
..."Apapun yang terjadi entah baik ataupun buruk, kita tidak bisa mengubahnya, jadi lebih baik menjalaninya dan berusaha sebaik mungkin memperbaiki segala sesuatunya. "...
...Zahira Al Mahyra. ...
\*\*\*
Zahira sudah berada di malaysia, di temani oleh Sarah dan juga Fakhira. Zahira masih ingat betul saat beberapa hari yang lalu semua keluarganya mengantarnya sampai bandara, bahkan semua orang terlihat menangis karena tak tega pada keadaan Zahira yang memang tidak begitu baik, namun Zahira berusaha tersenyum dan membuat semua orang merasa tenang meski saat sampai di Malaysia Zahira pingsan karena kecapean.
Agar keluarganya tidak merasa khawatir, Zahira meminta Sarah dan Fakhira untuk tidak menceritakannya pada keluarganya agar mereka tidak merasa khawatir. Saat ini Zahira tinggal di rumah neneknya bersama Fakhira dan Sarah, dua hari yang lalu saat Zahira merasa lebih baik, Zahira langsung ke kantor untuk mengurus masalah yang tengah menimpa kantornya.
Zahira langsung melakukan pertemuan mendadak dengan karyawan yang memang ikut terlibat dalam pembangunan proyek yang ambruk, bahkan Zahira tidak segan-segan memecat karyawan yang tidak kompeten dalam melakukan pekerjaannya, Zahira terlihat sangat menyeramkan.
Amira yang merasa lelah karena mengurusi banyak hal, hanya bisa memijit keningnya yang berdenyut saat mendengar Zahira marah-marah, wajar saja Zahira marah, karena semua ini menyebabkan kerugian yang cukup besar, bahkan beberapa klien memutuskan untuk membatalkan kontrak kerjanya karena meragukan struktur bangunan yang di lakukan oleh kantor Zahira.
Padahal Zahira sudah seringkali mengingatkan para karyawan agar benar-benar memperhatikan setiap detail proyek yang sedang mereka bangun, karena Zahira sendiri memang tidak bisa melihatnya langsung, apalagi bangunan yang ambruk ini menewaskan dua orang pekerja.
Zahira langsung menghubungi kontraktor pembangunan dan langsung memarahinya habis-habisan karena tidak memperhatikan dengan baik bangunan yang sedang mereka kerjakan, bukan hanya rugi besar, kantornya juga kehilangan kepercayaan klien, dan kehilangan banyak kontrak kerja sama.
Zahira meminta Amira untuk mengantarnya ke rumah pekerja yang meninggal, karena biar bagaimanapun ia harus bertanggung jawab penuh pada korban yang meninggal, belum lagi biaya perawatan pekerja yang terluka akibat bangunan yang ambruk.
Zahira benar-benar bekerja begitu keras demi memperbaiki permasalahan yang terjadi, ia belum bisa memperkirakan kerugian yang di alaminya, karena saat ini Zahira tengah berusaha menyelesaikan permasalahan yang ada, dan berusaha mencoba untuk kembali membangun bangunan itu, meski butuh suntikan dana yang cukup besar.
Berada di Malaysia sekitar lima hari membuat Zahira sangat lelah karena ia dan semua karyawan di kantornya benar-benar bekerja begitu keras untuk memperbaiki keuangan yang memang tidak stabil akibat kerugian yang saat ini mereka alami.
Siang ini Zahira tengah berada di ruangannya karena ia tengah membuat proposal pengajuan kontrak dengan perusahaan lain, ia berharap usahanya ini bisa membuat perusahaan lain kembali percaya kepada perusahaannya, sehingga masalah keuangan ini bisa teratasi.
Zahira memijit keningnya yang mulai berdenyut, karena sibuk bekerja ia sampai lupa untuk makan siang, di tambah lagi akhir-akhir ini ia seringkali mual saat hendak makan, sehingga membuat Zahira tak berselera makan.
Ceklek...
__ADS_1
Zahira mendongak melihat siapa yang membuka pintu, dan terlihatlah sosok Fakhira datang bersama Sarah membawa rantang makanan.
"Kalian ngapain kesini? " tanya Zahira mempersilahkan keduanya duduk.
"Aku bawakan makan siang untukmu, karena akhir-akhir ini aku sering melihatmu selalu mual saat makan, ini aku buatin kamu salad buah, mungkin aja klo makan salad buah kamu nggak akan mual" kata Fakhira lalu menyodorkan salad buah yang telah ia siapkan.
"Makasih ya, harusnya kalian nggak perlu nyiapin makanan, apalagi sampek buatin aku salad buah" Zahira terlihat tak enak hati.
"Santai aja Ra, lagian akhir-akhir ini aku perhatiin kamu sibuk kerja, dan sering banget mual klo mauk mau makan, pasti di masa-masa kehamilan mu ini membuat kamu jadi milih-milih makanan ya? " tanya Fakhira memastikan.
