Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 83


__ADS_3

"Terkadang ketakutan terbesar kita adalah saat orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita. "


Zahira Al Mahyra.


  Hari ini terasa begitu berbeda, subuh-subuh tadi Zahira dan Razi sudah bangun dan mempersiapkan banyak hal untuk hari ini.


Hari ini adalah hari pernikahan Fakhira dan Zain. dan semua orang sedang sibuk mengurus banyak hal. Zahira sendiri tengah sibuk menghubungi tukang make up yang akan merias Fakhira, sedangkan Razi sendiri tengah sibuk dengan persiapan untuk menyambut semua tamu undangan.


Pernikahan Fakhira dan Zain sendiri di gelar di sebuah hotel di Surabaya. Dari semalam semua keluarga menginap di hotel tempat diadakannya pernikahan Fakhira, agar tidak perlu repot-repot untuk ke sana karena jaraknya cukup jauh. Jauh-jauh hari keluarga besar Fakhira dari malaysia sudah datang.


Jam sudah menunjukkan sekitar jam tujuh, dan akad nikah Fakhira di laksanakan sekitar jam sebelas.  Nadia dan Radit turut membantu persiapan pernikahan Fakhira dan Zain.


Dan seperti biasanya Nadia bertugas untuk mengecek semua hidangan yang akan di sajikan kepada tamu undangan. Sesekali Nadia mengatur beberapa hal yang menurutnya tidak cocok.


Zahira berjalan pelan menuju kamar Fakhira yang bersebelahan dengan kamar orang tuanya. Ia merasa ia perlu menasehati Fakhira tentang banyak hal untuk sepupunya itu, meskipun ia yakin mamahnya pasti sudah memberikan wejangan kepada Fakhira.


Ceklek......


Fakhira menoleh ketika melihat Zahira tersenyum ke arahnya.


"Ada apa Ra?" tanya Fakhira yang tangannya sedang di hias dengan henna.


Zahira menatap perempuan yang menghias tangan Fakhira.


"Sudah selesai mbak? " tanya Zahira.


"Iya mbak sudah selesai " jawabnya.


"Klo gitu mbak pergi ke kamar nomer tiga puluh lima ya" suruh nya.


Perempuan itu mengangguk dan segera membereskan barang-barang nya lalu pergi setelah menutup pintu.


Zahira duduk di samping Fakhira dan menatapnya.


Terlihat Fakhira tersenyum manis, dan memperlihatkan henna di tangannya pada Zahira.


"Bagus nggak? " tanyanya.

__ADS_1


Zahira mengangguk mengiyakan.


"Fah... "


"Iya kenapa? "


"Kamu bahagia dengan pernikahan ini? " tanya Zahira.


Fakhira tak menjawab, dan membuat Zahira mendesah dalam hati.


"Aku yakin semalam tante udah menasehati mu tentang banyak hal, dan aku yakin kamu pasti sudah tahu bahwa setelah ini statusmu akan berubah" ucapnya pelan.


"Fah, aku tahu pernikahan ini bukanlah pernikahan berdasarkan  Cinta, tapi kamu harus tahu meski kamu tidak mencintai Zain, dia adalah suami mu dan kamu adalah istrinya. aku yakin dia pria yang baik, dia pria yang bijak, dan dia juga bertanggung jawab"


"Cinta bisa datang setelah pernikahan Fah, ingatlah bahwa setelah ini dia suami mu, kehormatan mu, imam mu, apapun keadaan nya selama yang dia katakan itu benar dan baik kamu harus mendengarkan nya, mentaati nya, dan kamu juga harus menunaikan kewajiban mu sebagai istrinya"


Fakhira terdiam mendengarkan segala nasehat Zahira.


"Jadilah istri yang baik, penuhi setiap kewajiban mu sebagai istrinya, kamu tidak bisa lagi seenaknya pergi jika tidak mendapatkan izin suamimu. jadilah istri yang penurut, dan jangan lupakan haknya sebagai suamimu, dia berhak atas kamu, dirimu dan hidupmu"


"Pernikahan ini bukanlah happy ending dalam kehidupanmu Fah, tapi ini adalah awal baru dalam kehidupan mu bersama Zain, hubungan yang baru, dan juga keluarga baru. semua hal yang biasanya bisa kamu lakukan seenaknya, sekarang tidak bisa kamu lakukan berdasarkan mau mu sendiri. kamu harus ingat bahwa segala sesuatu yang akan kamu lakukan selalu ada ada suami yang harus kamu pikirkan sebelum melakukan sesuatu"


Fakhira menggenggam tangan Zahira dan menatapnya.


