HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Bukan Salah Mu.


__ADS_3

Setelah puas bermain Haikal dan teman temannya memutuskan untuk istirahat dan menghampiri orang tua mereka masing masing. Haikal langsung memeluk Mahendra.


"Pah kala capek..." Haikal.


"Kala mau istirahat duluan ke kamar?" Mahendra.


"Eum... enggak deh pa kala mau sama papa aja" Haikal.


"Ya sudah kala duduk dulu disini nih minum dulu" Mahendra memberikan segelas jus kepada Haikal, dan dengan senang hati Haikal meminum jus itu.


Haikal melihat beberapa tamu ada yang menatapnya sinis tapi Haikal tidak mau ambil pusing dan mengabaikan mereka.


"Kala liatin apa sayang?" Mahendra.


"Ehm... enggak kok pa Kala cuman lagi liatin lampu itu bagus banget warnanya" Haikal tidak mau mengatakan yang sebenarnya karena takut jika Mahendra marah.


"Tuan Mahendra selamat malam" Ucap salah seorang tamu menyapa Mahendra.


Mahendra berdiri dan menyapa balik tamu itu. Dia adalah salah satu rekan kerja Mahendra bernama Ratna hubungan mereka tidak terlalu baik karena Ratna adalah salah satu pesaing yang suka bermain licik.


"Selamat malam nyonya Ratna" Mahendra.


"Maaf saya terlambat tadi ada meeting mendadak dikantor cabang jadi saya harus kesana dulu" Ratna.


"Tidak apa apa terimakasih sudah datang, dan perkenalkan ini Haikal putra saya" Mahendra.


Haikal beranjak dan memberikan salam kepada Ratna. Ratna menatap Haikal sinis dan itu membuat Haikal risih, sadar akan hal itu Mahendra memegang tangan Haikal dan sedikit menarik sang anak untuk berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


"Tuan Mahendra sepertinya saya pernah melihat anak ini... kalau tidak salah ah iya dipasar ikan yang ada dipinggiran kota, benar kan?" Ratna.


"Astaga tuan Mahendra anda mengadopsi anak pedagang ikan? dan sepertinya anak ini tidak begitu sehat emh... maaf ya tapi apa dia punya gangguan mental?" Sambung Ratna berucap merendahkan Haikal.


Perilaku Ratna ini cukup menarik perhatian para tamu dan banyak tamu mulai bergunjing tentang Haikal. Bahkan ada yang mengatakan jika Haikal hanya memanfaatkan Mahendra untuk mendapatkan uangnya, Haikal yang mendengar semua itu hanya bisa menunduk malu dan menangis.


"Kala lihat papa... jangan menangis sayang hm" Mahendra menghapus air mata Haikal dan memeluk sang anak.


"Anda benar Haikal adalah anak yang saya adopsi dari salah seorang pedagang ikan pinggir kota, dan anda juga benar anak saya istimewa... tapi perlu kalian ketahui anak saya Haikal memiliki IQ diatas rata rata anak normal pada umumnya dimana dia sangat genius dan itu diakui oleh para dokter dan juga guru disekolahnya...


Bukan hanya itu dia bahkan anak yang sangat tulus. Kepolosan dan kebaikan hatinya menyadarkan saya jika didunia ini masih ada ketulusan, kalian bisa berkomentar apapun tentang Haikal tapi jika ada yang menghina Haikal maka akan langsung berhadapan dengan saya" Mahendra.


"Papa..." Haikal.


"Anak adalah anugrah dari tuhan tidak perduli apa latar belakangnya dan siapa orang tuanya anak tidak berhak dihina atas hal itu... Haikal adalah anak saya meski kami tidak terikat oleh hubungan darah namun kami terikat hubungan hati.


Jika Disini ada yang ingin berdebat atau berurusan dengan saya, jangan pernah membawa nama Haikal atau saya bisa saja menghancurkan kalian dengan satu tangan" Sambung Mahendra memperingatkan.


