Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 20


__ADS_3

             "Menikahlah karena niatmu untuk menikah sudah benar, jangan menikah hanya karena ingin saja."...


            ***


  Hari ini Radit dan Razi tengah berada di ruang Bk. Terlihatlah keduanya tengah berkutat dengan laptop masing-masing. Mereka sama-sama tidak memiliki jadwal mengajar.


  Radit berkutat di depan layar laptop di depannya ia mengirim e-mail kepada Zahira terkait kontrak kerja perusahaan nya. Namun tak kunjung mendapat balasan dari Zahira hingga iapun merasa jengah menunggu balasan dari Zahira dan hendak men shutdown laptopnya, Namun ada panggilan video call dari Zahira. Radit segera menerima panggilan dari Zahira.


"Assalamualaikum dit. " sapa nya terlihat ia tengah bekerja juga karena ia tampak memegang banyak berkas dan terlihatlah juga sang calon istrinya Nadia yang tengah makan.


"Waalaikum salam Ra, kalian baik-baik aja kan disitu?" tanyanya.


"Alhamdulillah kita baik-baik aja,  kamu di situ baik-baik aja kan?


Radit tersenyum simpul.


"Hehehe iya alhamdulillah aku baik, orang tuamu dan adikmu juga baik"


"Alhamdulillah klo gitu, oh iya mengenai kontrak kerja yang kamu kirimkan aku sudah mempelajarinya, dan aku sudah menghubungi perusahaan mereka dan membicarakan mengenai anggarannya. tenang saja kamu nggak usah takut besok kita meeting sama mereka melalui panggilan video call, kamu tinggal siapin aja berkas yang akan kamu presentasikan dan iya mengenai masalah peluncuran produk baru yang akan di luncurkan itu sudah di setujui tapi nunggu aku pulang dulu, selebihnya kamu minta tolong Alina untuk nyiapin proposal yang kamu kerjakan"


Jelasnya pada Radit.


"Wah kamu bener-bener pebisnis sejati, sampek udah nyiapin semuanya "


Zahira hanya terlihat menghela nafas.


"Oiya Dit, tolong kamu ke sekolah Ali dan kamu urus surat pindahnya tapi klo kamu sibuk minta orang lain saja"


"Baiklah besok aku ke sana aku juga ada urusan di deket sekolah Ali"


Zahira kembali berkutat dengan berkas-berkasnya setelah mematikan panggilan video dengan Radit.


                              ◈


  Sudah lima hari Zahira dan Nadia berada di Jepang. Radit begitu sibuk mengurus pekerjaan nya di kantor Zahira apalagi ia harus beberapa kali menghadiri Rapat dan para klien. Namun sore ini ia tengah bersantai-santai di rumah Razi dengan secangkir kopi.


"Hei...  Tumben nggak ngantor? " tanya Razi yang baru datang mengajar.


Radit menoleh ke arah Razi sebentar.


"Aku hanya meeting tadi sama Zahira melalui panggilan video, selebihnya udah di atur Zahira aku hanya tinggal nyiapin beberapa proposal baru"


  Razi mengangkat alisnya sebelah karena mereka meeting melalui panggilan video call.

__ADS_1


"Bener-bener tuh Zahira, gila pekerjaan bener, harusnya dia itu liburan"


"Aku heran deh sama kamu, dia yang kerja kok kamu yang sewot Raz"


Radit menggelengkan kepalanya melihat tingkah Razi.


"Aku hanya merasa dia itu juga butuh istirahat, refreshing gitu Dit" terangnya.


  Radit tampak berfikir apa yang di katakan oleh Razi itu ada benarnya. Jarang sekali Zahira pergi berlibur, jikapun berlibur pasti karena memang tanggal merah dan karena kerjaan. Seperti tahun kemaren Zahira, Nadia dan dirinya ada pekerjaan di Singapura dan akhirnya sambil libur, Untuk liburan seperti orang-orang sangat jarang.


"Akhir tahun sepertinya aku mau ngajuin liburan saja," gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Razi.


"Liburan kemana? "


"Kemalang atau ke jogja, sebenarnya sih lebih asik ke Bali, tapi Zahira nggak akan mau ke Bali secara dia tidak terlalu suka melihat turis asing yang berpakaian terbuka"


"Klo gitu ke Malang dan jogja, di sana kan banyak tempat wisata"


  Radit berdecak pelan padahal Zahira saja masih sibuk bekerja.


