
Saat ditepian pantai Haikal melihat wajah khawatir Ganesha. Sesaat Haikal terdiam dan menatap wajah Ganesha dengan seksama.
"Apa kau kedinginan?" Ganesha.
"Tidak..." Haikal.
"Kala jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi, kau harus hidup dengan baik jangan mencoba mengakhiri hidup mu lagi" Ganesha.
Ganesha memberikan sebuah belati pada Haikal.
''Jika kau marah atau membenci ku maka bunuh lah aku, jika kematian ku bisa membuat mu bahagia dan melupakan kesedihan mu maka lakukan saja! Aku tidak akan melawan" Ganesha.
"Aku tidak akan membunuh mu... jika aku melakukan itu lalu apa bedanya aku dan diri mu? bukankah artinya aku sama dengan mu? sama sama bajingan" Haikal.
Mendengar itu Ganesha hanya bisa pasrah.
"Kau berhak mengatakan itu nak, aku memang bersalah" Ganesha.
"Aku mau pulang" Haikal.
"Baiklah'' Ganesha.
__ADS_1
''Kenapa buru buru? aku membawakan kalian es krim" Qian tiba tiba saja datang dengan membawa kantung plastik berisi es krim.
"Dari mana kau tau kami disini?" Ganesha.
"Tadi pagi aku datang ke rumah kalian untuk menjenguk Haikal tapi kata penjaga rumah kalian sedang ke pantai, satu satunya pantai terbaik yang aku tau ya disini... jadi aku hanya menguji keberuntungan ku" Qian.
"Jangan menganggap pertemuan kita sebagai keberuntungan kau akan menyesal nanti" Haikal.
"Kenapa aku akan menyesal?, aku senang bertemu dengan mu karena aku jadi merasa punya teman" Qian.
"Teman? jangan katakan itu karena semua teman ku berakhir dengan buruk" Haikal.
"benarkah? apa aku juga akan berakhir buruk?" Qian.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak keberatan berakhir buruk asalkan kita bisa berteman" Qian.
"Kenapa kau ingin berteman dengan ku?" Haikal.
"Karena hanya kau yang menatap ku dengan tatapan yang indah tanpa rasa jijik, semua orang bilang aku ini menjijikan dan pembawa sial terutama untuk keluarga ku...
Hanya kau orang yang berbicara dengan baik tanpa menghina ku atau menatap ku dengan aneh. Haikal aku membawakan banyak es krim, kau mau?" Qian.
__ADS_1
Haikal tersenyum dan mengambil satu es krim rasa coklat. Qian membukakan es krim itu dan memberikannya pada Haikal. Ganesha mengajak Qian untuk sedikit menjauh dan berbicara empat mata.
"Makanlah pelan pelan..." Qian
Ganesha senang karena akhirnya Haikal mau bisa tersenyum kembali meski pun itu bukan karenanya.
"Terimakasih, kau membuatnya tersenyum lagi" Ganesha.
"Sebenarnya aku dan dia tidak jauh berbeda, kami sama sama terluka oleh takdir... dan mungkin karena itu juga Haikal dan aku bisa saling memahami" Qian
"apa kau sibuk?" Ganesha.
"Eoh? ehm iya aku seorang fotografer" Qian.
"Apa kau mau bekerja dengan ku? aku menggaji mu tinggi" Ganesha.
"Maaf tuan aku tidak bisa, aku menyukai pekerjaan ku saat ini karena menjadi fotografer adalah mimpi ku" Qian.
"Aku akan menggaji mu dua puluh juta sebulan, atau lima puluh juta?" Ganesha.
"Tuan Ganesha anda memang memiliki banyak uang tapi anda tidak akan bisa membeli impian ataupun kebahagiaan ku" Qian.
__ADS_1
''Tidak tidak bukan itu maksud ku, aku hanya ingin kau menjadi pengasuh Haikal dia terlihat nyaman saat bersama mu...
Dia membenci ku setiap kali dia bersama ku dia tidak pernah bisa tersenyum. Aku tidak masalah jika dia membenci ku tapi aku tidak ingin dia kehilangan senyumannya, aku menyayanginya" Ganesha.