
Haikal terbangun dan melirik ke arah jam dinding yang ada Diruangannya. Jam menunjukan pukul 12. 30 siang, Mahendra yang melihat Haikal bangun langsung menghampiri sang anak dan mengusap tangan Haikal lembut.
"Sayang Kala sudah bangun? kala mau apa nak?" Mahendra bertanya dengan sangat lembut.
"Pah..." Haikal hanya menjawab lirih dengan satu kata itu sembari menggengam tangan Mahendra.
"Kala masih pusing? kepalanya sakit?" Mahendra kembali bertanya dan Haikal hanya mengangguk pelan.
"Sudah jangan dipaksakan... kala harus banyak istirahat" Mahendra mengusap lembut tangan Haikal tapi tiba tiba Haikal melepaskan tangan Mahendra.
"Kenapa nak? tangan kala sakit?" Mahendra bingung tapi Haikal hanya menggelengkan kepalanya Mahendra ingin menyentuh pipi Haikal tapi Haikal menghindari Mahendra.
"Kala kenapa? kenapa kala takut sama papa?" Mahendra menyadari dari tatapan mata Haikal menunjukan rasa takut dan seolah berkata jangan menyentuhnya.
"Haikal ini papa sayang... kenapa kala tkut sama papa nak?" Mahendra bertanya dengan suara lembut Haikal hanya diam dan tiba tiba menangis tanpa suara sembari menatap Mahendra.
"Jangan menangis sayang... okay gak apa apa kalau kala gak mau papa sentuh tapi kala jangan menangis ya" Mahendra sangat sedih melihat Haikal seperti ini tapi dia berusaha untuk kuat.
saat jam pemeriksaan tiba Hendery kesulitan memeriksa Haikal karena Haikal terus menolak untuk disentuh. Mau tidak mau Hendery memberikan suntikan obat penenang dengan dosis rendah yang akan membuat Haikal tertidur selama satu hingga dua jam.
"Dokter Haikal kenapa? kenepa dia juga takut pada ku?" Mahendra.
"Tuan Mahendra efek dari sebuah trauma itu tidaklah main main... saat ini Haikal mengalami trauma berat bukan hanya atas apa yang baru terjadi tapi juga karena apa yang menimpa dirinya sebelum anda mengadopsinya...
Saya harap anda bisa bersabar dengan sikap Haikal. Dekati dia secara perlahan seperti anda pertama kali mengenalnya, ini mungkin sulit tapi percayalah dia tetap Haikal anak anda yang membutuhkan kasih sayang dan kehadiran anda disampingnya" Hendery.
Setelah menjelaskan semua itu Hendery pergi dari ruangan Haikal. Mahendra menghela nafas berat dan berusaha menahan air matanya, Mahendra kemudian menyelimuti Haikal.
"papa akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu sayang, papa tau ini berat untuk Kala tapi jangan khawatir nak papa tidak akan pernah meninggalkan kala karena papa sayang sama kala" Mahendra berucap didekat telinga Haikal yang masih belum sadar dengan harapan sang anak mendengar dirinya didalam tidurnya.
__ADS_1
Haikal kembali terbangun dan melihat Mahendra yang sedang duduk disofa sedang menyusun buah buahan untuknya. Mahendra yang melihat Haikal bangun segera menghampiri sang anak dan ingin memeluknya tapi refleks Haikal mendorong Mahendra.
"Hiks hiks jangan sakitin kala hiks hiks Kala takut" Haikal kembali menangis.
"papa tidak akan menyakiti Kala nak... papa sayang sama kala" Mahendra berdiri agak jauh dari Haikal agar sang anak merasa lebih baik.
"Hiks hiks hiks Kala takut pa hiks kala takut" Haikal menatap Mahendra dengan berderai air mata melihat itu hati Mahendra benar benar terluka.
Mahendra perlahan mendekati sang anak dan berdiri disamping Haikal.
