Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 18


__ADS_3

Zahira menghela nafas berat lalu duduk di ruang tunggu.


"Maafin Zahira nggak mampir" lirihnya terlihat sendu.


Ibu Zahira muncul menatap Zahira yang sedang duduk bersandar dan memejamkan mata.


"kamu mikirin apa Ra?" tanya ibunya.


Zahira tersenyum dan menggeleng pelan.


"nggak ada Bu, Ira cuma capek doang"


"kamu tidak mampir ziarah?" tanya ibunya.


"nggak Bu, nanti kalo ayah udah sembuh Ira nanti akan ke sana"


"Baiklah, ayo masuk ke dalam jangan duduk sendirian disini"


..."Jangan selalu menilai segala sesuatu yang terjadi hanya berdasarkan apa yang kita lihat ataupun yang kita dengar, karena kita tidak tahu apa sebenarnya terjadi. "...


...Nadia Safira....


***


Seminggu telah berlalu dan ayah Zahira sudah di bawa pulang oleh Zahira.


Seperti biasanya ia sudah kembali bekerja dengan Nadia dan Radit. seperti hari ini sekitar jam dua siang, Zahira, Radit dan Nadia tengah berkutat dengan laptop masing-masing.


Mereka sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Jadi hari minggu esok semuanya sudah di cetak dan di pasarkan novel mu Ra, tapi klo nggak keberatan pihak dari penerbit ingin mengadakan launching di royal plaza. klo bisa kamu hadir ya untuk memeriahkannya, sekali saja kamu hadir meski harus pakai masker"


Nadia menjelaskan dan memperlihatkan laptopnya yang berisi pekerjaan yang sedang mereka bahas.


Zahira tampak berfikir keras menimbang-nimbang apakah ia akan hadir atau tidak.


"Iya baiklah aku akan hadir"


Nadia tersenyum lebar mendengar Zahira akan datang.


"Oiya Ra, aku sama Nadia mauk ngambil cuti lima hari, kami ingin pulang dan membicarakan soal hubungan kami sama orang tua kita" kata Radit tanpa menoleh ke arah Zahira.


"Lamaran atau sekedar tunangan? " tanyanya tapi kemudian.


"Aku pikir kalian ingin membicarakan pernikahan. karena menurut ku lebih baik kamu menikah jadi meski kemana-mana sah-sah aja" jelasnya menatap Nadia.


"Kita tinggalkan ini, ayo keluar bicarakan ini di ruang tengah"


Nadia dan Radit mengangguk lalu mengikuti Zahira menuju ruang tengah.


"Jadi kalian ingin pulang untuk membahas pernikahan kalian? " tanya Zahira.


"Iya, barangkali kita dapat tanggal baik, kita bisa nikah nggak enak klo nggak ada ikatan yang halal"


"Aku setuju klo niat baikmu begitu, lagian nggak baik lama-lama begini, jadi nggak apa-apa klo kalian mau cuti untuk pulang, dan klo butuh apa-apa atau butuh bantuan ku tolong jangan sungkan ya, " Zahira menggenggam tangan Nadia seraya tersenyum.


"Kamu harus nginap di rumah pas acara nikahan aku ya"

__ADS_1


Zahira mengangguk kecil melihat sahabatnya itu akan segera menikah.


"Yah bakalan sepi deh rumahku" keluhnya pada Nadia. Radit dan Nadia hanya tertawa melihat ekspresi Zahira.


"Kan ada adikmu Ra


, orang tuamu sekarang tinggal disini, dan kita tiap hari pasti ketemu"


Zahira menatap jengah sahabatnya itu.


"Iya iya, aku mau cari asisten rumah tangga nih sebenarnya, tapi ibuku nggak mau"


"Cari aja orang yang bisa bantu-bantu perhari"


Zahira mengangguk menyetujui ide Nadia.


"Tentang filmnya gimana Nad? " tanya Zahira kemudian.


"Mungkin sebulan lagi Ra selesainya, karena masalah tempat syutingnya kan ngikutin yang ada di novel, jadi setelah syuting di bogor akan pindah ke Jepang karena melibatkan tempat-tempat di sana. dan iya untuk memastikan agar sesuai dengan novel mu kamu diminta ikut ke Jepang, ma syaa allah Ra kamu bisa sekalian libur!"


Nadia tampak antusias karena Jepang salah satu tempat yang ingin ia kunjungi.


"Kamu pengen ke Jepang? " tanya Zahira menatap Nadia yang tersenyum lebar.


"Nggak juga Ra, karena inginku sih pengen bisa lihat ka'bah meski ingin melihat bunga sakura di Jepang "


Zahira tertawa melihat Radit dan Nadia, ia bahkan tidak pernah mengajak mereka liburan ke luar negeri hanya selalu jalan-jalan jika ada pekerjaan.


"Kalian dua tahun lebih kerja bareng aku tapi aku belum pernah ngajakin kalian liburan ke luar negeri ya" tanyanya merasa bersalah.


Nadia menatap Zahira dan menggenggam tangannya.