"Astaga nenek tua... sebaiknya kau Pergi dan berkaca kau sendiri tidak punya suami ataupun anak bagaimana kau bisa berkomentar tentang adikku dan anaknya? Ku saran kan kau mengadopsi anak agar hidup mu berkah, bahagia, dan tidak kesepian" Ganesa tiba tiba muncul dan memberikan ucapan pedasnya untuk Ratna.


"Saya sih lebih memilih punya anak kandung dari pada anak angkat" Sahut Ratna ketus.


"Apa yang salah dengan anak angkat? anak angkat ataupun anak kandung adalah sama mereka adalah anugrah dari tuhan yang harus disayangi dan dijaga, hanya karena tidak memiliki ikatan darah bukan berarti mereka tidak berhak diperlakukan layaknya anak sendiri" Mahendra mulai naik pitam.


"Astaga tuan Mahendra anak angkat itu bukan keturunan sendiri tentu saja beda, apa bedanya anak angkat dengan anak pungut sama sama sampah" Ratna.


"Jaga mulut anda nyonya!" Hansen yang sejak tadi diam ikut emosi karena biar bagaimana pun kedua putra kembarnya Johan dan Jefan adalah anak angkat yang dia adopsi dari seorang pengemis dikorea saat mereka masih bayi.

__ADS_1


"Didunia ini tidak ada istilah anak pungut! Anak adalah anak yang sampah itu anda karena tidak bisa menghargai sesama manusia" Sahut Mahendra penuh amarah tapi dia berusaha untuk tidak lepas kendali dihadapan Haikal.


"Papa hiks hiks hiks maafin kala... kala bikin papa malu hiks hiks" Haikal.


"Anak angkat atau anak kandung sama sama berhak bahagia, jika anda tidak tau rasanya menjadi orang tua sebaiknya tutup mulut anda itu! Disini ada banyak anak kecil jangan sampai mereka melihat adegan kekerasan" Hansen ikut naik pitam terlebih saat ini mata anak kembarnya juga sudah mulai berkaca kaca.


"Kala tidak perlu minta maaf karena kala tidak salah, yang salah adalah betina ini..." Mahendra.


"Astaga nyonya Ratna anda cukup berani membuat pewaris perusahaan Wijaya menangis, apa anda tidak takut jika adikku memutuskan kerja samanya dengan mu?" Ganesa.


Ratna seketika terdiam senyuman penuh kepercayaan diri yang tadi dia tunjukan kini lenyap begitu saja. Mahendra melepskan pelukan Haikal dan mendekati Ratna.


"sebagai seorang wanita apa kau tidak pernah belajar cara untuk mencintai anak anak? tidak heran kau begitu kesepian... nyonya Ratna aku tidak suka membawa bawa masalah pribadi dalam urusan perusahaan tapi ku rasa kakak ku benar, aku harus mencabut investasi ku dari perusahaan mu" Mahendra.


"Keputusan yang tepat... tenang saja Mahen perusahaan ku akan jadi client baru yang menggantikan posisi perusahaan wanita ular ini, bekerja sama dengan perusahaan Ganesa jelas lebih menguntungkan perusahaan Wijaya benar, kan?" Ganesa.


Mahendra hanya tersenyum dan mengangguk. Sementara Ratna dia tidak bisa berkata kata dia hanya mematung karena tadi dia berniat mempermalukan Mahendra malah sekarang dia yang dipermalukan oleh Mahendra, Ganesa, dan Hansen.


Haikal memegang tangan Mahendra, dengan pelan Mahendra membawa Haikal ke dalam pelukannya.


"Kala jangan sedih ya, papa akan selalu menyayangi kala karena untuk papa Kala selalu sempurna" Mahendra.


"Haikal jangan pikirkan ucapan betina busuk ini, asal kau tau saja bagi Mahendra kau lebih berharga dari pada hidupnya sendiri... adikku ini memang bodoh dalam urusan hati tapi dia tidak bodoh dalam urusan melindungi anaknya" Ganesa.


Haikal tersenyum mendengar ucapan Ganesa, melihat itu Mahendra lega karena putranya tersenyum kembali.


"Dengar nak kau tidak bersalah dalam hal apapun jangan lagi meminta maaf karena sesuatu yang bukan salah mu, mengerti?" Mahendra.

__ADS_1


__ADS_2