
..."Aku tidak tahu kesulitan apa saja yang kamu hadapi saat aku pergi, aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. "...
...Zahira Al Mahyra. ...
\*\*\*
Razi terdiam sepanjang perjalanan menuju rumah Zahira, pikirannya terus menerus teringat akan sosok istrinya yang ia sudah tinggalkan selama dua bulan lebih, entah apa yang merasukinya hingga ia bisa pergi meninggalkan Zahira begitu lama, membuat gadus itu menghadapi masalahnya sendirian, Razi benar-benar merasa sangat bersalah.
Terlebih kenyataan yang membuatnya semakin bersalah bahwa Zahira tengah hamil anaknya, semakin membuat Razi semakin bersalah.
Flashback...
"Yang lebih membuat Mamah sangat kecewa dan marah sama kamu karena kamu pergi di saat Zahira tengah hamil anak kamu Raz! "
Deg......
Razi tertegun menatap mamahnya dengan sorot mata yang tak bisa di artikan.
Zahira hamil, dan ia meninggalkannya, entah bagaimana perasaan Zahira karena saat kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan bersama dirinya malah menjadi kesedihan bagi dirinya.
Bagaimana bisa Razi meninggalkan Zahira di saat Zahira tengah hamil, ia juga meninggalkan Zahira disaat gadis itu berduka karena kepergian neneknya, belum lagi masalah bangunan yang ambruk di malaysia, Zahira pasti sangat kesulitan menghadapi semuanya sendirian, terlebih ia tengah hamil.
Tak terasa air mata Razi menetes mendengar semua cerita Zahira dari mamahnya, suami macam apa dirinya ini, ia bahkan tidak memberi kesempatan pada Zahira untuk menjelaskan.
"Mamah kecewa, dan sangat marah sama Raz, bisa-bisanya kamu menyakiti Zahira dan mengecewakan dia, mana janji kamu yang katanya ingin membahagiakan dia Raz?? Mana janji kamu yang katanya tidak akan membiarkan Zahira menangis dan menderita? Kamu bahkan nggak mikirin perasaan orang tua Zahira ataupun hubungan yang sudah kamu buat! "
Mamah Razi masih terlihat sangat marah.
"Maafin Razi mah, Razi tahu Razi salah, dan Razi menyesal mah, Razi minta maaf mah"
Mamah Razi hanya mendengus mendengar Razi yang meminta maaf.
"Permintaan maaf kamu itu sudah terlambat Raz, dan seharusnya kamu minta maaf sama Zahira dan keluarganya bukan sama mamah!"
Razi mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Razi akan kesana dan meminta maaf mah, Razi akan memperbaiki semuanya mah,Razi akan memperbaiki semua kesalahan Razi"
Mamah Razi tersenyum kecut mendengar penyesalan putranya itu. Ia mengambil sesuatu dari laci lalu mebatap Razi.
"Permintaan maaf kamu, dan penyesalan kamu sudah terlambat Raz, dua hari yang lalu Zahira datang kesini sambil menangis dan meminta maaf sama mamah dan papah, dia minta maaf dan menyerahkan surat ini pada mamah dan papah, dia berpesan klo kamu pulang segera menandatanganinya" kata mamah Razu lalu menyerahkan amplop putih.
"Apa ini mah? " tanya Razi terlihat bingung.
"Kamu lihat sendiri"
Razi segera membukanya, hatinya tiba-tiba langsung merasa hancur saat melihat bahwa Zahira sudah mengajukan surat gugatan cerai ke pengadilan.
"Zahira bilang dia capek dan lelah, dan mamah menghargai keputusan Zahira, mamah mendukung keputusannya, dia bisa memulai kehidupan yang baru, dia juga pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari kamu, Zahira bilang setelah melahirkan dia akan segera mengajukan perceraian kalian"
Razi terdiam dan tidak mengatakan apa-apa, saat ini hatinya tengah hancur, ia tidak ingin kehilangan Zahira, ia tidak ingin berpisah dengan Zahira, apapun yang terjadi ia akan membuat Zahira kembali kepadanya, Razi tidak akan membiarkan anaknya kehilangan kehangatan sebuah keluarga yang utuh.
Flashback.
***
"Capek juga ya Ra seharian ini? " keluh Fakhira setelah turun dari mobil Zahira.
"Iya, banyak banget kerjaan hari ini, tapi beruntung ya kita bisa nyelesain pekerjaan lebih cepat, jadi kita bisa pulang cepet, Dan pergi ke mall malam ini! " seru Zahira yang di angguki oleh Fakhira.
