HAIKAL MAU PULANG

HAIKAL MAU PULANG
Memilih Anakku.


__ADS_3

''Haikal membutuhkan perawatan intensif dia harus selalu dalam pengawasan dokter, untuk sementara jangan biarkan pasien kelelahan atau banyak pikiran istirahat adalah hal yang paling dibutuhkan pasien saat ini" Hendery.


"Baik dokter kami mengerti" Mahendra.


Mahendra masuk kembali ke rungan Haikal mendahului Ganesha. Haikal masih dalam keadaan sadar tapi sangat lemas, dokter sudah melepas alat medis yang tadi terpasang didadanya tapi dia masih menggunakan selang oksigennya.


"Kala... istirahat ya biar cepat sembuh sayang" Mahendra.


Haikal hanya mengedipkan matanya dan kemudian mulai tertidur. Mahendra tidak tega jika melihat Haikal seperti ini, dalam kurun waktu satu bulan Haikal sudah keluar masuk rumah sakit sebanyak tiga kali.


Mahendra sangat tertekan dia khawatir akan kehilangan Haikal. Mahendra mengusap tangan sang anak lembut berkali kali dia berusaha menahan diri agar tidak menngjs didepan Haikal.


Ganesha masih duduk dikursi tunggu yang ada didepan pintu ruangan Haikal. tiba tiba Ganesha dikejutkan dengan datangnya Karina.


"Mau apa kau?!" Ganesha.


"Aku mau jenguk Haikal kak, sekalian minta maaf karena udah kasar sama dia" Karina.


"Haikal hampir saja tiada karena mu, dan kau masih berani muncul dihadapan ku... besar juga nyali mu" Ganesha.


Mahendra yang mendengar ada keributan didepan kamar anaknya bergegas untuk memeriksa.


"Ada apa ini?" Mahendra.


"Nih teman baik mu yang hampir membunuh anak mu datang, sambut saja dia buat pesta sekalian untuk berterimakasih karena sudah menyakiti Haikal! Dia kan teman mu!" Ucap Ganesha sinis.


Ganesha pun masuk ke ruangan Haikal dengan marah. Melihat itu Mahendra sadar sang kakak saat ini sedang tidak bisa diajak bicara karena dia sangat marah.


"Untuk apa kamu kesini lagi Rin? belum puas kamu bikin anak aku kayak gini?! awalnya aku kira kamu berniat baik sama Kala tapi kamu malah bikin dia kayak gini" Mahendra juga sangat marah terlebih tadi dia melihat Haikal yang kesakitan.


"Maaf Hen aku gak maksud nyakitin kala, aku tadi cuma..." Karina.


"Cuma apa? kenapa gak dilanjutin hah? ternyata kamu sama saja dengan perempuan lain, kalian mendekati aku tapi kalian berusaha menyingkirkan anakku! biar aku perjelas sesuatu ke kamu Rin, aku memang tertarik sama kamu tapi aku lebih mencintai anakku!" Mahendra.


"Mahen dengerin aku dulu... aku serius Hen aku gak sengaja nyakitin kala, dan aku itu cinta sama kamu" Karina.


"Cinta? Cinta macam apa yang bisa merubah manusia menjadi iblis? hah?!" Mahendra.


"Kenapa sih kamu gak bisa ngertiin aku Hen? aku tu beneran cinta sama kamu" Karina berusaha memeluk Mahendra tapi dengan kasar Mahendra mendorong Karina.


"JAGA BATASAN MU KARINA! JANGAN SEPERTI WANITA MURAHAN!" Mahendra sangat marah dan masuk ke ruangan Haikal meninggalkan Karina begitu saja.


"Kala? hei sayang kala kebangun ya? papa berisik ya nak?" Mahendra.


"dia terbangun karena mendengar mu berteriak didepan pintu, lain kali jangan berdebat didepan pintu kamar Haikal dia jadi tidak bisa tidur" Ganesha.


"Kala tidur lagi ya sayang, anak pintarnya papa..." Mahendra mengusap kepala Haikal lembut hingga sang anak tertudur pulas.

__ADS_1


"Kak setelah Haikal sembuh aku akan persiapkan acara ulang tahunnya, dan aku akan mengganti nama Haikal" Mahendra.


"Mengganti nama? kenapa?" Ganesha.


"Aku mau nama keluarga Wijaya ada didalam nama Haikal, semua dokumen Haikal juga akan aku ubah dari akta, dan surat penting lainnya" Mahendra.


"itu ide bagus sekalian saja siarkan distasiun tv agar semua orang tau Kala adalah pewaris keluarga Wijaya, biar mereka tidak seenaknya pada kala" Ganesha, Mahendra mengangguk dan tersenyum.


Karina yang malu dan sedih dengan ucapan Mahendra berjalan pulang. Dia menangis sepanjang jalan hatinya sakit karena ditolak oleh orang yang dia cintai padahal dia baru saja berjuang untuk mendapatkan cintanya Mahendra.