"Bagi kita berdua semua hal yang kamu kasih ke kita tuh udah lebih dari cukup Ra. kamu udah bantuin kita, ngasih tempat tinggal, makan sepuasnya gratis, kuliahku kamu bayarin, tiap bepergian kamu selalu belanjakan kita, tiap butuh bantuan kamu selalu siap bantu dan tanpa perhitungan, semua itu bagi aku sama Radit udah berlebihan"


"Iya Ra, kamu udah baik banget ke kita, aku nggak bisa bayangin klo selama ini kamu nggak bantuin aku entah gimana jadinya dua adik aku yang masih sekolah. dari dulu sampek sekarang meski aku pinjem uang kamu nggak pernah potong gaji aku, bahkan kemaren saat aku bilang mau kredit motor kamu malah kasih percuma, dan kamu juga kasih kita hp yang harganya mahal"


Zahira tersenyum kecil.


"Dengar kalian sudah menemaniku selama dua tahun lebih, kalian selalu bersamaku saat aku sedang terpuruk kalianlah yang menemaniku"


Mata Zahira berkaca-kaca karena ingin menangis mengingat hal yang sudah menimpanya.


"Ra, bagiku kamu udah kek saudara bukan hanya teman, klo kamu senang kita ikut senang, dan klo kamu sedih kita juga sedih, aku bahagia banget melihat keadaan mu sekarang, keluargamu bersamamu, karirmu cemerlang dan aku berharap kamu bisa segera menemukan seseorang yang menurut allah tepat untukmu "


Zahira memeluk Nadia begitu erat sambil menangis terharu.


"Terimakasih, kalian sudah mendukung ku dan menemaniku"


Ibu Zahira mengusap air matanya melihat putrinya memeluk Nadia.


Diam-diam ia menguping pembicaraan mereka ketika ia hendak mengambil air ke dapur, ia merasa sangat bersyukur karena putrinya mendapatkan teman sekaligus partner kerja yang baik.


"Pasti mamamu sangat baik sehingga melahirkan Putri sebaik kamu Ra" ucapnya dalam hati.



Hari ini Zahira, Radit dan Nadia tengah berada di salah satu restoran Zahira. Mereka habis membahas tentang film dari novel Zahira.

__ADS_1


"Ok jadi sepakat ya lusa kamu berangkat ke Jepang untuk melihat proses syuting filmnya"


Nadia menutup laptopnya lalu meminum jus jeruk di hadapannya.


"Iya baiklah aku akan berangkat dengan tim produser dari Jakarta"


Zahira memakan spaghetti carbonara di hadapan nya.


"Kamu kan udah nggak kuliah Nad, kamu tinggal nunggu sidang, jadi kamu bisa ikut aku ke Jepang secara kamu asistenku" katanya pelan.


"Tapi pekerjaan disini?? "


"Ada Radit yang akan mengerjakan nya dia sebagai wakilku selama seminggu, lagian secara detail dia tau banget perusahaan kek gimana dan para klien udah tau klo Radit tangan kananku"


Radit menatap Zahira begitu dalam, ia tidak menyangka sahabatnya itu begitu percaya padanya.


"Kamu yakin aku bisa mengatasinya? "


"Yakinlah, lagian klo ada apa-apa kamu bisa hubungi aku kapan saja jadi semuanya selesai "


Zahira tersenyum lalu melanjutkan makanya hingga seseorang pria datang dengan wajah sumringah.


"Hey, kalian makan disini nggak ngajak-ngajak aku" sapa Razi tersenyum lalu ikut bergabung dengan mereka bertiga.


Nadia menatap Razi yang datang dengan seorang perempuan cantik.


"Kita lagi ngebahas kerjaan kok"


Radit tersenyum dan menggeser tempat duduknya agar perempuan yang bersama Razi duduk.


"Terimakasih " kata perempuan berambut hitam itu.


Zahira sudah selesai makan namun ia kembali memesan makanan.


"Mbak saya pesan makanan penutup seperti biasanya, dan Razi kamu mau pesan apa sama temanmu? Dan Kamu Nad mau nambah atau nggak? "


"Aku pesan spaghetti sama jus lemon, dan kamu mau pesan apa Kar? " tanya Razi kepada perempuan yang bernama Karina itu.


"Steak daging sama spaghetti, minumnya air dingin aja" jawabnya.


"Aku sama Radit pesan dessert seperti biasanya "


Setelah mengulang pesanan pelayan tersebut kembali untuk menyiapkan pesanan mereka.


"Ini temanmu Raz? " tanya Radit.


"Iya, teman masa kecilku tapi dia tinggal di Jakarta makanya jarang ketemu"


Radit mengangguk tanda mengerti.


Razi menatap Zahira yang tengah mengutak atik hpnya terlihat seperti tengah mengetik sesuatu.


Zahira selalu saja sederhana dalam banyak hal lihat saja bahkan meski sudah menjadi orang kaya tampilannya selalu sederhana, gamis hitam senada dengan jilbab panjang yang di kenakan nya sepatu kets dan tas berwarna putih. Wajahnya tidak memakai riasan sama sekali, wajahnya putih dan bersih, alisnya begitu rapi dan bulu matanya lentik dengan mata yang berwarna hitam pekat terkesan begitu tajam namun jernih ketika di lihat matanya memperlihatkan dirinya yang selalu apa adanya, hidungnya tidak terlalu mancung dan bibirnya berwarna merah meski tanpa menggunakan lipstik, Razi tersenyum melihat Zahira ada rasa ingin ia bisa mencium kening Zahira begitu dalam.


..."Aku selalu tertegun setiap kali aku melihatmu yang selalu sederhana dan apa adanya. "...


...Fachrul Razi Al Kaady...

__ADS_1


__ADS_2