"Ayo masuk, nanti kamu bisa bersih-bersih dan istirahat sebelum kita pergi ke mall" ajaknya pada Fakhira.
Zahira mengiyakan ajakan Fakhira lalu berjalan pelan memasuki rumahnya di tuntun oleh Fakhira karena takut sepupunya itu terjatuh.
"Kata dokter bayi kamu laki-laki atau perempuan Ra? " tanya Fakhira.
"Entahlah, aku nggak nanya dan memang sengaja aku minta dokter agar tidak perlu mengecek jenis kelamin anak aku"
"Kenapa? "
"Mauk anak aku laki-laki, ataupun perempuan, yang penting bayi aku lahir dengan selamat dan sehat Fah" ungkapnya.
__ADS_1
"Heummm... Iya juga sih" kata Fakhira akhirnya.
Saat langkah keduanya hampir memasuki pintu rumah Zahira, sebuah suara yang selama dua bulan lebih ini meresahkan hati Zahira, tiba-tiba saja memanggil nama Zahira.
"Sayang..... "
Deg.....
Zahira terdiam sesaat tanpa menoleh ke sumber suara yang memang sudah sangat ia hafal, meski sudah dua bulan lebih Zahira tidak mendengarnya. Karena pemilik suara inilah Zahira merasa tertekan setiap saat, karena pemilik suara inilah ia harus menghadapi setiap masalahnya sendirian, karena pemilik suara inilah yang membuat ia harus berjuang sendiri menghadapi hari-hari berat dalam beberapa bulan ini, pemilik suara inilah alasan ia merasakan sesak di hatinya.
Air mata Zahira menetes mengingat semua kesulitan yang ia hadapi, ia bahagia bisa mendengar suara ini lagi, namun ia juga kecewa, dan merasa sakit secara bersamaan karena suara ini, ia sudah cukup meyakinkan hatinya untuk berpisah dengan pemilik suara ini setelah ia melahirkan.
Fakhira yang melihat Zahira terdiam di tempatnya dengan berlinang air mata, ia pun langsung menggenggam erat tangan Zahira yang semula terlihat bergetar, ia berusaha meyakinkan Zahira bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Zahira menatap Fakhira kala tangan Fakhira menggenggam erat tangannya, Zahira menatap Fakhira yang tampak tersenyum memberikan semangat kepadanya, seolah ia berkata semuanya akan baik-baik saja.
Zahira mengangguk pelan seraya menghela nafas untuk meyakinkan dirinya, hingga akhirnya ia berbalik menatap sosok pria yang memanggilnya.
Tadi saat ia sampai di rumah Zahira, ia melihat dua orang perempuan tengah turun dari mobil, ia bisa tahu bahwa salah satu dari dua wanita itu adalah istrinya, karena ia memang sudah hafal benar bagaimana tinggi dari istrinya itu.
Namun terlihat gurat kesedihan di wajah pria itu ketika mengingat sebuah fakta bahwa istrinya ternyata sudah mengirimkan surat gugatan cerai kepadanya, rasanya hati milik pria itu seakan hancur.
Pria itu terdiam melihat kedua wanita itu berbicara sambil berjalan menuju rumah besar di hadapannya, dengan langkah berat dan pasti, pria itu turun dari mobilnya, entah bagaimana reaksi istrinya nanti jika ia melihat dirinya.
Saat wanita itu berbalik untuk melihat ke arahnya, tatapan keduanya bertemu, kedua mata pria itu terlihat bahagia dan juga sedih melihat keadaan wanita yang sudah ia tinggalkan selama dua bulan lebih.
Pria itu bisa melihat bahwa wanita yang di cintainya itu terlihat begitu kurus, kantung matanya terlihat jelas, bahkan tulang di jari-jarinya terlihat menonjol, dan perutnya terlihat membesar, yang berarti wanita di hadapannya itu memang benar-benar tengah mengandung anaknya.
Betapa bodohnya dirinya karena telah meninggalkan istrinya di saat ia tengah hamil, waktu yang sudah lama ia tunggu-tunggu, namun karena kesalahannya, dan keegoisannya, ia pergi begitu saja tanpa mengetahui bahwa sang istri tengah mengandung buah hati mereka.
"Terkadang kepergian seseorang itu, jauh terasa lebih menyakitkan dari kepergian orang itu sendiri. "
Zahira Al Mahyra.
terimakasih kepada semua pembacaku, terimakasih atas dukungannya, doain author ya semoga bisa cemerlang lanjutin cerita ini supaya cepat end😊😊
__ADS_1