Karina menuju ke rumahnya dengan berjalan kaki. Entahlah dia seakan jadi linglung dan meninggalkan mobilnya begitu saja diparkiran rumah sakit, semua orang dijalan terus menatapnya aneh karena dia menangis tersedu sedu sembari berjalan kaki.


Haikal bangun saat sore hari Mahendra menyuapi Haikal sup kesukaanya. Perlahan tapi pasti Haikal sudah mulai bisa tersenyum dan mau diajak bicara.


"Kala besok om mau beli kelinci kala mau juga gak?" Ganesha.


"Enggak ah om dirumah sudah banyak hewan kala pusing ngurusnya, ada ikan, ada kura kura, ada burung pipit juga" Haikal.


"Ya sudah kalau gitu buat om saja" Ganesha.


"Pah kala sudah kenyang" Haikal.


"Ya sudah... ini minum dulu" Mahendra.


Haikal minum dan kemudian kembali berbaring.


"papa sini deh peluk kala pa" Haikal sedikit bergeser dan menyuruh Mahendra untuk berbaring disampingnya.


"Kala kangen papa" Haikal.


"Papa juga kangen sama kala" Mahendra.


"Kala ngantuk pah..." Haikal.


"Jangan tidur sekarang ya nak kan tadi kala baru aja bangun tidur, nanti malem kala tkdak bisa tidur loh" Mahendra.


" Iya pa..." Hakal.


Hendery kemudian datang bersama seorang perawat.


"Haikal kita periksa dulu ya, tuan Mahendra boleh beri kami ruang?" Handery.


Saat Mahendra akan beranjak Haikal memeluk Mahendra erat.


"Papa disini saja" Haikal.


"Kala lepasin bentar ya, kan kala harus diperiksa... nanti setelah diperiksa papa akan peluk kala lagi" Mahendra.

__ADS_1


"Tidak mau... kala maunya papa disini saja, papa jangan pergi" Haikal.


"Tuan Mahendra tidak apa apa tuan, jangan dipaksa" Hendery takut Haikal akan menangis jika dipaksa.


Hendery agak kesulitan memeriksa Haikal karena dia tidak mau melepaskan pelukannya pada Mahendra. tapi setelah beberapa dicoba akhirnya berhasil juga.


"Kondisi Haikal sudah jauh membaik, tapi dia masih harus tetap dipantau tim medis... detak jantung Haikal melambat kemungkinan ada masalah pada jantungnya tapi jangan khawatir ini hanya masalah kecil dan akan baik baik saja setelah minum obat dan istirahat.


Kalau kondisi Haikal seperti ini terus besok Haikal sudah boleh pulang dan bisa istirahat dirumah" Hendery.


"Terimakasih banyak dokter, dan maaf merepotkan anda" Mahendra.


"Tidak masalah tuan... anak anak saat sakit memang akan jadi lebih manja dari biasanya, Vano juga sering begini sampai kadang kadang ikut saya ke rumah sakit hahaha" Hendery.


"Iya dok tapi ini pertana kalinya Kala semanja ini... biasanya dia tidak seperti ini" Mahendra.


"Papa saja yang tidak tau gimana sakitnya dada kala tadi, huh" Sebal Haikal memasang wajah masam.


"Hahaha iya maaf maaf sudah jangan ngambek sini papa peluk yang erat, hm anak papa sayang" Mahendra mengeratkan pelukannya pada Haikal.


"Kala infus dan selang oksigen sudah dilepas tapi kalau nanti tiba tiba kala merasa sesak harus langsung bilang agar bisa segera ditangani" Hendery.


"Iya om dokter" Haikal.


Hendery kemudian keluar dari ruangan Haikal untuk melanjutkan pekerjaannya. Haikal masih terus saja memeluk Mahendra sekan tidak mau lepas, Ganesha hanya tersenyum melihat itu.


*Drrt drrt drrrt.


"Halo?" Arif.


"Hm, baik saya mengerti akan saya sampaikan pada tuan Mahendra" Arif.


*Tut.


Setelah sambungan telpon terputus Arif masuk ke ruangan Haikal dan menemui Mahendra.


"Tuan ada pesan untuk anda" Arif.


"Pesan apa? dan dari siapa?" Mahendra.


"Pesan dari tuan Randy, ini mengenai nyonya Karina" Arif.


Mendengar nama Karina membuat Haikal yang awalnya tersenyum jadi murung. Perlahan Haikal melepaskan pelukannya dari Mahendra, tapi dengan cepat Mahendra memeluk kembali sang anak.


"Aku tidak mau dengar apapun isi pesannya, katakan saja pada tuan Randy aku saat ini sedang sibuk... kesehatan anakku jauh lebih penting dari pada apapun" Mahendra.


"Tapi tuan ini-" Arif.

__ADS_1


"Arif cukup saat ini aku tidak mau membahas apapun tentang Karina, kau boleh pergi" Mahendra.


Arif pun menuruti perintah tuannya itu dan tidak melanjutkan untuk menyampaikan pesan itu. Haikal tersenyum karena Mahendra kembali mementingkan dirinya dibandingkan hal lain.


__ADS_2