
..."Semoga menurut allah kamu bukan hanya seseorang yang aku inginkan, tetapi juga seseorang yang aku butuhkan. "...
...Zahira Al Mahyra...
***
Zahira menghela nafas lega karena akhirnya ia bisa beristirahat setelah seharian sibuk bekerja.
Tiba-tiba saja hpnya berdering dan terlihatlah ada pesan dari Nadia.
Nadia
Besok ada meet and greet di transmedia dan launching buku mu, acaranya jam satu siang.
Zahira menghela nafas berat karena ia harus kembali menjadi Al Mahyra.
^^^Zahira^^^
^^^Iya, besok aku dateng.^^^
Zahira bergegas turun dari kamarnya, ia menelisik ruang tamunya, dan terlihatlah Fakhira dan Muhammad sedang melihat berita.
Zahira menghampiri keduanya dan ikut duduk.
"Fah, besok bisa ikut aku nggak?" tanya Zahira lalu menatap Fakhira.
"Kemana? " sahutnya.
"Ke transmedia, ada meet and greet dan launching buku besok" terangnya.
"Boleh deh, sekalian jalan"
"Mad, besok kamu bisa urus kantor kan? Paling jam sebelas aku berangkat ke transmedia, karena jaraknya cukup deket dari kantor"
Muhammad mengangguk dan mengiyakan permintaan Zahira.
Ting nong.
Zahira berjalan menuju pintu setelah mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Zahira membuka pintunya dan terlihatlah Razi dan kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum " sapa Razi.
"Waalaikum salam" balas Zahira lalu meminta Razi dan kedua orang tuanya masuk.
"Silahkan duduk " suruh nya.
Fakhira dan Muhammad langsung duduk dengan posisi yang benar saat melihat Razi dan kedua orang tuanya.
"Mereka siapa? " tanya Razi menatap Fakhira dan Muhammad bergantian.
"Kenalin mereka ini sepupu aku. minggu kemaren mereka dateng sama tante" terang nya yang di angguki oleh Razi dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Fakhira dan Muhammad bersalaman dengan kedua orang tua Razi.
"Mad, tolong bilangin sama ayah dan ibu aku mau ke dapur dulu"
Muhammad langsung pergi, begitupun Zahira.
"Kamu ponakannya ayah Zahira atau ponakan ibu Zahira? " tanya mama Razi pada Fakhira.
"Bukan tan, saya ponakan dari mendiang mamanya Zahira"
Mama dan papa Razi terlihat bingung dan tidak mengerti, karena setahu mereka ibu Ratna adalah ibu Zahira.
Fakhira menepuk jidatnya sendiri, ia lupa kalo tidak ada yang tahu bahwa wanita yang Zahira panggil ibu itu adalah ibu tirinya.
Kedua orang tua Zahira muncul bersama Muhammad dan mamanya.
"Maaf ya bu, agak lama soalnya kami masih membicarakan sesuatu" kata ibu Zahira terlihat merasa tidak enak.
"Tidak papa buk" sahut mama Razi.
Zahira pun datang membawa gelas berisi minuman, ia meletakkan nya di meja di depan orang tuanya dan orang tua Razi.
"Silahkan di minum tan, om" ucapnya lalu duduk di dekat tantenya.
"Begini bu, kedatangan kemari karena tadi sehabis pulang bekerja Razi memberitahu kami bahwa Razi dan Zahira sudah memutuskan untuk menikah" mama Razi melirik Razi dan Zahira dan keduanya sama-sama cengengesan.
"Bener begitu Ra? " tanya tantenya.
"Kalian sudah yakin akan menikah? " tanyanya lagi.
"Iya tan, in syaa allah Zahira yakin lagian kami sudah bicarakan ini beberapa hari yang lalu" terangnya yang di angguki oleh semua orang.
"Ya sudah jika kalian sudah merasa yakin kami merestui kalian" kata sang ayah lalu tersenyum terhadap putrinya itu.
"Makasih yah"
Kedua keluarga itu cukup lama berbincang-bincang, hingga akhirnya kedua orang tua Razi dan Razi pulang.
****
Sekitar jam satu Zahira sudah rapi menggunakan gamis berwarna putih.