"Aku ngerti dengan apa yang kamu katakan Ra, aku akan berusaha menjadi istri yang baik, dan do'akan aku semoga aku bisa memenuhi semua kewajiban dan tugasku dengan baik. do'akan juga semoga pernikahan aku ini benar-benar memang pernikahan yang allah ridhai" ucapnya.


"Aku akan selalu mendoakan kamu Fah, aku akan selalu mendoakan kebaikan kamu dan juga kebahagiaan kamu, termasuk do'a terbaik agar pernikahanmu menjadi pernikahan yang memang kamu inginkan, bisa membuat kamu dan Zain bahagia dunia akhirat Fah"


"Makasih Ra, makasih udah selalu mendukung aku" kata Fakhira lalu memeluk erat Zahira.


                                         ***


Zahira sudah kembali ke kamarnya setelah membantu Fakhira bersiap-siap, ia juga harus bersiap-siap dan berganti baju.


Terlihat Razi sudah rapi dengan setelah jas berwarna biru muda di padukan dengan kemeja putih dan celana biru senada dengan warna jas yang ia kenakan.


Zahira tersenyum dan mendekati suaminya itu, di pandangnya wajah suaminya yang terlihat begitu tampan.

__ADS_1


"Uhhhh... Suaminya siapa sih?  Kok ganteng banget? " tanya Zahira bergurau.


Razi tersenyum lalu memeluk Zahira dan mencium pipinya berkali-kali.


"Tentu saja suami kamu sayang, suaminya Zahira " jawabnya.


Zahira terkekeh pelan mendengar jawaban Razi.


"Kamu belum siap-siap yang? " tanyanya karena penampilan Zahira masih sama, tetap dalam balutan baju hamil dan hijab berwarna cream.


"Tadi masih ngasih wejangan sama Fakhira mas, terus bantu Fakhira siap-siap, dan sekarang Ira mauk mandi dan siap-siap, aku harus dandan juga biar  terlihat cantik"


Razi kembali menghujani ciuman pada pada Zahira hingga membuat Zahira kegelian.


"Nggak usah dandan kamu udah cantik sayang, mending kamu nggak usah dandan, biar orang nggak lihatin kamu terus!" ucapnya di buat terdengar ketus.


Razi kemudian melepaskan pelukannya dan duduk di sofa di ikuti Zahira.


"Kamu ngasih wejangan apa ke Fakhira? Apa mengenai pernikahannya? aku yakin semalam tante udah nasehatin dia" kata Razi lalu memandang Zahira seolah menunggu jawaban.


"Ira hanya nasehatin dia supaya menjalani pernikahan nya dengan baik mas, jadi istri yang baik, dan juga memenuhi setiap kewajiban dan tanggung jawab dia sebagai istri Zain. lagi pula pernikahan ini adalah keinginannya, dan aku nggak mau kalo sampek dia menganggap pernikahan dia itu hanya permainan, aku pengen dia benar-benar menjalani pernikahan dia dengan baik mas"


Razi mengangguk pelan seolah mengerti maksud dari perkataan istrinya, ia sendiri juga udah memberi nasehat pada Zain agar bisa menjadi seorang Imam yang baik untuk Fakhira, meskipun Razi yakin bahwa Zain adalah pria bijak, dan Zain pastinya tahu harus bersikap bagaimana kepada Fakhira.


"Apa dia mendengarkan perkataan kamu Ra? " tanya Razi terlihat penasaran.


"Iya mas, dia mengerti maksud aku dan dia bilang akan berusaha menjalani perannya sebagai istri. lagian pernikahan ini juga maunya dia, pastinya dia udah mikir konsekuensi dari keputusannya untuk menikah" Zahira menghela nafas pelan lalu menatap Razi. "Fakhira itu bukan anak kecil mas, dia pasti sudah tahu kewajiban nya sebagai seorang istri. dia berpendidikan, aku yakin dia bisa menjalani pernikahan dia dengan baik, lagipula Zain adalah laki-laki yang baik, dia pasti bisa membimbing Fakhira agar berubah menjadi lebih baik"


Razi mengangguk menyetujui ucapan Zahira.


"Ya udah lah mas, Ira mau mandi dulu mau siap-siap, satu jam lagi acaranya di mulai"


Zahira beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju lemari mengambil handuk dan pakaiannya.


"Mas keluar duluan yah, mas mau menyambut tamu undangan" ujar Razi lalu pergi setelah melihat Zahira memasuki kamar mandi.


..."Pernikahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, justru pernikahan adalah awal dari kehidupan yang baru, dan juga awal yang baru juga untuk seseorang yang akan menjalani kehidupannya dengan pasangannya. "...

__ADS_1


...Zahira Al Mahyra....


__ADS_2