
William duduk didepan rumah kaca dan Haikal tiba tiba datang lalu memeluk William.
"Kakak udah malem kok gak bangunin kala sih?" Haikal.
"Kau tidur sangat nyenyak bagaimana aku tega membangunkan mu?" William.
"Kak lihat deh bintangnya banyak banget" Haikal.
"Tuan muda duduklah disamping ku" William berucap dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, Haikal pun menurut dan duduk disamping William.
"Katakan pada ku apa yang aku ajarkan pada mu saat pertama kali kita bertemu?" William.
"eum... waktu itu kakak bilang kala harus jadi anak yang berani, kuat, dan mandiri kala harus mencapai semua mimpi kala" Haikal.
"Apa mimpi mu tuan muda?" William.
Haikal beranjak dan berdiri didepan William.
"Kala pengen jadi orang sukses dan punya banyak uang terus bangun rumah yang besaaar... sekali untuk jadi rumah singgah orang orang yang tidak punya rumah" Sahut Haikal dengan penuh semangat dan meperagakan gambaran rumah singgah impiannya.
__ADS_1
"Boleh aku menitipkan satu mimpi? tapi kau harus mewujudkannya" William.
"Boleh... memangnya apa mimpi kakak?" Haikal.
William beranjak dan menatap anak yang jauh lebih pendek darinya itu. William kemudian memegang puncak kepala Haikal dan tersenyum.
"Aku ingin disetiap hari ulang tahun mu kau harus mengunjungi ku, bawakan bunga matahari untukku... kau pernah bunga matahari adalah lambang ketulusan, aku ingin kau menghadiahkan itu pada ku setiap tahun" William.
"Kak will aneh kita kan nanem bunga matahari banyak kenapa kakak gak ambil aja sendiri? kenapa kala yang harus bawain buat kakak?" Haikal.
"Tidak apa apa aku hanya ingin saja" William.
"Eum... okay deh" Haikal.
"Kala sudah waktunya makan malam ayo pulang" Mahendra berucap dengan nada agak memaksa.
"Sebentar pa kala mau main sama kakak bentar lagi" Haikal.
"Papa bilang pulang!" Mahendra mencengkram tangan Haikal dan menariknya kasar.
__ADS_1
Haikal hanya bisa menatap William yang kini tersenyum hambar kepadanya. Haikal bingung karena Mahendra biasanya tidak pernah bersikap seperti ini, biasanya dia akan membiarkan Haikal bersama dengan William tapi kali ini sikap Mahendra sangat dingin tidak seperti biasanya.
Saat sampai dimeja makan Haikal hanya duduk diam sembari memperhatikan wajah Mahendra dan Ganesha yang nampak serius.
"Pah kenapa papa tadi kasar sama kala?" Haikal.
Mendengar itu Mahendra terdiam sejenak.
"Mulai sekarang kala tidak boleh dekat dekat dengan William, sekarang Zaky akan menggantikan posisi William" Mahendra.
"Tapi kenapa pa? kak William kan baik" Haikal.
Mahendra hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan sang anak. Setelah selesai makan malam Haikal kembali ke kamarnya untuk belajar, tapi tiba tiba dia haus jadi dia turun kembali ke dapur untuk minum.
"Besok orang orang itu akan datang. Zaky kau bawa Haikal ke apartment ku, aman kan dia dan ingat jangan biarkan dia tau apapun" Ganesha.
"Baik tuan" Zaky.
"Aku berharap setelah semua ini selesai Haikal akan baik baik saja, dia pasti akan sedih jika tau William meninggalkan dirinya tapi kita juga tidak punya pilihan... semoga semuanya bisa baik baik saja" Mahendra.
__ADS_1
"Yang aku takutkan adalah bagaimana jika Haikal tau apa yang terjadi? dia pasti akan syok... semua ini salah ku" Ganesha.
"Sudahlah kak kita harus tetap melakukannya ini juga demi kebaikan Haikal" Mahendra.