
..."Aku heran kepada mereka yang memilih untuk bahagia dengan pilihannya sendiri dan tak melihat apakah bahagianya juga bahagia orang tua nya, jika kamu bisa membuat bahagia dengan membuat orang tuamu bahagia juga, kenapa kamu memilih untuk bahagia sendiri? "...
...Zahira Al Mahyra....
***
Pagi ini semua orang terlihat sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi.
Di meja makan sudah tersedia berbagai makanan hasil jerih payah Zahira yang sudah mengobrak-abrik isi di dalam kulkas.
Semuanya menikmati sarapan pagi dengan penuh hikmat, buktinya semuanya sibuk mengunyah dengan makanan mereka.
Zahira pun hanya makan sedikit karena ia harus segera berangkat ke kantor.
"Zahira udah selesai, Zahira mau berangkat kerja dulu" pamitnya pada semua orang.
Tantenya langsung melihat Zahira yang sudah rapi dan kemudian beralih menatap Fakhira.
"Fakhira, kamu nggak mau ikut ke kantor Zahira untuk belajar bekerja supaya kamu bisa bekerja juga di perusahaan nenek kamu?" tanya tante Zahira itu menatap intens wajah putrinya.
Fakhira langsung menghentikan makan nya, ia langsung tidak berselera makan karena mamanya kembali membahas bekerja dan bekerja.
"Mah, bisa nggak sih mamah nggak usah bahas bekerja pagi ini? Fakhira udah bilang kan aku nggak mau kerja. Fakhira pengen lanjut kuliah di Singapura! " balasnya lalu mendesah pelan.
Sungguh Fakhira sangat muak karena mamanya selalu memintanya bekerja. Dan akhirnya selalu terjadi perdebatan antara orang tua dan anak.
Suasana di ruang makan itupun mendadak tidak nyaman, dan Zahira jadi merasa bersalah.
"Tan udahlah tan, kalo memang Fakhira nggak mau bekerja nggak usah paksa, biarin dia lanjutin kuliahnya" kata Zahira mencoba menengahi orang tua dan anak itu.
"Tapi tante pengen dia bekerja, biar ada yang mengurus perusahaan neneknya"
Zahira menghela nafas berat lalu menatap Fakhira yang hanya tertunduk karena sedih, suasana ruang makan jadi tidak nyaman, apalagi ada adik-adiknya menyaksikan perdebatan ini.
"Tan, kalo tante terus maksa Fakhira bekerja, baiklah nanti Fakhira bekerja, tapi belum tentu dia merasa nyaman bekerja. kalo Fakhira bekerja justru dia akan merasa tertekan karena tuntutan pekerjaan dan tuntutan tante supaya jadi apa yang seperti tante mau, bisa-bisa dia jadi tertekan batin nya, lagian sejak kapan sih tanteku ini jadi pemaksa? "
Tante Zahira hanya terdiam mendengarkan Zahira, Zahira lalu menghampiri tantenya itu dan mengelus pundaknya.
"Zahira tahu tante ingin yang terbaik untuk Fakhira tapi belum tentu kan baik menurut tante baik juga menurut Fakhira? lagian di Singapura ada kerabat kita kan? jadi tante nggak usah khawatir"
Terlihatlah tantenya itu menghela nafas berat.
"Baiklah tante ngizinin dia untuk lanjut kuliah"
"Serius mah? " tanya Fakhira tidak percaya.
Mamanya itu hanya mengangguk, Fakhira tersenyum lalu langsung menghampiri mamanya dan memeluknya.
"Makasih mah" katanya yang hanya di balas senyuman oleh mamanya.
Zahira pun bersyukur lalu melirik jam pergelangan tangan nya.
__ADS_1
"Zahira berangkat dulu ke kantor, Al sama Fatah udah mbak pesankan taksi online, bentar lagi nyampe, secepatnya mbak cariin supir biar kalian ada yang nganter sekolah"
Zahira memang akhir-akhir ini selalu sibuk, ia tidak bisa mengantar adiknya ke sekolah, yang jaraknya memang cukup jauh dari kantornya, ia harus segera mencari supir untuk mengantar adiknya.
"Maaf yah mbak nggak bisa nganter" ucapnya penuh sesal.
"Nggak apa-apa mbak, kami ngerti kok, mbak berangkat aja" kata Ali.
Zahira mengangguk lalu berpamitan pada semua orang, setelah itu dia langsung berangkat mengendarai mobilnya.
Sedangkan semua orang hanya bisa merasa kasihan melihat Zahira yang sangat sibuk.
"Mad kamu ke kantornya Zahira ya, bantuin pekerjaan nya mama kasihan lihat dia sepertinya sangat kerepotan. mama lihat udah tengah malem dia masih di ruang kerjanya semalam"
Fakhira yang mendengar perkataan mamanya ia jadi teringat bahwa jam setengah satu ia terbangun dan tidak melihat Zahira, ia kira Zahira di kamar mandi ternyata dia masih bekerja.
"Iya ma, nanti aku ke sana"
Mamanya mengangguk setelah mendengar putranya akan membantu ponakannya itu.
***
Zahira sampai di kantornya, ia langsung bergegas masuk dan terlihat semua karyawan menyapanya di sela-sela kesibukannya.
"Selamat pagi bu"
"Selamat pagi bu "
Zahira tersenyum kecil sebagai balasan, ia langsung masuk ke dalam lift dan memencet tombol nomer lima. Yah ruangannya ada di lantai nomer lima.
