
Haikal menceritakan semua yang terjadi kepada Mahendra, mendengar cerita sang anak Mahendra menangkup wajah Haikal lembut.
"Papa maafin kala ya pah..." Haikal.
"suht... papa sudah berulang kali bilang sama kala untuk jangan meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu lakukan" Mahendra.
"Tapi jaket ini sangat penting buat kala pa... perjuangan papa buat dapatin jaket ini yang bikin kala sedih waktu tau kalau jaketnya rusak" Haikal.
Mahendra memegang kedua tangan Haikal lembut.
"Jaket bisa dibeli, uang bisa dicari kala gak usah sedih lagi okay... sekarang kala mandi habis itu siap siap kita makan malam diluar" Mahendra.
"Pa boleh gak kita makan dirumah aja? kala capek banget pa" Haikal.
Melihat wajah sang anak yang benar benar lesu Mahendra pun mengangguk dan tersenyum
"Ya sudah kita makan dirumah... papa yang masak buat kala ya" Mahendra.
"Okay pa" Haikal.
Haikal yang sudah selesai mandi dan ganti baju menuju dapur ternyata Mahendra belum ada disana. Haikal duduk disalah satu kursi yang ada didapur dia teringat pada kenangan masa lalunya, dulu dia juga sering menemani Niko untuk memasak didapur.
Haikal melamun cukup lama Mahendra yang melihat itu segera menghampiri sang anak dan memeluk Haikal dari belakang.
"Lagi mikirin apa sih nak sampai ngelamun gitu?" Mahendra.
__ADS_1
"Gak ada kok pa... oh iya papa mau masak apa?" Haikal.
"ada deh pokoknya spesial untuk Kala" Mahendra.
"Iya deh... tapi Kala bisa bantuin apa nih biar papa gak terlalu Capek?" Haikal.
"Kala temani papa ngobrol aja, nanti pas makanan udah siap kita langsung makan sama sama" Mahendra.
"Papa yakin gak mau dibantuin sama Kala?" Haikal.
"Udah kamu duduk aja temani papa" Mahendra.
Mahendra pun mulai memasak ditemani Haikal. Saat itu Haikal fokus pada buku gambarnya sambil sesekali mengobrol dengan Mahendra dia tidak memperhatikan Mahendra sedang memasak apa.
"Kala... besok papa harus keluar negeri untuk urusan pekerjaan, mungkin agak lama sekitar satu minggu Kala..." Mahendra tidak melanjutkan kalimatnya karena ini adalah pertama kali dia akan meninggalkan Haikal biasanya dia akan mengajaknya tapi Karena Haikal sudah sekolah dia terpaksa harus meninggalkan sang anak dirumah.
Mahendra lega melihat itu karena artinya sang anak bisa memahami keadaannya. Mahendra melanjutkan memasak dan Haikal masih fokus pada gambarannya.
"Makanan udah siap... ayo makan" Mahendra menyajikan makanan didepan Haikal. Sejenak Haikal terdiam ternyata Mahendra memasak nasi goreng cumi seperti yang sering dimasakan Niko untuk Haikal.
"Kala kenapa melamun sayang? kala gak suka?" Mahendra bingung karena Haikal terdiam dengan wajah pucat.
"Ah enggak apa apa kok pah ayo kita makan" Haikal masih mencoba bersikap biasa saja. Mahendra duduk disamping Haikal mereka pun mulai makan.
Haikal sudah berusaha menahan dirinya tapi saat nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya Haikal langsung mual. Bukan karena rasa nasi goreng cumi itu sebab rasanya cukup enak, tapi karena ada perasaan takut, sedih, dan tertekan yang tiba tiba muncul saat Haikal berusaha memakan nasi goreng itu.
__ADS_1
Haikal langsung berlari ke kamar mandi terdekat dan memuntahkan semua isi perutnya. Mahendra menyusul Haikal dan memijat tengkuk Haikal pelan tapi teratur.
"Huwek! Uwek! uhuk uhuk" Haikal terus saja muntah hingga terbatuk batuk.
"Kala kamu kenapa nak? kala?" Mahendra panik karena Haikal terus muntah sampai akhirnya Haikal hanya memuntahkan air.
"Uwek! Huwe! Amph Uwek!" Haikal yang sudah lemas karena muntah terduduk dilantai kamar mandi. Mahendra langsung mengangkat Haikal ke dalam gendongannya dan membawa Haikal ke kamar, Mahendra juga menyuruh pelayan menelpon Hendery untuk segera datang.
Perlahan Mahendra membaringkan Haikal ditempat tidur lalu memegang tangan sang anak.
"Pah... Kepala ku sakit banget, aku juga mual pah" Ucap Haikal sembari memegang erat tangan Mahendra.
"Kala kenapa sayang? apa ada yang salah sama masakan papa? Kala sabar ya nak dokter sebentar lagi datang" Sahut Mahendra sembari mengusap punggung tangan sang anak.
Haikal yang lemas berusaha untuk duduk dibantu oleh Mahendra. Haikal menyandarkan dirinya kepada Mahendra.
"Pah kala takut..." Haikal berucap sangat lirih didalam dekapan Mahendra.
"Takut apa sayang? kala takut sama apa nak?" Mahendra.
"Kala takut kalau dibuang lagi..." Haikal.
"Kala papa gak akan pernah membuang kala, papa sayang sama kala nak... kala bertahan. ya dokter sebentar lagi datang sayang" Mahendra.
"Kala pengen Papa dan Haikal akan sama sama selamanya" Ucap Haikal lirih sembari menggengam tangan Mahendra.
__ADS_1
Tapi belum sempat Mahendra menjawab ucapan sang anak tiba tiba dia merasakan tubuh Haikal menjadi semakin lemas. Mahendra melihat Haikal untuk memeriksanya ternyata Haikal pingsan didalam dekapan Mahendra.