"Kalau kala masih takut sama Papa tidak apa apa nak, tapi izinkan papa merawat kala... kala jangan begini nanti kala tidak sembuh sembuh" Mahendra berucap dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Tapi Kala takut pah hiks hiks kala tidak mau disakitin lagi hiks hiks sakit pa semua badan kala sakit, kala tidak mau" Haikal.
"Iya sayang iya... papa hanya akan merawat kala papa janji tidak akan menyentuh kala tanpa izin kala dan sampai kala tidak takut lagi sama papa" Mahendra.
Haikal hanya terdiam hati Mahendra benar benar hancur rasanya saat mengatakan hal itu. Anaknya sendiri anak yang dia perjuangkan dan dia cintai kini takut padanya bahkan tidak mau disentuh olehnya.
Haikal sudah membaik dan kakinya juga sudah bisa mulai digerakan. tapi ketakutannya belum menghilang sama sekali.
"Kala papa punya hadiah buat kala... ini" Mahendra memberikan Hadiah itu pada Haikal tapi Haikal menghindarinya.
Mahendra yang melihat itu tersenyum hambar dan meletakan kotak Hadiahnya diatas nakas samping tempat tidur Haikal.
"Papa taruh sini ya... ini untuk kala" Mahendra.
Mahendra kemudian kembali duduk disofa yang agak jauh dari Haikal. perlahan Haikal mengambil kotak kado itu dan membukannya ternyata itu adalah sebuah kalung dengan inisial H&M.
"Kalung itu papa pesan khusus untuk Kala, H artinya Haikal dan M untuk Mahendra... kala suka?" Mahendra.
__ADS_1
Haikal hanya mengangguk dan memasukan kembali kalung itu ke dalam kotaknya. Mahendra hanya diam karena jika dia bertanya lagi dia tau Haikal tidak akan menjawab dan hanya akan menangis.
"Kaki kala sudah bisa bergerak?" Mahendra bertanya dengan lembut Haikal hanya mengangguk pelan.
"Papa bantu kala mengelap badan ya?" Mahendra.
Haikal dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan raut wajah takut dan cemas.
"Papa cuma bantu kala ngelap badan terus ganti baju, papa janji tidak akan sentuh kala lagi habis itu" Mahendra.
"Kala kalau gak dilap dan ganti baju nanti badannya gatel terus iritasi... boleh ya nak? cuma sebentar kok" Mahendra.
Setelah beberapa kali dibujuk akhirnya Haikal mengangguk. Dengan lembut dan telaten Mahendra mengelap dan menggantikan baju Haikal meski beberapa kali Haikal seperti ketakutan dan sempat berontak saat Mahendra menyentuhnya.
"Nah udah selesai sekarang papa mau naruh baju kotor kala ke keranjang cucian dulu, biar nanti sekalian dibawa Bi Mina ke laundry deket sini" Mahendra.
Haikal menatap Mahendra nanar dia ingin memeluknya tapi dia juga takut. rasa sakit dan ketakutan itu mencekam hati Haikal dan membuatnya tidak bisa tenang.
Haikal makan bubur buatan Mahendra tapi hanya beberapa suap saja karena tenggorokkannya baru membaik. Haikal menatap kotak kado berisi kalung yang tadi dia pegang.
"Kala sayang sama papa tapi kala takut pa, kala takut" Haikal berucap dalam hati.
Mahendra hanya bisa menatap Haikal dari jauh. Dia sangat merindukan sang anak dan ingin memeluknya tapi dia juga tidak bisa memaksa karena saat ini mental Haikal masih kacau.
"Kala mau gambar? tadi om Arif bawain buku gambar Kala kesini" Mahendra.
Haikal mengangguk pelan, melihat itu Mahendra langsung mengambilkan buku gambar dan pensil untuk Haikal.
"Ini buku gambar dan pensilnya... kalau kala perlu sesuatu langsung saja kasih tau papa, papa mau kerja dulu ya" Ucap Mahendra yang lagi lagi hanya dijawab oleh anggukan kecil Haikal.
__ADS_1
Mahendra duduk disofa dan mulai berkerja didepan laptopnya. Sesekali Mahendra akan mellihat ke arah sang anak untuk memastikan keadaannya.