Zahira terlihat anggun menggunakan gamis berwarna putih dengan pashmina berwarna hitam, tak lupa Zahira menggunakan masker berwarna hitam.
Fakhira memutar bola matanya dengan malas melihat penampilan Zahira yang menurutnya maskernya sangat mengganggu.
"Masker ini bener-bener merusak penampilanmu, baju udah Bagus, udah cantik, tapi malah harus tertutup masker" cibirnya yang hanya di abaikan oleh Zahira.
Zahira meninggalkan Fakhira tak jauh dari tempat di adakan nya meet and greet, Zahira bergegas menuju tempat tersebut. Terlihatlah banyak orang yang sudah duduk dan menunggu kedatangannya, bahkan terlihat juga beberapa wartawan dan jurnalis.
Saat Zahira muncul terdengar suara riuh yang berasal dari orang-orang yang menghadiri meet and greet untuk berjumpa dirinya, di antaranya adalah kalangan anak muda, memang ada banyak orang yang sangat penasaran dengan sosok Al Mahyra yang sedang tengah menjadi idola baru bagi kalangan anak muda, bahkan tak urung beberapa artis juga sampai ikut penasaran akan sosoknya.
__ADS_1
Bukan sekali dua kali Zahira mendapatkan tawaran untuk wawancara ekslusif dari berbagai stasiun televisi, namun Zahira selalu menolaknya meski Nadia seringkali membujuknya.
"Mari kita sambut idola kita, mbak Al Mahyra!" kata seseorang lalu menunjuk Zahira yang langsung muncul dan melambaikan tangan kepada semua penggemarnya.
Suara tepuk tangan terdengar begitu ramai menandakan banyaknya orang-orang yang hadir, Zahira berdiri melambaikan tangannya kepada semua orang seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Silahkan duduk mbak Al Mahyra"
Zahira langsung duduk setelah di minta duduk oleh sang pemandu acara.
Acaranya pun di mulai dan berlangsung cukup lama, sesekali beberapa wartawan mengambil fotonya di sela-sela pertanyaan yang di berikan oleh sang pemandu acara.
"Bagaimana perasaan mbak Al Mahyra karena sekarang bisa menjadi seorang penulis novel terkenal, terlebih menurut kabar yang beredar mbak Al Mahyra ini juga seorang pebisnis? "
Zahira mengambil mikrofon di depan nya.
"Pertama-tama saya sangat berterima kasih kepada allah swt karena sudah menjadikan saya pribadi yang kuat, hingga saya bisa mencapai semua ini. apapun yang saya peroleh hari ini semuanya tak luput karena atas izin allah, berkat do'a kedua orang tua saya dan orang-orang terdekat saya. dan semua ini juga berkat kalian semua penggemar saya yang sudah Setia menjadi pembaca setia karya saya. jika bukan karena dukungan kalian semua karya saya tidak akan sampai menjadi best sellers, apalagi beberapa karya saya sampai di filmkan dan Alhamdulillah banyak yang suka. saya sangat berterima kasih kepada kalian semua "
"Senang sekali rasanya karena mbak Al Mahyra ini ternyata sangat rendah hati. kalo boleh tahu selama menulis novel adakah yang benar-benar berasal dari hati mbak? "
"Tentu, beberapa novel karya saya memang fiksi, namun beberapa pengalaman memang saya rasakan. seperti novel terbaru saya yang saat ini masih dalam tahap revisi, dan mungkin beberapa bulan ke depan in syaa allah sudah siap untuk di cetak. di novel itu saya menceritakan tentang saya sendiri, bagaimana saya pernah benar-benar di tahap titik paling rendah, dan hilang kepercayaan pada seseorang.. "
Semua orang mendengarkan Zahira dengan serius.
"Saya pernah terluka, dan merasakan yang namanya kehilangan seseorang yang amat saya Cinta. saya juga merasakan sakitnya berjauhan dengan orang tua karena kesalahan orang lain, dan dari itu semua saya belajar banyak hal, belajar mengerti mengenai pasang surut kehidupan, pahit, manis, bahkan sampai kecut"
Sebagian orang tertawa mendengar perkataan Zahira.
