dengar tentang itu tapi jujur aku tidak tau banyak, yang aku tau organisasi itu bersifat mengikat semua anggotanya dengan perjanjian nyawa...


artinya bila sudah tergabung dalam organisasi itu maka tidak akan bisa terlepas kecuali mati. mereka yang mau bergabung biasanya adalah mereka yang terlilit hutang, perlu biaya besar, atau mereka yang dijebak" Qian.


"Dijebak?" Haikal.


"Benar... contohnya seperti di iming imingi akan dibantu dalam membangun usaha, diberi suntikan dana agar tidak bangkrut, atau bisa juga ditipu untuk membuat kontrak dalam keadaan tidak sadar seperti mabuk contohnya" Qian.


Mendengar itu Haikal terdiam.


"Apa jangan jangan paman Ganesha juga dijebak? tapi bagaimana bisa dia orang yang cerdas dan selalu hati hati dalam bertindak, aku harus bertanya padanya nanti" ucap Haikal dalam hati dan kemudian kembali fokus pada lukisannya.


Ganesha datang membawa minuman dan beberapa cemilan untuk mereka. Qian dan Haikal melukis pemandangan senja yang indah dengan kesatuan warna yang sangat cantik.

__ADS_1


"Kau sangat pandai melukis..." Qian.


"kau juga kak... lukisan ini tidak terlihat seperti dilukis oleh dua orang, semua warna dan garisnya menyatu tanpa ada celah" Haikal


"Aku suka bisa melukis dengan seorang teman..." Qian.


"Aku juga" Haikal.


saat mereka sedang melihat hasil lukisannya Mina tiba tiba datang.


"Tuan ada tamu" Mina.


"Siapa?" Ganesha.


"Kenapa kalian biarkan wanita itu masuk ke dalam rumah ini!?" Ganesha.


"Maaf tuan dia memaksa masuk dan mengancam akan membuat keributan jika tidak di izinkan masuk" Mina


"Biarkan saja, aku akan menemuinya" Haikal.


Haikal kembali ke rumah untuk menemui Winda. Jika dulu Haikal akan menghindari Winda karena takut, tapi sejak kematian Mahendra dan William membuat Haikal banyak berubah bahkan saat ini dia tidak takut lagi pada Winda.


"Kenapa kau datang ke rumah ku" Haikal.

__ADS_1


"Wah kau masih bisa ya menjadi tuan muda disini padahal ayah angkat mu itu sudah mati!" Winda.


"Katakan apa mau mu dan pergilah atau kau mau aku usir?" Haikal.


"Wah kau sekarang jadi sangat berani rupanya kau tidak ingat kalau dirimu itu hanya sampah yang dipungut oleh ayah angkat mu dan dijadikan pangeran hah!?" Winda.


"aku tidak punya waktu untuk bicara dengan hewan, kalau kau tidak punya urusan lain disini segeralah pulang ke kebun binatang sana" Haikal.


"KAU!" Winda ingin menampar Haikal tapi Qian mencengkram tangan Winda dan menghempaskannya.


"Jauhkan tangan mu darinya, jika ingin bicara lakukan baik baik dan jangan gunakan kekerasan!" Qian.


"Wah ada sampah baru disini, tempat ini lebih terlihat seperti tempat sampah dari pada rumah" Winda.


"Kaulah yang sampah! orang yang tidak punya hati seperti mu adalah sampah dunia yang harusnya dimusnahkan" Qian.


"Dasar jal-" Winda


*PLAK!


Belum sempat Winda melanjutkan kalimatnya Qian menampar wajah Winda sangat keras sampai membuat Haikal kaget.


"Jika kau berani melanjutkan kalimat mu barusan maka aku juga akan melakukan yang lebih dari ini!" Qian menatap Winda tajam.

__ADS_1


__ADS_2