"Bacakan jadwal hari ini lis" kata Zahira sambil berjalan di ikuti sekretaris yang bernama Lisa itu.
"Baik bu, pagi ini ibu ada meeting dengan karyawan untuk membahas rancangan yang akan kita gunakan untuk pembangunan di Jakarta. dan jam sembilan ibu ada pertemuan dengan klien dari Bandung. dan untuk jam makan siang ibu sudah sms saya kemarin untuk mengosongkan jadwal, tapi jam tiga ibu punya jadwal mengunjungi proyek di Sidoarjo"
Terangnya panjang lebar.
Zahira duduk di ruang kerjanya setelah mendengar jadwalnya hari ini.
"Baiklah saya mengerti. kamu tolong siapkan ruangan meeting sekarang, dan minta bagian HRD mengirimkan berkas yang saya minta semalam" ucapnya tandas yang langsung di angguki oleh Lisa.
"Baik bu, apa ada lagi yang bisa saya bantu? " tanya lisa.
"Tolong kamu carikan saya supir, saya butuh supir di rumah untuk mengantar jemput adik saya sekolah"
Lisa tampak berfikir sekilas, namun ia kemudian tersenyum.
"Tetangga saya sedang butuh pekerjaan bu, kebetulan dia kuli bangunan tapi dia bisa mengemudi, kalo ibu mau saya akan hubungi orangnya" tawarnya sambil menatap Zahira yang tampak sedang berfikir.
"Seperti apa orang nya? Apa tetanggamu itu baik? Atau gimana?" tanya Zahira.
"Ibu tenang saja, dia orangnya baik bu, sudah berkeluarga, yah seukuran satpam di kantor ini, anaknya juga sudah besar bu"
__ADS_1
"Baiklah jika menurutmu baik. besok pagi tolong suruh dia datang ke rumahku, besok dia sudah mulai bisa bekerja, dan iya katakan datang jam enam karena adik saya besok ada kegiatan pagi di sekolahnya"
"Baik bu, akan saya sampaikan"
"Kalo begitu kamu boleh pergi dan siapkan ruang meeting dan juga berkas yang di butuhkan " suruh nya lalu Lisa pun mengangguk meninggalkan Zahira yang mulai menyiapkan beberapa berkas pekerjaan nya.
Ting
Mata Zahira memicing melihat pesan dari Razi.
^^^Razi^^^
^^^Jadikan makan siang bareng nanti?^^^
Zahira
Iya jadi, nanti kamu share lok aja ke aku, soalnya jam sembilan aku mauk ketemu klien sekarang aku mauk meeting dulu.
Zahira kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku di di bajunya dan bergegas ke ruangan meeting.
Saat sampai di ruang meeting Zahira melihat semua nya sudah menunggunya.
"Selamat pagi semuanya" sapa Zahira.
"Selamat pagi juga bu" balas mereka semua.
"Oke, karena saya masih banyak kerjaan kita langsung mulai saja meeting kali ini, Silahkan mulai Brian" tunjuk nya pada seorang perancang kantornya.
Dan akhirnya meeting pun di mulai bahkan berlangsung satu jam karena rancangan yang akan di pakai untuk proyek pembangunan rumah sedikit di buat berbeda.
"Oke semuanya karena kita sudah memutuskan menggunakan rancangan dari Dimas, saya mohon kerjasamanya dengan para arsitek kita, jangan membuat saya kecewa karena proyek ini sangat penting untuk kantor kita" terangnya panjang lebar.
"Baik bu"
"Dan untuk bahan bangunan yang kita gunakan saya ingin yang terbaik agar bangunan yang kita buat kokoh, kuat dan klien kita puas, saya nggak mauk kejadian seperti bulan lalu terjadi dan mengalami kerugian lagi, klien kita sudah mempercayakan proyek ini pada perusahaan kita" kata Zahira bersungguh-sungguh.
Pasalnya bulan lalu proyek bangunan yang sedang Zahira bangun itu mengalami ambruk dan Perusahaan Zahira mengalami kerugian, beruntungnya masalah itu segera Radit atasi.
"Brian dan Dimas. selama Radit cuti saya ingin kamu dan Dimas turun langsung mengawasi proyek ini, dan laporkan ke saya setiap detail info dari pembangunan nya dan saya ingin kamu juga mengawasi bagian kontruksi!" titahnya begitu tegas. Zahira menghela nafas melihat semua karyawan nya itu terlihat pucat karena Zahira begitu mengintimidasi semua karyawannya.
"Karena semuanya sudah selesai meeting ini kita akhiri, silahkan ke tempat kerja masing-masing" ujar Zahira lalu meninggalkan ruangan meeting.
Semua karyawan bernafas lega setelah Zahira pergi di ikuti lisa.
"Huft.... Gila gue takut lihat bu Zahira kek mauk marah gitu " kata salah seorang karyawan perempuan.
"Iya, sumpah gue ngeri tatapan nya itu lho tajam banget!" yang lain ikut menimpali.
"Tapi heran deh gue sama bu Zahira, meski begitu dia cantik banget tahu, sumpah dia cantiknya kebangetan bikin gue betah" kata yang lain.
"Udah-udah, ayo kembali bekerja sebelum bu Zahira ngamuk lagi" kata seorang perempuan mengakhiri perbincangan mereka.
__ADS_1
"Akan terasa menyakitkan ketika kita memaksa seseorang untuk melakukan apa yang kita tahu dan nyatanya kemauan kita justru menyakiti orang itu, bukankah itu egois? "
Zahira Al Mahyra