"Saya tidak pernah memaksa agar setiap keinginan saya bisa menjadi nyata, saya hanya bisa berdo'a dan berusaha, perihal hasil sepenuh nya saya pasrahkan sama yang di atas.karena saya selalu yakin bahwa terkadang kebahagiaan tidak selalu datang dari orang-orang sekitar kita, kadang kebahagiaan bisa datang dari orang-orang yang telah kita buat bahagia. semisal bahagia kita adalah melihat orang lain bahagia. perihal rasa sakit dan luka tadi rasanya kadang saya terlalu terbiasa menahan segala perih dalam dada dan menyiksa diri saya, namun saya enggan bercerita kepada seseorang, padahal sebenarnya kita memang butuh seseorang untuk mendengarkan betapa rapuhnya hati kita, kita butuh uluran tangan seseorang, butuh seseorang yang menguatkan kita,... "
"Saya belajar banyak hal sepanjang perjalanan saya, ketika saya terluka dan kecewa karena kepercayaan saya di hancurkan, dari situ pun saya sadar betapa mahalnya kepercayaan seseorang itu, bahkan kesempatan kedua belum tentu mendapatkannya. dalam hidup kita memiliki banyak hubungan, tapi dari banyaknya hubungan yang kita miliki, saya sadar bahwa hubungan di bentuk lewat kepercayaan. saya manusia biasa, saya pernah menjalin hubungan dengan seseorang di masa lalu, namun orang itu merusak kepercayaan saya dan pergi begitu saja, tidak Setia dalam menjalin hubungan, jika seseorang berfikir bahwa setia itu adalah ketika kita bisa bertahan dengan satu orang, maka kalian salah berfikir demikian..."
Semua orang larut dalam perkataan Zahira.
"Pada dasarnya setia itu adalah mereka yang berfikir bahwa ketika mereka tertarik pada orang lain, mereka sadar bahwa ia sudah memiliki seseorang yang sudah baik di dalam hidupnya.
kesetiaan sangat sulit di dapatkan, dari semua hal yang terjadi dalam hidup saya, saya sudah merasakan yang namanya kehilangan seseorang, merasa terluka, merasa di khianati, di kecewakan, dan juga di sakiti, tapi saya tak pernah berhenti berdoa, dan berharap bahwa suatu saat nanti saya bisa menemukan hal terbaik dalam hidup saya, dan allah mendengarkan do'a saya sekarang, dan saya benar-benar menemukan nya..."
Mata Zahira berkaca-kaca mengingat-ingat perjalanan hidupnya.
"Tapi meski demikian, perjalanan kehidupan saya tidak akan berhenti sampai di sini. masalah akan tetap ada, dan ujian akan tetap bersama kita. karena ujian dan masalah dalam hidup sudah sepaket, dan apapun yang terjadi tetap syukuri, jalani dan nikmati, karena apapun yang terjadi, entah baik ataupun buruk semuanya akan kembali pada kita. "
Zahira mengakhiri ucapannya seraya mengusap air matanya, semua orang bertepuk tangan setelah Zahira selesai bicara.
"Mbak Al Mahyra ini luar biasa sekali, masih muda, cantik, berprestasi lagi" kata pembawa acara.
Akhirnya acara meet and greet dan launching buku itu akhirnya selesai. namun para penggemar Zahira berebut ingin berfoto dengan Zahira, dan beberapa wartawan dan juga reporter ikut mengambil fotonya dan memberikan pertanyaan.
Inilah yang tidak Zahira sukai dari media, terlalu ingin tahu kehidupannya itu sebabnya ia tak pernah mau menginjakkan kakinya ke Jakarta, ia selalu meminta Radit menggantikan pekerjaan nya jika berada di daerah Jakarta.
"Hidup ini tak selalu seindah yang orang pikirkan, jika kita melihat kehidupan orang lain jauh lebih baik dan Indah dari kita, maka jangan pernah menjadikan kebahagiaan orang lain dan apa yang orang lain miliki sebagai tolak ukur dari kebahagiaan kita, agar kita pun bahagia dengan apa yang kita miliki."
__ADS_1
Zahira Al Mahyra.