"Dia masih bekerja dan kita malah mengatur waktu untuk liburan, haha...ha.... "


  Radit tertawa terbahak-bahak lalu di ikuti Razi.


"Ya? "


"Apa kamu benar-benar ingin menikahi Al Mahyra? " tanyanya tampak serius.


  Seketika raut wajah Razi berubah murung.


"Aku nggak tahu Dit, kadang aku merasa Al Mahyra itu sosoknya seperti Zahira, misterius" jedanya tampak berfikir.


"Tapi aku tidak tau pasti Dit, aku kagum pada Zahira sama seperti kekaguman ku pada setiap karya Al Mahyra. aku merasa mereka itu sama, tapi nggak mungkin juga, tapi dari setiap kata yang tertulis dalam novelnya yang mengatakan ia terluka, ia merasa sakit dan kesulitan untuk sembuh, aku melihat diri itu dalam diri Zahira, aku merasa seolah-olah yang di tulis dalam novel Al Mahyra itu adalah Zahira" lanjutnya.


  Wajah Radit menegang mengetahui apa yang di pikirkan Razi. Memang benar itu adalah gambaran Zahira, ia menceritakan dirinya sendiri.


"Saat pertama kali aku melihat Zahira di sekolah, aku merasa dia itu beda, aku merasa dirinya itu berbanding terbalik dengan apa yang dia perlihatkan, lagian aku pernah bilang mauk istikharah mauk mencoba ta'aruf sama Zahira" ucapnya pelan.


  Razi menghela nafas lalu menatap Radit yang terdiam.


"Dia baik, cantik, sopan, dan juga sangat pengertian. Dia itu sosok yang sempurna menurutku, aku tidak menemukan celah keburukan dalam dirinya, dia itu sempurna sebagai anak, sebagai kakak, sebagai perempuan dan mungkin juga sangat sempurna sebagai seorang istri"


"Dan alangkah baiknya kamu menikahinya sayang"

__ADS_1


  Razi mendengus pelan, ketika suara mamanya terdengar, mamanya selalu memotong pembicaraan nya.


"Mah, dia itu perempuan sempurna, mana mau sama anak mama yang astagfirullah ini,"


  Razi memutar bola matanya menyadari kelakuan mamanya yang selalu menyuruh nya untuk menikahi Zahira.


  Mama Razi duduk di  dekat Radit seraya tersenyum simpul.


"Yah kamu perbaiki diri dong biar kamu pantas bersanding dengan Zahira, klo kamu menginginkan pasangan yang baik, kamu juga harus menjadi baik "


Lagi-lagi Razi hanya mendengus mendengar perkataan mamanya meski ia membenarkan perkataan mamanya.


"Ting"


 


Suara notifikasi pesan dari hp Radit membuat ketiganya terdiam. Radit membuka pesan dari hpnya.


Nadia


Mas, aku udah pulang dan di rumah Zahira.


^^^Radit^^^


^^^Iya aku ke sana sekarang. 😘^^^


Radit memasukkan hpnya kembali ke dalam saku celananya dan berdiri.


"Mau kemana Dit? " tanya Razi.


"Mau kerumah Zahira, mereka udah pulang tadi Nadia yang ngasih tahu" jawabnya singkat.


"Aku mau ikut deh, dari pada dengerin mama ngedumel,  tunggu bentar aku ganti baju dulu"


Razi langsung berlari tanpa melihat ekspresi mamanya yang sewot. Radit tertawa melihat Kelakuan Razi dan mamanya itu.


"Radit, tante mau ikut juga ke sana tante ambil tas dulu ke kamar ya, " ujarnya yang di angguki oleh Radit.


  Radit tersenyum melihat mama Razi yang begitu suka dengan Zahira, dalam hati ia berharap Zahira bisa menikah dengan Razi, karena ia yakin Razi tidak akan menyakitinya, terlebih keluarga Razi juga sangat baik pada Zahira, Radit yakin Zahira akan bahagia.


..."Aku selalu yakin bahwa orang baik akan di pertemukan dengan orang baik pula. dan aku merasa bahwa kamu perempuan yang terlalu baik hingga aku merasa aku tidak bisa bermimpi untuk bersanding denganmu karena kamu terlalu maa syaa allah untuk ku yang astagfirullah "...


...Fachrul Razi....

__ADS_1


__ADS_2