"Yah gitulah, maklum aja bawaan bayi Fah, masih mending nggak ngidam aneh-aneh, takutnya aku ngidam aneh-aneh dan malah ngerepotin kalian, cukup mual aja lah meski harus tengah malem juga mual"
Sarah dan Fakhira terlihat prihatin mendengar curhatan Zahira, pasalnya mereka juga sering mendengar Zahira mual-mual saat tengah malam.
Namun setiap kali Zahira ataupun Sarah ingin menemani Zahira, Zahira selalu menolak karena tak ingin merepotkan, padahal Sarah ataupun Fakhira merasa kasihan karena seringkali Zahira tidak tidur lantaran terus merasa mual.
"Gimana kerjaan mu Ra?, apa ada kemajuan? "
"Sejauh ini belum, klien masih ragu untuk kerja sama dengan kantor ku karena mereka mendengar bangunan yang ambruk itu, tapi aku sudah berusaha meyakinkan mereka bahwa kerusakan yang terjadi itu itu bukan salah perusahaan sepenuhnya, tapi memang ada orang-orang yang sengaja ingin menjatuhkan nama baik perusahaan ku, tapi nggak bisa maksa mereka juga klo mereka nggak percaya pada kita"
"Terus langkah kak Zahira selanjutnya gimana? " tanya Sarah.
"Aku tadi udah ngadain rapat dengan beberapa pegawaiku, aku mauk coba mengajak kerja sama dengan pak Achmed, meski aku yakin banyak perusahaan lain yang pastinya juga udah ngajak mereka kerja sama, aku akan coba ngikutin tender proyek pembangunan yang sedang mereka rencanakan" terang Zahira sambil membuka laptopnya kembali.
"Terus? "
"Yah aku akan berusaha untuk menangin tender ini, tapi aku butuh rancangan baru untuk proyek ini, aku sama Amira udah bingung membuat rancangan seperti apa, agar orang-orang tertarik, dan rancangan kita itu terlihat berbeda Fah, aku ingin Amira membuat presentasi dengan kantor pak Achmed" Zahira mengeluh sambil geleng kepala.
"Boleh aku bantu kak? " tanya Sarah.
__ADS_1
Zahira dan Fakhira terlihat saling berpandangan, Zahira baru ingat bahwa Sarah adalah seorang arsitek, mungkin saja Sarah bisa membantunya.
"Ah iya, aku baru inget mamah bilang kamu ingin bekerja, dan aku sudah tanya ke Radit klo di bagian arsitektur bangunan di kantor saat ini memang kosong, setelah kembali dari sini kamu bisa langsung bekerja"
"Benarkah? " Sarah terlihat tidak percaya.
Zahira mengangguk membenarkan.
"Iya, tentu saja, untuk sekarang tolong bantu aku untuk menyiapkan rancangan dan juga presentasi, aku akan meminta Amira agar membantumu, kamu tidak keberatan kan?" tanya Zahira memastikan.
"Sarah malah seneng banget karena akhirnya bisa bantuin kakak! " serunya.
Zahira tersenyum kecil melihat antusias Sarah, setidaknya dengan melihat wajah Sarah, kerinduannya pada Razi terobati, karena keduanya memang memiliki wajah yang mirip.
Zahira mengenyahkan pemikirannya sendiri, dan beralih menatap jam di pergelangan tangannya, sebentar lagi ia harus menghadiri rapat pimpinan perusahaan, rasanya Zahira benar-benar lelah karena ia kembali bekerja dan juga harus mengurus banyak hal.
"Sar, sebentar lagi aku dan Amira akan ada rapat, kamu tunggu saja disini sama Fakhira, atau klo kamu mau kamu bisa pulang? " tawarnya.
"Aku tunggu kakak disini saja, sekalian nanti aku pikirin rancangan yang pas untuk proyek pembangunan"
Zahira mengangguk mengerti dan segera bergegas menyiapkan diri untuk rapat.
"Aku pergi dulu" pamitnya kepada Sarah dan Fakhira.
Fakhira menatap kepergian Zahira dengan perasaan sedih, ia mengerti betul betapa lelahnya pekerjaan Zahira saat ini, apalagi kerugian yang di alami oleh perusahaan cukup besar, butuh waktu yang lama untuk mengembalikan kerugian yang saat ini perusahaan alami.
Namun Fakhira berharap semoga semuanya secepatnya membaik karena ia tidak tega melihat Zahira bekerja di tengah kehamilannya sekarang. entah kenapa Fakhira merasa ingin membawa Zahira pergi karena tidak ingin melihat Zahira menjalani keadaan yang menurutnya menyulitkan dan menyedihkan.
"Razi, kamu sudah membuat kesalahan yang sangat besar karena melakukan ini pada Zahira! "
__ADS_1
"Aku merasa lelah dalam banyak hal, bukan hanya lelah karena bekerja, tapi aku juga lelah dengan apa yang aku rasakan. "
Zahira Al Mahyra.